Anak Zaman Dahulu vs Sekarang: Lebih Shalih Mana?


“Maka saya sering bilang, anak-anak sholih di jaman saya, dengan anak-anak sholih di jaman sekarang, jauh lebih sholih anak jaman sekarang.”Ustadz Mukhtar Tri Harimurti, S.Ag.

Podcast 02 chanel Bahas Umat (Powered by Al-Islam TV) kali ini dipandu oleh Ustadz Salman Faris dan Saudara Hakam dengan mengundang narasumber Ustadz Mukhtar Tri Harimurti S.Ag, beliau adalah seorang praktisi pendidikan anak, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Islam Surakarta.

Podcast kali ini mengangkat tema seputar anak jaman dahulu vs anak jaman sekarang.

Foto: Pembawa Acara Ustadz Salman Faris (kanan) dan saudara Hakam (kiri)

Berikut ringkasan podcast tersebut:

Asal Mula Berdirinya Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Islam Surakarta

Pada zaman orba (orde baru), sekolah-sekolah mendapatkan pengawasan ketat dari pemerintah. Ilmu agama saat itu sangat minim sekali diajarkan di sekolah-sekolah formal, satu pekan hanya dua jam. Hal itu membuat para asatidz sepuh kita tidak setuju. Dengan bekal ilmu dari pengajian Al Quran dan hadits, beliau-beliau ini memulai mengajari putra putri mereka sendiri soal baca tulis hitung dan ilmu agama. Mereka mengharapkan anak-anak bisa menulis, membaca, menghitung dan mereka faham pula agama.

Madarasah Ibtidaiyyah Al-Islam adalah sekolah komunitas yaitu sekolah yang segala sesuatunya adalah berkaitan dengan komunitas. Kebetulan komunitas Al-Islam adalah komunitas dengan latar belakang ta’lim, terbiasa ngaji, orang-orang yang fokus ‘Agama’.

Di antara asatidz yang menjadi peletak dasar cikal bakal Madrasah Ibtidaiyyah (MI) ini adalah Ustadz Abu Abdillah dan Ustadz Ashuri (Abu Kisri).

Saat itu, pengajaran masih diadakan di masjid dengan fasilitas seadanya, seperti papan tulis yang disandarkan ke tembok dan sebagainya.

Dari murid yang berjumlah satu dua tiga, seiring berjalannya waktu, jumlah murid bertambah sampai sekarang mencapai ratusan murid.

Awalnnya, madrasah ini bisa dikatakan formal ya tidak, tapi dikatakan tidak formal juga tidak. Tapi faktanya sejak awal sudah terstruktur dan terjadwal.

Guru-Guru pengampu madrasah ini bisa dikatakan guru-guru yang tumbuh secara alami. Dari sekian jama’ah yang memiliki kemampuan untuk mengajar dan longgar, maka dipersilahkan untuk mengajar. Sebagian guru memang ada yang berlatar belakang Pendidikan.

Model Pendidikan Zaman dahulu Vs Model Pendidikan Zaman Sekarang

Dahulu hal yang terpenting adalah anak masuk sekolah dan sebagian orang tua yang memiliki ketertarikan untuk mendidik, maka mereka mendidik anak mereka sendiri. Dahulu mungkin anak-anak yang masuk sekolah tanpa seragam, tanpa ijazah termasuk hal yang aneh. Sebagaimana yang berjalan di madrasah ibtidaiyyah Al-Islam pada mulanya.

Tapi pada masa sekarang ternyata hal yang dahulu terasa aneh sekarang tidak lagi menjadi aneh. Sekarang terkenal dengan istilah ‘homeschooling’ yang mana tujuan pendidikan itu adalah anak mengetahui inti dari ilmu yang harus mereka tahu, seperti membaca, menulis dan berhitung.

Dari sekolah yang awalnya belum formal, murid-murid tanpa seragam, menjadi sekolah yang “formal”, murid-murid berseragam, guru-guru terstruktut dan salah satu asatidz senior kita dihubungi pihak kemenang dan sekarang madarasah ibtidaiyyah ini sudah terdaftar di kemenag dengan nama “Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) Ula“.

Keinginan semua Orang Tua adalah Anaknya ‘Sukses’

Semua pendidik dan orang tua pasti menginginkan putra putri nya menjadi orang “sukses”. Baik kita menyadarinya atau tidak, mereka akan mengarahkan anaknya kepada apa yang mereka inginkan.

Namun “kesuksesan” menurut masing-masing orang tua berbeda-beda. Kebanyakan orang menginginkan anaknya menjadi hebat, hidup sejahtera. Semisal: yang penting anak saya menjadi Polisi, ASN (dulu PNS) sehingga hidupnya terjamin. Masa muda bekerja, masa tua mendapatkan pensiunan dan lain sebagainya.

Adapun tujuan pendidikan oleh guru-guru kita adalah adalah bagaimana anak mampu mewujudkan tugas dia sebagai manusia, yaitu beribadah kepada Allah. Hidup sejahtera itu kebutuhan pokok tercukupi dan bisa hidup sebagai Khalifah di muka bumi, yaitu seorang hamba yang faham akan kewajibannya kepada Allah dan agama.

Makanya, sesepuh kita dulu “membuat cikal bakal MI” yang di dalamnya ada pelajaran fiqih, aqidah, dan akhlaq dengan harapan anak-anak bisa menjadi pribadi muslim yang tahu akan keislamannya.

Anak Jaman Dahulu VS Anak Jaman Sekarang: Lebih Shalih yang Mana?

Anak shalih di zaman sekarang itu lebih shalih daripada anak shalih di zaman dahulu, karena zaman dahulu godaannya lebih sedikit daripada zaman sekarang. Adapun sekarang, di rumah pun anak bisa bermain dengan handphone.

Kita Tidak Bisa Men-judge Bahwa Anak ini Baik atau Buruk

“Sampai hari ini -kata Ustadz Mukhtar-, saya tidak pernah menjudge (menetapkan) anak ini anak baik atau jelek, karena saat itu amat sangat belum finish.

Banyak kisah bahwa orang yang sebelumnya adalah seorang preman, akan tetapi akhirnya menjadi orang yang shalih.

Berdasarkan ayat “..Quu anfusakum wa ahliikum naaran.. ” [Q.S. At Tahrim : ..], kita semua punya tugas untuk menjaga diri dan keluarga. Untuk kedepannya, kita juga punya tugas untuk mengajak orang lain, khususnya di sekitar kita agar menjadi baik.

Karena kalau kita ingin diri dan keluarga kita menjadi baik, maka lingkungan harus kita jadikan baik.

Maka kata Ulama,

الجار قبل الدار

Ulama mengambil perkataan ini dari doa Asiyah, istri Fir’aun, dalam surah At Tahrim:

رب ابن لي عندك بيتا في الجنة

Untuk lebih lengkap dan jelas, silakan klik tautan berikut:

Diringkas dan disusun oleh: Ustadz Umar Ibnu Abbas (Abu Muiz) dan M. Iqbal

Tinggalkan komentar