Bukan Elon Musk! Inilah Pahlawan Sebenarnya Yang Menghubungkan Kita Dengan Warga Gaza


Oleh: M. Iskandar & M. Iqbal

28 Oktober Lalu Elon Musk, orang terkaya pertama di dunia dan pemilik StarLink (provider internet satelit) mengetweet bahwa dirinya akan memberikan akses internet bagi lembaga kemanusiaan yang diakui secara internasional, yang berada di Gaza.

Tweet ini juga sebagai tanggapan atas permintaan warganet yang mengangkat hashtag #starlinkforgaza yang menuntut agar StarLink terjun memberi sokongan kemanusiaan sebagaimana sebelumnya StarLink menyediakan internet gratis bagi warga Ukraina dalam perang Rusia-Ukraina.

Kecaman Keras Pihak Israel

Walaupun niatnya juga hanya akan menyediakan internet bagi “lembaga kemanusiaan yang diakui secara internasional” dan bukan jurnalis, apalagi warga sipil Gaza, tweet Elon tersebut rupanya mendapat kecaman keras dari MenHub dan Anggota Knesset (Parlemen) israel, Shlomo Karhi, yang kemudian ditanggapi kembali oleh Elon bahwa ia belum sama sekali menyambungkan StarLink nya dengan Gaza. Dan jikapun dia akan menyambungkan, maka itu menunggu izin dari pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah  Israel.

Banyak dari kita yang terlanjur bereuforia dengan tweet pertama Elon Musk tadi, dan menyangka bahwa kabar-kabar dari Gaza kembali megudara berkat jasa Elon Musk
Lantas siapakah gerangan pahlawan sebenarnya yang membuat kabar-kabar dari Jurnalis dan warga sipil Gaza terhubung kembali dengan dunia, dan membuka mata dunia akan apa yang sebenarnya terjadi di Gaza ?

Pahlawan di balik Kemenangan Rakyat Gaza

Adalah PalTel (Palestine Telecommunications Company) perusahaan telekomunikasi Palestina yang berdiri sejak 1995 yang berjasa menghubungkan kembali Gaza dengan dunia.

Sejak Menhan Israel, Yoav Gallant mengumumkan bahwa Israel akan memutus semua kebutuhan vital warga Gaza, “Saya memerintahkan pengepungan penuh atas Gaza. Tidak ada listrik, makanan, gas, semua ditutup”. Sejak saat itu pula PalTel telah menjadi sasaran utama bom-bom pesawat tempur Israel.

Berikut kondisi kantor PalTel di Gaza setelah dibombardir Israel pada 10 Oktober lalu.

Berikut tautan ke video kondisi kantor PalTel tanggal 10 Oktober lalu oleh Jurnalis Gaza Muhammad Abid:

https://www.instagram.com/reel/CyNjvJ3o431/?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Dalam kondisi perang yang terjadi di Gaza saat ini, tentu tidak mudah memertahankan infrastruktur telekomunikasi agar tidak mudah rusak terkena bom dari pesawat tempur Israel, maupun mati karena terputusnya aliran listrik. 

Akun Twitter CeritaDunia @HistoriDunia2 membagikan bagaimana PalTel menangani hal tersebut:

PalTel (Palestine Telecommunications Company) mengubur kabelnya sedalam 8 meter (standarnya adalah 60 cm), menggunakan generator, panel Surya dan baterai untuk dapat memberi cadangan daya, dan mempunyai 750 karyawan yang berani mempertaruhkan nyawa. 

sumber deskripsi berita tadi bisa anda baca di sini: https://www.aljazeera.com/news/2023/11/21/keeping-gaza-online-gazas-telecom-heroes-risk-life-and-limb-under-israels-bombs

PalTel (Palestine Telecommunications company) perusahaan siapakah?

Sabih Al-Masri yang bernama lengkap Sabih Thohir Darwisy Al-Masri adalah pemilik PalTel (Palestine Telecommunications company).

Tenntang Shabih Al-Masri silakan baca: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sabih_al-Masri

Al-Masri? Sepertinya nama ini sedang viral ya akhir-akhir ini.

Terutama setelah Dr. Indrawan Nugroho mengupload video di Youtube tentang orang terkaya nomor 1 di Palestina. Videonya bisa anda simak di sini: https://youtu.be/7_ZS9Chw-38?si=iOuV43oNteLorP8Q

Sabih Al-Masri adalah keponakan Munib Al-Masri yang dikenal dengan ‘Duke of Nablus’ (Bangsawan Nablus) dan ‘The Godfather of Palestine’ (Secara harfiah artinya Ayah Baptis, namun istilah ini merujuk pada karakter protagonis film Amerika tahun 1972, seorang pria tua pemimpin geng yang berkarisma). Munib Al-Masri lahir 1934, seorang industrialis, filantropi (dermawan), dan orang terkaya nomor satu se-Palestina, beliau berasasal dari keluarga besar / Marga Masri. Sebagian orang bahkan menyebut keluarga mereka sebagai Rothschild nya Palestina. Walaupun realistis saja rasio kekayaan kedua keluarga / marga ini tidak sebanding. Namun inilah keluarga konglomerat muslim Palestina yang membela agama dan bangsa mereka dengan harta yang mereka punya, Al-Masri.

Tentang Munib Al-Masri, silakan baca: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Munib_al-Masri

Anda bisa baca dari sumber manapun tentang riwayat sekolah sang paman dan keponakannya ini, mereka semua mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan faktanya, literasi umumnya warga Gaza dan persentase warganya yang mengenyam pendidikan universitas termasuk yang tertinggi di kawasan Timur Tengah. Dalam Genosida yang dilakukan Israel atas Gaza ini kita juga melihat bagaimana Israel menyadari pendidikan warga Gaza adalah ancaman bagi mereka sehingga mereka terus-terusan mengebom sekolah-sekolah dan universitas-universitas yang ada di Gaza.

Sebagian Muslimin Harus Berpendidikan Tinggi dan Menjadi Konglomerat

Harus selalu ada sebagian Muslimin yang bisa berjihad bil amwal (dengan harta) yang dalam ayat-ayat Al-Qur’an penyebutannya selalu didahulukan dari berjihad bil Anfus (Dengan diri/nyawa)

Kita bisa bayangkan, kalau saja sejak operasi ‘thaufan Aqsa‘ (Banjir Aqsa) 07 Oktober yang lalu di Palestina tidak ada PalTel yang rela rugi milyaran untuk menyiapkan jaringan internet di Palestina, hampir bisa dipastikan Israel memenangkan propaganda dan berhasil menggiring opini dunia, karena kita tidak bisa mendapatkan berita ter-update dari para Jurnalis dan Sipil Palestina yang menyaksikan langsung peristiwa keji Zionis Israel yang sebenarnya terjadi di sana.

Tanpa Izzah dari jihad bil-amwal (dengan harta), sejak kemarin-kemarin mungkin bisanya cuma mentrandingkan hastag #starlinkforgaz, berharap dan memohon kepada orang-orang Kafir untuk membantu saudara-saudara yang di Palestina yang sedang dibantai Zionis Israel.

Berharap dan memohon kepada orang Kafir untuk membantu saudara-saudara seiman kita yang di Palestina yang sedang dibantai Zionis Israel. Toh akhirnya juga tidak dikasih. Bayangkan seberapa mirisnya dan hinanya wajah umat kita jika tidak ada konglomerat muslim macam keluarga Al-Masri, yang mempertahankan izzah ummat ini dengan jihad bil amwal.

Sekali lagi ya ikhwah, mari kita tadabburi, kenapa Allah menyebutkan Jihad dengan harta sebelum jihad dengan nyawa. Niatkan semua yang kita kerjakan sebagai sarana Jihad fi Sabilillah. Temukan passion kita, jadikan itu modal untuk Jihad kita, sisihkan dari harta dan keahlian apapun yang kita punya untuk Jihad di Jalan-Nya.

Karena sesungguhnya kemenangan Islam & kemenangan Palestina adalah suatu nubuwat yang sudah pasti. Yang belum pasti adalah posisi kita masuk jannah atau neraka. Maka marilah kita manfaatkan peluang jihad ini untuk kepentingan diri-diri kita sendiri.

Tinggalkan komentar