Menjamu Orang yang Bertakziyah, Bolehkah?


Menjamu Orang yang Bertakziyah, Bolehkah?

Oleh: Ali Najmatullah

Sudah menjadi hal yang galib di kalangan masyarakat, bahwa jenazah disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka sebelum dikebumikan. Begitu pula ketika menunggu untuk menguburkan jenazah, keluarga mayit menjamu orang-orang yang bertakziah.

Namun, bagaimana syariat memandang amaliyah tersebut? Disyariatkan atau tidakkah?

Berikut uraian ringkasnya:

Maksud Menjamu Orang Yang Bertakziyah

Maksud menjamu orang yg bertakziah dalam pembahasan ini adalah keluarga mayit memberi makanan atau selainnya kepada orang yang melayat

Pendapat Ulama

Haram

Al-Qari [1] dan Al-‘Utsaimin  [2] berpendapat bahwa hukum menjamu orang yang bertakziah itu haram. Hujjah: riwayat Jarir bin ‘Abdullah sebagai dalil haramnya menjamu orang yang bertakziah, karena perbuatan tersebut merupakan bentuk ratapan.

Catatan: Pendapat ini sesuai dengan riwayat Jarir bin ‘Abdillah dan riwayat Thalhah yang menerangkan bahwa membuat makanan dan menjamu orang yang bertakziah itu termasuk ratapan. Adapun ratapan merupakan perbuatan yang diharamkan (lihat analisis kedua riwayat tersebut yang akan datang).

Makruh

Ulama yang berpendapat bahwa menjamu orang yang bertakziah itu makruh adalah sebagian Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, [3] Ibnu Taimiyyah [4], Ibnul Humam [5], Ibnu Qudamah [6], Ibnu Hajar Al-Haitami [7], dan Isma’ilul Qari.

Hujjah: riwayat Jarir bin ‘Abdullah dan Ibnu Qudamah [8] berhujah dengan riwayat Thalhah. Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa menjamu orang yang bertakziah itu bid’ah [9]. Hukum bid’ah menurut Ibnu Taimiyyah itu makruh. [10]

Catatan: terdapat riwayat Jarir bin ‘Abdillah dan riwayat Thalhah menunjukkan bahwa membuat makanan atau menjamu orang yang bertakziah itu haram, bukan makruh.

Mubah

Ulama yang berpendapat bahwa menjamu orang yang bertakziah itu mubah adalah Ath-Thahthawi [11] dan sebagian Al-Hanafiyyah [12] Hujah: hadits ‘Ashim bin Kulaib

Catatan:

(1). isi hadits ‘Ashim ini tidak menunjukkan bahwa keluarga mayit menjamu orang yang bertakziah (lihat analisis hadis ini yang akan datang). Oleh karena itu, menggunakan hadits ini sebagai dalil tentang bolehnya keluarga mayit menjamu orang yang bertakziah itu tidak tepat.

(2). ada riwayat yang menerangkan bahwa menjamu orang yang bertakziah itu termasuk ratapan, sedangkan ratapan itu haram, yaitu hadis Jarir bin ‘Abdillah dan hadis Thalhah.

Mubah, jika diperlukakan

Ibnu Qudamah berpendapat bahwa menjamu orang bertakziah itu makruh, akan tetapi jika diperlukan maka hukumnya mubah [13] . Misalnya menjamu orang bertakziah yang berasal dari jauh.

Catatan: Dalam kaedah Ushul Fiqh disebutkan bahwa keperluan itu berkedudukan sama dengan darurat [14], sedangkan darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang. [15]

Karena keperluan itu berkedudukan sama dengan darurat, maka   keperluan itu juga membolehkan hal yang dilarang. Dalam masalah ini, menjamu orang yang bertakziah itu haram (lihat analisis hadis Jabir dan hadis Thalhah). Akan tetapi, jika diperlukan maka diperbolehkan.

Tidak Dibenci, jika Makanan Hasil Pemberian

Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat bahwa menjamu orang yang bertakziah itu tidak dibenci, jika makanan itu hasil pemberian. [16]

Catatan: Menjamu orang yang bertakziah itu diharamkan, baik makanannya dibuat oleh keluarga mayit maupun hasil pemberian (Lihat analisa Hadis Thalhah).

Kesimpulan:

Hukum menjamu orang yang bertakziah adalah haram.

Hendaklah keluarga mayit tidak menjamu orang yang bertakziah.

Dalil-Dalil yang berkaitan dan Analisa Ringkasnya

Hadits ‘Ashim bin Kulaib tentang Seorang Perempuan Menjamu Rasulullah dan Para Sahabat setelah Penguburan Jenazah

أَخْبَرَنَا عَاصِمٌ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ رَجُلٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ ، قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْ جَنَازَةٍ ، … فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِيُ امْرَأَةٍ ، فَجَاءَ ، وَ جِيْءَ  بِالطَّعَامِ ، فَوَضَعَ يَدَهُ ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ فَأَكَلُوْا ، فَنَظَرَ آبَاؤُنَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَلُوْكُ لُقْمَةً فِيْ فَمِهِ ، ثُمَّ قَالَ (( أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا )) … . [17]

رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ .

Artinya:

Telah mengabari kami ‘Ashim bin Kulaib, dari bapaknya, dari seseorang dari kalangan Anshar, dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  pada satu jenazah,…. Maka tatkala  beliau pulang, seorang utusan dari seorang perempuan menghadap beliau (untuk mengundang), maka beliau datang. Dan makanan itu dihidangkan, maka beliau meletakkan tangan beliau (untuk mengambil makanan) kemudian orang banyak itu meletakkan (tangan mereka), lalu mereka makan. Lalu bapak-bapak kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengunyah satu suapan di mulut beliau, kemudian beliau bersabda, ‘Aku mendapati daging kambing diambil tanpa izin pemiliknya’. … HR Abu Dawud dan Ahmad [18].

Derajat Hadis

Hadits ‘Ashim bin Kulaib berderajat hasan. Hadits hasan dapat dijadikan dalil. [19] Rawi pada sanad hadits di atas bersambung dan para rawinya tsiqat, kecuali Kulaib. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Kulaib bin Syihab itu rawi shaduq. [20] Rawi yang disifati dengan shaduq merupakan rawi yang haditsnya berderajat hasan. [21] Pada hadits ini, Kulaib bin Syihab meriwayatkan dari seorang Anshar, tanpa menyebutkan namanya. Al-Qasimi menjelaskan bahwa jika seorang rawi mengatakan “dari seorang shahabat” tanpa menyebut namanya, maka itu tidak merusak keshahihan riwayat tersebut karena semua shahabat itu ‘adl (menjalankan din dengan baik dan tidak melakukan kemunkaran). [22]

Analisa Hadis

Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah seorang perempuan menjamu Rasulullah dan para shahabat setelah menguburkan jenazah.

Ath-Thahthawi [23] dan Al-Hanafiyyah [24] menjadikan hadits ‘Ashim bin Kulaib ini sebagai hujah tentang bolehnya menjamu orang yang bertakziah.

Pada riwayat Abu Dawud ini terdapat lafal دَاعِى امْرَأَةٍ (utusan dari seorang perempuan). Adapun dalam kitab Misykatul Mashabih [25]  diriwayatkan dengan lafal دَاعِى امْرَأَتِهِ (utusan dari istrinya), yang dimaksud adalah istri si mayit [26]

Makna lafal دَاعِى امْرَأَتِهِ dan seterusnya ini dengan  jelas menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabat mengiakan seruan istri mayit, kemudian berkumpul di rumah keluarga mayit dan makan di sana. [27]

Menurut Al-Mubarakfuri, lafal دَاعِى امْرَأَتِهِ dengan tambahan ha` dlamir, ini tidak benar. Yang benar adalah دَاعِى امْرَأَةٍ tanpa ha` dlamir, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Selain itu, Imam Ahmad [28] juga meriwayatkan hadits ini dengan lafal دَاعِى امْرَأَةٍ tanpa ha` dlamir, bahkan ada tambahan مِنْ قُرَيْشٍ  (dari kaum Quraisy). [29]

Catatan: Dengan demikian, lafal دَاعِى امْرَأَتِهِ dengan tambahan ha` dlamir yang terdapat dalam kitab Misykatul Mashabih itu tidak benar, sehingga tidak dapat dipahami bahwa Rasulullah dan para shahabat dijamu oleh istri si mayit.

Kesimpulan: bahwa hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai dalil untuk membolehkan keluarga mayit menjamu orang yang bertakziah

Riwayat Jarir bin ‘Abdullah tentang Membuat Makanan di Keluarga Mayit Termasuk Ratapan

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ ، قَالَ : كُنَّا نَرَى اْلإِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَ صَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ . [30]

رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ

Artinya:

Dari Jarir bin ‘Abdullah Al-Bajali, dia berkata, “Adalah kami dahulu menganggap berkumpul pada keluarga mayit dan membuat makanan itu termasuk ratapan”. HR Ibnu Majah.

Derajat Hadis

Riwayat Jarir bin ‘Abdullah berderajat hasan. Semua rawi pada sanad hadits ini tsiqat, kecuali Syuja’ bin Makhlad Abul-Fadll terdapat perbedaan antara Ulama tentang beliau; Ibnu Ma’in mengatakan, “Aku mengenalnya, tidak ada bahaya padanya, sebaik-baik syaikh, dan tsiqat.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqat. Al-Husain bin Fahm, Ibnu Qani’, Abu Zur’ah, dan Ahmad berkata bahwa beliau rawi tsiqat. Adapun Al-‘Uqaili menyebutkan nama beliau dalam kitab Adl-Dlua’fa [31]. Catatan: Dalam kaidah ilmu Mushthalah Hadts disebutkan bahwa jika seorang rawi diperselisihkan, sebagian ulama mentsiqatkannya dan sebagian yang lain mendla’ifkan, maka dia adalah rawi hasan. [32]

Analisa Hadis

As-Sindi menerangkan bahwa yang membuat makanan itu adalah keluarga mayit. [33] Ash-Shan’ani menerangkan riwayat ini bahwa keluarga mayit membuat makanan untuk orang yang menguburkan dan yang menghadirinya. [34]

Catatan:

(1). Dengan demikian, keluarga mayit membuat makanan untuk orang yang bertakziah itu termasuk ratapan. Terdapat hadits bahwa orang yang meratapi jenazah dan belum bertaubat sebelum matinya, maka akan disiksa di hari kiamat. [35]  Dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkkan bahwa suatu perbuatan yang diancam dengan siksaan itu merupakan perbuatan yang diharamakan. [36] ket: Keluarga mayit membuat makanan untuk orang yang bertakziah itu termasuk ratapan, sedangkan ratapan terhadap jenazah itu haram. Jadi, membuat makanan oleh keluarga mayit untuk orang yang bertakziah itu haram.

(2). As-Sindi menerangkan lafal كُنَّا نَرَى dalam riwayat ini menunjukkan ijmak shahabat atau taqrir Nabi, sehingga dihukumi marfu’ kepada Nabi. Dengan demikian, riwayat ini dapat dijadikan sebagai dalil. [37] Ket: Dalam ilmu Mushthalahil Hadits disebutkan bahwa perkataan shahabat كُنَّا نَفْعَلُ كَذَا, فَعَلْنَا كَذَا, atau كَانَ يَفْعَلُ كَذَا menurut Al-Bukhari dan Al-Hakim perkataan itu bisa dihukumi marfu’, sama saja disandarkan kepada zaman Nabi atau tidak. [38]

Kesimpulan: riwayat ini dapat dijadikan sebagai dalil bahwa keluarga mayit membuat makanan untuk orang yang bertakziah itu haram

Riwayat Thalhah tentang Menjamu Orang yang Takziah Merupakan Ratapan

عَنْ طَلْحَةَ قَالَ : قَدِمَ جَرِيْرٌ عَلَى عُمَرَ فَقَالَ : هَلْ يُنَاحُ قِبَلَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ ؟ قَالَ : لاَ . قَالَ : فَهَلْ تَجْتَمِعُ النِّسَاءُ عِنْدَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ وَ يُطْعَمُ الطَّعَامُ ؟ قَالَ : نَعَمْ  ، فَقَالَ : تِلْكَ النِّيَاحَةُ  . [39]

Artinya:

Dari Thalhah, dia berkata, “Jarir datang kepada ‘Umar lalu berkata, ‘Apakah mayit di hadapan kalian itu diratapi?’ Beliau (‘Umar) menjawab, ‘Tidak’. Dia (Jarir) berkata, ‘Maka apakah para wanita yang ada pada kalian itu berkumpul atas jenazah sedangkan makanan itu dihidangkan?’ Beliau (‘Umar) menjawab, ‘Ya’. Lalu beliau (Jarir) berkata, ‘Itu adalah ratapan”.

Derajat Hadis

Riwayat Thalhah ini berderajat hasan li ghairihi. [40] Riwayat hasan li ghairihi dapat dijadikan dalil [41]. Semua rawi di atas tsiqat, namun tidak terdapat keterangan bahwa Thalhah meriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdullah. Demikian juga tidak ada kemungkinan Thalhah meriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdullah, karena Thalhah meninggal tahun 112 H [42] sedangkan Jarir bin ‘Abdillah meninggal sekitar tahun 51 H [43]. Dari hal ini diketahui bahwa waktu Jarir bin ‘Abdillah meninggal, Thalhah masih kecil sehingga tidak ada kemungkinan dia meriwayatkan dari Jarir. Dari keterangan di atas, dapat diketahui bahwa antara Thalhah dan Jarir ada rawi yang gugur. Dengan demikian, riwayat ini munqathi’ [44]. Riwayat munqathi’ itu berderajat dla’if. [45]

Meskipun demikian, terdapat riwayat berderajat hasan yang semakna dengan riwayat ini, yaitu riwayat Jarir bin ‘Abdullah (riwayat sebelum ini). Maka riwayat ini terangkat menjadi hasan li ghairihi

Analisa Hadis

Riwayat Thalhah ini semakna dengan riwayat Jarir bin ‘Abdullah yang menyatakan bahwa berkumpul di keluarga mayit dan membuat makanan di keluarga mayit itu termasuk ratapan (lihat analisa Hadis Jarir bin Abdullah).

Lafal يُطْعَمُ الطَّعَامُ menunjukkan bahwa makanan itu bisa jadi berasal dari keluarga mayit atau orang lain, sebab lafal tersebut menggunakan bentuk majhul sehingga tidak ditentukan siapa pelakunya. sehingga makanan yang dihidangkan itu bisa jadi berasal dari keluarga mayit atau yang lainnya. (Muhammad Iqbal/ed).

 

 

 

 

FOOTNOTE:

[1] Lihat Tuhfatul Ahwadzi susunan Al-Mubakrakfuri, jld. 4, hl:m. 77.

[2] Al-‘Utsaimin, Syarhu Riyadlish Shalihin, jld. 4, hlm. 218.

[3] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah susunan Wizaratul Auqafi wasy Syu’unil Islamiyyah, jld. 44, hlm. 8.

[4] Lihat Al-Fatawal Kubra susunan Ibnu Taimiyyah, jld. 3, hlm. 34.

[5] Lihat ‘Aunul Ma’bud susunan Abuth-Thayyib Abadi, jld. 8, hlm. 406.

[6] Lihat Al-Mughni susunan Ibnu Qudamah, jz. 2, hlm. 413.

[7] Lihat Tuhfatul Muhtaj susunan Ibnu Hajar Al-Haitami, jz. 1, hlm. 437-438.

[8] Lihat Al-Mughni susunan Ibnu Qudamah, jz. 2, hlm. 413.

[9] Lihat Fatawal Kubra susunan Ibnu Taimiyyah, jld. 3, hlm. 34.

[10] Lihat Majmu’atul Fatawa susunan Ibnu Taimiyyah, jld. 5, jz. 10, hlm. 320.

[11] Ath-Thahthawi, Hasyiyatuth Thahthawi, hlm. 617.

[12] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah susunan Wizaratul Auqafi wasy Syu’unil Islamiyyah, jld. 44, hlm. 9.

[13] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jz. 2, hlm. 413.

[14] Lihat Al-Asybahu wan Nadha`ir susunan As-Suyuthi, hlm. 125.

[15] Lihat Mabadi’ Awwaliyyah susunan ‘Abdul Hamid Hakim, hlm. 32.

[16] Lihat Tuhfatul Muhtaj susunan Ibnu Hajar Al-Haitami, jld. 1, hlm. 437.

[17] Abu Dawud, Sunanu Abi Dawud, jld. 2, jz. 3, hlm. 244, k. Al-Buyu’, b. (3) Fijtinabisy Syubhat, h. 3332.

[18] Lihat Al-Mausu’atul Haditsiyyah Musnadul Imami Ahmad susunan Al-Arna`uth, jz. 37, hlm. 185, h. 22509.

[19] Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Ath-Thahhan, hlm. 39.

[20] Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 44, no. 5678.

[21] Lihat Asy-Syarhu wat Ta’lil susunan Yusuf Muhammad Shiddiq, hlm. 73.

[22] Lihat Qawa’idut Tahdits susunan Al-Qasimi, hlm. 199-200.

[23] Ath-Thahthawi, Hasyiyatuth Thahthawi, hlm. 617.

[24] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah susunan Wizaratul Auqafi wasy Syu’unil Islamiyyah, jld. 44, hlm. 9.

[25] Lihat Misykatul Mashabih susunan At-Tabrizi, jld. 2, hlm. 398, h. 5942.

[26] Lihat ‘Aunul Ma’bud susunan Abuth-Thayyib Abadi, jld. 9, hlm. 180-181.

[27] Lihat Tuhfatul Ahwadzi susunan Al-Mubakrakfuri, jld. 4, hlm. 78.

[28] Lihat Mausu`atul Haditsiyyah Musnadul Imami Ahmad susunan Al-Arna`uth, jz. 37, hlm. 185, h. 22509.

[29] Lihat Tuhfatul Ahwadzi susunan Al-Mubakrakfuri, jld. 4, hlm. 78.

[30] Ibnu Majah, Sunanubni Majah, jld. 1, hlm. 514, h. 1612.

[31]   Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 3, hlm. 139-140, no. 3217.

[32]   Lihat Qawa’idu fi ‘Ulumil Hadits susunan Dhafar Ahmad At-Tahanawi, hlm. 72.

[33] Lihat Sunanubni Majah bi Syarhil Imami Abil Hasanil Hanafi susunan As-Sindi, jld. 2 , hlm. 275.

[34] Lihat Subulus Salam susunan Ash-Shan’ani, jld. 1, jz. 2 , hlm. 117.

[35] Muslim, Shahihu Muslim, jld. 2, hlm. 335, k. (11) Al-Jana`iz, b. (10) Babut Tasydidi fin Niyahah, h. 29.

[36] Lihat Al-Wadlihu fi Ushulil Fiqh susunan Al-Asyqar, hlm. 29.

[37] As-Sindi, Sunanubni Majah bi Hasyiyatis Sindi, jld. 2, hlm. 275, h. 1612.

[38]Lihat Taujihul Qari susunan Az-Zahidi, hlm. 177.

[39] Ibnu Abi Syaibah, Al-Kitabul Mushannafu fil Ahaditsi wal Atsar, jld. 2, hlm. 486-487, h. 11349.

[40] Lihat lampiran hlm. 26.

[41] Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Ath-Thahhan, hlm. 43.

[42] Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 3, hlm. 303, no. 3527.

[43] Lihat Tahdzibul Kamal susunan Al-Mizzi, jld. 2, hlm. 235, no. 917.

[44] Munqathi’ adalah satu hadits yang ditengah sanadnya gugur seorang rawi atau beberapa rawi, tetapi tidak berturut-turut (lihat Ilmu Mushthalah Hadits susunan A. Qadir Hassan, hlm. 95).

[45] Lihat Bulughul Amali min Mushthalahil Haditsi war Rijal susunan Muhammad Mahmud Ahmad Bakkar, hlm. 232.

Tinggalkan komentar