Allahumma Layyin li Qalbahu kama Layyantal Hadida li Dawuda


Allahumma Layyin Li Qalbahu Kama Layyantal Hadida li Dawuda – Di saat mengajak kepada kebaikan, pasti kita sering mendapatkan banyak penolakan. Penolakan itu adakalanya berasal dari anak, istri, suami, keluarga, kerabat atau masyarakat di sekitar kita.

Orang tua sangat mendambakan putra-putri menjadi anak yang shalih dan shalihah. Mereka berusaha melakukan apapun demi mencapai tujuan tersebut, dengan menyekolahkanya di instansi-instansi pendidikan terbaik menurut mereka. Tapi bak bertepuk sebelah tangan, orang tua berusaha sekuat tenaga tapi sang anak malah tidak memahami harapan orang tua tersebut. Banyak kasus anak berbuat kurangajar kepada orang tuanya.

Suami mendambakan sosok istri yang shalihah, penurut, penuh kasih sayang kepada dirinya dan anaknya. Tapi tatkala fakta menunjukkan sebaliknya, dia mendapati istrinya lalai dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri; suka membantah perintahnya dan menjawab omongannya. Hal itu cukup membuat diri suami merasakan ‘neraka’ di dalam rumah tangganya. Berusaha menasehatinya tapi yang dia dapatkan malah istrinya semakin menjadi-jadi.

Istri mendambakan sosok suami yang shalih dan penuh tanggung jawab. Tatkala mendapati suaminya lalai dari tanggung jawab, membuat dirinya haus dari perhatian sehingga banyak kasus keretakan rumah tangga karena hal tersebut.

Bagaimana Solusinya?

Sabar dalam Mengajak kepada Kebaikan

Allahumma Layyin lii Qalbahu kamaa Layyantal Hadida li Dawuda

Perlu kita fahami, terkadang orang menolak nasehat, atau ajakan kebaikan kita itu ada banyak faktor, adakalanya karena mereka belum tahu kebaikan tersebut, atau memang sudah tahu akan tetapi karena nafsunya dikalahkan oleh Syaithon akhirnya dia menolak ajakan kebaikan kita.

Dalam Kisah dakwah Nabi kepada masyarakat Thoif menjadi pelajaran yang sangat penting buat kita bahwa dalam mengajak kepada kebaikan atau mengajak kepada kebaikan itu harus sabar, husnudzon, berharap kebaikan dan mendoakan mereka dengan kebaikan. walaupun di saat yang sama ajakan kita ditolak, ditentang, atau dimusuhi.

Rasulullah bersabda tatkala malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung menawarkan kepada beliau untuk menimpakan gunung kepada mereka karena perlakukan masyarakat thoif yang telah melampaui batas kepada beliau.

إِنَّ اللهَ لم يبعَثْنِي طعَّانًا ، ولا لعَّانًا ، ولكن بعَثَني داعِيًا ورحمَةً ، اللهم اهدِ قوْمِي فإِنَّهم لا يعلمونَ

Sesungguhnya Allah tidaklah mengutusku menjadi orang yang suka mencela dan melaknat, akan tetapi Allah mengutusku sebagai pendakwah dan sebagai rahmat. Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak tahu. (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Dloif).

Di saat lain, tatkala ada sahabat meminta Nabi untuk mendoakan keburukan kepada orang-orang Musyrik, beliau bersabda:

قِيلَ: يا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ علَى المُشْرِكِينَ قالَ: إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وإنَّما بُعِثْتُ رَحْمَة

Artinya: Dikatakan Ya Rasulullah, Doakanlah keburukan kepada orang-orang Musyrik. Beliau menjawab: sesungguhnya aku tidaklah diutus sebagai orang yang suka melaknat, akan tetapi aku diutus sebagai rahmat. (HR. Muslim).

Allahumma Layyin li Qalbahu kama Layyantal Hadida li Dawuda , Lafal, Arti dan Penjelasan

Di dunia maya, sudah masyhur tentang doa meluluhkan hati orang yang keras kepala, doa menundukkan hati suami agar tidak mudah marah dan keras hati, doa meluluhkan hati anak-anak yang degil dan lainya.

Doa tersebut berbunyi:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَبِيْرُ وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ الَّذِيْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ، اللَّهُمَّ سَخِّرْ لِيْ فُلَانا ..كَمَا سَخَّرْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى وَلَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُدَ فَإِنَّهُ لَا يَنْطِقُ إِلَّا بِإِذْنِكَ نَاصِيَتُهُ فِيْ قَبْضَتِكَ وَقَلْبُهُ فِيْ يَدِكَ جَلَّ ثَناَءُ وَجْهِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن

Allaahumma innaka antal azizul kabir. Wa anaa ‘abduka adh-dhoiif adz-dzaliil. Alladzii laa haula wa laa quwwata illaa bika. Allaahumma sakhkhir lii fulan (sebutkan nama orang dimaksud) kama sakhkhorta Fira’una li Musa. Wa layyin li qolbahuu kama layyantalhadiida li Dawuda. Fa innahu laa yanthiqu illa bi idznika. Nashiyatuhuu fii qobdlotika. Wa qolbuhuu fi yadika. Jalla tsana`u wajhika. ya Arhamar Rahimiin.

Artinya: Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Besar. Dan sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu yang lemah lagi hina. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan-Mu.
Ya Allah tundukkanlah untuk-ku fulan, sebagaimana Engkau menundukkan bagi Fir’aun kepada Musa dan luluhkanlah hatinya bagiku sebagaimana Engkau lunakkan besi bagi Nabi Daud. Karena sungguh, dia tidak akan berbicara kecuali dengan izin-Mu, ubun-ubunnya di dalam genggaman-Mu dan hatinya di dalam kekuasaan-Mu. Sungguh agung pujian Wajah-Mu, wahai Dzat yang pengasih diantara para pengasih.

Doa tersebut bersumber dari riwayat sahabat Anas bin Malik sebagaimana yang telah disebutkan ala’uddin Al-Hundie di dalam kitab Kanzul Ummal fi Sunani Aqwal wal Af’al, jilid 3, juz 6, hlm 221, no. 16811. Di dalam Kitab tersebut beliau juga menyebutkan bahwa riwayat tersebut diriwayatkan pula Ad-Dailamie.

Teks riwayat lengkap hadis tersebut adalah sebagai berikut:

“دعاء الحاجة من الإكمال”

16815- “ألا أعلمك ما علمني جبريل إذا كانت لك حاجة إلى بخيل شحيح أو سلطان جائر أو غريم فاحش تخاف فحشه فقل: اللهم إنك أنت العزيز الكبير وأنا عبدك الضعيف الذليل الذي لا حول ولا قوة إلا بك، اللهم سخر لي فلانا كما سخرت فرعون لموسى ولين لي قلبه كما لينت الحديد لداود فإنه لا ينطق إلا بإذنك ناصيته في قبضتك وقلبه في يدك جل ثناء وجهك يا أرحم الراحمين”. “الديلمي عن أنس”

Artinya:
Maukah aku mengajari kamu apa yang Jibril telah mengajariku apabila engkau memiliki hajat (keperluan) dengan orang yang pelit lagi bakhil, penguasa yang dzolim, atau musuh yang melampaui batas yang kamu takut kesewenang-wenangannya, maka ucapkanlah:

Allaahumma innaka antal azizul kabir. Wa anaa ‘abduka adh-dhoiif adz-dzaliil. Alladzii laa haula wa laa quwwata illaa bika. Allaahumma sakhkhir lii fulan (sebutkan nama orang dimaksud) kama sakhkhorta Fira’una li Musa. Wa layyin li qolbahuu kama layyantalhadiida li Dawuda. Fa innahu laa yanthiqu illa bi idznika. Nashiyatuhuu fii qobdlotika. Wa qolbuhuu fi yadika. Jalla tsana`u wajhika. ya Arhamar Rahimiin.

(Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Besar. Dan sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu yang lemah lagi hina. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan-Mu.
Ya Allah tundukkanlah untuk-ku fulan, sebagaimana Engkau menundukkan bagi Fir’aun kepada Musa dan luluhkanlah hatinya bagiku sebagaimana Engkau lunakkan besi bagi Nabi Daud. Karena sungguh, dia tidak akan berbicara kecuali dengan izin-Mu, ubun-ubunnya di dalam genggaman-Mu dan hatinya di dalam kekuasaan-Mu. Sungguh agung pujian Wajah-Mu, wahai Dzat yang pengasih diantara para pengasih).

Keterangan Allahumma Layyin lii Qalbahu kamaa Layyantal Hadida li Dawuda dalam Kitab Ulama

Allahumma Layyin lii Qalbahu kamaa Layyantal Hadida

Di dalam kitab Kanzul Ummal fi Sunani Aqwal wal Af’al, jilid 3 juz 6 hlm 221, no. 16811, Ala`uddin Al-Hundie tidak menyebutkan jalur periwayatan hadis tersebut, sehingga belum bisa diketahui apakah riwayat tersebut shahih, sehingga bisa diterima dan diamalkan atau dlo’if.

Akan tetapi terdapat kaidah umum yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahlussunnah wal Jam’ah sebagaimana telah disebutkan oleh Fadlilatusy Syaikh Walid bin Rasyid As-Su’aidan untuk pedoman apakah doa tersebut bisa kita amalkan atau tidak, yaitu:

الأصل في الأدعية الحل و الإباحة إلا فيما خالف الشرع

Artinya:
Hukum asal tentang masalah doa adalah kehalalan dan Mubah (boleh), kecuali doa tersebut berisi sesuatu yang menyelisihi Syari’at.

Lafal doa apapun bunyinya selagi tidak mengandung unsur-unsur yang menyelisihi syari’at boleh diucapkan.

Lafal doa di atas berisi:
– Harapan kepada Allah supaya Dia Menundukkan seseorang sebagiamana Dia menundukkan Fir’aun bagi Nabi Musa.
– Harapan kepada Allah supaya Dia melunakkan hati seseorang, sebagaimana Dia melunakkan besi bagi Nabi Dawud.

Jamak kita ketahui bahwa Fir’aun merupakan penguasa yang lalim lagi bertangan besi. Atas izin Allah, Nabi Musa mampu mengalahkan tipu daya fir’aun dan balatentaranya dengan memberikan mukjizat kepada Nabi Musa.

Begitupula, kita ketahui bahwa besi merupakan benda mati yang sangat kuat dan keras, akan tetapi dengan izin Allah besi tersebut bisa dilunakkan oleh Nabi Dawud, sebagimana kalam Allah dalam surat

۞ وَلَقَدۡ ءَاتَیۡنَا دَاوُۥدَ مِنَّا فَضۡلࣰاۖ یَـٰجِبَالُ أَوِّبِی مَعَهُۥ وَٱلطَّیۡرَۖ وَأَلَنَّا لَهُ ٱلۡحَدِیدَ { أَنِ ٱعۡمَلۡ سَـٰبِغَـٰتࣲ وَقَدِّرۡ فِی ٱلسَّرۡدِۖ وَٱعۡمَلُوا۟ صَـٰلِحًاۖ إِنِّی بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِیرࣱ }

Artinya:

Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya.
(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa Hasan Al-Bashri, Qatadah dan Al-A’masy menyebutkan bahwa untuk melunakkan besi, beliau langsung menggunakan tangannya tanpa membutuhkan api ataupun palu.

Sediktator Fir’aun, Allah bisa menundukkanya bagi Nabi Musa dan sekeras besi, Allah bisa mulunakkannya bagi Nabi Dawud, maka Allahpun juga berkuasa dan berkehendak untuk menundukkan dan melunakkan hati orang yang menolak ajakan kebaikan kita. Karena hakikatnya, orang yang kita ajak untuk melakukan kebaikan mungkin tidak sedholim fir’aun dan hatinya tidak sekeras besi, sehingga dan penuh harap san dengan izin Allah, dia juga nantinya akan mau menerima ajakan kebaikan kita.

Tapi kita harus ingat bahwa tugas kita adalah mengajak kepada kebaikan, mengingatkan orang yang bermaksiat supaya mereka bertaubat dan kembali kepada Allah. Ajakan kita diterima atau ditolak itu bukan tugas kita, karena hidayah, mencocokkan hati mau menerima kebaikan itu hanya dari Allah Ta’ala.

Tapi kita harus senantiasa mengevaluasi bagaimana cara/metode kita mengajak kepada kebaikan. Kenapa mereka menolak ajakan kita? Ada yang salah/tidak tepatkah cara/metode kitanya? Atau kita sendiri masih banyak melakukan kemaksiatan sehingga orang tidak respect dengan ajakan kita. Wallahu A’lam bish Showab.

Cukup sekian pembahasan Allahumma Layyin li Qalbahu kama layyantal hadida li Dawuda , lafal arti dan penjelasannya. Artikel di atas, ditulis oleh Ustadz Iqbal. Baca artikel islami lainnya di mediaalislam.com.

Tinggalkan komentar