MENEMPUH IKHTIAR LANGIT, MEMBELA DAN MENOLONG SAUDARA MUSLIM DARI KEZALIMAN REZIM JOKOWI


Setelah selesai mengisi acara Liqo Syawal di Kampung Mirahan, Tirtosono, Wonogiri, penulis diajak keliling silaturahmi ke Solo (29/5). Diantaranya, ziaroh ke kediaman Ustadz Mudzakir. (30/5).

Enam bulan yang lalu, saat penulis ke Solo sebenarnya penulis ingin langsung ziaroh ke kediaman beliau. Qadarullah, baru saat ini bisa diwujudkan. Saat itu, penulis baru bisa bersilaturahmi dan menikmati Bak Mie Pak Met, milik Pak Bambang Setiadji, mantan Rektor UMS sejak tahun 2005 hingga 2017.

Diantara info yang kontroversi di Solo, Ustadz Mudzakir ini dituduh Syi’ah. Dan tuduhan ini, jelas merusak ukhuwah diantara sesama umat Islam. Karena tuduhan semacam ini, hanya akan digunakan oleh musuh Islam baik orang kafir maupun munafik, untuk menceraiberaikan bangunan ukhuwah diantara umat Islam.

Saat sampai di kediaman beliau, kami diminta untuk menunggu sebentar. Penulis didampingi Ustadz Sulaiman, Ustadz Triyantoro dan Mas Tomo. Lalu tidak berselang lama kami dipersilahkan masuk.

Kami kemudian bersalaman, berpelukan dan diskusi dengan beliau. Ada hidangan teh manis yang menghangatkan suasana, didalam ruangan yang penuh dengan ilmu. Tersusun rapi deretan kitab-kitab yang menjadi referensi dan bahan kajian beliau.

Menarik menyimak penjelasan dari Ustadz Mudzakir tentang apa itu Syiah. Beliau mendefinisikan Syi’ah sebagai kaum atau orang-yang mengutamakan Imam Ali Karomallahu Wajhah atas sahabat-sahabat yang lain.

Memang benar, ada sebagian syiah yang menyimpang, yaitu :

Pertama, orang-orang atau selompok orang yang bukan hanya mengutamakan Imam Ali atas sahabat yang lain, melainkan juga sampai kultus dan menuhankan Imam Ali.

MENEMPUH IKHTIAR LANGIT, MEMBELA DAN MENOLONG SAUDARA MUSLIM DARI KEZALIMAN REZIM JOKOWI

Kedua, orang-orang atau selompok orang yang bukan hanya mengutamakan Imam Ali atas sahabat yang lain, melainkan juga sampai menganggap risalah kenabian sejatinya untuk imam Ali, bukan untuk Muhammad Saw.

Ketiga, orang-orang atau selompok orang yang bukan hanya mengutamakan Imam Ali atas sahabat yang lain, melainkan juga memiliki keyakinan kekhalifahan pasca Nabi Muhammad Saw adalah hak Imam Ali, tak mengakui kekhalifahan Abu Bakar RA.

Keempat, orang-orang atau selompok orang yang bukan hanya mengutamakan Imam Ali atas sahabat yang lain, melainkan juga sampai menolak keadilan sahabat-sahabat selain Imam Ali (mencela para sahabat).

Empat golongan terakhir ini adalah golongan yang memiliki keyakinan yang menyimpang. Sementara itu, golongan yang hanya mengutamakan Imam Ali atas sahabat yang lain, tanpa mencela sahabat lain, tanpa menuhankan Imam Ali, tanpa menganggap Risalah kenabian dan Kekhalifahan pertama hak imam Ali, adalah bagian dari kaum muslimin, yang selamat akidahnya.

Adapun Imam Ali sendiri, melalui penuturan putra beliau Muhammad bin Al Hanafiyah dari jalur istri beliau Asma bin Umais al-Khat’amiyyah, yang pernah bertanya kepada ayahnya (Imam Ali RA), tentang siapa sahabat yang lebih utama. Imam Ali menjawab Abu Bakar RA, Umar RA lalu Utsman RA. Pandangan ini adalah pandangan mayoritas kaum muslimin termasuk kaum sunni.

Bagi siapa saja, yang mengikuti pandangan Imam Ali bahwa sanksi (uqubat) bagi pelaku Liwath (homo) adalah di bunuh dengan cara dibakar adalah pandangan yang syar’i. Begitulah, Abu Bakar RA menghukum pelaku homo pada era kekuasaan beliau dengan pandangan Imam Ali yakni dibakar sampai mati.

Siapa saja yang berpandangan, pelaku homo (liwath) dijatuhkan/dilemparkan dari tempat yang tinggi, diikuti dilempari dengan batu sampai mati sebagaimana pandangan Ibnu Abas, juga merupakan pandangan yang syar’i.

Yang tersesat, adalah mereka yang mengaku Islam, mengaku ahlus sunnah, mengaku sunni, tetapi berpandangan kaum LGBT, kaum homo, pelaku liwath agar dihormati, diperlakukan dengan baik, berdalih hak asasi manusia.

Mengaku Sunni tapi pro liberalisme, pro pluralisme, pro penjajahan kapitalisme. Mengaku Ahlus Sunnah, tetapi menolak penerapan syariah Islam, menolak perjuangan penegakkan Khilafah. Ini semua, jelas-jelas pemikiran yang menyimpang.

Pada era masih ada Kekhilafahan Islam, saat Islam ditegakkan oleh negara, perbedaan sunni syiah ini tidak menjadi persoalan. Karena Islam benar-benar ditegakkan oleh Negara. Semua penyimpangan segera diluruskan oleh Negara, Khilafah benar-benar menjadi benteng dan penjaga akidah Islam.

MENEMPUH IKHTIAR LANGIT, MEMBELA DAN MENOLONG SAUDARA MUSLIM DARI KEZALIMAN REZIM JOKOWI

Dahulu diantara kalangan ahlus sunnah, baik Mahzab Maliki, Syafi’i, Hanafi, Hambali dapat hidup rukun dengan kaum muslimin yang bermahzab kepada Imam Ja’far (Syi’ah). Bahkan, kitab Naulil Author yang di syarah oleh Imam Asy-Syaukani yang bermahzab syi’ah, juga terbiasa dikaji sebagai referensi oleh pondok pesantren yang bermahzab ahlus sunnah.

Ahlus Sunnah sendiri, adalah mahzab yang memiliki pandangan yang meyakini semua sahabat Rasulullah Saw adil. Termasuk didalamnya Sahabat Abu Bakar, Umar, Usman hingga Imam Ali. Semua sahabat dicintai, sebagaimana mereka mencintai Rasulullah Saw.

Namun, selepas Kekhilafahan Islam diruntuhkan oleh Inggris melalui anteknya Mustafa Kamal La’natullah, kaum kafir memecah belah umat Islam dengan berbagai cara. Diantaranya dengan isu Sunni Syi’ah.

Karena Negara Khilafah tidak ada, penyimpangan akidah Islam semakin merajalela. Di Kalangan Syi’ah yang menyimpang bukan hanya menuhankan Imam Ali, tetapi hingga menuhankan Ulama Syiah hingga memakan kotoran mereka, menghalalkan zina dengan dalih kawin kontrak, hingga menuhankan Basyar Asyad La’natullah.

Dari kaum bughot, seperti Saudi Arabia yang mendirikan sistem kerajaan dan melepaskan diri dari Kekhilafahan Islam terus mengkampanyekan propaganda anti Syi’ah, untuk melindungi rezim Bani Saud di Saudi Arabia. Mereka mengedarkan provokasi anti syiah secara membabi buta.

Amerika, Rusia dan China terus memelihara perpecahan di internal umat Islam dengan terus memprovokasi sentimen perpecahan sunni syi’ah. Rezim Iran juga memelihara isu ini, karena khawatir umat Islam bersatu dalam Kekhilafahan Islam sehingga Republik yang mereka bangun akan hancur berantakan seiring persatuan umat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah.

Demikianlah, propaganda dan pecah belah umat Islam yang tidak menginginkan umat Islam bersatu. Karena itu, segenap umat Islam wajib melawan dengan mempererat ukhuwah Islamiyah, saling berkunjung dan bersilaturahmi.

Ada yang menarik dari kunjungan ke kediaman Ustadz Mudzakir. Ternyata, beliau dan para santrinya selalu membaca Qunut Nadzilah dalam sholat lima waktu, secara khusus mendo’akan Habib Rizieg Syihab, Bang Munarman hingga Ustadz Farid Ahmad Okbah. Penulis bahkan diberikan redaksi doa yang beliu baca dalam do’a Qunut tersebut.

Subhanallah, dalam sepi dan keheningan ada saudara kita yang menempuh ikhtiar langit untuk membebaskan Ulama dan saudara muslim dari kezaliman rezim Jokowi yang zalim. Semoga, Allah Swt memberikan balasan pahala berlimpah, kepada siapapun yang menolong saudara Muslim, dengan cara apapun.

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik.

Tinggalkan komentar