TAK BERANI MENGKAFIRKAN SAHABAT


Tuduhan itu tak pernah surut. Selalu merujuk pada satu hal; Syiah. Sementara itu, ia tak bisa bergitu saja mengafirkan syiah. Semua ada rujukanya.

 

Kata-kata ini meluncur dengan deras. “Saya anak korban tuduhan Syiah. Saya sedih. Ter-stigma itu sangat menyakitkan,” ujar Ummi Kultsum. Sebagai seorang putri dari Mudzakir, pendiri Yayasan Al-Islam, Surakarta, apa yang dituduhkan kepada ayahandanya terasa menyesakkan dada. Meski begitu, ia mencoba bersabar dan tergugah untuk menulis sangkalan terhadap ribuan tuduhan yang menyebar kepada Umat Islam. Salah satunya, soal tuduhan teroris yang dialamatkan kepada aktifis Muslim. Keluarga juga terkena dampak tuduhan itu. “Saya jadi tertarik menulis stigmatisasi korban,” jelas Ummi Kultsum, yang juga merupakan anggota penulis muda lingkar pena di Solo ini.

Kesabaran juga terbaca di raut wajah Abu Abdillah, pengajar di yayasan tersebut. Wajahnya yang teduh menunduk. Ia dan keluarganya mengalami sendiri bagaimana tuduhan negatif itu dialamatkan. Kebetulan, ada salah satu anaknya yang sekolah di luar Al-Islam. Meski masuk ke sekolah Islam, tapi sang anak ternyata dituduh menjadi pengikut Syiah. Pernah juga suatu saat, anaknya mengaji di sebuah jamaah Salafi di Solo. Tanpa diduga, anaknya kembali mendapatkan tuduhan sebagai pengikut Syiah. “Akhirnya anak saya keluar dan tidak ikut lagi,” tuturnya.

Cerita tentang tuduhan itu tak sampai di sini. Menurutnya, hingga kini, ada beberapa anak buah Abu Bakar Baasyir yang mengangapnya bagian dari Syiah. Meski mengajar di Yayasan Al-Islam, Abu Abdillah mengaku simpatisan Abu Bakar Baasyir, dan sering mengikuti pengajianya. Bahkan, anak Abu Abdillah sendiri mondok di Pesantren Ngruki. Pernah suatu kali, jamaah Abu Bakar Baasyir datang ke tempatnya. Mereka kemudian saling berdiskusi. Salah satunya tentang Syiah. Dalam diskusi itu, Abu Abdillah berposisi tetap tidak mau mengkafirkan Syiah, dengan alasan-alasan agama yang ia yakini. Dalam hal itu ia dibantah, karena tak mau mengkafirkan Syiah maka ia dikatakan jadi bagian dari orang kafir. Diskusi itu tak selesai karena masing-masing tetap bertahan pada pendirianya.

Peristiwa juga terjadi di daerah Sragen, di tempat pengajian di mana Abu Abdillah biasa mengisi. Di sana juga ada seseorang yang menuduh Mudzakir, pimpinan Yayasan Al-Islam, sebagai penganut Syiah. Abu Abdillah kemudian mencoba menjelaskan bahwa di Yayasan Al-Islam tidak ada kajian tentang Syiah. Hanya ada kajian seputar Bukhori Muslim, Kitab Abu Dawud, Tafsir Al-Quran. Namun orang itu tetap ngotot. “Akhirnya orang itu tidak lagi mengikuti pengajian kami,” kata Abu Abdillah.

Di tengah tuduhan yang begitu deras, Abu Abdillah tetap bertahan dengan keyakinanya. Tuduhan bahwa dirinya telah kafir, diterimanya dengan lapang dada. Ia tidak mengambil pusing dengan semua itu. Dalam hati kecilnya, ia merasa kesal sekaligus sedih. Akan tetapi, ia berusaha tabah dan menjalankan proses dakwah yang diyakininya benar. Ia tetap berusaha menjalin silaturahmi dengan kelompok umat Islam yang menuduhnya.

Abu Abdillah menjelaskan bahwa pimpinan Al-Islam itu dekat dengan tokoh Syiah dan Sunni. Di Solo, Mudzakir biasa bersahabat dengan Habib Habsyi dan keluarga Assegaf yang memang dari keluarga Syiah. “Tapi ia juga sangat dekat dengan Abu Bakar Baasyir, Abdullah Sungkar, dan tokoh-tokoh sunni lainya. Bahkan, salah satu mertuanya berasal dari keluarga besar NU,” katanya. Tapi memang diakui oleh Abu Abdillah, bahwa tuduhan itu lambat laun menghilang.

AWAL TUDUHAN SYIAH

Mudzakir sendiri hanya tertawa ringan saat menanggapi tentang tuduhan Syiah yang dialamatkan kepadanya. Ia kemudian bercerita asal muasal ia mendengar tuduhan itu. Suatu saat, ia berkunjung ke rumah seorang kawan di daerah Condet, Jakarta Timur. Tiba-tiba datang seorang tamu. Tamu itu mengucapkan sapaan akrab bercampur salam, “Ooi, Assalamu ‘Alaikum!” setelah menjawab salam, kawan Mudzakir tersebut menyahut, “Itu Eko.”

“Ya, saya kenal, pernah jumpa satu kali,” kata Mudzakir.

Setelah duduk, Mudzakir menanyakan asalnya. “Saya dari Solo,” ucap sang tamu.

“Lagi musim apa di Solo?” tanya Mudzakir lagi.

“Musim Syiah! Itu Ustadz Mudzakir Gumuk mengajarkan Syiah,” jawabnya.

“Apa Ustadz Mudzakir mengajarkan Syiah?” tanya Mudzakir lagi, penasaran.

“Tidak! Tidak! Setiap pagi yang diajarkan Shahih Bukhari, tapi kalau sudah sampai kelas khusus, nanti santri-santri dibaiat dan diajarkan Syiah,” jawab tamu tadi.

Penasaranya berlanjut. Mudzakir bertanya lagi, “Berarti ustadz-ustadz itu hadir di pengajian Ustadz Mudzakir?” tanya Mudzakir lagi.

“Tidak. Itu sifatnya tertutup.”

“Apa pernah bertemu langsung dengan Ustadz Mudzakir?”

“Tidak, tapi dulu pernah mengundang pengajian,” sahut sang tamu.

Mudzakir tertawa geli. Si tamu itu ternyata tidak tahu siapa yang sedang diajak bicara. Sementara kawannya, yang menjadi tuan rumah, juga langsung pergi menuju kamar sembari marah-marah. Dengan tegas Mudzakir berucap, “Saya baru tahu, hanya sebegitu kelas para penuduh itu. Tidak ada alasan yang jelas, dan mengentengkan terhadap apa yang diucapkanya, tanpa merasa bersalah.”

Pernah juga suatu waktu, ada 10 orang yang berasal dari Yogyakarta datang kepadanya. Mereka berniat melakukan klarifikasi tenang posisinya. Waktu itu, Mudzakir langsung menjawab, “Apa anda tahu, apa itu Syiah?”

Mereka semua menjawab, “Tidak.”

Mudzakir langsung mengatakan bahwa ia tahu sepenuhnya tentang Syiah. Mulai dari sejarah, kronologi, sampai dengan pendiri-pendirinya. Ia balik bertanya kepada mereka yang mendatanginya.”Anda yang belum mengerti Syiah saja langsung menyalahkan saya. Itu bagaimana?”

Akhirnya, orang-orang yang datang dari Yogyakarta itu tidak bisa menjawab dan tidak memiliki dalil yang mengalahkan dan meruntuhkan pendapat Mudzakir. “Mereka yang datang kepada saya, sampai saat ini belum ada yang menggoyahkan keyakinan saya. Mereka tidak meyakinkan kebenaran apapun yang mereka katakan, selain tuduhan yang tidak mempunyai alasan Syariah,” tutur Mudzakir.

“Coba saudara baca kitab Ibnu Hajar Al-Asqolani, seorang dedengkot ulama Madzhab Syafi’i dan penyusun kitab Fathul Bari. Di situ dikatakan, terhadap perawi rafidah, mayoritas ulama belum sepakat, apakah haditsnya ditolak ataukah diterima. Berarti hadits ahli Rafidah belum ditolak, dong? Kalau ditolak, mesti mereka kafir, dong? Wong semua ulama saja belum sepakat, kok tentang kejelekan mereka. Masa kita mau mengkafirkan?” Ujar Mudzakir.

Ia melanjutkan. “Kalau anda mau memusuhi madzhab Syiah, itu urusan anda. Tapi kalau saya disuruh mengkafirkan mereka, saya tidak mau. Saya tidak berani, karena konsekuensinya nanti di Makhsyar. Sebab, sesama Muslim itu tidak boleh saling mengkafirkan. Kalau saling mengkafirkan, itu akan kembali kepada dirinya. Kalau mereka mau mengkafirkan Syiah, ya, silahkan. Konsekuensinya ditanggung sendiri nanti di Makhsyar.”

Meski bergitu, tuduhan sebagai orang Syiah tidak juga berhenti. Mudzakir kembali mendapatkan tuduhan pahit. Baru-baru ini, ia dituduh Syiah oleh salah satu tokoh sekolah Islam yang ada di dekat pesantrennya. Tokoh itu kemudian menelpon ICMI pusat, agar jangan membantu SMP dan SMA Al-Mujtaba, di mana Mudzakkir menjadi salah satu Dewan Pembina Yayasanya. “Masalahnya, dia kalau di depan saya tidak ngomong, tapi kalau di belakang menuduh. Inikan repot!” katanya.

Menurut Mudzakir, di balik tuduhan-tuduhan Syiah dari beberapa orang kepadanya, sebenarnya tidak murni karena landasan Syariah yang benar. Kebanyakan tuduhan-tuduhan itu dibangun karena kepentingan duniawi alias amplop. Ia mengaku, saat mencoba untuk memakmurkan masjid di tempat terpencil ini ternyata sudah dipermasalahkan. Padahal ia tidak berniat untuk mencari materi. “Dalam ceramah-ceramah, saya sering menolak amplop. Saya tidak tahu, apakah itu masalahnya,” kata Mudzakir.

TIDAK BERANI MENGKAFIRKAN SYIAH

Tuduhan Syiah dianggap terjadi karena Mudzakir dekat dengan tokoh-tokoh Syiah. Ia juga pernah mengajar di Yayasan Pondok Pesantren Islam (YAPI). Selalu ditarik-tarik antara Sunni dan Syiah. Padahal, ia mengaku tidak ikut siapa-siapa. Hanya ikut Rasulullah. “Kasihan Rasulullah itu, dia tidak punya pengikut karena umatnya telah berebut sebagai pengikut Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyyah, dan kelompok yang lain. Saya pengikut Nabi Muhammad sajalah!” jelas Mudzakkir, sambil tertawa berderai.

Ia mengaku tidak mau mengafirkan Syiah. Ia belajar banyak hal dan faham Hadits. Bisa membedakan dimana hadits yang shahih, hasan, dla’if, maudlu’ dan yang lain. Cukup seseorang baca sebuah hadits, Mudzakir bisa menjelaskan secara runut terait sanadnya. Di Yayasan Al-Islam juga banyak kitab yang bisa dibaca. Bahkan hingga detik ini, Mudzakir tetap saja belajar dan mengkaji, mana ajaran yang benar dan mana yang salah. Jika dipaksa ikut Sunni atau Syiah, ia mengaku tidak bisa. “Saya ini tahu hadits. Tokoh Sunni dan Syiah itu masih disebutkan dalam hadits Bukhori-Muslim. Apa saya harus mengkafiran sahabat-sahabat Nabi? Saya tidak berani. Resikonya besar di akhirat nanti,” katanya.

Bagi Mudzakir, Syiah-Sunni itu bisa dipahami secara sederhana. Syiah itu pada prinsipnya mengutamakan Imam Ali dibandingkan dengan tiga khalifah yang lain. Sedangkan Sunni lebih mengutamakan ketiga Khalifah dibandingkan Ali dan itu berlanjut pada wilayah perebutan-perebutan. Sejarah menuliskan, cucu Nabi Muhammad SAW, dibunuh oleh Muawiyyah dan Yazid. Rasulullah sewaktu hidup sebenarnya pernah bercerita. Tapi, walaupun Nabi tahu, toh Muawiyyah semasa hidup Nabi tetap menjadi juru tulis Rasul. “Nah, lalu saya harus bagaimana memahami ini?” kata Mudzakir

Sementara orang Syiah seringkali menyatakan kesan negatif terhadap Muawiyyah. Namun, kata Mudzair, Imam Syiah awalnya adalah Imam Ali. Setelah itu Imam Hasan, Imam Husain, kemudian Ja’far Shodiq. Sedangkan Ja’far Shodiq adalah guru Imam Malik, Abu Hanifah, dan Ulama lainya yang bermadzhab Sunni. “Inikan repot! Sekai lagi, saya tidak berani untuk mengkafirkan Syiah,” tandas Mudzakir.

Pada suatu waktu, ia dikunjungi murid-murid temanya, yang kebetulan bermadzhab Syiah. Saat itu murid-murid itu menjelek-jelekan sahabat Nabi selain Ali. Saat itu Mudzakir langsung bertanya, “Kalian itu kenal tidak, dengan sayyidina Ali?”

“Kenal,” jawab mereka.

Kemudian Mudzakir bercerita kepada mereka. “Sayyidina ali itu pernah ditanya oleh anaknya, Muhammad bin Al-Hanafiyyah. Siapakah orang terbaik setelah meninggalnya Rasulullah? Ali menjawab, Abu Bakar. Siapa lagi? Umar bin Khaththab. Seandainya saya tanya lagi, pasti jawaban Utsman, dan kemudian engkau wahai ayahku? Ali menjawab, tidak, saya bagian dari orang-orang muslim yang biasa aja.”

Setelah itu, Mudzakir bertanya lagi, “Siapa Imam Syiah pertama?”

Mereka menjawab, “Ali.”

“Apakah beliau pemberani?”

“Pemberani!” kata mereka.

“Pengecut tidak dia?”

“Tidak!”

Wong imammu saja bilang begitu kok, mengapa kamu ketus terhadap sahabat?” jelas Mudzakir.

Ternyata mereka tidak puas. Murid-murid Syiah itu mengatakan bahwa hadits yang dikatakan Mudzakir adalah palsu. Mudzakir segera mengatakan bahwa Sayyidina Ali mempunyai anak, namanya Ummi Kultsum. Kemudian dia dinikahkan dengan Umar bin Khathtab. Jika benar Umar adalah musuh bebuyutan, seperti yang murid-murid Syiah itu katakan tadi, mana mungkin Sayyidina Ali memberikan anaknya kepada Sayyidina Umar?”

Ia kembali menjelasan. Bahwa Ali bukanlah seorang pengecut. Bahkan, sayyidina Umar ketika menjadi khalifah mengatakan, “Andaikan tidak karena ayah Hasan, pasti celaka Umar ini.” ”Hadits ini kan jelas bagaimana begitu saling menghargainya antara Ali degan sahabat yang lain,” katanya. Bagaimanapun juga, penjelasan ini belum memuaskan murid-murid Syiah itu. Alasan yang sama kembali dikemukakan. Mereka mengaggap itu semua hadits palsu.

Namun Mudzakir tidak patah arang. Ia mengatakan jika semua itu hadits palsu, maka orang Sunni juga berhak mengatakan hal yang sama terhadap hadits-hadits milik Syiah. “Berarti kalian itu sama, dong. Sama-sama memalsukan hadits,” kata Mudzakir. Setelah itu mereka tidak berkomentar sama sekali. Mudzakir mengaku bahwa ia tahu madzhab Syiah, tetapi ia tidak mengikuti hal tersebut. Alasanya, saat orang-orang Syiah menyampaikan sesuatu, ternyata belum ada yang bisa meyakinkannya.

Mudzakir hanya menyerahkan semua ini kepada Allah semata. Banyak santri yang kemudian menanyakan berbagai tuduhan yang selama ini ia terima. Namun, ia mengingatkan bahwa biarkan Allah yang akan membalas semua itu. Ia memang sengaja berdiam diri atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia tahu bahwa keluarga dan santri-santrinya telah menjadi korban atas tuduhan tersebut. “Saya sangat percaya hisab itu ada. Saya akan tuntut tuduhan-tuduhan mereka itu di waktu hisab. Saya tidak ambil pusing,” katanya lirih.

 

Diketik ulang oleh Muhammad Iqbal

Sumber:

ISRA’ (JALAN PERUBAHAN) edisi 21 diterbitkan pada Maret 2012 oleh Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (PUSHAM-UII)

 

 

 

 

Tinggalkan komentar