Musik dan peradaban

789–857 أبو الحسن علي ابن نافع, زریاب

Musik dan peradaban

Jika Syafi’i meninggalkan Baghdad untuk menghindari musik, maka Ziryab meniggalkan Baghdad untuk mengembangkan musik.

 Akhirnya, lihatlah Mesir yang merekah indah dan lihatlah Andalusia yang menguncup layu.

Ziryab, seorang musikus kelahiran Irak menginggalkan Baghdad pada tahun 814 H menuju Andalus. Andalus waktu itu adalah megacity dengan kemewahan dan kejayaannya. Kondisi tersebut membuat Ziryab menilai bahwa Andalus merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan musik.

Andalus kala itu justru belum mengenal musik. Di puncak kejayaannya, masyarakat Andalus sangat sibuk mendalami berbagai macam bidang ilmu. Jumlah ulama sangat banyak dan terus meningkat. Mereka juga sangat giat berjihad dan beribath.

Namun, segalanya mulai berubah setelah kedatangan Ziryab. Selama 30 tahun tinggal di Andalus, Ziryab banyak menggubah lagu dan mempopulerkannya. Ia juga membuat tren fashion, gaya rambut, hingga kuliner. Bahkan, untuk mendapat perhatian masyarakat lebih banyak, Ziryab mengarang cerita hikayat dan dongeng-dongeng pangeran dan khalifah. Kalau hari ini kita gambarkan Ziryab, maka ia layaknya selebriti.

Masyarakat Andalus akhirnya mulai menggilas musik dan semakin jauh dari Al-Qur`an. Halaqah-halaqah ulama menjadi sepi. Mereka lebih memilih menyimak hikayat-hikayat Ziryab. Mental jihad pun merosot tajam. Mereka mencintai dunia dan semakin terlena. Akhirnya, Andalus jatuh di tangan musuh dengan mudah. Bahkan, sisa rakyat Andalus yang berhasil melarikan diri ke Afrika Utara memilih untuk melupakan Andalus. Tidak ada lagi tekad dan keberanian untuk merebut tanah air mereka. Seperti yang kita tahu, Andalus menjadi negri kafir total.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *