Kepribadian Perekat Ukhuwah Dalam Pandangan Islam

Kepribadian Perekat UkhuwahOleh: Ustadz Mukhtar Tri Harimurti

Suatu kali Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melewati seorang perempuan yang sedang menangis di samping sebuah kuburan, lalu Nabi bersabda “Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!” lantas perempuan itu berkata “Pergilah dariku! Sesungguhnya engku tidak sedang mendapat musibah yang kurasakan dan engkau tidak mengetahuinya.” Maka di katakan padanya “Sesungguhnya dia itu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam” lantas perempuan itu mendatangi nabi dan berkata “Aku tidak mengetahui engkau.” Lalu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda “Sesungguhnya kesabaran itu hanyalah saat kejadian pertama”. HR. Bukhari dan Muslim

Empati

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati si perempuan itu ( walaupun semula ditanggapi dengan ogah) karena sayang beliau kepada salah satu umat, agar si perempuan tidak terkena musibah dua kali, kesripahan dan kehilangan ganjaran kesabaran, begitu kata Ibnu Baththal. Ibnu Hajar menambahkan, mencoba untuk menerima alasan yang dibuat orang lain, minimal tidak membantah.

Demikian pula dengan  para santri sekalian, pandai-pandailah mengempati (dalam kerangka tawashau bil haq wash shabr) sesama santri yang lain, mungkin ada yang sedang sedih, perut masih lapar jatah sudah habis, kangen dengan ortu, sudah  jenuh dan bosan di ma’had, sirah mumet dhadha ampeg pikiran bunek tidak karuan atau entah sedang mengalami suntuk, pokoknya galau. Tetapi ingat, bukan semata-mata empati membabi buta, lihat point berikut ini…!

Tawaadlu’

Hadits di atas mengandung pelajaran untuk tawadlu’ dan belas kasih kepada orang, namun tetap dalam keadaan melazimi amar ma’ruf nahi munkar.

Maka sampaikan segala nasehat dan tasliyah dengan tawadlu`, rendah hati. Kerendah hatian merupakan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder. Sampaikan dengan pelan-pelan. Hibur agar hilang kesedihannya. Mengempati kawan dengan ketawadlu`an…

Namun jangan tergesa-gesa, jangan-jangan dia diam bukan karena perut keroncongan, atau kangen ortu, atau galau, tetapi sedang tafakkur dan tadabbur, atau memang orangnya tipe pendiam, yang tidak banyak bicara, lihat point berikut!

Husnudhan dan Besar Jiwa

Orang yang bersikap husnudhan selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Santri sukses adalah santri yang tidak gampang disakiti hatinya oleh orang lain, dan menahan diri dan menjaga diri untuk tidak membalas sakit hatinya kepada orang lain, apalagi menyakiti hatinya.

Apa yang kita alami demi sahabat kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya.

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur – disakiti, diperhatikan – dikecewakan, didengar – diabaikan, dibantu – ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Santri sukses adalah santri yang suka menghibur sahabat yang  sedang kesusahan, suka mengalah daripada menang sendiri, lebih suka mendengarkan omongan sahabat sebelum menyampaikan gagasan, suka memberi yang membutuhkan. Suka introspeksi daripada menyalahkan orang, pemurah, pemaaf, hati terbuka, bertanggung jawab dan percaya diri.…

Hati terbuka, Bertanggung jawab dan Percaya Diri

Seseorang mestinya menerima sebuah nasehat, walaupun tidak mengetahui siapa si pemberi nasehat, dengan hati terbuka. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.

Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Seorang santri sukses akan membuka lebar-lebar pintu hatinya. Siap menasehati dan dinasehati. Bukan cuma siap menasehati dan ogah dinasehati. Siap menasehati karena ingin keluarga besarnya (di pesantren) senantiasa dalam kebaikan, siap dinasehati karena tidak ada seorangpun yang tidak punya kesalahan dan kekhilafan.

Siap memberikan acungan jempol namun tidak mengharapkan acungan jempol…kalau senantiasa siap, hatinya akan selalu longgar, penuh harapan, dan ceria hati…

Longgar, Penuh Harapan dan Ceria Hati

Mengapa ceria hati? Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan.

Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, bahkan dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Seseorang hendaklah siap memikul resiko ketika menyampaikan nasehat, artinya siap ditolak niat luhur dan mulianya. Mau menghibur dikira menggurui, ngasih camilan dikira menghina, mau PDKT dikira mau cari gara-gara…ya apa boleh buat.

Lantas bagaimana? Cobalah menjadi sahabat yang setia. Sikap buruk yang diterima itu mesti berasal dari kejahilan, dlan yang buruk, dan belum tebalnya rasa setia kawan, serta belum tingginya tingkat kepercayaan.

Kesetiaan-Kepercayaan

Begitulah, andaikata si Ibu yang belasungkawa tersebut setia dan percaya, tentu tidak akan demikian sikap yang dia tunjukkan. Menyuruh pergi dan menyingkir orang yang berniat baik kepadanya.

Proses dari kenalan menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Santri yang setia dan dapat dipercaya tidak suka membesar-besarkan masalah yang kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan.

Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya. Memberi air susu kok dibalas dengan air tuba, tidak mengapa, mungkin si sahabat sedang terganggu penglihatannya. Kalau diimbangi dengan air tuba pula, rusak dan hancurlahlah sebuah persahabatan. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Semua itu tidak mungkin terjadi tanpa ada ketulusan dan keikhlasan.

Ketulusan-keikhlashan

Ketulusan sesungguhnya menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua sahabat. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri, namun menguntungkan semua orang. Keikhlashan yang berlandaskan taqwa, berbuat karena mencari ridlo Allah semata.

Wallahu a’lam bishshawwab

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *