Hikmah Pensyariatan Menyembelih Hewan Qurban di Hari ‘Iedul Adha

Hikmah Pensyariatan Menyembelih Hewan Qurban di Hari ‘Iedul Adha – Agama Islam bersifat komprehensif, artinya sangat lengkap dalam mengatur seluruh aspek kehidupan ummatnya. Dalam setiap aturannya, pasti mengandung kemaslahatan duniawi maupun ukhrawi.

Dalam hal perayaan hari besar pun, ummat Islam juga telah diatur agar tidak merayakannya dengan cara yang salah. Kesalahan dalam merayakan hari besar tentu akan berimplikasi pada hilangnya nilai maslahat yang telah menjadi spirit Islam.

Pada ‘Iedul Adha, kita ummat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan udhiyyah, atau juga disebut hewan qurban. Qurban berasal dari bahasa Arab (الْقُرْبَانُ) yang berarti mendekatkan. Tujuan dari menyembelih hewan tersebut adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ketaatan kita untuk menyembelih itulah yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala.

Hikmah Pensyariatan Menyembelih Hewan Qurban

Hikmah Pensyariatan Menyembelih Hewan Qurban

Hikmah Pensyariatan Menyembelih Hewan Qurban di Hari ‘Iedul Adha

Selain hikmah berupa qurban (mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala) ada beberapa hikmah lain yang muncul dari pensyariatan menyembelih hewan udhiyyah, diantaranya:

  1. Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat kehidupan yang diberikan.
  2. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –kholilullah (kekasih Allah)-‘alaihis salaam yang pernah diperintah Allah untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari Nahr (Idul Adha). Dalam kisah Ibrahim ini terdapat ajaran untuk bersabar dan lebih mementingkan Allah dari siapapun dan apapun.[1]
  3. Menumbuhkan kepedulian sosial dengan berbagi kebahagiaan, serta memberitahukan kepada orang lain tentang rasa syukur terhadap nikmat Allah. Inilah yang disebut menceritakan karunia yang didapat (tahadduts bin ni’mah) sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam surah Adl-Dluha (93) : 11.
  4. Sebagai representasi dari kebenaran firman Allah bahwa hewan ternak diciptakan untuk memberi manfaat kepada manusia, dengan menyembelihnya dan membagi-baginya sebagai konsumsi.[2]
  5. Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan harga hewan qurban. Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.” [3]

Semoga kita selalu dimudahkan oleh Allah dalam mentaati segala perintah dan aturan-Nya, termasuk dalam menyembelih hewan qurban. Semoga kita selalu diberi kemudahan untuk menebar kebaikan serta kebahagiaan untuk orang lain.

Referensi:

[1] Lihat Mahasinul Islam, Muhammad bin Abdurrahman Al-Bukhari, hlm. 104.

[2] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah, Wazaratul Auqafi wasy Syu’unil Islamiyyah, jld. 5, hlm. 78.

[3] Lihat Talkhish Kitab Ahkamil Udl-hiyyah wadz Dzakah, Muhammad bin Shalih Al-“Utsaimin, hlm. 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, jld. 2, hlm.379.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *