JUJUR BERBUAH SURGA

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (119)

“Wahai orang – orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur” (Attaubah : 119)

            Tafsiran ayat ini masih berkaitan dengan peristiwa Perang Tabuk. Dalam perang ini ada tiga kalangan muslimin yang diam-diam tidak mengikutinya. Nah, anda masih ingat siapa mereka? Mereka adalah Kaab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Rabi’. Saat Rasululloh SAS mengetahui mereka tidak mengikutinya, beliau pun menuntut alasan “ketertinggalan” mereka. Usut punya usut ternyata “ketertinggalan” mereka karena dunia. Perang Tabuk terjadi pada tahun ke 9 Hijriyyah. Peperangan bertepatan dengan semua tumbuhan mulai tumbuh indah pada tahun itu. Coba pikir, siapa coba yang mau melewatkan masa panen yang telah didambakan sejak lama?

            Dan, Subhanallah.. saat Rasululloh SAS menuntut alasan kepada mereka, mereka tak sampai hati bial harus berbohong pada  beliau. Justru mereka berkata jujur. Mereka berterus terang.mereka mengatakan apa yang sebenarnya mereka lakukan hingga “Tertinggal” dari perang Tabuk. Tak ada yang mereka kurangim sedikitpun dari yang mereka perbuat. Berbekal kejujuran yang mereka tanamkan pada diri mereka dan cinta tulus pada beliau, mereka berani menerima resiko, yaitu kebungkaman kaum muslimin.

Ingat hadits Nabi yang berbunyi :

عيىكم بالصدق فان الصدق يهدي الى البر و ان البر يهدي الى الجنة (متفق عليه) 

“lazimilah (Biasakanlah) berbuat jujur. Karena sesungguhnya kejujuran itu menunjuki pada kebenaran. Dan sesungguhnya kebenaran itu menunjuki pada Jannah” (Muttafaqun ‘Alaih)

Jujur. Betapa manisnya buah dari kejujuran. Jannah. Siapa coba yang tak mau jannah sebagai tempat akhirnya?

Sobat, pada beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa maksud dari “Asshaadiqin”(الصدقين) pada ayat وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ  adalah استواء الصدق فى السر و العلانية   kira-kira kalimatnya seperti itu. (bisa dicek di kitab-kitab tafsir) jadi, jujur tak hanya didepan publik tapi pada diri sendiri juga wajib jujur.

Lewat hadits diatas, mari kita sama-sama mawas diri. Kita tengok pada diri kita, sudahkah kejujuran melekat pada diri kita? Sudahkah kejujuran menemani keseharian kita? Jawaban ada di diri masing – masing. Tak perlulah disiarkan pada publik. Walhamdulillah..

–Aulia nafisa—                     

*Dari beberapa kitab tafsir.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *