BUKAN UNTUK DIBACA

BUKAN UNTUK DIBACA

Pengertian ukhuwah, asal katanya, pembicaraannya dari segi lingusitik atau keagamaan sudah bukan lagi merupakan suatu topik  yang spesial. Bahkan sayangnya, terlalu sering kitamendengar kata ukhuwah hingga ia hanya menjadi suatu istilah global yang diucapkan berulang-ulang tanpa makna. Tidak sedikit dari kita yang sudah merasa lelah membicarakannya seolah menjaganya untuk tetap utuh hanya sebuah dambaan yang entah kapan akan tercapai.Faktanya, kondisi ukhuwah kaum muslimin saat ini sungguh memprihatinkan. Banyak dari kita yang tidak lagi peduli keadaan saudara seiman atau merasa perlu mengurusi dan membantu memecahkan masalah mereka.  Faktor pemecah ukhuwah yang paling sering muncul setelah kemaksiatan adalah  “masalah hati”, kekecewaan dan tidak persepaham antara muslimin, hingga akhirnya melahirkan rasa malas untuk memperjuangkan serta menjaga ukhuwah.

Seandainya saja kita semua ingat betapa mahal nilai ukhuwah. Allah Ta’ala berfirman di surat AL-Anfal:63 “Dan Dia yang mempersatukan hati-hati mereka seandainya kamu membelanjakan dunia dan seisinya niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang mempersatukan hati-hati mereka”. Dunia seutuhnya tidak cukup untuk membeli ukhuwah. Seandainya saja kita ingat kisah para sahabat Anshar dan Muhajirin kita sadari bahwa menjaga ukhuwah yang mahal ini bukanlah hasil yang hanya terwujud dalam mimpi. Bisa bagi mereka yang memegang teguh iman.

Sedemikian hebatnya rasa ukhuwah para sahabat Anshar hingga mereka rela berbagi rumah berbagi harta bahkan melepas sebagian istrinya untuk sahabat muhajirin yang notabene adalah orang asing yang baru saja mereka temui. Namun apakah keteguhan  ukhuwah yang kita lihat dari kaum Anshar ini adalah contoh sempurna yang tidak pernah mendapat rintangan,keraguan dalam perjalanannya? Tidak. Mari kita lihat kembali Ji’ranah. Di sana pernah ada kecewa. Kaum Anshar merasa disisihkan padahal mereka telah berjuang total bersama Rasul dengan penuh kecintaan, lantaran Rasulullah memberikan hampir semua harta rampasan kepada orang-orang Mekkah sedangkan mereka hanya menerima sisa. Pada hari itu mereka diuji dengan perasaan bahwa ada ashabiyyah atau keberpihakan Rasul kepada kaumnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *