HADITS BASMALAH

Oleh: Abu Rib’iy As-Sakhiy, Muhammad Yunus Saifuddin.

  1. Lafal hadits:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ.

  • Terjemahan:

“Setiap perkara mulia, penting yang tidak dimulai dengan “Bismillah” dalam (menjalaninya), maka ia (urusan itu) kurang berkah.”

  • Makna kosa kata hadits:
  • Al-Baal berarti keadaan dan urusan.
  • Amrun Dzuu Baalin adalah perkara mulia yang diperhatikan dan dipentingkan. (Ibnul Atsiir, An-Nihayah fi Ghariibil Atsar, jz.1, hlm. 428).
  • Abtar berasal dari kata Al-Batr yang berarti terputus. (Ibnul Atsiir, An-Nihayah fi Gharibil Atsar, jz. 1, hlm. 226).

Abtar berarti berkah hilang. (Syamsuddin As-Sufairi, Syarh Shahih Bukhari, jz. 2, hlm. 15). 

  • Maksud hadits:

Segala urusan mulia dan penting yang tidak dimulai dengan membaca “Bismillahir rahmaanir rahiim”, maka urusan tersebut kurang atau hilang berkahnya.

  • Takhrij dan derajat hadits:

Hadits dengan lafal “Bismillah” ini berderajat dlaif jiddan (lemah sekali).

Hadits ini diriwayatkan oleh As-Subki dalam kitab “Thabaqaatus Syaafi’iyyatil Kubraa (1/6)” dari jalur berikut:

Al-Hafidh Ar-Rahawi à (‘an) Ahmad bin Muhammad bin ‘Imran à(haddatsana) Muhammad bin Shalih Al-Bashri -dengan redaksi tersebut- à (haddatsana) ‘Ubaid bin ‘Abdul Wahid bin Syuraik à (haddatsana) Ya’qub bin Ka’ab Al-Anthakiy à (haddatsana) Mubasyyir bin Isma’il à (‘an) Auza’iy à (‘an) Zuhri à (‘an) Abu Salamah à (‘an) Abu Hurairah.

Hadits ini diriwayatkan secara marfu dengan sanad ini. Hanya saja, beliau (Abu Hurairah) meriwayatkan dengan lafal “Fa huwa aqtha’”. (Syaikh Al-Albani, Irwa`ul Ghalil fi Takhriji Ahaditsi Manaaris Sabiil (1/29).

Catatan: hadits tentang memulai aktifitas dengan basmalah ini memiliki beberapa masalah. Baik dari segi matan maupun sanad.

Dari segi matan, hadits ini diriwayatkan dengan tiga redaksi yang berbeda, yaitu:

  1. La yubda`u fihi bi bismillahi …
  2. La yubda`u fihi bi hamdillahi …
  3. La yubda`u fihi bi dzikrillahi …

Dan hadits ini diakhiri dengan redaksi yang beragam juga, yaitu:

  1. Fa huwa abtar.
  2. Fa huwa aqtha’.
  3. Fa huwa ajdzam.

Dari segi sanad, ulama hadits banyak mengomentarinya. Berikut ini komentar mereka:

  1. Sanad hadits dengan lafal “Bi hamdillah fa huwa aqtha’” dlaif karena Qurrah bin Abdurrahman. Dia dinilai dlaif oleh Ibnu Ma’in, Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Hatim dan Nasa`i1. (Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth, Shahihu Ibni Hibban bi Tahqiqil Arna`uth (jz. 1/ hlm. 173).
  2. … lafal-lafal hadits selain lafal (bi hamdillah) yang disebutkan oleh imam An-Nawawi itu muncul di sebagian jalur periwayatan hadits dengan sanad-sanad yang lemah … (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari (jz. 8, hlm. 220).
  3. Hadits ini dlaif jiddan. (Syaikh Al-Albani, Al-Irwa` (1/29).

Meskipun ada masalah pada matan dan sanadnya, sebagian ulama ada yang menilai hadits ini sebagai hadits hasan. Berikut pernyataan mereka:

  1. Hadits ini hasan. Diriwayatkan secara maushul dan mursal. Riwayat secara maushul sanadnya jayyid (bagus). (Imam An-Nawawi, Syarhu Shahihi Muslim, jz.1, hlm. 43).
  2. “Hadits ini hasan,” begitulah komentar Ibnu Shalah yang dinukil oleh Adhim Aabaadi. Dan beliau juga menghasankannya (Al-Adhim Aabaadi, ‘Aunul Ma’buud, jz. 9, hlm. 2126.)

Sebagai penutup masalah ini, penulis menukilkan komentar ulama yang menentramkan.

  1. Syaikh Utsaimin saat ditanya tentang keshahihan hadits basmalah.  Beliau menjawab, “Hadits (basmalah) ini diperselisihkan keshahihannya oleh ulama. Sebagian ulama men-shahihkannya. Imam An-Nawawi menjadikannya sebagai pegangan. Adapun sebagian lain men-dlaifkannya. Meskipun begitu para ulama menerima hadits ini dan mereka meletakkan hadits ini di dalam kitab-kitab mereka. Hal ini menunjukan bahwa hadits ini memiliki dasar. Oleh karena itu, sudah sepantasnya manusia memulai segala urusan pentingnya dengan basmalah atau hamdalah.” (Syaikh Ibnu Utsaimin, Al-‘Ilm, jz. 5, hlm. 106).
  2. … akan tetapi riwayat-riwayat (tentang basmalah/ hamdalah) dapat dijamakkan (digabungkan). Yaitu memulai segala sesuatu dengan semuanya, baik dengan bismillah, alhamdulillah, atau dzikir. Maka siapa saja yang memulai dengan ketiga-tiganya, sungguh dia telah memperoleh semua keutamaan itu. (Al-Khathib Al-Bahgdadi, Al-Jaami’ Li Akhlaaqir Rawi wa Aadaabis Saami’ (jz. 2, hlm. 69).

Walhasil, meskipun diperselisihkan keshahihannya, memulai segala urusan dengan bismillah atau alhamdulillah atau dzikir yang lain merupakan perbuatan yang baik dan mendatangkan kebaikan. Maka sepantasnya seorang muslim mengamalkannya. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *