Cara yang Benar Menyukuri Kemenangan (Memperingati Kemerdekaan)


Cara yang benar menyukuri kemenangan .

Khutbah Jumat 21 Muharram 1444 H/19 Agustus 2022 berama Al-Ustadz KH. Mudzakir

Ba’da membaca Khutbatul Hajah, Al-Ustadz KH. Mudzakir membaca Surat An-Nashr (110) ayat 1-3:

إِذَا جَاۤءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ وَرَأَیۡتَ ٱلنَّاسَ یَدۡخُلُونَ فِی دِینِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجࣰا فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا

Artinya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,
Maka bertasbihlah dengan memuji Pemeliharamu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat.

Cara yang Benar Menyukuri Kemenangan

Cara yang Benar Menyukuri Kemenangan

Beliau mengajak hadirin sholat Jumat untuk (i) bertaqwa kepada Allah. Berusaha menjalankan perintah-perintah Allah semampu kekuatan dan menjauhi semua larangan-Nya tanpa terkecuali. (ii) Mengikuti bimbingan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa aalihi wa Sallam dalam hidup ini, bukan hanya dalam menjalankan agama islam ini saja tapi juga dalam menjalani kehidupan ini sejak mukallaf sampai ajal menjemput. Menegakkan Al-Islam itu dengan mengisi seluruh kehidupan dengan ajaran Islam.

Allah mengingatkan Nabi Muhammad beserta pengikut beliau, bahwa tatkala Allah memberikan kenikmatan, kemenangan, kemuliaan, keunggulan, mereka tidak diajari dengan menepuk dada, memamerkan ‘inilah hasil karyaku’ atau ‘inilah hasil perjuanganku’. Akan tetapi mereka diajari (i) memahasucikanlah dengan memuji Tuhanmu dan (ii) memohon ampun kepada-Nya.

Beliau menegasakan bahwa tatkala kemenangan datang tidak (disyukuri) dengan berpesta ria.

Tradisi berpesta ria yang biasa dilakukan setelah mendapatkan kemenangan itu, menurut beliau Al-Ustadz KH. Mudzakir merupakan kebiasaan orang-orang Barat sejak nenek moyang mereka dari bangsa Romawi. Tatkala mereka mendapatkan kemenangan, mereka rayakan dengan berpesta pora, meminum minuman keras dan lainnya. Selain bangsa Romawi ada juga orang-orang Nashoro juga melakukan seperti itu.

Padahal Allah telah berkalam:

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡیَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

Artinya:
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepadamu (Muhammad) sampai engkau mengikuti millah mereka. [QS. Al-Baqarah (2) 121]

Maksudnya: mereka tidak akan ridlo sampai kalian (Nabi Muhammad dan pengikutnya) mengikuti Millah, adat istiadat dan tata cara mereka.

Adapun Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita bahwa tatkala kita mendapatkan kemenangan kita gunakan kenikmatan tersebut untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Beliau merasa miris dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan saudara sebangsa dan setanah air. Berpuluh-puluh tahun mereka memperingati kemerdekaan Indonesia ini dengan berpesta pora, dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak menunjukkan rasa syukur kepada Allah. Mulut mereka mengatakan bahwa ini dalam rangka bersyukur kepada Allah, tetapi perbuatan mereka tidak ada yang menunjukkan dekat dan ingat kepada Allah.

Beliau heran, ‘Apakah mendekatkan diri kepada Allah dengan lari dalam karung, lomba makan kerupuk dengan tanganya diikat sedemikian rupa atau lomba apapun itu yang tidak ada artinya?’ bahkan menertawakan orang-orang miskin yang berebut naik pohon pinang untuk memperebutkan barang-barang yang tidak ada artinya. Padahal hal itu tidak mereka sadari merupakan penghinaan buat diri-diri mereka sendiri.

Sebagai bukti dawuh beliau tersebut beliau bertanya, ‘Adakah pejabat setingkat camat atau lainya yang mau memanjat pohon pinang untuk berebut barang sekedar handuk, kaos, hp atau lainya. Mereka tidak akan mau melakukanya karena mereka tahu bahwa perbuatan itu bukan termasuk perbuatan yang mulia, bukan perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Merenungkan akan Kemerdekaan

Di akhir khutbah Jumat ini, Al-Ustadz KH. Mudzakir mengajak kita merenung, ‘Puluhan tahun kita dinina-bobokan oleh Syaithon. Tatkala memperingati kemerdekaan dibisiki untuk tidak mengingat Allah. Memperingati kemerdekaan dengan membuang harta, tenaga, pikiran untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, berpesta pora, bahkan justru untuk sejenak melupakan Allah Ta’ala, wa Na’udzubillah min Syarri Dzalik. Disusul dengan sejenak lagi, sejenak lagi dan seterusnya hingga akhirnya melupakan semua nikmat-nikmat Allah Ta’ala.”

Sekian, Semoga bermanfaat, Barakallahu Fikum Ajma’in.

Untuk menyimak khutbah Jumat ini via voice, silakan klik tautan berikut ini:

Walhamdulillah

Tinggalkan komentar