Ketika Sholat Ied Bertepatan dengan Sholat Jumat

Ketika Sholat Ied Bertepatan dengan Sholat Jumat

Alhamdulillah, hari kamis ini adalah hari Arafah di tahun 1441 H. Dengan demikian, besok Jumat adalah Hari Idul Adha. Tentu bagi kita, hari Idul Adha merupakan hari yang agung. Di hari itu, Allah SWT menganjurkan beberapa amalan yang tidak bisa dilakukan selain di hari itu dan hari-hari tasyrik, yaitu untuk menyembelih kurban. Lantas bagaimana apabila Idul Adha yang merupakan salah satu hari besar Umat Islam itu bertepatan dengan hari Jumat yang juga merupakan hari besar umat Islam. Apakah kita tetap diwajibkan untuk sholat jumat ataukah tidak? Insyaallah dalam artikel ini, kita akan membahas hal itu.

Sholat Jumat bertepatan sholat ied

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah SAW beliau bersabda,”Telah terkumpul dalam satu hari kalian ini dua hari besar (Hari Ied dan hari Jumat). Maka barangsiapa yang mau, dia boleh untuk tidak sholat jumat. Sedangkan kami tetap sholat berjamaah (untuk sholat Jumat)

Pendapat Imam Atho’

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: اجْتَمَعَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ: عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ

Dari Atho, ia berkata,”Telah terkumpul hari Jumat dan Hari Idul Fithri (dalam satu hari) di masa Ibnu Zubari. Maka ia pun berkata,’Ada dua hari besar yang terkumpul dalam satu hari.’ Ia pun menjamak kedua sholat itu dengan sholat dua rakaat dan tidak sholat apapun hingga datang waktu sholat ashar.”

Pendapat Jumhur Ulama

pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa apabila tidak sholat Jum’at, maka ia tetap wajib untuk menjalankan sholat dhuhur. Pendapat ini diutarakan oleh Al-Qurthubiy,

أما فعل بن الزُّبَيْرِ وَمَا نَقَلَهُ عَطَاءٌ مِنْ ذَلِكَ وَأَفْتَى بِهِ عَلَى أَنَّهُ قَدِ اخْتَلَفَ عَنْهُ فَلَا وَجْهَ فِيهِ عِنْدَ جَمَاعَةِ الْفُقَهَاءِ وَهُوَ عِنْدَهُمْ خَطَأٌ إِنْ كَانَ عَلَى ظَاهِرِهِ لِأَنَّ الْفَرْضَ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ لَا يَسْقُطُ بِإِقَامَةِ السُّنَّةِ فِي الْعِيدِ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ .

Adapun perbuatan Ibnu Zubair dan apa yang dinukilk oleh Atho dalam hal ini dan ia pun juga berfatwa dengan hal itu meskipun fatwa itu diperselisihkan,  adalah tidak benar menurut sekelompok fuqoha. Hal itu pun menurut mereka adalah suatu hal yang salah. Hal itu karena sholat wajib tidak akan gugur hanya dengan didirikannya sholat sunnah di hari Ied menurut salah satu ahli ilmu.

Kesimpulan

Kesimpulannya, manakah dari kedua pendapat itu yang paling benar? Insyaallah yang paling betul ialah pendapat kedua atau mayoritas ulama yang mengatakan bahwa apabila seseorang tidak melakukan sholat Jumat, ia harus mengganti sholat jumat itu dengan sholat dhuhur. Mengapa demikian? Pertama, pendapat Imam Atho itu hanya berdasarkan pendapat Ibnu Zubair dan tidak bisa dihukumi sebagai hadits marfu’. Kedua, dalam sehari semalam, Allah sudah mewajibkan kepada setiap muslim untuk sholat lima waktu sehari. Hal itu pulalah yang sudah Allah putuskan ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Mi’raj. Oleh karena itu, apabila memang benar ia tidak melakukan sholat jumat dan tidak pula sholat dhuhur, otomatis sholatnya hanya empat kali dalam sehari semalam, dan tidak sesuai dengan apa yang sudah menjadi ijma muslimin tersebut. Oleh karena itu, apabila memang tidak melakukan sholat Jumat, hendaknya diganti dengan menjalankan sholat dhuhur. Wallahu a’lam.

Oleh : Bilal Fahrur Rozie

Mahasiswa Islamic University of Madinah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *