Jual Beli Online, Bolehkah?


Ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang komputer serta informasi pada saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan ini sangat membantu berbagai aktivitas manusia.

Sebagai bukti kemajuan di bidang komputer serta informasi adalah terciptanya jaringan internet [1]. Salah satu pemanfaatan internet dalam bidang usaha berbasis internet adalah jual beli online.

Jual beli online sangat erat kaitannya dengan jual beli barang ghaib [2]. Hukum jual beli barang ghaib diperselisihkan oleh para ulama; sebagian ulama menyatakan bahwa jual beli barang ghaib itu sah, sedang sebagian lain menyatakan tidak sah. [3]

Artikel ini merupakan upaya memahami dan menjelaskan kedudukan Jual beli online dari pandangan Syariat dan berikut uraian ringkasnya:

Mekanisme Jual Beli On Line

Penjualan

Dengan menggunakan internet, penjual memasang iklan untuk menawarkan produknya. Dalam iklan tersebut, penjual menyebutkan deskripsi barang dagangannya secara spesifik, dan kadang-kadang disertakan foto sampel barang yang dijual. [4]

Pembelian

Pembeli menghubungi penjual melaui SMS, telepon, atau email, untuk mengadakan transaksi jual beli. [5]

Pembayaran

Pembayaran dapat dilakukan dengan cara langsung kepada penjual atau melalui rekening bank, paypal (pengiriman uang lewat online), kartu kredit, wesel, maupun cara pembayaran lainnya. [6]

Pengiriman Barang

Barang dagangan yang dibeli bisa dikirim langsung dengan menggunakan jasa kurir atau penjual datang sendiri ke alamat pembeli. Bahkan untuk barang-barang elektronis, pengiriman barang dapat melalui internet. Biaya pengiriman barang akan ditanggung oleh pembeli maupun penjual menurut kesepakatan. Dalam pengiriman barang biasanya penjual meberi garansi serta penanganan keluhan.

Pendapat Ulama Tentang Jual Beli Barang Ghaib

Dalam pembahasan ini, akan dicantumkan pendapat para ulama tentang hukum jual beli barang ghaib, karena jual beli on line ini belum dibahas oleh ulama salaf, sedangkan jual beli on line itu ada kesamaan dengan jual beli barang ghaib.

Pertama, Boleh

Ulama yang berpendapat bahwa jual beli barang ghaib itu boleh adalah Al-Hanafiyyah, sebagaimana dikemukakan oleh Wahbah Az-Zuhaili [7]

Mereka berhujah dengan hadits mursal dari Mak-hul. [8]

Catatan:

(1). Hadis ini mursal dan Hadits mursal tidak dapat digunakan sebagai hujah, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar. [9]

(2). Hadits mursal dari Mak-hul tersebut maknanya sesuai dengan ijmak shahabat tentang disyariatkannya hak pilih dalam jual beli barang ghaib, sedangkan ijmak shahabat bisa dijadikan hujah (lihat analisis hadits Mak-hul yang akan datang). Oleh karena itu, makna hadits ini bisa diterima.

Kedua, Boleh, jika Penjual Menyebutkan Ciri-Ciri Barang Dagangan

Ulama yang berpendapat bahwa jual beli barang ghaib itu boleh, jika penjual menyebutkan ciri-ciri barang dagangan adalah Imam Malik, sebagaimana pernyataan Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. [10] Ulama lain yang berpendapat demikian adalah Al-Hanabilah menurut pendapat yang paling kuat. [11]

Hujah:

  • Jual beli jual beli barang ghaib dengan syarat penjual menyebutkan ciri-ciri barang dagangan, sebagaimana dalam jual beli as-salam

Catatan: qiyas antara jual beli barang gaib dan jual beli as-salam sah, sebagaimana dijelaskan pada analisa hadis Ibnu Abbas yang akan datang.

  • jual beli barang gaib itu sah, dengan syarat penjual menyebutkan ciri-ciri barang dagangan karena penyebutan ciri-ciri barang dagangan itu sebagai ganti melihat barang tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih. [12]

Catatan:

  • Ibnu Bathal menyebutkan bahwa mengetahui barang dagangan melalui penyebutan ciri-ciri itu seperti melihat barang dagangan dengan penglihatan mata. [13]
  • Dalam hadits shahih tersebut, Nabi menjadikan penyebutan ciri-ciri sesuatu itu menduduki kedudukan penglihatan dengan mata. [14]

Ketiga, Tidak Boleh Secara Mutlak

Ulama yang berpendapat bahwa jual beli barang ghaib itu tidak boleh secara mutlak adalah Asy-Syafi’iyyah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Wahbah Az-Zuhaili [15]

Mereka beranggapan bahwa jual beli barang ghaib itu mengandung unsur tipuan. [16]

Catatan:

Unsur tipuan dalam jual beli barang ghaib itu dapat ditiadakan dengan adanya penyebutan ciri-ciri barang dagangan dalam jual beli [17] dan dengan adanya hak pilih (khiyar) setelah melihat barangnya [18]. (lihat juga analisa dalil pada bab setelah ini)

Kesimpulan:

jual beli on line itu boleh dengan syarat:

  1. Penjual menyebutkan ciri-ciri barang dagangan.
  2. Pembeli memiliki hak pilih (khiyar).

Dalil-Dalil dan Analisa Ringkasnya

Pertama, Surat Al-Baqarah (2): 275

… وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا  …

Artinya:

… Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…

Menurut Ath-Thabari, makna lafal وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا adalah Allah menghalalkan laba pada jual beli dan mengharamkan riba. [19]

Ibnul ‘Arabi menjelaskan bahwa berdasarkan ayat ini, jual beli yang dihalalkan itu adalah jual beli dengan tujuan dan cara yang benar, sedangkan jual beli dengan cara  yang bathil, seperti jual beli yang mengandung riba itu hukumnya haram. [20]

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa  lafal وَ أَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ  ini bersifat umum dan ditakhsish dengan lafal وَ حَرَّمَ الرِّبَا atau ayat-ayat lain yang melarang jual beli berunsur riba dan hadits-hadits yang melarang jual beli khamar, bangkai, janin hewan yang masih dalam kandungan, dan lain-lainnya. [21]

Kesimpulan maksud ayat ini adalah Allah menghalalkan jual beli dengan tujuan dan cara yang benar, tidak mengandung riba, dan bukan barang haram.

Catatan:

(1). Pada jual beli on line, pembeli dan penjual bertransaksi melalui on line sehingga pembeli tidak melihat barang secara langsung, namun pembeli dapat menanyakan kepada penjual tentang kondisi barang yang akan dia beli. [22] Hal ini dapat memungkinkan pembeli untuk mengetahui apakah barang tersebut termasuk barang haram ataukah tidak.

(2). Dalam jual beli on line, penjual sudah menentukan harga dan ciri-ciri barang dagangannya [23] sehingga pembeli mengetahui harga yang harus dibayar. Oleh karena itu, jual beli on line ini tidak termasuk jual beli yang mengandung riba.

(3). Dengan demikian, jual beli on line ini termasuk yang dihalalkan dalam ayat ini.

Kedua, Surat An-Nisa` (4): 29

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil, melainkan bahwasanya ada perniagaan dengan saling ridla di antara kalian.

Al-Qasimi menjelaskan bahwa makna lafal لاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ adalah janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian lain dengan cara bathil, yaitu dengan cara yang tidak diperbolehkan syariat, seperti riba, judi, suap, ghasab, dan khianat. [24]

Al-Qurthubi memahami bahwa berdasarkan ayat ini, jual beli yang mengandung unsur tipuan, jahalah [25], riba, serta jual beli barang fasid seperti khamar, babi, dan sebagainya itu termasuk cara yang bathil sehingga dilarang. [26]

Al-Qasimi menyatakan bahwa عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ (rasa saling ridla) itu sebagai penentu kehalalan jual beli, maka ia harus diwujudkan dengan ucapan, isyarat, maupun tulisan. [27] Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa  عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ itu bisa terjadi dengan adanya akad dan ijab kabul. [28]

Kesimpulan makna ayat: ayat ini menunjukkan bahwa Allah melarang orang beriman melakukan jual beli yang mengandung unsur tipuan, jahalah, riba, dan fasid, akan tetapi Allah membolehkan jual beli yang tidak mengandung unsur tipuan, jahalah, riba, dan fasid, selagi saling ridla.

Catatan:

(1). Berkaitan dengan jual beli on line ini, pembeli tidak bertemu dengan penjual, sehingga pembeli tidak mengetahui secara langsung barang yang akan dibeli. Namun demikian, penjual menyebutkan ciri-ciri barang dagangan [29], sehingga pembeli dapat mengetahui apakah barang yang akan dia beli mengandung unsur tipuan, jahalah, riba, fasid, atau tidak.

(2). Pada jual beli ini, pembeli dapat berkomunikasi dengan penjual untuk menanyakan hal-hal yang belum disebutkan pada ciri-ciri barang dagangan [30], sehingga penjual dan pembeli dapat saling ridla.  Dengan demikian jual beli on line itu tidak dilarang, jika tidak mengandung unsur tipuan, jahalah, riba, atau fasid, selagi saling ridla.

(3). Ayat ini dapat dijadikan dalil bolehnya jual beli on line, jika tidak mengandung unsur tipuan, jahalah, riba, atau fasid, selagi saling ridla

Ketiga, Hadits Abu Hurairah tentang Larangan Jual Beli yang Mengandung Tipuan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ، قَالَ : نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ ، وَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ .

Artinya:

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dengan (lemparan) kerikil  serta jual beli dengan tipuan. HR Muslim [31]

Al-Ubay menyatakan bahwa jual beli yang mengandung unsur tipuan adalah jual beli barang dagangan yang kebagusan atau kerusakannya belum pasti, sehingga pembeli dirugikan [32] Al-Qadli ‘Iyadl menyatakan bahwa jual beli yang mengandung unsur tipuan itu dilarang karena kebagusan atau kerusakan barang dagangan belum pasti, sehingga pembeli dirugikan. [33]

Catatan: Berkaitan dengan pembahasan ini, jual beli on line mengandung unsur tipuan, yaitu ketidakpastian kondisi barang dagangan, sebagaimana dinyatakan oleh Adhi Prasetio.[34] Namun demikian, unsur tipuan dalam jual beli on line dapat dihilangkan dengan adanya garansi, misalnya penjual membantu pembeli untuk komplain ke jasa kurir jika barang hilang saat pengiriman dan penjual mengganti barang yang rusak atau cacat. [35] Jadi unsur tipuan dalam jual beli on line  dapat dihilangkan.

Kesimpulan: hadits ini tidak dapat dijadikan hujah dilarangnya jual beli on line

Keempat, Hadits Abu Hurairah tentang Larangan Jual Beli Mulamasah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنِ الْمُلاَمَسَةِ وَ الْمُنَابَذَةِ

Artinya:

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli mulamasah [36] dan munabadzah [37]. HR Al-Bukhari [38]

Al-Hanafiyyah memahami bahwa hadits tersebut menunjukkan dilarang jual beli mulamasah, karena pembeli belum mengetahui kondisi barang yang akan dia beli serta belum mengetahui ciri-cirinya, dan semua jenis jual beli yang tidak disertai penyebutan ciri-ciri barang dagangan sedangkan pembeli belum melihatnya maka jual beli itu dihukumi sebagaimana hukum jual beli mulamasah. [39]

Catatan: Dalam jual beli on line tidak termasuk jual beli mulamasah, sebab pembeli dapat melihat kondisi barang yang akan dibeli, walaupun lewat gambar, bahkan penjual menyebutkan ciri-cirinya. Dengan demikian jual beli on line tidak termasuk dalam jual beli mulamasah.

Kesimpulan: hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai hujah dilarangnya jual beli on line

Kelima, Hadits Mak-hul tentang Jual Beli Barang Gaib dengan Khiyar [40] bagi Pembeli

عَنْ مَكْحُوْلٍ رَفَعَ الْحَدِيْثَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَنِ اشْتَرَى شَيْئًا لَمْ يَرَهُ فَهُوَ بِالْخِيَارِ إِذَا رَآهُ إِنْ شَاءَ أَخَذَهُ ، وَ إِنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Artinya:

Dari Mak-hul, dia memarfu’kan hadits ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa membeli sesuatu yang dia belum melihatnya, maka dia ada hak pilih apabila dia telah melihatnya. Jika dia berkehendak, dia mengambilnya, dan jika dia berkehendak, dia meninggalkannya.” HR Al-Baihaqi [41] dan Ad-Daraquthni [42]

Hadits Mak-hul ini adalah hadits mursal, karena beliau adalah seorang tabi’i [43].  Hadits mursal termasuk hadits dla’if. [44] selain itu di dalam sanad hadis ini terdapat seorang rawi yang bernama Abu Bakr bin ‘Abdullah bin Abu Maryam. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, dan An-Nasa`i bahwa dia termasuk rawi dla’if Abu Zur’ah mengatakan bahwa dia diingkari haditsnya. Abu Hatim mengatakan bahwa dia lemah haditsnya. Ibrahim bin Ya’qub mengatakan bahwa dia  tidak kuat. [45]  Hadits dla’if tidak dapat dijadikan hujah. [46]

Dalam hadits ini, yang dimaksud hak pilih (khiyar) dalam jual beli barang ghaib adalah hak pilih yang diberikan kepada pembeli untuk mengambil atau menolak barang ghaib setelah dia melihatnya. [47]

Al-Hanafiyyah memahami bahwa lafal  فَهُوَ بِالْخِيَارِ إِذَا رَآهُ (maka dia ada hak pilih apabila dia telah melihatnya) dalam hadits ini menunjukkan bahwa hak pilih itu ada setelah pembeli melihat barang dagangan, [48] baik barang dagangan tersebut sesuai dengan ciri yang telah disebutkan oleh penjual ataupun tidak. [49]

Catatan:

(1). Walaupun sanad hadits ini berderajat dla’if, akan tetapi maknanya sesuai dengan ijmak shahabat tentang disyariatkannya hak pilih dalam jual beli barang ghaib [50], sedangkan ijmak shahabat bisa dijadikan hujah. [51] Dengan demikian, makna hadits ini bisa diterima.

(2). Berkaitan dengan jual beli on line, pembeli tidak melihat barang dagangan secara langsung, maka jual beli on line termasuk dalam jual beli barang ghaib. Dengan demikian, hak pilih dalam jual beli on line itu ada setelah pembeli melihat barang dagangan, baik barang dagangan tersebut sesuai dengan ciri yang telah disebutkan oleh penjual ataupun tidak, sehingga jual beli on line itu boleh.

Kesimpulan: hadits ini dapat dijadikan hujah bolehnya jual beli on line dengan adanya hak pilih bagi pembeli.

Keenam, Hadits Ibnu ‘Abbas tentang Penentuan Takaran, Timbangan, dan Waktu pada Jual Beli As-Salaf

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ ، وَ هُمْ يُسْلِفُوْنَ فِي الثِّمَارِ السَّنَةَ وَ السَّنَتَيْنِ ، فَقَالَ : مَنْ أَسْلَفَ فِي تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُوْمٍ ، وَ وَزْنٍ مَعْلُوْمٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُوْمٍ

Artinya:

Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, sedangkan mereka (para shahabat) melakukan jual beli as-salaf [52] pada buah- buahan dalam tempo satu tahun atau dua tahun. Maka beliau bersabda, “Barangsiapa yang melakukan  jual beli as-salaf pada kurma, hendaklah dia berjual beli as-salaf dengan takaran tertentu, dengan timbangan tertentu, sampai batas waktu tertentu.” HR Muslim. [53]

An-Nawawi menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya jual beli as-salam (as-salaf) dengan syarat adanya penentuan takaran, timbangan, atau waktunya. [54]

Al-‘Aini menyatakan bahwa jual beli as-salam (as-salaf) tidak hanya berlaku pada barang-barang yang ditakar atau ditimbang, akan tetapi berlaku juga pada semua barang yang dapat ditentukan sifat atau ciri-cirinya. [55]

Menurut Al-‘Utsaimin, barang yang diperjualbelikan secara as-salam (as-salaf) pada hadits ini dapat diketahui hanya dengan penyebutan ciri-cirinya, karena barang tersebut belum ada. [56]

Catatan:

(1). Barang dagangan pada jual beli as-salam (as-salaf) belum bisa dilihat oleh pembeli, karena barang tersebut belum ada. Namun demikian, unsur jahalah dalam jual beli as-salam (as-salaf) ini telah hilang dengan sebab penjual telah menyebutkan ciri-ciri barang dagangan, meskipun barang tersebut belum ada.

(2). Pada jual beli on line, pembeli tidak bisa melihat barang yang akan dibeli secara langsung, namun unsur jahalah pada jual beli on line telah hilang, karena penjual telah menyebutkan ciri barang tersebut.

(3). Jual beli barang yang belum dilihat oleh pembeli dengan penyebutan ciri-cirinya itu dapat dikiaskan hukumnya dengan jual beli as-salam (as-salaf). [57] Oleh karena itu, jual beli on line dapat dikiaskan dengan jual beli as-salam (as-salaf).

Kesimpulan: hadits ini dapat dijadikan dalil bolehnya jual beli on line. (Muhammad Iqbal/ed)

FOOTNOTE

[1] Internet adalah suatu jaringan informasi di seluruh dunia yang memungkinkan diakses melalui komputer (lihat Mu’jamu Lughatil ‘Arabiyyatil Mu’ashirah susunan Ahmad Mukhtar ‘Umar, jld. 1, hlm. 127).

[2]  Barang gaib adalah barang yang sebenarnya sudah ada dan dimiliki oleh penjual, tetapi pembeli belum melihatnya (lihat Al-Fiqhul Islamiyyu  wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, hlm. 231).

[3] Lihat Fat-hul Bari susunan Ibnu Hajar, jld. 5, hlm. 96.

[4] Lihat Smart Guide Jualan Online susunan Adhi Prasetio, hlm. 29-30.

[5] Lihat Panduan Cerdas Jual Beli Online susunan Dedik Kurniawan, hlm. 19.

[6] Lihat Smart Guide Jualan Online susunan Adhi Prasetio, hlm. 92-94.

[7] Lihat: Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh, karya Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, hlm. 232.

[8] Lihat Al-Fiqhul Hanafiyyu fi Tsaubihil Jadid susunan Mahmud Thahmaz, jld. 4, hlm. 122.

[9] Lihat Syarhu Nuzhatin Nadhar susunan Al-‘Utsaimin, hlm. 147.

[10] Lihat: Fat-hul Bari, karya Al-Hafidh Ibnu Hajar,  jld. 5, hlm. 96.

[11] Lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jz. 4, hlm. 233.

[12] Lihat Al-‘Uddatu ‘ala Ihkamil Ahkam susunan Al-Amir Ash-Shan’ani, jld. 3, hlm. 456-457.

[13] Lihat Syarhubni Baththal susunan Ibnu Baththal, jld. 6, hlm. 235.

[14] Lihat At-Tamhid susunan Ibnu ‘Abdil Barr, jld. 2, hlm. 268.

[15] Lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, hlm. 233.

[16] Lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, hlm. 233.

[17] Lihat Taisiru Masa`ilil Fiqh susunan An-Namlah, jld. 3, hlm. 28.

[18] Lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, hlm. 232.

[19] Lihat Jami’ul Bayani fi Tafsiril Qur`an susunan Ath-Thabari, jld. 3, hlm. 69.

[20] Lihat Ahkamul Qur`an susunan Ibnul ‘Arabi, jld.1, hlm. 321.

[21] Lihat Al-Jami’u li Ahkamil Qur`an susunan Al-Qurthubi, jld. 3, hlm. 356.

[22] Lihat Smart Guide Jualan Online susunan Adhi Prasetio, hlm 28.

[23] Lihat Panduan Cerdas Jual Beli Online susunan Dedik Kurniawan, hlm. 18.

[24] Lihat Mahasinut Ta’wil susunan Al-Qasimi, Tahqiq Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, jld. 2, hlm. 275.

[25]Jahalah adalah sesuatu yang tidak diketahui (lihat Mu’jamu Lughatil Fuqaha` susunan Muhammad Rawas Qal’ahji, hlm.147).

[26] Lihat Al-Jami’u li Ahkamil Qur`an susunan Al-Qurthubi, jld. 5, hlm. 152.

[27] Lihat Mahasinut Ta`wil susunan Al-Qasimi, jld. 2, hlm. 276.

[28] Lihat Ahkamul Qur`an susunan Ibnul ‘Arabi, jld. 1, hlm. 523.

[29] Lihat Smart Guide Jualan Online susunan Adhi Prasetyo, hlm. 27.

[30] Lihat Smart Guide jualan Online susunan Adhi Prasetio, hlm. 28.

[31] Musa Syahin Lasyin dan Ahmad ‘Umar Hasyim, Shahihu Muslim, jld. 3, hlm. 333, h. 4 (1513)

[32] Lihat Ikmalu Ikmalil Mu’allim susunan Al-Ubay, jld. 5, hlm. 318.

[33] Lihat Ikmalul Mu’limi bi Fawa`idi Muslim susunan Al-Qadli ‘Iyadl, jld. 5, hlm. 133.

[34] Lihat Smart Guide jualan Online susunan Adhi Prasetio, hlm. 33.

[35] Lihat Smart Guide jualan Online susunan Adhi Prasetio, hlm. 34.

[36] Mulamasah (jual beli dengan sentuhan tangan), misalnya salah seorang pelaku transaksi menyentuh barang dagangan tanpa mengetahui kondisinya, dan dengan sentuhan itu jual beli harus terjadi (lihat Fiqhus Sunnah susunan As-Sayyid Sabiq, jld. 4, hlm. 45).

[37] Munabadzah (jual beli dengan lemparan), misalnya kedua pelaku transaksi saling melempar barang, dan dengan itu jual beli harus terjadi, tanpa ada rasa saling rela (lihat Fiqhus Sunnah susunan As-Sayyid Sabiq, jld. 4, hlm. 45).

[38] As-Sindi, Matnu Masykulil Bukhari, jz. 2, hlm. 21, k. 34, Al-Buyu’, b. 63, Bai’il Munabadzah, h. 2146.

[39] Lihat Syarhubni Baththal susunan Ibnu Baththal, jld. 6, hlm. 235.

[40] Khiyar adalah hak bagi kedua belah pihak yang bertransaksi jual beli untuk meneruskan  transaksi itu atau membatalkannya (lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, hlm. 288).

[41] Muhammad ‘Abdul Qadir ‘Atha, As-Sunanul Kubra, jld. 5, hlm. 439, h. 10425.

[42] Ad-Daraquthni, Sunanud Daraquthni, jld. 2, jz. 3, k. Al-Buyu’, hlm. 4, h. 2777.

[43] Lihat Al-Majmu’u Syarhul Muhadzdzab susunan An-Nawawi, jld. 10, hlm. 336.

[44] Lihat Qawa’idut Tahdits susunan Al-Qasimi, hlm. 133.

[45] Lihat Tahdzibul Kamal susunan Al-Mizzi, jld. 11, hlm. 256-257.

[46] Lihat Taujihul Qari susunan Az-Zahidi, hlm. 167.

[47] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah susunan Wizaratul Auqafi wasy Syu`unil Islamiyyah, jld. 4, hlm. 248.

[48] Lihat Al-Fiqhul Hanafiyyu fi Tsaubihil Jadid susunan Mahmud Thahmaz, jld. 4, hlm. 122.

[49] Lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, hlm. 340.

[50] Lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Wahbah Az-Zuhaili, jz. 4, hlm. 340.

[51] Lihat Al-Bahrul Muhithu fi Ushulil Fiqh susunan Az-Zarkasyi, jld. 3, hlm. 527.

[52] Jual beli As-Salaf atau As-Salam adalah jual beli barang tertentu yang pembayarannya di muka sedang barangnya ditempokan (lihat Fiqhus Sunnah susunan As-Sayyid Sabiq, jld.4, hlm. 69)

[53] Musa Syahin Lasyin dan Ahmad ‘Umar Hasyim, Shahihu Muslim, jld. 3, hlm. 415-416, h. 127 (1604).

[54] Lihat Shahihu Muslimin bi Syarhin Nawawi susunan An-Nawawi, jld. 6, jz. 11, hlm. 41.

[55] Lihat ‘Umdatul Qari susunan Al-‘Aini, jld. 6, jz. 12, hlm. 62.

[56] Lihat Asy-Syarhul Mumti’ susunan Al-‘Utsaimin, jld. 8, hlm. 149-150.

[57] Lihat Taisiru Masa`ilil Fiqhi susunan An-Namlah, jld. 3, hlm. 28.

Oleh: Ustadz Miftahul Firdaus

Tinggalkan komentar