HUKUM MENJURAIKAN PAKAIAN (ISBAL) BAGI LAKI-LAKI

HUKUM MENJURAIKAN PAKAIAN (ISBAL) BAGI LAKI-LAKI

Oleh: Ustadzah Istiqomah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapati fenomena beragam di antara Muslimin perihal menjuraikan pakaian bagi laki-laki, atau bisa juga disebut dengan isbal.

  • Sebagian berpandangan haram mutlak
  • Sebagian mengatakan isbal boleh selain waktu sholat
  • Sebagian yang lain mengatakan isbal boleh kalau tidak sombong, kalau disertai kesombongan tidak boleh.

Ustadzah Istiqamah berupaya membahas masalah ini dengan membuat sebuah risalah ilmiyyah yaitu makalah dengan judul “Hukum Menjuraikan pakaian bagi laki-laki”.

Artikel ini merupakan ikhtiyar untuk mengkhtishar risalah ilmiyyah tersebut. Semoga bermanfaat dan berikut uraiannya:

Pengertian Isbal (Menjuraikan Pakaian)

Abuth-Thoyyib Abadi menjelaskan bahwa maksud dari مسبلا إزاره adalah membiarkan kain sarungnya di bawah mata kaki. [1] Ibnu Atsir [2] dan Ibn Mandhur [3] menerangkan maksud menjuraikan pakaian adalah Orang yang memanjangkan dan membiarkan pakaiannya sampai  (menyentuh)  tanah  apabila  dia  berjalan… . An-Nawawi menerangkan bahwa maksud menjuraikan pakaian adalah membiarkan pakaian sampai tanah. [4]

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud  menjuraikan  pakaian  adalah  mengenakan  pakaian  sampai melebihi mata kaki, baik pakaian itu menyentuh tanah maupun tidak.

Dalil-Dalil yang Berkaitan dengan Hukum Isbal dan Analisa ringkasnya

Pertama, Hadis Abu Hurairah tentang Orang yang Menjuraikan Pakaian karena Sombong

  عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى من جر ‌إزاره ‌بطراً

Artinya:

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Allah tidak memandang (dengan belas kasih) pada hari Kiamat kepada orang yang menyeret kain sarungnya dalam keadaan sombong.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad [5], Al-Bukhari [6] dan lafadh ini miliknya, Muslim [7], Ibnu Majah, Malik.

Hadits  ini  memberi  pengertian  adanya  ancaman  yang  keras  bagi orang yang menyeret pakaian dalam keadaan sombong. Ancaman yang keras   itu   menunjukkan   bahwa   penjuraian pakaian dalam keadaan sombong hukumnya haram. [8]

Perlu ditambahkan bahwa ulama sepakat penjuraian pakaian disertai kesombongan hukumnya haram. [9]

Kedua, hadis Ibnu Umar tentang Orang yang Menjuraikan Pakaian karena Sombong

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ ‌خُيَلَاءَ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إليه يوم القيامة

Artinya:

“Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu  ‘alahi  wa  sallam  bersabda, “Allah  tidak  akan memandang  (dengan   belas   kasih)   kepada   orang   yang menyeret pakaiannya dalam keadaan sombong.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad [10], Al-Bukhari [11], dan lafadh ini miliknya, Muslim [12], Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah.

Ketiga, hadis Abu Hurairah tentang Ancaman Neraka bagi Orang yang Menjuraikan Pakaian

عَنْ أَبِي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وَسَلَّمَ قَالَ: مَا ‌أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإزار ففي النار

Artinya:

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu‘alahi wa sallam bersabda, “Apa-apa yang lebih rendah dari dua mata kaki dari kain sarung, maka (tempatnya) di dalam neraka.” HR. Ahmad [13], Al-Bukhari [14] sedang lafadh  ini  miliknya,  dan  An-Nasa’i,  dengan  sanad  yang shahih.

Dalam hadits ini tidak ada keterangan tentang “kesombongan.” Maka ancaman neraka bagi orang yang menjuraikan pakaian dalam hadits ini tetap pada kemutlakannya. Artinya, ancaman tersebut berlaku bagi setiap orang yang menjuraikan pakaian, baik dalam keadaan sombong ataupun tidak dalam keadaan sombong.

Ibnu Hajar menukil keterangan Al-Khaththabi bahwa penyebutan pakaian (kain sarung) dalam hadits ini sebagai kinayah dari tubuh bagi si pemakai, karena letak pakaian sangat dekat dengan tubuh pemakainya. Hal ini termasuk dalam bab penamaan suatu benda dengan nama bagi benda lain yang dekat dengannya. Maksudnya adalah diri si pemakai itu sendiri (dimasukkan) dalam neraka. [15]

Keempat, Hadis Ibnu Umar tentang Terjurainya Pakaian Abu Bakar tanpa Sengaja

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ). قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ‌أَحَدَ ‌شقَّي ‌إِزَارِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ

“Dari Salim bin Abdullah, dari bapaknya (Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma), dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda, “Barang siapa menyeret pakaiannya dalam keadaan sombong, (maka) Allah tidak akan memandangnya (dengan belas kasih) pada hari Kiamat.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Wahai  Rasulullah!” Sesungguhnya salah  satu dari dua sisi  kain sarungku turun  sendiri, kecuali  jika aku selalu menjaganya dari penjuraian itu. Lalu Nabi shallallahu ‘alahi  wa  sallam  bersabda,  “Tidaklah   engkau   termasuk orang yang melakukannya dalam keadaan sombong.” Hadits   ini   diriwayatkan   oleh   Ahmad [16], Al-Bukhari [17], sedang lafadh ini miliknya dan Abu Dawud [18]

Ucapan Abu Bakar, “Wahai Rasulullah!” Sesungguhnya salah satu dari dua sisi kain sarungku turun sendiri kecuali jika aku selalu menjaganya dari penjuraian itu, menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak sengaja untuk menjuraikannya, akan tetapi   pakaian   itu   terjurai   (turun   sendiri). Ibnu Hajar menyebutkan bahwa penyebabnya adalah kekurusan badan beliau [19]

Kelima, Hadis Abu Bakrah tentang Tenjurainya Pakaian Nabi karena Tergesa-gesa

 عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ وَنَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ ‌يَجُرُّ ‌ثَوْبَهُ ‌مُسْتَعْجِلًا،

Artinya:

“Dari Abu Bakrah radliyallahu ‘anhu dia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari, dan ketika itu kami di hadapan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Maka  beliau  bangkit   sedang pakaian   beliau   terseret    dalam   keadaan   tergesa-gesa…,.” Hadits riwayat Al-Bukhari [20], sedang lafadh ini miliknya dan An-Nasa`i [21].

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa terseretnya baju nabi karena tergesa-gesa tersebut dapat dipahami bahwa pakaian yang terjurai karena tergesa-gesa tidak termasuk dalam larangan. [22]

Keenam, Hadis Ibnu Umar tentang  Perintah  Menaikkan Kain Sarung sampai Pertengahan Betis

عَنِ ‌ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ: « مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ، ‌ارْفَعْ ‌إِزَارَكَ. فَرَفَعْتُهُ ثُمَّ قَالَ: زِدْ. فَزِدْتُ، فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ

Artinya:

“Dari Ibnu Umar, dia berkata, “Aku lewat di depan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam sedang kain sarungku terjurai, lalu beliau bersabda, “Wahai Abdullah! Naikkanlah  kain sarungmu!” Kemudian aku menaikkannya. Lalu beliau bersabda, “Tambah  lagi!”  Maka aku menambah lagi. Semenjak   itu,   aku   selalu   (berusaha)   menjaganya,   lalu sebagian kaum bertanya, “Sampai di mana (batas ketinggiannya)?”   Maka   Ibnu   Umar   menjawab,   “Sampai tengah-tengah betis.” HR. Muslim [23] dan lafadh ini miliknya dan Al- Baihaqi [24]

Hadits ini memberi pemahaman bahwa:

  1. Menaikkan pakaian dari mata kaki merupakan suatu keharusan bagi laki-laki. Artinya, menjuraikannya dari mata kaki itu dilarang.
  2. Menaikkan pakaian sampai pertengahan betis merupakan keutamaan bagi laki-laki.
Ketujuh, Hadis Abu Dzar tentang  Siksaan  yang  Pedih  bagi Orang yang Menjuraikan Pakaian

عَنْ أَبِي ذَرٍّ،عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ” قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مرار. قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا. مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ” ‌الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سلعته بالحلف الكاذب”

Artinya:

“Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ali bin Mudrik dari Abu Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir, dari Kharasyah bin Al-Hur, dari Abu  Dzar,   dari  Nabi  shallallahu   ‘alahi   wa   sallam beliau bersabda,”Terdapat   tiga   golongan  manusia   yang   Allah tidak  akan  berbicara dengan  mereka  pada  hari  Kiamat, tidak  pula memandang mereka (dengan  belas kasih),  dan tidak   pula   Dia  menyucikan  mereka,   dan  bagi   mereka adzab  yang  pedih.”  (Rawi berkata) : Lalu beliau membaca sabdanya sampai tiga kali. Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah, ”Sungguh Mereka celaka dan merugi?   Beliau   bersabda,   “Orang    yang    menjuraikan pakaian, orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah bohong.” Hadits  ini  diriwayatkan  oleh  Muslim [25]  dan  lafadh  ini miliknya,   Abu   Dawud [26],   At-Tirmidzi,   An-Nasa’i,   Ibnu Majah,  Abu  Dawud  Ath-Thayalisi,  Ibnu  Abi  Syaibah

Berdasarkan sabda Nabi, “Bagi mereka adzab yang pedih” dapat dipahami bahwa menjuraikan pakaian itu hukumnya haram.

Kedelapan, Hadis Jabir tentang Menjuraikan Pakaian Merupakan Suatu Kesombongan

عَنْ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ، قَالَ: … وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنَ المَخِيلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ

Artinya:

Dari Jabir bin Sulaim … dan naikkanlah kain sarungmu sampai tengah-tengah betis, jika kamu enggan,  maka sampai dua mata kaki,  dan  jauhilah perbuatan   menjuraikan   kain    sarung,    sebab    hal   itu termasuk kesombongan, dan  sesungguhnya Allah  tidak menyukai sikap  sombong. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad [27], Abu Dawud [28], dan lafadh ini miliknya, Abdurrazaq, Ibnu Abi Syaibah.

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi berpesan kepada Jabir bin Sulaim untuk menjauhi perbuatan menjuraikan kain sarung, dengan alasan perbuatan itu adalah kesombongan yang dibenci oleh Allah.

Adapun huruf من pada kalimat من المخيلة ini berfaedah lil bayan (untuk menjelaskan) atau bisa juga li tab’idl (untuk makna sebagian). Apabila huruf من lil bayan makna lafal tersebut adalah perbuatan menjuraikan pakaian itu adalah kesombongan. Namun apabila huruf من li tab’idl, maka makna lafal tersebut adalah perbuatan menjuraikan pakaian itu termasuk sebagian dari kesombongan, artinya   bentuk   kesombongan   bukan   hanya   berupa perbuatan menjuraikan pakaian.

Berdasarkan  dua kemungkinan  tentang  huruf  من tersebut,  dapat diambil kesimpulan bahwa perbuatan menjuraikan pakaian merupakan kesombongan. Perbuatan menjuraikan pakaian dan kesombongan tidak dapat dipisahkan. Berdasarkan hadis ini, maka lafadz خيلاء atau lafal بطرا tidak dapat menjadi qaid, akan tetapi menjadi keterangan.

Kesembilan, Hadis Ummu Salamah tentang   Pertanyaan   Ummu Salamah perihal  Pakaian Perempuan

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ»، فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ ‌بِذُيُولِهِنَّ؟ قَالَ: «يُرْخِينَ شِبْرًا»، فَقَالَتْ: إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ، قَالَ: فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا، لَا يَزِدْنَ عَلَيْهِ

Artinya:

Dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,   “Barang   siapa   menyeret   pakaiannya   dalam keadaan sombong,  maka Allah  tidak  akan  memandangnya (dengan belas  kasih)  pada  hari  Kiamat.”  Kemudian  Ummu Salamah bertanya, “Lalu bagaimana kaum perempuan akan berbuat terhadap dzuyul mereka?” Beliau menjawab, “Hendaklah mereka menurunkan sepanjang satu jengkal.” Kemudian Ummu Salamah bertanya (lagi), “Kalau demikian, (maka) akan tampak kaki-kaki mereka.” Beliau bersabda (lagi), “Maka hendaklah mereka menurunkan (pakaian) sepanjang satu hasta, janganlah mereka menambahi (lagi) darinya.” At-Tirmidzi [29] mengeluarkannya   dengan   sanad   yang shahih.

Kesepuluh, Hadis Abu Sa’id Al-Khudri tentang   Batas  Kain Sarung Laki-laki

عَنِ ‌الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ ‌أَبِيهِ قَالَ: «سَأَلْتُ ‌أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ الْإِزَارِ فَقَالَ: عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى ‌نِصْفِ ‌السَّاقِ، وَلَا حَرَجَ أَوْ لَا جُنَاحَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ، مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ

Artinya:

Dari   Al-‘Ala`   bin Abdurrahman,  dari  bapaknya  dia  berkata,  Aku  bertanya kepada  Abu  Sa’id  Al-Khudri  tentang  kain  sarung,  lalu  dia berkata,  kepada  orang  yang  pandai  engkau  bertanya.” Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Keadaan kain  sarung  seorang  muslim  hendaknya  sampai  tengah- tengah betis,  dan  tidak  mengapa  atau  tidak  dosa  panjang pakaian  antara  pertengahan  betis  dan  mata  kaki,  pakaian yang lebih rendah dari mata kaki, maka (tempatnya) di dalam neraka,   barang   siapa   menyeret   kain sarungnya   dalam keadaan sombong, (maka) Allah tidak akan memandangnya (dengan belas kasih).” Dikeluarkan oleh Ahmad [30], Abu Dawud [31]  dan lafadh ini miliknya,   Ibnu   Majah,   Malik, Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, dan  Abu Dawud Ath-Thayalisi, dengan sanad yang hasan.

Hadits  ini  menerangkan  bahwa  panjang  pakaian  laki-laki  yang utama ialah sampai pertengahan betis. Adapun panjang  pakaian yang diperbolehkan adalah pertengahan betis sampai mata kaki. Orang yang memakai pakaian melebihi mata kaki, tempatnya di dalam neraka. Jadi, perbuatan menjuraikan pakaian hukumnya haram.

Masalah lafal hadis yang muthlaq dan lafal hadis yang muqayyad pada permasalahan ini.

An-Nawawi membagi hadits-hadits pada pembahasa ini menjadi dua macam periwayatan, yaitu secara mutlak (tanpa lafadh  خيلاء atau lafadh بطرا) dan secara muqayyad (dengan lafadh خيلاء atau lafadh بطرا).[32] Kemudian beliau menerapkan kaidah “membawa yang mutlak kepada yang muqayyad” pada hadits-hadits tersebut.

Berdasarkan penerapan kaidah itu, beliau menyimpulkan bahwa menjuraikan pakaian untuk maksud kesombongan hukumnya haram. Sedangkan   menjuraikan   pakaian   tanpa   disertai   kesombongan hukumnya makruh bukan haram.

Menurut ilmu ushul fikih, ada tiga cara untuk menyelesaikan permasalahan ini, yaitu:

  1. Masing-masing nash (yang mutlak dan yang muqayyad) berdiri sendiri-sendiri.
  2. Membawa yang mutlak kepada yang muqayyad.
  3. Membawa yang muqayyad kepada yang mutlak.

Apabila masing-masing nash berdiri sendiri-sendiri, maka ada dua hukum yang berbeda dari dua nash tersebut. Hukum dari nash mutlak ialah “semua  penjuraian pakaian  bagi  laki-laki  hukumnya haram.” Sedangkan hukum dari nash muqayyad ialah “menjuraikan pakaian hukumnya haram apabila disertai kesombongan.” Kemudian hukum manakah yang akan diputuskan bagi seorang laki- laki yang menjuraikan pakaian tanpa kesombongan? Jika hukum atas orang itu didasarkan pada nash muqayyad, maka ia tidak berdosa, sedangkan jika hukum atas orang itu didasarkan pada nash mutlak, maka ia berdosa.

Padahal keputusan hukum bagi satu perbuatan harus didasarkan pada satu hukum. Adanya dua hukum yang berbeda bagi satu perbuatan adalah mustahil terjadi dalam perkara syariat. Oleh karena itu, cara pertama ini tidak dapat dipergunakan.

Adapun  cara  kedua  adalah  nash  yang  mutlak  ditafsirkan dengan qaid pada nash muqayyad. Berdasarkan kaidah ini, maka larangan menjuraikan pakaian hanya dikhususkan bagi laki-laki yang menjuraikannya karena kesombongan. Sedangkan laki-laki yang menjuraikannya tanpa disertai kesombongan, tidak termasuk dalam larangan.

Berdasarkan dalil-dalil yang  diajukan oleh An-Nawawi, kesmpulan beliau di atas dapat dibenarkan karena hadis-hadis tersebut berderajat shahih. Namun pemberlakuna kaidah حمل المطلق على المقيد pada hadis-hadis yang beliau jadikan dalil tidak dapat diterima karena hadis Jabir yang secara Manthuq menegaskan  bahwa  menjuraikan  pakaian  adalah  suatu kesombongan. Dengan penerapan kaidah tersebut juga bertentangan dengan hadis-hadis lain, seperti hadis Ibnu umar tentang perintah menaikkan kain sarung sampai pertengahan betis  yang sudah lewat.

Berdasarkan kelemahan-kelemahan pada dua cara tersebut, penulis memilih cara ketiga (menarik yang muqayyad kepada yang mutlak),  karena  tidak  ada  dalil  yang  membatasi  hadits  mutlak. Dengan cara ini, maka terhadap nash yang muqayyad diberlakukan ketentuan yang termaktub dalam nash yang mutlak, artinya lafadz الخيلاء pada hadis Abu Hurairah tidak menjadi taqyid.

Walhasil, hadis Abu Hurairah ما أسفل من الكعبين  dan hadis Abu Dzar المسبل tidak dapat ditaqyid dengan lafal خيلاء atau lafal بطرا. Jadi larangan larangan menjuraikan pakaian ditujukan kepada    setiap    laki-laki,    tanpa    adanya    perbedaan    karena kesombongan maupun tidak. Dengan kesimpulan ini, berarti makna hadis-hadis lain juga telah tercakup di dalamnya. Adanya lafal خيلاء atau lafal بطرا tidak berarti bahwa orang yang menjuraikan pakaian tanpa niat kesombongan itu boleh.

Pendapat Ulama Tentang Hukum Menjuraikan Pakaian (ISBAL) Bagi Laki-Laki
Haram
(1). Haram muthlaq

Ulama yang berpendapat menjuraikan pakaian bagi laki-laki haram muthlaq antara lain: Ibnu Hazm [33], Ibnu Arabi Al-Maliki [34] dan Al-Kandahlawi[35]

Catatan: pendapat ini berdasarkan hadis-hadis yang menunjukkan larangan menjuraikan pakaian. pendapat ini sesuai dengan isi hadis-hadis tersebut, maka pendapat ini dapat diterima.

(2). Haram apabila disertai kesombongan

Ulama yang berpendapat menjuraikan pakaian bagi laki-laki itu haram apabila diserai kesombongan antara lain: Imam An-Nawawi [36], Asy-Syafi’iyyah dan Hanbaliyyah [37], Asy-Syaukani [38]

catatan: pendapat ini berkaitan dengan analisa tentang qaid dan muthlaq tentang hadis-hadis menjuraikan pakaian yang telah lewat yang berkesimpulan bahwa menjuraikan pakaian karena sombong atau tidak sombong tidak boleh.

Makruh selagi tidak sombong

Ulama yang berpendapat menjuraikan pakaian bagi laki-laki itu makruh selagi tidak sombong adalah Imam Nawawi [39]

Catatan: Pendapat ini analisanya sudah terlewat (lihat analisa tentang qaid dan muthlaq tentang hadis-hadis menjuraikan pakaian)

Mubah (boleh) kalau terpaksa

Ulama yang berpendapat menjuraikan pakaian bagi laki-laki  itu boleh kalay terpaksa adalah Al-Hafidz Zainuddin Al-‘Iraqi [40]

Catatan: pendapat ini berlandasakan dengan hadis shahih tentang pemberian izin dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bagi Abdurrahman bin ‘Auf yang sakit gatal untuk memakai kain sutra, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhori (lihat Shahihul Bukhari, jld.4, hlm.37, hd.5839). hadis  tersebut dapat dipahami bahwa pada keadaan terpaksa, sesuatu yang asalnya haram, boleh dilakukan (dilanggar). Hadis ini berderajat shahih, sehingga pendapat ini dapat diterima.

Mubah (boleh) kalau tidak sengaja

Ulama yang berpendapat menjuraikan pakaian bagi laki-laki itu boleh kalau tidak sengaja adalah Ibnu Hajar [41]

catatan: pendapat beliau berdasarkan hadis Ibnu Umar yang analisanya sudah lewat. Hadis tersebut menunjukkan bahwa pakaian yang terjurai tanpa sengaja tidak termasuk dalam hadis larangan menjuraikan Isbal, maka pendapat ini dapat diterima, wallahu a’lam.

Mubah (boleh) kalau tidak sombong

Ulama yang berpendapat menjuraikan pakaian bagi laki-laki itu boleh kalau tidak sombong antara lain: Al-‘Aini [42] dan Muhamad bin Salim Al-Hafani [43]

Catatan: tidak ada perbuatan menjuraikan pakaian kecuali dia itu merupakan suatu kesombongan, sebagaimana analisa pada hadits Jabir yang telah lewat.

Kesimpulan:

Dari ringkasan analisa dalil dan pendapat ulama yang telah lewat dapat diambil kesimpulan bahwa menjuraikan pakaian bagi laki-laki hukumnya haram pada semua keadaan, misalnya pada keadaan shalat, dan pendapat yang menyatakan bahwa menjuraikan pakaian itu mubah karena terpaksa atau tanpa sengaja. Wallahu a’lam.

Diringkas oleh Muhammad Iqbal dari Makalah karya Ustadzah Istiqomah binti Slamet yang berjudul “HUKUM MENJURAIKAN PAKAIAN BAGI LAKI-LAKI”

FOOTNOTE

[1] Abu Thayyib Abadi, Aunul  Ma’bud, jz.10, hlm.261

[2] Ibnul Atsir, An-Nihayah Fi  Gharibil  Hadits Wal  Atsar, jz.2, hlm.339

[3] Ibnu Mandhur, Lisanul  ‘Arab, jz.6, hlm.163.

[4] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul  Muhadzdzab, jz.3, hlm.176

[5] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.2, hlm.386, 397, 454.

[6] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld.4, hlm.29, kitab.77-Al-Libas, bab.5, hd.5788

[7] Muslim, Al-Jami’us Shahih, jz.6, hlm.148, kitab.37-Al-Libas Waz Zinah, bab.9.

[8] Al-Bassam, Taudlihul Ahkam, jz.3, hlm.621. Ibnu ‘Allan, Dalilul Falihin, jz.3, hlm.247. An-Nawawi, Nuzhatul Muttaqin, jz.1, hlm.548.  Ibnu Hajar, Fathul Bari, jz.10, hlm.259.

[9] Al-Bassam, Taudlihul Ahkam, jz.3,  hlm.621.

[10] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.2, hlm.11, 42, 44, 46, 55, 56, 60, 67, 69-70, 74, 76, 81.

[11] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld.4, hlm.29, kitab.77-Al-Libas, bab.1, hd.5783.

[12] Muslim, Al-Jami’us Shahih, jz.6, hlm.146, kitab.37, bab.Tahrimu Jarri Tsaub

[13] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.2, hlm.410, 461, 498

[14] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld.4, hlm.29, kitab.77-Al-Libas, bab.4, hd.5787

[15] Ibnu Hajar, Fathul  Bari, jz.10, hlm.257.

[16] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.2, hlm.67

[17] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld.4, hlm.28, kitab.77-Al-Libas, bab.2, hd.5784

[18] Abu Dawud, As-Sunan, jld.2, hlm.266, kitab.27-Al-Libas, bab.27, hd.4085

[19] Ibnu Hajar, Fathul Bari, jz.10, hlm.255.

[20] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld.4, hlm.28, kitab.77-Al-Libas, bab.2, hd.5785.

[21] An-Nasa’i, As-Sunan, jz.3, hlm.127, kitab.Al-Kusuf, bab.Al-Amru Bish Shalah  ‘Indal  Kusuf ….

[22] Ibnu Hajar, Fathul Bari, jz.10, hlm.255.

[23] Muslim, Al-Jami’us Shahih, jz.6, hlm.148, kitab.37-Al-Libas Waz Zinah, bab.Tahrimu Jarri Tsaub

[24] Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jz.2, hlm.243-244, kitab.-Shalah, bab.-Maudhi’ul Izar Minar Rajul.

[25] Muslim, Al-Jami’us Shahih, jz.1, hlm.71, kitab.1-Al-Iman, bab.Bayanu Ghaladli Tahrimi Isbalil Izar

[26] Abu Dawud, As-Sunan, jld.2, hlm.266, kitab.27-Al-Libas, bab.27, hd.4087.

[27] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.3, hlm.482-483 dan jz.4, hlm.65

[28] Abu Dawud, As-Sunan, jld.2, hlm.265-266, kitab.27-Al-Libas, bab.27, hd.4084

[29] At-Tirmidzi, As-Sunan, jz.4, hlm.223, kitab.25-Al-Libas, bab.9, hd.1731

[30] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, jz.3, hlm.5, 6, 30-31, 44, 52, 97

[31] Abu Dawud, As-Sunan, jld.2, hlm.268, kitab.27-Al-Libas, bab.29, hd.4093

[32] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul  Muhadzdzab, jz.3, hlm.178.

[33] Ibnu Hazm, Al-Muhalla, jld.2, (jz.4), hlm.73.

[34] Ibnul ‘Arabi, ‘Aridhatul  Ahwadhi, jz.7, hlm.238.

[35] Al-Kandahlawi, Aujazul Masalik, jz.14, hlm.190.

[36] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul  Muhadzdzab, jz.3, hlm.177

[37] Abu ‘Ubaidah, Al-Qaulul Mubin  Fi  Akhtha-il  Mushallin, hlm.34.

[38] Asy-Syaukani, Nailul Authar, jld.2, hlm.95

[39] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul  Muhadzdzab, jz.3, hlm.177

[40] Al-Kandahlawi, Aujazul Masalik, jz.14, hlm.188. Pendapat ini terdapat pula pada : Nuzhatul

Muttaqin, jz.1, hlm.549, Fathul Bari, jz.10, hlm.257, Dalilul Falihin, jz.3, hlm.244

[41] Ibnu Hajar, Fathul Bari, jz.10, hlm.255

[42] Al-‘Aini, ‘Umdatul Qori, jz.11, hlm.296

[43] Muhammad bin Salim Al-Hafani, Hasyiyah pada As-Sirajul Munir, jld.3, hlm.259 dan 350.

Tinggalkan komentar