Di Antara Balutan Kafayeh

Malam masih menghembuskan dingin di antara puing-puing sepi. Hening menangisi bebangunan yang sudah tak lagi pada bentuknya. Tapi, syukurlah langit Palestina masih berkenan menyapa mala mini dengan gemintangnya yang berkelipan. Ditemani sependar bulan yang menyibak separuh gelap di balik sisa-sisa harapan. Di antara kisi-kisi sunyi itu, masih berkecamuk sergap-sergap khawatir dan rasa takut. Meronta pula gejolak dendam dan angkara, di bawah reruntuhan air mata wanita-wanita yang mencoba mengarungi hening dengan selaksa harapan dan doa. Memutar kembali sketsa biadab dan keji yang meluluh lantakkan segalanya. Canda manja buah hatinya, paras cinta suaminya, naung teduh kediamannya. Semuanya sirna.

 Di balik helai sayap-sayap gelap, binar sorotan tajam mata-mata diantara balutan kafayeh masih terang menyala. Menjelajah malam menelusuri celah-celah sisa bangunan. Terlukis kilau semangat perjuangan di dalamnya. Dengan bekal keyakinan akan kemenangan yang dijanjikan atas kekejaman yang mereka peram, gelap malam tak menghalangi mereka menyusun langkah, mengintai dan menjaga. Tak sedikitpun rasa takut terbesit dalam benak mereka. Meski mereka tahu lawan mereka tak sebanding. Dengan pertolongan Allah, mereka yakin kerikil ditangan mereka akan lebih keras dari peluru yang membara. Molotov buatan mereka pun bisa lebih dahsyat ledakannya dari rudal-rudal raksasa.

“Yahya, sampai kapan kita akan terus di sini?”

“Sabarlah, sampai biadab-biadab itu agak menjauh dari kita.”

Di belakang sebuah rumah di pinggir jalan Ramallah, semangat dua pemuda itu belum kenan padam ditelan malam. Dari balik kafayeh masing-masing, keduanya mengintai dalam senyap. Mengatur tapak menuju kemenangan. Tanpa rasa takut, berbekal iman dan semangat juang.

“Yahya, kita sudah tiga jam di sini.”

“Sampai shubuh pun kita di sini, insyaallah tak akan percuma, Audah.”

“Aku tak sabar ingin melihat mereka meledak dengan dengan benda kita ini.” Gerutu Audah sambil menggenggam erat sebuah bom rakitan yang mereka buat sendiri.

“Audah, aku tahu semangatmu. Aku paham rasa bencimu pada mereka. Tapi jangan biarkan ambisimu menghancurkan semua rencana kita. Kita masih punya banyak misi. Kita harus lakukan semua ini dengan rapi, jangan tergesa-gesa.” Yahya mencoba mengendalikan kawannya dengan sesekali mengintip ke arah dua serdadu Israel yang selalu mondar-mandir di jalan yang tak begitu jauh dari mereka.

“Sekarang bagaimana, tak adakah rencana lain selain menunggu sampai mereka berdua pergi dari tempat itu?” Audah kembali menatap kawannya dengan lekat.

“Audah, perhatikan. Di sana ada dua mobil. Yang berjaga mondar-mandir hanya dua orang. Mereka pasti tak hanya berdua. Di dalam mobil itu pasti ada lebih banyak tentara Zionis. Kalau kita lemparkan bom ini ke mobil itu sekarang, memang terlalu bahaya. Karena kita tak boleh terlihat oleh tentara yang berjaga itu.” Masih dengan berbisik Yahya menjelaskan rencananya pada Audah.

“Lalu bagaimana?”

“Begini, kita tunggu sampai mereka semua naik ke mobil saat mereka akan pergi. Saat itulah kita lemparkan bom ini ke mobil itu, dan blamm…… malam kita akan menjadi terang.” Tangan Yahya turut mengilustrasikan hancurnya mobil yang menjadi target mereka.

“Jadi kita akan menunggu sampai mereka pergi?”

“Ya, mau bagaimana lagi?”

“Yahya, itu terlalu lama. Lagi pula kita juga belum tahu kapan mereka akan pergi. Kalau sampai pagi bagaimana. Atau bahkan kalau mereka tak pergi bagaimana?”

“Karena itulah kita menunggu di sini. Meskipun malam ini kita hanya berdiam di sini mengintai mereka tanpa hasil apa-apa, insyaallah kita sudah dijanjikan pahala yang lebih baik dari dunia seisinya. Kita disini sedang ribath, Audah. Tak perlu khawatir. Diam kita di sini tak akan sia-sia. Percayalah!”

“Baiklah aku tahu itu. Tapi bukan kah lebih baik kalau kita bergerak cepat. Aku berani melempar bom ini sekarang. Aku tak takut dengan biadab-biadab itu.” Audah masih bersikeras dengan semangatnya.

“Tapi itu berbahaya, terlalu beresiko. Kau bisa mati kalau kau melakukan hal itu sekarang. Aku berharap kita masih bisa pulang bersama merayakan kemenangan.”

“Yahya apa kau lupa. Teman-teman kita sudah banyak yang mendahului kita. Apa kau lupa kalau kita mati di sini, apa yang kita peroleh. Syahadah. Lupakah kau akan cita-cita kita itu,Yahya?” ujarnya agak berbisiknya sambil menggenggam erat pundak Yahya.

“Hey, dengarkan aku.” Yahya menatap Audah begitu dalam. Menelusur jauh ke dalam matanya di antara balutan kafayeh merah. Ada semangat yang begitu membara di sana. “Syahadah memang cita-cita kita. Aku tahu betapa indahnya pahala syahadah. Aku tak lupa dengan teman-teman kita yang sedang menunggu di sana. Tapi Audah, kita berjuang, kita dari tadi menunggu di sini melewati malam bersama bom ini bukan untuk mati. Kerja keras kita selama ini bukan semata-mata untuk mati. Kita berjuang untuk menang, Audah. Kita berjuang agar agama kita tak lagi diinjak-injak di tanah kelahiran kita sendiri.” Yahya tak ingin temannya itu melakukan hal gegabah.

“Tapi Yahya.Aku sudah tak sabar lagi ingin menemui para bidadari yang akan menjemputku ke surga.”

“kau jangan egois begitu. Kau hanya ingin kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Syahadah memang puncaknya kebaikan. Tapi coba pikirkan, mana yang lebih baik, kau syahid setelah menang dengan membunuh ratusan tentara Israel, atau kau syahid setelah hanya berhasil menewaskan seorang saja. Kalau Allah menakdirkan kemenangan lewat tangan kita, pahala yang kita raihpun tak kalah besarnya. Dan sekaligus juga kau telah menyelamatkan Islam dan muslimin.” Keduanya terdiam dalam hening malam yang mencekam. Menanti sebuah takdir yang akan membawa mereka ke dua jalan kebaikan, mati atau kemenangan.

“Kau mengerti aku, Audah?” lanjutnya.

“Audah, ada yang mendekat, kita pergi dari sini, ke belakang tembok itu.” Tanpa menoleh, Yahya menyadari kedatangan seorang serdadu Israel yang sedari tadi berjaga di tempat itu. Dengan cekatan mereka berdua berlari menuju tembok yang tak begitu jauh dari mereka.

“Bagaimana, Yahya?”

“Sepertinya dia tahu keberadaan kita. Kita harus waspada.”

Serdadu Israel itu kini sedang berada di tempat Yahya dan Audah sebelumnya. Senapan serbu di tangannya kembali disiapkan. Matanya menelisik ke seluruh penjuru dengan tajam. Serdadu itu hanya berdiri di tempatnya. Mungkin ia khawtir ini hanya jebakan.

Di balik tembok yang tak jauh dari serdadu itu, Yahya dan Audah masih terdiam dalam waspada. Tak sedikitpun rasa takut tergores pada wajah mereka. Dari balik kafayehnya, Yahya terus mengintai keadaan lewat celah kecil di tembok yang retak di depannya.

“Yahya, kita tak punya senjata apa-apa. Apa yang akan kita lakukan sekarang jika tentara itu menghampiri kita?”

“Tenanglah, Audah. Allah bersama kita.  Kita harus yakin akan pertolongannya.” Yahya mencoba menenangkan suasana yang begitu henting sambil terus memantau ke arah sedadu Israel itu.

“Audah, dia mendekat!” Yahya melepaskan matanya dari celah kecil tempat ia mengintai. Mengalihkan matanya mencari tempat persembunyian lain yang lebih aman sebelum serdadu itu menemukannya di situ.

“Audah, kita lari lagi ke dalam rumah itu!Ayo, sebelum tentara itu membunuh kita di sini!” instruksinya sambil menunjuk ke arah rumah yang separuh hancur tak begitu jauh dari tempatnya. Ia berlari. Tapi ia baru sadar. Ternyata Audah belum bersamanya. Audah masih terdiam di tempatnya.

“Audah!” Yahya memanggilnya sebelum ia meninggalkannya lebih jauh.

“Afwan, Yahya. Aku pergi dulu. Assalamu’alaikum.”Kalimat itu menghentak jiwa Yahya yang mendengarnya meski tak begitu keras. Seakan menggema di hatinya. Degup jantungnya terhentak begitu keras.

Audah berlari ke arah serdadu Israel yang semakin mendekatinya dari balik tembok sambil menggenggam bom rakitan mereka.

Duarr…rr…

Suara itu menggelegar di alam kejut Yahya. Pendar nyala api membuatnya tersentak. ia melanjutkan berlari. Lalu kembali memandangi bunga api itu dari ledakan yang masih menyala, membelah sepi dan gelap. Dari balik jendela rumah yang menjadi tempat persembunyian barunya, ia seakan masih tak terima dengan apa yang dilakukan kawannya. Audah telah pergi bersama rencana yang telah mereka susun bersama. Hancur dalam ledakan yang masih mengelora dalam lubuk hatinya.

“Audah, nyawamu terlalu mahal, bila hanya dibayar dengan satu nyawa tentara Israel. Wa’alaikumussalam, semoga kita berjumpa kembali.” Gumamnya dalam hati.

                                                                                                   Oleh: Vairuz Arham

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *