Rubric: Qish-Qosh

Oleh  : Abdullah Je. (27019)

FIVE STARS

Lantai dua bangunan timur dekat tangga selatan. Sebuah tempat strategis untuk menggelar acara ‘privat khusus’. Pada acara inilah para ikhwan dapat berjumpa dengan kakak atau adik perempuan mereka. Acara yang hanya boleh digelar sebulan sekali ini tentunya menjadi moment yang ditunggu-tunggu untuk melepas rindu bersua dengan saudara. Maklum, meski tempat tinggal mereka hanya berjarak beberapa meter, namun tembok bangunan dan peraturan tak memberikan sedikitpun celah buat mereka untuk berjumpa. Dan acara ini hanya boleh digelar di hari Jum’at..

“Mbak, aku denger akhawat tu pada geng-gengan ya?” Farhan membuka pembahasan baru setelah berbasa-basi dengan kakak perempuannya.

“Kata siapa?” Kakaknya sepertinya hendak mengelak.

“Bener nggak? Isu itu sudah santer banget di kalangan ikhwan loh mbak. Katanya geng-gengannya sudah parah banget. Sampe ada acara intimidasi segala. Apalagi aku juga denger mbak Qia malah jadi anggota geng apa tu…hmm…LG (baca: el-ji)!?.” Farhan memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan kakaknya. Lalu menutup giliran bicaranya dengan mencicipijelly merah yang sengaja dibuat kakaknya untuk menemani ‘privat khusus’ pagi itu.

“Hmm…masa ikhwan pada tahu?”

Farhan membalasnya hanya dengan mengangguk.

“Kemajuan teknologi informasi benar-benar pesat.” Qia mengeleng-geleng kepalanya.

“Jadi bener, mbak juga ikut-ikutan geng?”

“Sebenernya geng itu terbentuknya alami. Kan katanya al arwahu junudun mujannadah. Jiwa-jiwa itu berkumpul bersama sejenisnya.”

“Tapi kalo sampe bikin nama, terus jadi musuhan. Itu kan jadi nggak baik mbak. Udahlah mbak, nggak usah ikut-ikutan.”

“Far, LG itu sebenarnya bukan mbak dan temen-temen mbak yang buat nama. Itu cuma ulah temen-temen yang nggak suka sama mbak aja.”

“Tuh kan, sudah jadi musuhan kan….”

. . . . . .

–        #     #     #         –

“Tan, kok nggak pada ambil makan? Nggak laper to?” Qia yang baru datang, melongo melihat beri putih mereka kosong. Beri putih, sebuah wadah yang sudah hampir dua tahun menjadi saksi bisu kebersamaan mereka dalam lapar dan kenyang.

“Aduh, afwan mbak aku lagi sibuk nih.” Tania masih fokus dengan pintalan benang nylonnya.

“Trus yang lain kemana?”

“Lagi di depan komputer mungkin.” Sahut Tania sekenanya.

Siang-siang gini pasti enak kalo bikin es teh. Sekalian panggil yang lainnya.

Tanpa pamit, Qia beranjak meninggalkan pojok ruangan lantai tiga yang jadi ‘markas’nya. Dan sekejap, ia sudah kembali dengan membawa es batu kiriman dari adeknya habis shalat Jum’at tadi.

“Wih, mau ada acara apa ni, mbak. Bawa es batusegala?” Tanpa dipanggil, Tania berhenti dari kesibukannya. Terheran dengan Qia yang datang dengan es batu dan plastik hitam.

“Kita bikin es teh yuk!” Ajak Qia sambil membuka plastik hitam bawaanya.

“Waw, ada alpukat juga …. Dari mana mbak?”Tania segera meletakkan benang-benang yang tadi melilit jarinya setelah Qia mengeluarkan isi plastik hitamnya.

“Dari adekku tadi pagi.”

“Yang lain nggak dipanggil?”

“ya udah, aku yang panggil. Kamu pecahin es batunya ya. Tapi jangan keras-keras mukulnya. Malu sama yang lain.” Qia segera meninggalkan Tania. Mencari Pipit, Mia dan Ni`ah demi sebuah kebersamaan. Berbagai tempat rela ditelusurinya. Ruang komputer, kamar timur, dapur sampai tempat jemuran juga tak ketinggalan. Tak beberapa lama, mereka berempat sudah berjalan bersamaan menuju ‘markaz’ di pojok ruangan lantai tiga barat. Di sana, Tania sudah siap dengan es tehnya.

“Ooh, ternyata ada alpukat!” Seru Mia baru tahu setelah sejak tadi penasaran dengan kejutan yang dijanjikan Qia.

“Ada es teh juga… wah segerrr. Cocok banget mbak. Panas-panas gini…” Pipit ikut meramaikan kebersamaan.

“Mbak, alpukatnya aku belah ya?” Ni`ah sudah tak sabaran ingin merasakan lembutnya alpukat siang itu.

“Iya….kamu kalo soal beginian mahcepet banget!”Ni`ah yang diajak bicara hanya membalas dengan pamer gigi seri.

Sekejap saja, pojok ruangan lantai tiga barat itu menjelma bak arisan ibu-ibu PKK. Halaqah yang sebenarnya hanya berisi lima orang itu seakan berisi dua puluh orang. Berbagai tema pembicaraan bersambung tak pernah henti. Gelak tawa sesekali meledak. Apalagi diramaikan dengan es teh dan buah alpukat yang dilumat dengan gula. Segar, manis, lembut, dan ramai. Sebuah suasana yang tak ingin ditinggalkan sama sekali oleh seorang pun dari mereka berlima. Suasana yang mampu menghilangkan penat dan sesak. Suasana yang mewarnai indahnya hidup di tengah sempitnya bangunan lima lantai asrama.

“Eh, aku tadi denger dari adekku, ternyata di tempat ikhwan sudah menyebar opini kalau akhawat di sini pada geng-gengan. Mereka juga udah pada tahu kalau sebagian kita memang ada perasaan nggak enak sama yang lain. Parahnya, nama LG juga sudah terkenal di sana.” Qia membuka tema obrolan baru.

“Halah, biarin mbak. Cuma ikhwan kan? Kita juga tahu borok-borok mereka.” Mia yang menyahut. Tak mau ambil pusing soal gosip itu.

“Ini bukan masalah gosip, Mi. Lama-lama aku juga ngerasa nggak enak kalau kita geng-gengan kayak gini. Kesannya kayak preman.”

“Mau bagaimana lagi, mbak. Kan kita jadi begini sebenarnya juga bukan sengaja. Perasaan kita  juga nggak pernah ada pendafataran untuk masuk geng tertentu. Al arwahu junudun mujannadah. Yang suka ngelanggar kan nggak mungkin kumpul bareng yang taat peraturan. Ya…kita tahu sendiri lah. Kita apa mau kumpul bareng akhawat gengnya mbak Vinda? Yang diomongin saban hari ikhwaaan melulu. Ih, jangankan kumpul bareng mereka. Lewat deket mereka aja aku risih dengernya.” Mia mengajukan argumen.

“Iya sih. Tapi kalau sampe bermusuhan itu kan juga nggak bener. Kan akan lebih baik kalau mereka bisa deket sama kita. Terus kita bilangin mereka baik-baik. Iya nggak?” Tutur Qia.

“Iya ya.” Pipit sepertinya mulai setuju dengan Qia.

“Bener juga. Tapi semuanya sudah terlanjur parah, mbak.” Ni`ah turut menyumbang suara.

“Parah? Tapi bukan mustahil kan kalau kita bisa mengubah kondisi?” kata Qia dengan mata berbinar.

“Caranya?” Pipit kali ini mengira, sepertinya Qia punya sebuah rencana.

Qia menatap papan lemari dekat tempat duduk mereka. Di sana tertulis angka lima sebesar telapak tangan. Di bawahnya tertulis‘STARS’ dengan font kuning. Lalu dibawahnya lagi tertulis nama Zasqia Salsabila, Tania Putri, Ummi Alifah, Shalihatul Hafidhah, dan Hani’ah Qurratu ‘Aini. Disekitarnya bertaburan potongan-potongan kertas kecil berbentuk bintang. Mungkin ini yang membuat mereka disebut sebagai FIVE STARS, meski mereka tak pernah mendeklarasikan nama itu.

“Mi, jumlah akhawat semua berapa?”

“Hmm…kalo nggak salah 186.”

Qia lantas mengambil sebuah kertas HVS. Membaginya jadi dua. Lalu menulis angka 186 dengan spidol besar. Kemudian kertasi itu ditempelkan menutupi angka lima yang tertulis di papan lemari.

“Kita bukan cuma berlima. Kita berseratus delapan puluh enam. Kita semua bintang. Bintang yang saling membantu menerangi gelap malam. Bukan bintang yang saling memadamkan.” Ujar Qia.

“Mbak Qia…”

“Eh, itu ada mbak Vinda baru keluar dari ruang komputer. Gimana kalo kita panggil aja kesini? Biar bisa bareng-bareng minumes teh bareng kita.” Qia mengajukan ide.

“Eh, mbak ngapain? Nggak usah!” Sepertinya Mia kurang setuju.

“Udah, nggak papa. Sekali-kali boleh kan.”

“Mbak Vinda!” Panggil Qia setengah berteriak sambil melambaikan tangan.

Vinda yang baru keluar dari ruang komputer spontan terhenti. Seakan terheran mati-matian. Orang yang selama ini sentimen dengannya kok tiba-tiba memanggil.

Nggak salah nih?

Vinda hanya tersenyum tawar dari kejauhan sambil mengangguk. Mungkin dia juga enggan duduk dengan mereka.

“Mbak Vin, sini!” Untuk yang kedua Qia memanggil. Tapi kali ini tak hanya memanggil. Qia berdiri dan berlari kecil ke arah Vinda. Lalu menarik tangannya menuju tempat teman-temannya.

“Udah nggak papa, duduk sini. Nggak usah malu mbak. Ini ada es teh. Cobain,seger loh!”

“Ngng…iya syukran. Tapi aku mau…mau…mau mandi.” Vinda berusaha mencari-cari alasan untuk segera meniggalkan tempat itu. 

“Eit, nggak boleh pergi sebelum minum es tehnya satu gelas. Alpukatnya juga.” Qia tetap memaksa Vinda agar mau minum es teh buatan mereka. Sementara itu Mia, Pipit, Tania dan Ni`ah tak bersuara,hening menyaksikan tingkah sahabatnya yang lain dari biasanya. Dan akhirnya Vinda meminum es teh di gelas yang disediakan Qia. Usai seteguk, Vinda melihat ke papan lemari bertulis ‘STARS’ yang angka limanya sudah diganti dengan ‘186’. Tapi tiba-tiba Mia berdiri. Beranjak meninggalkan tempatnya.

“Eh, Mi. Mau kemana?” Qia yang bertanya. Tapi tetap saja. Mia tak mau berhenti. Ia melanjutkan langkahnya menjauhi mereka. Sepertinya Mia memang benar-benar tak bisa duduk dengan Vinda. Wajah Qia sedikit mengerucut. Pipit dan lainnya sebenarnya juga ingin menyusul Mia. Tapi tak enak meninggalkan Qia sendirian. Tepaksa mereka harus mematung di sana.

“Qi, sejak kapan tulisan itu kamu ganti?” Vinda memberanikan diri bertanya.

“Sejak aku sadar bahwa sebenarnya kita semua di asrama ini satu geng. Jadi kita nggak perlu susah cari jalan lain ketika harus berpapasan dengan yang lain. Kita nggak perlu susah kasih surat kaleng untuk nyebarin kejahatan orang lain. Kita juga nggak perlu susah pilih-pilih jalan biar nggak ngelewati tempat tertentu.” Terang Qia sambil berusaha sekuat tenaga menciptakan senyum termanisnya.

“Qia…kamu…”

“Mbak Qia…panggil temen-temen yang lain! Suaramu kan stereo.” Tiba-tiba Mia datang dengan sekardus penuh berisi makanan yang baru dikirimkan ayahnya tadi pagi.

“Ayo mbak. Hari ini kita gelar sykuran buat pelebaran geng kita. Katanya geng kita sekarang jadi 186!” Seru Mia sambil memnyobek plester yang membungkus kardusnya.

“Yang bener Mi? nggak salah nih?” Qia seakan tak percaya. Pipit dan lainnya juga tak kalah herannya.

“Halah, mbak Qia lama banget. Ya udah, aku sendiri yang panggil. Ima, Rahma,….sini buruan!” Mia mengabsen semua akhawat yang duduk di sudut ruangan lain.

“Okelah aku bantu panggil.” Qia lantas mengambil sendok dan mangkuk. Lalu membuat irama persis penjual mie ayam yang biasa lewat di sekitar komplek ma’had. Ting-ting-ting-ting . . . .

“Hey semuanya ….. sini! Mia lagi hajatan! Yang di ruang komputer, tinggal dulu!” ting-ting-ting-ting. Suara stereo Qia sukses menarik perhatian semua akhawat di lantai tiga barat.

SSST….SSST….SSST…. Suara ini dari lantai bawah. Untuk yang kesekian kalinya Qia lupa. Lantai di bawah mereka adalah masjid. Di sana banyak ikhwan sedang hafalan.

“Eh mbak, yang di bawah juga mau ikutan tuh!”

Suara berganti gelak tawa.

SSST….

The End

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *