Fiqih

BOLEHKAH MENJUAL DAGING DAN KULIT QURBAN?

Bicara mengenai “pengorbanan” sebentar lagi kita akan berjumpa dengan hari raya kurban yakni  Iedul Adha. Pastinya lingkungan kita baakl “prengus” seharian. Aneka kuliner kambing semacam sate, gule, tengkleng, rendang, rawon kikil dan lain-lain… hmmm, Delisiosso!!

Bagi para vegetarian, darah tinggi, ngga doyan daging kambing ato sapi tentu tidak selera.. Nah, bolehkah menjual daging atau kulit hewan tersebut?

Pertama yang harus kita ketahui adalah, pada asalnya seseorang yang berkurban tidak boleh menjual bagian apapun dari hewan qurban berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :”..

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قال : أَمَرَنِي النبي صلى الله عليه وسلم أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ , وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا , وَأَنْ لا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا شَيْئًا . وقال : نحن نُعطيه مِن عِندنا .

“Rosulullah SAS memerintahku supaya mengurus onta beliau dan menyedekahkan daging, kulit danpakaiannya (onta) serta supaya aku tidak memberi penyembelih sebagian darinya. Beliau bersabda : kami memberi (upah) kepada penyembelih dari kami sendiri.”

Hadits diatas  menunjukkan bahwa Mudlahhi (orang yang berkorban) tak boleh memberi upah dari daging kurban kepada penyembelih. Adapun jika penyembelih diberi daging kurban denga niat sedekah bukan upah karena dia miskin maka boleh-boleh saja.

Al Utsaimin menegaskan bahwa apa yang dipersemabhkan untuk Allah tak boleh diambil ganti. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar R.A ketika dia ingin membeli kuda yang telah ia berikan kepada seseorang karena orang yang diberi tidak mengurus kuda tersebut, Rosulullah bersabda padanya “ .. jangan kau beli kuda itu meskipun ia menjualny a dengan satu dirham. Kuda itu telah dikurbankan untuk Allah maka tak boleh untuk diambil lagi. Begitu juga dengan hewan kurban. Ia tak boleh dijual alias diganti dengan uang.

Lantas bagaimana denga kulit? Bukankah di zaman ini yan bisa memanfaatkan kulit secara langsung? Bolehkah Mudlahhi (orang yang berkurban) menjual kulit lalu bershadaqoh dengan hasil jualannya?

Pada masalah ini terjadi perselisihan diantara ulama. Ibnul Qayyim dan imam Ahmad menyatakan bahwa menjual kulit binatang kurban  kemudian bershadaqah dengan hasil jualannya itu tak mengapa. Karena ibnu Umar R.A menjual kulit sapi lalu bershadaqoh. Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa menjual kulit kurban tidak boleh. Karena semua bagian hewan yang dikurbankan kepada Allah hasilnya sama.

Jadi kesimpulannya, menjual daging kurban bagi Mudlahhi tidak boleh. Dan kulit binatang  yang tak dapat dimanfaatkan secara langsung sebagian ulama membolehkannya dengan syarat mensodaqohkan hasil penjualannya. Sebagian lagi melarang.

Wallahu A’lam

–Kazuto Kibagusha—Mamad Magz

Referensi : Al Mughni – Asy-Syarhul Mumti’ – Syarhu Zaadil Mustaqni’ dll.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *