KH. Mudzakir, Semangat yang Tak Pernah Padam


Buah jatuh tak jauh dari pohonya. Kedua orangtuanya adalah pengajar. Ia termotivasi untuk mendirikan seebuah lembaga pendidikan. Merancang kurikulum versinya sendiri

Mudzakir meletakkan pondasi awal bagi pendidikanya di sebuah Sekolah Rakyat (SR). Lokasi sekolah itu  ada di sebelah utara Pasar Klewer, Surakarta. Selama 6 tahun ia mengikuti pendidikan itu, dan dinyatakan lulus pada tahun 1960. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan di PGAP. Akan tetapi ternyata tidak bertahan lama. Hanya 3 bulan. Raden Mas Muin Atmo Saputro, seorang komisaris polisi yang juga masih kerabat dengan Mudzakir, menyarankan untuk pindah.

Kepindahanya juga disertai alasan yang tepat. Raden Mas (RM) Muin Atmo Saputro, yang masih terhitung sebagai Pakdhe dari Mudzakir, melihat akan ada sebuah kendala menyangkut biaya pendidikan. Abdul Rozaq dan Aisiah, kedua orang tua Mudzakir bukanlah orang yang berada. Melihat kondisi itu, RM Muin Atmo Saputro memilih untuk bisa menyekolahkan dan membiayai pendidikan keponakanya itu. Akhirnya, Mudzakir pindah ke SMP Negeri 1 Solo, dan lulus pada tahun 1963.

Selanjutnya, ia lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan, STM Negeri Yogyakarta. Lagi-lagi tak berlangsung lama, hanya 2 bulan. Tertarik untuk menyelami dunia obat-obatan, studinya berlanjut di sekolah Asisten Apoteker, yang sekarang dikenal sebagai Sekolah Menengah Farmasi (SMF). Agaknya ini lebih pas, karena Mudzakir mampu menyelesaikan pendidikan di lembaga tersebut.

Selepas itu, ia lolos rekrutmen sebagai PNS dan ditempatkan di Madura. Di daerah penghasil garam ini, ia mau tak mau harus bisa berbahasa Madura. Kala itu, di daerah tempat tinggalnya, tak ada satupun yang bisa berbahasa Indonesia. Awalnya, sempat ia merasa kebingungan. Baik pasien maupun tetangga sebelah rumah tak bisa diajak berkomunikasi. “Saya belajar bahasa Madura, dan akhirnya bisa juga,” tutur Mudzakir, yang lahir di Solo pada 12 September 1947 ini.

Kurang lebih 3 tahun ia berada di Madura. Keinginanya untuk melanjutkan pendidikan membuat ia bertolak ke Surabaya. Di kota pahlawan ini, dirinya menimba ilmu di Fakultas Ilmu Agama, jurusan Dakwah, IAIN Surabaya. Pada periode ini, Mudzakir sempat mengenyam pengalaman di bidang organisasi, Pelajar Islam Indonesia (PII). Namun, pengalaman di level perguruan tinggi  dan organisasi ini malah membuatnya bimbang. “Setahu saya, sekolah itu tempat mencari ilmu dan ajang untuk ngerti agama, tetapi ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” katanya.

Keresahan ini berawal dari proses pembelajaran yang tidak maksimal. Ditambah dengan dinamika di PII seolah tidak mencerminkan keislaman. Setiap momen pemilihan ketua selalu diwarnai oleh aksi lempar-melempar kursi dan tindakan kekerasan lainya, seperti saling menyerang satu sama lain dengan barang tajam. Di PII, Mudzakir pernah didaulat sebagai ketua kordinator Daerah (KD) Madura. Selain PII, ia juga aktif di Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Islam (KAPPI) wilayah Madura sebagai Sekretaris Umum, pada tahun 1960-1969.

Ia mengakui, bahwa dengan keaktifanya berorganisasi membuat ‘jam terbangnya’ semakin tinggi. Bisa melalangbuana ke berbagai daerah, seperti Banyuwangi, Kediri, Surabaya dan banyak kota lain. Meski begitu, hal ini tak bisa menyentuh keinginan kuatnya untuk keluar dari organisasi. Waktu itu, budaya kekerasan yang menjalar ke organisasi yang ia geluti menjadikanya ragu.

BERDEBAT KARENA BEDA PRINSIP DAN PENDAPAT

Ada sebuah kisah menarik, saat Mudzakir mengenyam pendidikan di IAIN Surabaya. Di sana, hampir setiap saat ia berdebat dengan salah seorang asisten dosen Agama. Ia terus mengkritik dan mengejar dosen itu tatkala apa yang dia jelaskan tidak sesuai dengan pendapatnya. Ia mengaku tak pernah bisa diam saat asisten dosen tersebut menerangkan sesuatu yang menurutnya tidak pas. Perbedaan pendapat terjadi. “Saya bisa begitu karena saya belajar lebih dahulu dalam pengajian dari kyai, makanya saya kuasai bahanya,” kata Mudzakir.

Selalu berdebat membuat hubunganya dengan sang asisten dosen menjadi tidak harmonis. Kalau di dalam perkuliahan ada Mudzakir, maka asisten dosen itu tidak masuk mengajar. Begitu juga sebaliknya. Namun itu tak bisa berlangsung lama. Suatu waktu mereka akhirnya berjumpa.

“Kamu tidak usah ikut perkuliahan saya, silahkan ikuti pengajian-pengajian para kiayi itu saja!” kata asisten dosen itu.

“Baik, saya akan mengikuti pengajian! Tanpa mengikuti perkuliahan ini, saya bisa juga memahami agama!” jawab Mudzakir.

Selain itu, ia juga pernah terseret peristiwa Komando jihad. Namanya disebut-sebut tersangkut kejadian yang sempat menggegerkan itu. Akan tetapi, hal itu tak berlangsung lama karena tak ada bukti sahih yang bisa mengarah kepada keterlibatannya. Berbagai peristiwa ini malah membuat keinginanya semakin kuat untuk membuat kelompok pengajian.

Awalnya, kelompok pengajian ini hanya terdiri dari 6 orang, termasuk 2 anaknya sendiri. Ide ini tak terlepas dari pengaruh para kiayi besar, seperti kiayi Tasrifin Arrokibi, Kyai Abdul Kohar dari Surabaya, Kyai Manan Hamid dari Soccah Madura dan beberapa kyai yang ada di Surabaya. Dengan modal kesabaran dan keuletan yang bersandar pada keyakinan, akhirnya pengajian yang dia gelar menjadi semakin maju. Jemaah pengajian menjadi semakin bertambah.

Bersamaan dengan itu, ternyata kebutuhan pun semakin tinggi. Karena jamaah yang sudah meningkat, maka kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung seperti tempat pengajian yang layak juga harus dipersiapkan. Dengan begitu, Mudzakir bersama kerabat dekatnya dan muridnya sendiri kemudian membangun gedung pengajian satu lantai. Gedung tersebut, selain digunakan untuk pengajian, juga dimanfaatkan untuk tempat shalat.

Seiring dengan bergulirnya waktu, maka Mudzakir kemudian memfokuskan perhatian pada upaya meningkatkan status pengajianya. Ia berniat mendirikan sebuah lembaga yang lebih besar, yang kemudian dikenal sebagai Ma’had Al-Islam. Awalnya hanya satu lantai. Selang beberapa lama kemudian, tuntutan kebutuhan semakin tinggi dan ditambah lagi jumlah jemaah yang sudah banyak, maka pada tahun 1984, Mudzakir sebagai penanggungjawab lembaga bertekad membangun tempat pembelajaran yang lebih luas, 5 lantai.

Berdasarkan pengalamanya, maka ia mencoba untuk membuat kurikulum sendiri untuk pendidikan yang dirintisnya. Secara bertahap, dia mulai membeli buu-buku dan kitab-kitab pilihan untuk menjadi referensi para santrinya. Satu buku yang dia beli diupayakan untuk dibaca sampai selesai. Setelah selesai dibaca, kemudian dia beli lagi dan dibaca lagi sampai selesai. Begitu seterusnya. Lambat namun pasti, ia berhasil mengumpulkan banyak buku. Semakin banyak buku, maka didirikanlah sebuah perpustakaan.

Pada tahun 1980, ia berkesempatan untuk menunaikan haji. Di sana ia juga bertemu dengan beberapa diplomat asing, dari Arab, Pakistan, dan Mesir. Mudzakir berbagi pandangan tentang pengelolaan pendidikan dengan mereka. Pulang ke tanah air, ia membawa buku dalam jumlah yang cukup banyak.

Ia berpesan pada istri dan anak-anaknya agak kelak, ketika dia meninggal dunia, buku-buku ini diwakafkan. Pasalnya, buku ini disamping dia beli sendiri, juga ada dari pemberian orang. Ia berpendapat, kalau buku itu milik orang banyak, maka sudah pasti banyak yang mau membacanya. “Saya selalu berpesan kepada istri dan anak-anak saya, agak kelak ketika saya meninggal, buku dan kitab-kitab ini diwakafkan,” katanya.

Banyaknya buku yang ada berbanding lurus dengan kemampuan santrinya untuk menulis. Karya ilmiah menjadi salah satu syarat kelulusan santri di sana. Di samping itu, Mudzakir mengesampingkan pembelajaran umum yang dianggap bisa merusak keyakinanya. “Dulu saya diajari lagu Padamu Negeri, padahal itu syirik. Karena itu, saya tidak mau itu terulang kembali pada anak-anak saya, termasuk para santri. Itu sama sekali tidak boleh, sebab hal itu tidak hanya Syirik, melainkan itu bisa juga merusak akidah atau keyakinan kita,” kata Mudzakir.

KEHIDUPAN KELUARGANYA

Sebagai anak kampung yang hidup di lingkungan sederhana, maka Mudzakir mengisinya dengan hal-hal yang sederhana. Dia sesekali bermain kelereng setelah selesai mengaji. Setelah ditinggalkan sang ayah, maka peran ibu sangat dominan. Ia selalu diberikan nasehat agar tidak meminta-minta. “Sejak kecil, saya sudah diajari oleh ibu saya untuk tidak meminta-minta. Biasanya Ibu saya kalau ada tamu, terus saya juga ada di situ, lihat-lihat, beliau paling tidak suka. Kadang kalau tamu pulang, saya dimarahi bahkan dicubit, sebab menurut dia kalau ada tamu, terus saya ke situ, itu artinya saya ingin makan apa yang dihidangkan untuk tamu tadi,” kata Mudzakir, mengenang sikap sang Ibu yang telah meninggal pada 1995.

Kehidupan masa kecil sangat sulit, terutama dalam hal ekonomi. Tak setiap hari bisa makan telur atau daging ayam. Ia hanya bisa merasakan empuknya daging ayam, tatkala Idul Fitri atau Idul Adha. Bahkan kadang-kadang, dia harus makan nasi dengan gaplek (ubi yang sudah dikeringkan-red). Tetapi, kondisi itu tidak melunturkan niatnya dalam menuntut ilmu demi kebaikan dan perubahan kehidupan keluarganya.

Tetapi, dibalik semua itu, Mudzakir mempunyai contoh yang kelak bisa membantu kehidupannya. Kedua orangtuanya gigih mengajar, meski konsekwensinya waktu mereka menjadi lebih sempit untuk mencai uang. Dalam kondisi ini, Abdul Rozak, ayah Mudzakir, bahkan mendirikan sekolah khusus bernama Madrasatul Aitam. Sebuah sekolah yang menampung anak-anak yatim dan mereka berasal dari keluarga miskin.

Mudzakir sendiri menikah pada usia 27, tepatnya tahun 1974. Ia menikahi salah satu tetangganya sendiri, bernama Muyassaroh. Pernikahan ini menghasilkan 10 anak. Pendidikan Muyassaroh adalah sarjana muda di IKIP Surakarta, yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Negeri Sebelas Maret Surkarta. Akan tetapi, pada 26 Maret 2011 sang isteri ini tutup usia. Sebelumnya, pada tahun 1986, ia menikah lagi dengan Masitoh yang berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Saat itu, Muyassaroh istri pertamanya belum meninggal. Mudzakir memerlukan restu dari isteri pertamanya. Pada saat sidang di Departemen Agama Jakarta, Muyassaroh turut memberikan rekomendasi tertulis dan dibumbui dengan tanda tangan. Ia setuju jika Mudzakir menikah lagi.

Kejadian yang hampir serupa terjadi lagi. Abidah, salah seorang santri wanitanya menderita kanker leher yang parah. Sementara, keluarga santri tersebut bukan berasal dari kalangan yang berada. Mudzakir tak bisa tinggal diam. Ia urun tenaga dan pikiran untuk menyembuhkanya. Khawatir menimbulkan fitnah, maka dia putuskan untuk menikahi santrinya yang sakit ini. Biaya pengobatan kanker ini sudah pasti banyak. Karena itu, Mudzakir meminta langsung kepada orang tua santrinya ini, agar anaknya ini dijadikan isterinya saja. Ini terjadi sekitar tahun 1995.

MENOLAK STIGMA

Sikap tegas ia tunjukkan saat menyangkut persoalan akidah atau fikih. Ia tak membenarkan ucapan “Selamat hari natal” kepada mereka yang menjalankan natal.

“Mengucapkan selamat hari natal itu tidak boleh, sebab secara tidak langsung kita telah membenarkan atau mengakui keyakinan mereka tentang Yesus anak Tuhan. Padahal itu keliru, karena itu kita menolaknya,”kata Mudzakir.

Ia sendiri menampik bahwa dengan prinsip tersebut, maka ia disebut sebagai ‘garis keras’ atau fundamentaslis. Dari tahun ke tahun, sama sekali tak ada santrinya yang memukuli atau mengganggu orang yang merayakan natal. Mudzakir melihat, stigma-stigma orang saat ini yang dialamatkan pada dirinya dan lembaganya, hanya sebagai ungkapan kebencian.

Banyak para pengajar yang berasal dari luar memberikan pujian. Ada beberapa dari mereka yang mengajar langsung para santri. Di antara mereka ada Suwardi, seorang profesor spsialis kedokteran jiwa dari UGM. Ia mengampu mata kuliah Psikiatri dan Psikologi. Ada Bambang Setiadji, Rektor UMS, yang mengampu mata kuliah Ekonomi di Al-Islam ini. Muncul juga nama Rafik Karsidi, Rektor UNS, yang menjadi tentor pada mata kuliah Pedagogik. Ada Joko Nurkamto dan Adi Sulistiono, dua profesor asal UNS yang masing-masing mengampu bahasa Inggris dan Hukum. Dalam pengujian karya Ilmiah sebagai syarat kelulusan, mereka menghadirkan Mudzakir, ahli hukum pidana asal UII.

Tuduhan miring terhadap dirinya coba untuk ditepiskan. Contohnya terjadi pada tahun 1999. Saat itu, banyak tempat di kota Solo ludes terbakar akibat gejolak politik nasional. Aksi huru-hara itu bertepatan dengan terpilihnya Gus Dur dalam pilpres 1999. Sejumlah masa partai tertentu, saat itu diduga yang lakukan pembakaran, yakni masa dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), merasa tidak terima atas kekalahan yang diterimanya.

Dalam kondisi yang kacau balau seperti ini, tidak ada satu pun yang berani menghalau atau membubarkan keberingasan masa. Kepolisian sekalipun tidak mampu mengatasi hal ini. Aktivitas masyarakat pun menjadi terganggu. Sejumlah pasar tidak bisa beroperasi, sebab lapak-lapak para pedagang juga habis dibakar, dan sebagian dicuri. Kerugian masyarakat saat itu sangat tinggi. Melihat kondisi yang tidak stabil seperti ini, Mudzakir menginstruksikan para santri agar segera mengambil langkah-langkah penyelematan. Ia melakukan pawai bersama santrinya. Mereka menyerukan kepada masyarakat agar tetap tenang, sekaligus menghimbau secara tegas kepada para pengacau agar menghentikan aksinya. “Kami juga punya laskar. Ini kita gunakan pada situasi-situasi genting, seperti dulu, pada saat terpilihnya Gus Dur,” kata Mudzakir.

Diketik ulang oleh Muhammad Iqbal

Sumber:

ISRA’ (JALAN PERUBAHAN) edisi 21 diterbitkan pada Maret 2012 oleh Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (PUSHAM-UII)

Tinggalkan komentar