Di Bawah Muram Langit

Langit tak secerah biasanya. Mentari tak begitu gagah menebar hangat. Masih berselimutkan awan-awan hitam. Dingin pun terjerembab di sela-sela pagi. Semahut kicauan burung-burung mungil juga tak semerdu seharusnya. Pagi terasa ikut muram. Bersama bocah itu melangkah menembus dingin. Tak ada senyum yang tergores di wajahnya. Apalagi rona ceria.

Langkahnya kini sendiri. Menelusuri jalan-jalan menuju sekolahnya yang seharusnya lebar, tapi terasa begitu sempit di hatinya. Tak satu pun sapa ditangkap telinganya, hanya gurauan kawa-kawan yang mulai meninggalkannya. Sedih, mungkin. Benci, mungkin juga. Bingung, lebih besar sepertinya.

Memorinya belum bisa menghapus kejadian dua hari yang lalu. Usianya terlalu kecil untuk menyaksikan kejadian seperti itu. Malam itu rumahnya begitu ricuh. Pukul 23.30 beberapa mobil jib pengangkut berhenti di depan rumahnya. Mimpinya yang baru akan terangkai, terbuyarkan oleh suara mobil-mobil itu. Tak ada yang mengundang mereka, tapi mereka datang berbondong-bondong. Bukan salam atau kalimat permisi yang pertama kali didengarnya dari kedatangan mereka. Melainkan rentetan peluru-peluru yang menghujani rumahnya. Siapa yang tak takut. Di malam yang tenang, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh puluhan suara tembakan. Setelah bebarapa saat, mereka menyuruh ayahnya keluar menyerahkan diri. Mereka mengancam akan menembak ayahnya jika tak mau menyerahkan diri. Semua keluarganya tak ada yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih anak kecil yang baru duduk di kelas lima SD sepertinya. Tak ada pilihan lain kecuali menuruti tamu-tamu tak diundang itu. Daripada terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi. Setelah ayahnya keluar, orang-orang berseragam lengkap dengan senapan serbu memasuki rumahnya. Mereka mengobrak-abrik perabotan rumahnya. Semua keluarganya tak ada yang mengerti. Apa maksud mereka dan sedang mencari apa pula. Ayahnya sempat protes kepada orang-orang berseragam itu. Tapi bukan jawaban yang didapatkan. Bogem mentah malah mendarat keras di muka ayahnya. Ibunya tak tahan melihat adegan itu. Tangis ibunya pecah. Diikuti pula tangisnya karena dipaksa menyaksikan kejadian itu. Rasa takut benar-benar mencekam keluarganya malam itu. Serta kebingungan yang belum terjawabkan. Dan akhirnya ayahnya dibawa pergi oleh orang-orang berseragam itu.  

Untuk anak seumurannya, kejadian itu merupakan pukulan keras yang menghantam sisi psikologinya. Dia sama sekali tak mengerti soal penangkapan ayahnya. Wajah sedihnya tak kenan ia tinggal saat pergi sekolah. Semua orang tahu peristiwa yang terjadi malam itu. Ia pun tak mengerti kenapa teman-temannya tak ada yang mau menghibur seperti biasanya.

“Raf, kemarin malam ada apa di rumahmu?”

Suara Angga membuyarkan kesendiriannya di halaman belakang sekolah.

“Aku nggak ngerti. Tiba-tiba aja orang-orang yang bawa tembak itu datang ke rumahku. Terus nembakin berkali-kali. Habis itu ayah dibawa pergi.” Jawabnya polos dengan segala ketidak mengertian yang masih tersimpan di benaknya.

“Eh, kamu tahu nggak, nama ayahmu ada di koran lho. Syahid Husein itu ayahmu kan?”

“kok bisa, emang ayah dibawa untuk jadi artis ya?”

“bukan jadiartis. Kata ibuku, ayahmu itu ditangkap karena jadi teroris.”

“teroris itu apa Ngga?” tanyanya tak mengerti.

“hmm..teroris itu orang jahat yang yang biasanya ngebom-ngebom itu lho.”

“jadi ayahku orang jahat?” Raffi semakin tak mengerti.

“ya, nggak tahulah. Tapi kata ibuku begitu.” Angga pun beranjak meniggalkannya kembali dalam kesendirian.

Raffi masih bingung. Kenapa ayahnya menjadi orang jahat. Di mata Raffi, selama ini ayahnya baik-baik saja. Tak pernah berbuat jahat pada orang lain, apalgi bawa bom.

Bel masuk kelas memecah renungannya. Ia bergegas menuju kelasnya. Semua murid duduk rapi di tempat masing-masing. Tapi ada yang beda dengan Raffi. Bangku yang biasa diduduki bersama temannya, hari itu hanya ditempatinya sendirian. Aris yang biasa duduk di sampingnya ternyata pindah ke belakang. Raffi merasa ada yang aneh. Tak biasanya Aris meninggalkannya duduk sendirian. Hal itu membuat hatinya yang sudah berkalut sedih semakin bertambah gundah. Ia tak bisa maksimal menyimak pelajaran yang disampaikan. Setelah waktu istirahat tiba, ia menghampiri Aris yang seharusnya duduk di sampingnya tadi.

“Ris, kenapa kamu pindah ke belakang?”

“hmm..nggak, nggak papa.” Jawabnya sambil menggelengkan kepala. Raffi tahu ada yang disembunyikan oleh Aris.

“yang bener, nggak biasanya kan, kamu pindah ke belakang?” Raffi masih ingin tahu apa sebenarnya disembunyikan Aris.

“sebenarnya begini, ibuku tadi pagi bilang. Aku nggak boleh deket-deket kamu lagi. Kata ibu, ayah kamu ternyata orang jahat. Raf, maaf ya. Kamu nggak papa kan!”

“nggak, nggak papa.” Sebenarnya ia sedang menahan pukulan keras yang baru saja menghantam perasaannya. Tapi ia tak ingin menampakkan hal itu pada Aris. Ia beranjak dari percakapan Aris. Ia kembali menuju kesendiriannya di halaman belakang sekolah. Di tengah kemelutnya rasa sedih dan bingungnya, tak seorang pun bersedia menghibur. Ia benar-benar tak mengerti apa salah ayahnya. Sehingga orang-orang menganggap ayahnya sebagai orang jahat yang berbahaya. Satu lagi yang tak ia mengerti. Kenapa teman-temannya juga harus menjauh darinya. Apa karena ia anak dari orang yang hanya dianggap  penjahat.

Hari ini rupanya menjadi hari buruk baginya. Sebelum berangkat sekolah ia berharap agar di sekolahan ia mendapat hiburan dari teman-temannya. Barangkali bisa mengobati  sedih yang sedang menggerogoti hatinya. Tapi apalah yang ia dapati. Bukan hiburan yang ia peroleh, bahkan lukanya semakin perih terasa.

Saat pelajaran usai, ia kembali sendiri. Ia lalui jalan pulangnya bersama kesepian tanpa kawan. Seseorang menyapanya dari belakang. Lalu menaruh telapak tangannya di bahu Raffi. Ternyata pak Heru yang kebetulan jalan menuju rumahnya searah dengan Raffi.

“Raff, kamu sabar ya. Nggak usah dipikirkan soal kejadian ayahmu.” Pak Heru rupanya berusaha sedikit menghibur.

“iya, pak. Hmm…Raffi boleh tanya nggak pak.”

“memang Raffi mau tanya apa?”

“pak guru tahu nggak kenapa ayah Raffi dibawa sama bapak-bapak polisi?” masih dengan wajah polosnya ia menampakkan  kebingungan yang belum terjawab itu.

“begini Raffi, sebenarnya bapak-bapak polisi itu tidak berbuat jahat pada ayah kamu. Pak polisi cuma ingin merawat ayah kamu di tempat khusus.”

“kenapa harus di tempar khusus. Kalo ayah dirawat pak polisi, ayah nggak bisa mengantar Raffi ke sekolah, nggak bisa nemenin ummi, juga nggak bisa ngajar TPA.”

“pak polisi membawa ayah kamu supaya kamu dan ibu kamu aman. Kalau ayah kamu tinnggal di rumah, nanti kamu dan ibu kamu akan bahaya.”

“bahaya kenapa, pak guru?”

“hmm…karena ternyata ayah kamu itu sebenarnya bukan orang baik. Kata pak polisi ayah kamu membawa barang berbahaya. Nah, supaya kamu dan ibu kamu aman, pak polisi membawa ayah kamu.”

“jadi ayah bukan orang baik, pak guru?”

“hmm…ya sudah Raffi, pak guru pulang duluan.” Pak Heru sepertinya tak ingin membahas lebih jauh perihal ayahnya. Pertanyaan terakhir Raffi itu kebetulan keluar di perempatan jalan yang memisahkan jalan pak Heru dengannya. Pak Heru segera mengakhiri percakpannya, sebelum Raffi semakin banyak mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang menghantam dirinya sendiri.

Pertanyaan terakhir itu masih terngiang di kepala Raffi. Benarkah ayahnya bukan orang baik. Selama ini, di mata Raffi ayahnya adalah sesosok pribadi yang luar biasa. Seseorang yang menjadi percontohannya. Seseorang yang selalu mengajarinya hal-hal yang baik dan mulia. Serta selalu melarangnya agar tidak berbuat jahat pada siapa pun. Tapi kenapa ayahnya berbuat jahat. Ia masih tak percaya kalau ayahnya adalah orang jahat. Setiap langkahnya penuh dengan rasa bingung. Pandangannya kelihatan kosong, sepi akan gambaran-gambaran ceria. Sedihpun berhembus bersama setiap nafasnya. Langit juga tak kunjung nampakkan cerahnya. Dan dingin masih begitu terasa.

#     #      #

Sore itu semuanya belum berubah. Segala rasa perihnya masih terpendam dalam dada. Raffi masih berharap ada sesuatu yang dapat melipur dirinya. Kembali ia tapaki langkahnya dalam kesendirian menuju masjid. Dari tempat itu ia berharap kawan-kawannya dapat memberikan sesuatu lain. Di tempat itu ia biasa bertemu kawan sebayanya. Bermain bersama, belajar mengaji bersama dan menghabiskan sore bersama-sama. Meski sore itu ayahnya tak bisa hadir mengajar seperti biasanya, ia masih tetap datang, hanya untuk menemui kawan-kawannya dan menghabiskan sore yang masih terasa perih itu bersama mereka.

Langkahnya terhenti di halaman masjid yang tak berpagar itu. Dugaannya benar, sore itu tak kan menjadi seperti sore biasanya. Tapi itu lebih parah dari yang ia kira. Tak ada kawan-kawannya. Tak ada pula yang datang untuk mengaji. Hanya ada beberapa anak yang baru datang dari arah lain. Belum sempat Raffi mengatakan sesuatu, mereka lebih dulu meniggalkannya, tanpa sapa tanpa salam juga. Masjid tempat ia biasa mengaji bersama ayahnya sore itu begitu sepi. Hanya berdiri di depannya seorang anak yang untuk kesekian kalinya terpukul dalam kesendirian. Ia tak ingin lagi bertanya pada siapa pun. Mungkin ia sudah tahu apa maksud dari kesepiannya sore itu. Mereka pasti mengira bahwa ayahnya yang selama ini mengajari mereka mengaji, ternyata adalah orang jahat yang berbahaya. Tapi walau bagaimanapun juga ia masih tak percaya kalau ayahnya bukan orang baik.

Langit  yang belum juga menampakkan cerahnya sore itu seakan semakin muram. Gerombolan hitam awan-awan sepertinya sudah siap mengguyur bumi. Dingin begitu terasa diterpa angin. Gemuruh tarian pohon dan dedaunannya berusaha menghibur bocah yang dirundung lara ini. Akankah langit juga merasakan perih yang semakin menyayat hati Raffi.

Ia balik langkahnya menuju rumah. Kini hatinya penuh dengan gerat-gerat luka. Kepalanya penuh dengan tanya tak terjawab. Ia menahan sesuatu di matanya. Terlihat begitu berat. Basah di matanya semakin menggenang bersama langkah yang semakin dekat dengan rumahnya. Ia tetap menahan genangan air di matanya sekuat tenaga. Tapi rupanya arus lara lebih deras, hingga tumpah juga setetes bening dari matanya. Ternyata tetes demi tetes juga mengucur dari gelap wajah langit. Segera ia usap air mata yang mulai meleleh itu. Kini ia berlari. Ia tak ingin orang lain melihatnya meneteskan tangis. Ia tembus gemerintik dari langit yang semakin menderas, sederas matanya mengucurkan air mata.

Ia buka pintu rumahnya masih dengan berlari. Tanpa menemui ibunya, ia langsung menuju kamar. Ia benamkan wajah yang sudah terlanjur basah itu di bantal. Ia luapkan semua yang sejak tadi tertahan di matanya. Langit juga tak kalah deras menumpahakan airnya di luar sana. Membasuh hari yang telah melukai hati Raffi.

“Raffi, Raffi kenapa?” sentuhan lembut tiba-tiba membelai kepala belakang Raffi. Lalu duduk di sampingnya.

“ummi,” Raffi mengangkat kepalanya. Lalu duduk bersama ibunya. Masih dengan derai air mata ia bicara “kenapa pak polisi bawa ayah, mi? Kenapa ayah jadi jahat, mi? Apa salah ayah, mi?” ia tumpahkan segala kebingungan yang dari tadi mengendap di kepalanya. Masih bersama air mata yang begitu deras tumpah dari pelupuknya. Ibunya tahu apa yang dirasakan Raffi. Ia dekap Raffi yang sedang berkucuran air mata itu dalam pelukannya. Ibunya rupanya tak tahan membiarkan Raffi menangis sendirian. Tetes demi tetes pun mengalir membasahi pipi ibunya. Gemuruh hujan juga semakin deras mengguyur di luar sana.

“Raffi, ayah bukan orang jahat. Ayah orang baik, sayang. Ayah nggak salah apa-apa. Pak polisi itu mungkin cuma ingin bertanya sesuatu pada ayah. Kita berdoa saja semoga besok mereka bawa ayah pulang lagi.” Ibunya mengeluarkan buliran-buliran kalimatnya dengan pelan dan lembut untuk Raffi, sembari menyeka air mata yang membanjiri mata Raffi. Ia berharap agar Raffi tak begitu tenggelam dalam dalam kesedihannya.

“tapi kenapa temen-temen Raffi, pak guru dan semua orang bilang ayah jahat!” Raffi masih belum sepenuhnya percaya.

“mereka itu salah, Raffi. Mereka tak tahu apa-apa. Percaya pada ummi. Ayah bukan orang jahat. Ayah itu orang baik. Raffi percaya ummi, kan.” Ibunya tetap berusaha membuat Raffi percaya. Raffi hanya mengangguk.

“eh, ibu tadi buat agar-agar kesukaan Raffi. Ibu ambilkan, ya.” Tanpa menunggu anggukan Raffi, ibunya langsung menuju dapur.

Tak lama kemudian ibunya kembali ke kamar Raffi. Ia begitu terkejut melihat kamar Raffi kosong. Tak lama ia meninggalkan Raffi, tapi begitu cepat ia menghilang. Matanya menjelajah setiap sudut ruangan. Matanya benar-benar terbelalak melihat sepeda Raffi yang sudah tak ada di tempatnya. Lalu ia mendengar suara pintu yang terbuka. Tanpa menunggu lama, ibunya berlari menuju pintu. Dilihatnya Raffi sudah bersama sepedanya di bawah deras guyuran hujan sore itu.

“Raffi!” teriak ibunya sambil berlari menuju Raffi di tengah lebatnya rintik-rintik hujan. Ia dekap Raffi dalam pelukannya erat-erat. Tangis mereka berdua meluap sederas hujan yang sedang mengguyur mereka. Langit muram sore itu pun menyaksikan dua insan yang sedang bederai air mata di bawahnya ini. Begitu erat ibunya mendekap Raffi. Memberikan hangatnya pada Raffi yang di guyur dingin.

“Raffi mau ke mana, nak?” tanya ibunya di tengah guyuran hujan dan air mata.

“Raffi mau ketemu ayah, mi. Raffi mau tanya sendiri sama ayah. Kenapa pak polisi bawa ayah. Raffi mau tanya kenapa orang-orang bilang ayah jahat.” Ia pandangi ibunya yang juga menangis di tengah lebat hujan. Tangis ibunya semakin deras. Lebih deras dari hujan yang mengguyurnya. Ibunya lebih sakit merasakan derita yang di alami Raffi. Mendengar perkataan Raffi itu hatinya semakin dalam tersayat. Ibunya mengerti apa yang di rasakan Raffi.

“jangan…jangan…jangan, nak.” Seraya menggelengkan kepala, suara ibunya begitu pelan terdengar. Terkalahkan oleh suara tangis langit dan matanya. Seperti hanya gerak-gerik bibir yang mulai membiru karena dingin. Mata Raffi yang juga berguguran air mata memahaminya. Didekapnya semakin erat buah hatinya yang sedang terluka itu. Hatinya terlalu polos untuk merasakan apa yang dilakukan orang-orang pada ayahnya. Di mata Raffi, ayahnya begitu sempurna. Tapi di mata orang-orang, sekarang ayahnya adalah orang jahat. Karakter ayahnya telah mereka cabik-cabik. Mereka membunuh karakter ayahnya. Dan Raffi beserta ibunya turut merasakan betapa perihnya pembunuhan itu.

#     #     #

Syahid Husein, warga desa Geneng, kabupaten Ngawi yang seminggu lalu ditangkap oleh Densus 88 di rumahnya, dipulangkan pada Selasa kemarin. Ia telah mendekam di kantor polisi untuk diinterogasi. Tapi interogasi selama sepekan tersebut membuktikan bahwa ia tak bersalah, setelah tuduhan teroris ditujukan padanya. Pihak kepolisian meminta maaf atas kesalahan mereka dalam penangkapan itu. Tapi yang disayangkan, tak banyak media yang memberitakan ketidakbersalahannya, setelah menyebarkan berita penangkapan dan penggerebekan rumahnya oleh Densus 88.

Suara Muslim, edisi 37, Rabu 17-10-2012

The end                                                                                       

Oleh Vairuz Arham

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *