Konsekwensi Beraqidah

(Materi Jilid 6 – 10)

Konsekuensi VI ( Keenam )

Takut Kalau Sampai Terjerumus ke dalam Neraka dan Berusaha/Berlindung darinya

وَالَّذِيْنَ يَقُـوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْـرِفْ عَـنَّا عَذَابَ جَهَـنَّمَ إِنَّ عَذَابَـهَا كَانَ غَـرَامًا_الفرقان : 65.

“Dan orang-orang yang berkata: “Wahai Pemelihara kami ! Palingkanlah dari pada kami siksaan jahannam; sesungguhnya siksaannya itu adalah tetap/mencelakakan”._S. Al-Furqan (25) : 65.

Surat ini diturunkan di Makkah sebelum hijrah. Untuk bisa mengetahui makna ayat ini secara jelas kita harus membacanya setidak-tidaknya mulai dengan ayat 63, yakni:

وَعِبَادُ الرَّحْمنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الجَاهِلُوْنَ قَالُوْا سَلاَمًا (63) وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (64)

“Dan (yang disebut) hamba-hamba Ar-Rahman itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi ini (hidup) dalam keadaan tenang[49] dan apabila menengkari mereka itu orang-orang yang bodoh, mereka mengatakan: ‘Selamatlah (kami dari perbuatan seperti ini)’ [64] Dan orang-orang yang bermalam kepada Pemelihara mereka dalam keadaan bersujud dan berdiri [65]”.

Maka kelengkapan arti ayat ini (ayat 65) adalah: Yang disebut hamba-hamba Ar-Rahman yang baik itu ialah orang-orang yang begini dan begini dan begini (seperti pada ayat 63-64) serta menyatakan begini (seperti pada ayat 65).

Sayyid Quthub menerangkan keadaan mereka itu dalam tafsirnya [50]:

Dalam waktu berdiri, sujud dan memperhatikannya mereka itu, penuhlah hati-hati mereka itu dengan taqwa dan takut dari adzab jahannam; maka mendoalah mereka seperti itu (ayat 65); padahal mereka itu tidak melihat jahannam! Tetapi mereka beriman kepada adanya dan mereka bayangkan gambarannya dari apa yang datang kepada mereka dalam Al-Qur`an Al-Karim dan atas lisan Rasulullah saw., dan ini adalah takut yang didapat sebagai buahnya iman, buah pembenaran. Mereka menghadap kepada Pemelihara mereka dengan khusyu` supaya Dia berkenan memalingkan adzab jahannam dari mereka.

Tidaklah cukup menenangkan mereka bahwa mereka bermalam dalam keadaan bersujud dan berdiri kepada Pemelihara mereka. Maka karena taqwa, mereka menganggap kecil (sedikit) amalan serta ibadah mereka dan tidak menganggap bahwa dengan amalan yang sudah mereka lakukan itu saja mereka dalam keadaan terjaga serta aman dari neraka; tidak ada penjagaan dan keamanan dari neraka itu apabila mereka tidak mendapat karunia Allah dan perkenanNya, maaf serta belas kasihNya; inilah yang memalingkan adzab jahannam dari mereka. Demikian Sayyid Quthub.

Bahwa hamba-hamba Allah yang terpilih itu selalu takut kepada adzab Pemelihara mereka -yakni neraka- itu sebagaimana tersebut pada ayat lain:

وَالَّذِيْنَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُوْنَ_المعارج : 27.

“Dan orang-orang yang mereka itu dari adzab Pemelihara mereka- dalam keadaan takut” ._S. Al-Ma`arij (70) : 27.

Dan dalam kelanjutan ayat ini pula kita dapatkan bahwa ketakutan atau kekhawatiran mereka ini adalah mempunyai alasan yang kuat, yakni lantaran adzab Allah itu tidak dapat diamankan atau dihindarkan begitu saja. Bahkan Allah menegaskan bahwa setiap orang mesti melaluinya, melainkan orang-orang yang taqwa saja yang kemudian Allah selamatkan:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَاج كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا * ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا *_مريم : 71- 72.

“Dan tidak adalah dari kalian itu kecuali (mesti) sampai kepadanya; adalah (yang demikian itu) atas Pemeliharamu (merupakan) keharusan yang ditetapkan * Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan Kami biarkan orang-orang yang dhalim itu berlutut padanya * ” ._S. Maryam (19) : 71-72.

Ketakutan dan kekhawatiran ini selain menjadikan orang berdoa untuk berlindung dari padanya -sebagaimana tersebut pada banyak ayat lainnya- sudah barang tentu menimbulkan bekas dengan menjauhnya orang dari kelakuan-kelakuan yang akan menyebabkan (di)masuk(kan) ke neraka.

Karena dengan mengucapkan kalimat: لا اله إلا الله  itu orang memasukkan diri dalam golongan hamba-hamba Allah yang terpilih -yakni beriman- dan karena hamba-hamba Allah yang pilihan itu tidak boleh tidak mesti khawatir dari siksa neraka dan berlindung dari padanya, maka teranglah bahwa orang yang sudah mengucapkan لا اله إلا الله  itu secara konsekuen harus takut dari padanya dengan sungguh-sungguh, yang ketakutan itu menumbuhkan bekas yang nyata pada ucapan/doa dan kelakuannya. Wallaahu a`lam.

Konsekuensi VII ( Ketujuh )

Ikhlas dalam Beramal dan Karenanya Hanya Mempunyai Satu Tali Hubungan

Untuk tidak terjadi salah paham, terlebih dahulu perlu diketahui bahwa ikhlas itu artinya murni atau bersih [51]. Adapun makna ikhlas atau murni dalam pembahasan berikut ini adalah: murni dalam niatan karena Allah semata; atau murni dalam perbuatan/ibadah, hanya yang ada tuntunannya saja, yang pertama itu lebih sering.

وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوِنِ_الذاريات: 56

“Dan tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku” ._S. Adz-Dzariyat : 56.

Surat ini diturunkan di Makkah [52]. Menurut Ali ra. makna ayat ini adalah: “Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali (disertai dengan) Aku perintahkan untuk beribadah [53]. Adapun alasannya adalah: kalimat  وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إلهً وَاحِدًا , bagian dari ayat:

إِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالمَسِيْحَ ابنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلهًا وَاحِدًا لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَج سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ_التوبة: 31.

“Mereka mengambil ahbar-ahbar (ulama Yahudi)  dan ruhban-ruhban (ahli ibadah Nashara) mereka sebagai sesembahan dari selain Allah dan (mengambil sebagai sesembahan pula akan) Al-Masih Ibnu Maryam; padahal tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan Yang Satu (yang) tidak ada Tuhan selain Dia; Maha suci Dia dari apa yang mereka sekutukan” ._S. At-Taubah (9) : 31.

Dalam masalah yang dibicarakan ini ada pula ayat yang semakna:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَج وَذَلِكَ دِيْنُ القَيِّمَةِ_البينة : 5.

“Dan (padahal) tidaklah mereka itu diperintahkan kecuali untuk mengabdi kepada Allah dalam keadaan memurnikan untukNya akan agama ini, dalam keadaan condong dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat; dan (yang demikian) itu (adalah) agama yang lurus” ._S. Al-Bayyinah (98) : 5.

Dari pengertian Surat Adz-Dzariyat : 56 seperti itu (menurut Ali ra.) bisa diketahui bahwa jin dan manusia itu mempunyai kewajiban menyembah Allah, mengabdi kepada Allah. Bentuk dan cara penyembahan itu haruslah bersih dari cara yang tidak diperintahkan, dan bersih pula pelakunya itu dari kelakuan menyembah/mengabdi kepada selain Allah. Mencampurkan penyembahan/pengabdian kepada Allah dengan penyembahan /pengabdian kepada selain Allah adalah merupakan perbuatan syirik. Hal ini dapat kita ketahui antara lain dari ayat 31 Surat At-Taubah : سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ .

Demikian pula dari Surat Al-Bayyinah : 5.مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن   -memurnikan untukNya akan agama ini- menunjukkan keharusan memurnikan penyembahan (pelaksanaan agama) itu hanya untuk Allah semata-mata, yakni tidak tercampur dengan niatan untuk selain Allah atau karena selain Allah. Dengan demikian segala macam perbuatan yang diperintahkan atau yang merupakan kebaikan dalam agama ini hanyalah diperbuat karena Allah semata. Maka shalatlah orang karena Allah; membayar zakatlah orang karena Allah (lihat Surat Al-Bayyinah ayat 5); memuliakan tetanggalah orang karena Allah; menghormati orang yang lebih tua karena Allah dan segala perbuatan yang lainnya lagi karena Allah semata-mata; pendeknya seluruh hidup dan matinya itu diperuntukkan mengabdi kepada Allah, karena Allah.

Maka perbuatan-perbuatan yang bersangkutan dengan lain orang pun hakikatnya merupakan pelaksanaan atau terikat hubungannya dengan Allah, yang demikian ini berarti bahwa orang hanya mempunyai satu tali; tali dari Allah yang terjulur kepada manusia. Dengan adanya satu tali ini maka semua persoalan sama sekali tergantung atau ditentukan berdasarkan kepadanya.

Adapun pendirian sebagian manusia bahwa orang harus mempunyai dua tali; tali (hubungan) vertikal dan tali (hubungan) horizontal, yakni hubungan kepada Allah dan sesama manusia, adalah pendirian yang tidak tepat untuk muslimin. Kekeliruan ini terjadi karena keliru menempatkan ayat :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَمَا ثُقِفُوْا إِلاَّ بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَآؤُوْا بِغَضَبٍ مِنَ اللهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ المَسْكَنَةُط ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُوْنَ الأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّط ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ_ال عمران : 112.

“Ditimpakan atas mereka itu kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali dengan tali dari Allah dan tali dari manusia; dan kembalilah mereka itu dengan kemurkaan dari Allah dan ditimpakan atas mereka itu kehinaan; yang demikian itu dengan sebab bahwasanya adalah mereka itu kufur kepada ayat-ayat Allah dan mereka membunuh Nabi-nabi dengan tanpa haq; yang demikian itu dengan sebab mereka durhaka dan adalah mereka itu melewati batas” ._S. Ali Imran (3) : 112.

Ayat ini dengan jelas kelihatan bahwa pada asalnya yang ditunjuk adalah: pembunuh nabi-nabi yakni Yahudi. Dalam kitab-kitab tafsir terdahulu maupun tafsir yang baru pun tidak kita dapatkan kelayakan ayat ini untuk muslimin ! [54].

Dari perkataan Ibnu Zaid misalnya kita dapatkan:

وَاليَهُوْدُ لاَ يَأْمَنُوْنَ فِى أَرْضٍ مِنْ أَرْضِ اللهِ إِلاَّ بِهَذَا الحَبْلِ الَّذِى قَالَ اللهُ عَزَّ  وَجَلَّ 

“Dan orang Yahudi itu tidak aman (berada) di satu tanah dari bumi Allah kecuali dengan tali ini, yang Allah `Azza wa Jalla firmankan [55].

Di sini tegas dinyatakan bahwa kehinaan “itu” khusus untuk orang Yahudi. Apalagi kalau kita lihat tafsir yang dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabariy.

“Ditimpakan atas mereka itu kehinaan di mana saja mereka berada, akan tetapi mereka itu berada (dalam keadaan) berpegang dengan tali dari Allah dan tali dari manusia……………. [56].

Dan dalam bagian lain dikatakan pula: 55

“…karena sesungguhnya mereka itu di mana saja mereka berada, dengan tali dari Allah dan tali dari manusia atau tanpa tali dari Allah dan tanpa tali dari manusia, maka kehinaan itu tetap saja ditimpakan atas mereka…”.

Dengan demikian jelas tidak ada alasan sedikitpun untuk mengkaitkan muslimin dengan keharusan memakai dua tali sebagaimana dilakukan oleh sebagian manusia.

Apabilaحَبْلٌُ مِنَ اللهِ   diartikan عَهْدٌ مِنَ اللهِ  dan حَبْلٌُ مِنَ النَّاسِ diartikan عَهْدٌ مِنَ النَّاسِ seperti dikatakan oleh: Hasan, Qatadah, Ikrimah, As-Sadie, Ibnu Abbas, Mujahid, dan lainnya [57], maka orang yang beriman tidak mempunyai keharusan atas diri mereka UNTUK MEMILIKI ikatan dengan manusia apabila tidak berdasar ketentuan agama (عَهْدٌ مِنَ اللهِ). Jadi atas muslimin hanya ada satu tali itu saja (حَبْلٌُ مِنَ اللهِ). Karena hubungan antar manusia itu tidak dimasukkan dalam hitungan (yang pokok), dan segala amalan itu hanya dilakukan dalam hubungan dengan Allah (yakni untuk memperbaikinya), maka hubungan yang menyangkut orang lain itupun termasuk dalam “amal shaleh” -menurut ta`rif Ibnu Abbas-. Di sinilah kedudukan ikhlas (niatan yang murni dalam beramal), sebagaimana sabda Rasulullah saw.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى الدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ_خ : ج1 ص2 ك بدأ الوحي ب1 ح1.

“Sesungguhnya hanyalah (sahnya) amal-amal itu dengan niatan dan sesungguhnya hanyalah bagi tiap-tiap orang itu apa yang dia niat(kan); maka barangsiapa yang adalah hijrahnya itu kepada dunia yang dia (akan) mendapatkannya atau kepada perempuan yang dia (akan) menikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia berhijrah kepadanya. Riwayat Bukhari.

Karena kalimat لا اله إلا الله merupakan permulaan jalan keselamatan dan kemuliaan, maka -tidak boleh tidak- diterimanya amalan oleh Allah yang merupakan sebab kemuliaan itu menjadi satu konsekuensinya. Dan ini hanya bisa terjadi bila orang beramal dengan ikhlas.

Konsekuensi VIII ( Kedelapan )

Meng-Esa-kan Allah dan Tidak Berfirqah

Meng-Esakan Allah adalah pengertian dari Tauhid. Kalimat  : لا إله إلا الله  sendiri adalah kalimat Tauhid, yang dengannya itu diakui/diikrarkan adanya satu Tuhan saja. Yang dimaksud dengan Tauhid (atau kalimat لا إله إلا الله ) itu merupakan satu konsekuensi, ialah: bahwa pengakuan tentang adanya Allah dan pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta -itu saja- tidak cukup menjadi jaminan sebagai suatu pelepasan diri dari syirik.Yang dimaksud di sini dengan: Tauhid itu merupakan satu konsekuensi. Juga dari kalimat لا إله إلا الله  itu ialah: bahwa pengakuan tentang adanya Allah dan pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta -itu saja- tidak cukup merupakan jaminan sebagai suatu pelepasan diri dari syirik. Hal ini dapat kita ungkap misalnya dari:

وَلإَِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّموَاتِ وَالأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللهُط فَأَنَّى يُؤْفَكُوْنَ_العنكبوت: 61.

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapa yang telah menciptakan langit-langit dan bumi ini dan (yang) memerintah matahari dan bulan, niscaya mereka mengatakan benar-benar “Allah !”. Maka bagaimana mereka itu dipalingkan ?!” ._S. Al-Ankabut (29) : 61.

Ayat-ayat yang serupa dan semakna dengannya kita dapatkan juga pada:

  • Surat Luqman  : 25
  • Surat Az-Zumar : 38 dan
  • Surat Az-Zuhruf : 9.

Dalam ayat-ayat yang diturunkan di Makkah itu diterangkan oleh Allah bagaimana pengakuan orang-orang musyrik bahwa Allah itu adalah Pencipta segala yang ada ini, tetapi bersamaan dengan pengakuan itu pula mereka menyembah selain Allah besertaNya.

Di sini ternyata bahwa: pengakuan terhadap Allah sebagai Maha pencipta itu saja tidak merupakan jaminan bahwa seseorang itu lepas dari kelakuan syirik. Menyembah kepada selain Allah menunjukkan bahwa orang tidak mempunyai “Tauhid Uluhiyyah”, mengakui adanya “pemelihara” selain Allah berarti tidak ber ”Tauhid Rububiyyah”.

Adapun orang yang mengaku sebagai atheis sudah barang tentu di luar pembicaraan lantaran lebih besar lagi kekufuran dan syiriknya daripada orang yang masih mengakui Allah sebagai Maha Pencipta.

Di samping dua golongan manusia ini ada pula yang menyembah kepada Allah -dan tidak menyembah patung-patung sebagaimana orang kafir Makkah- tetapi tergolong orang yang melakukan syirik pula, sebagaimana firman Allah:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاط فِطْرَتَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاط لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِط ذَلِكَ الدِّيْنُ القَيِّمُط وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ * مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ * مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًاط كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ_الروم :30-31.

“Maka hadapkan (tegakkan)lah dirimu kepada aturan ini (Al-Islam) dalam keadaan condong; (kepada) fitrah Allah yang Dia telah menjadikan manusia di atasnya; tidak ada pengganti untuk ciptaan Allah (=agama) ini; yang demikian itu adalah agama (=aturan) yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dalam keadaan kembali kepadaNya, dan taqwalah kepadaNya dan tegakkanlah shalat dan janganlah kalian menjadi dari (golongan) orang-orang Musyrik. (Ialah) dari (golongan) orang-orang yang memecah agama mereka dan jadilah mereka bergolong-golongan, (yang) tiap-tiap puak itu merasa senang / bangga dengan apa yang di sisi (=ada pada) mereka” ._S. Ar-Ruum (30) : 30-32.

Ayat yang tergolong Makiyyah ini menunjukkan harusnya orang condong kepada aturan ini (Al-Islam) dan tidak berpaling atau cenderung kepada selainnya. Hal ini sudah ditanamkan walaupun (atau justru karena) keadaan muslimin masih lemah, dipandang dari segi jumlah atau hitungan dhahir lainnya. Inilah bentuk kefanatikan dalam Al-Islam yang tidak mengenal tolerans; dalam arti tidak ada ayat atau hadits yang akan memalingkannya dari sana.

Khitab (panggilan) pada permulaan ayat 30 ini benar bunyinya khusus kepada Rasulullah saw., tetapi ulama telah paham bahwa isi ayat itu umum untuk semua manusia; hal ini lebih jelas lagi dari bentuk kalimat jama` di belakangnya:

مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ (31)

Kemudian dari ayat ini pula kita ketahui bahwa aturan (agama) Allah Al-Islam ini adalah aturan fitrah dari Allah, dan bahwa setiap manusia itu pada asalnya sesuai dengannya, serta ada padanya. Tidak ada aturan yang bisa jadi pengganti aturan Allah ini dalam arti sebagai aturan yang menyelamatkan manusia baik di dunia maupun akhrirat. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa inilah ajaran agama yang lurus.

Memang ada riwayat tentang makna “fitrah” yang berbeda dengannya, tetapi riwayat itu tidak menghapuskan pemakaian makna fitrah Allah itu pada dienul Islam.

عَنْ يَزِيْدَ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ: مَرَّ عُمَرُ بِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَقَالَ: قَوَّامُ هَذِهِ الأُمَّة ؟ فَقَالَ مُعَاذٌ: ثَلاَثٌ وَهُنَّ المُنْجِيَاتُ, الإِخْلاَصُ وَهُوَ الفِطْرَةُ فِطْرَةَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا وَالصَّلاَةُ وَهِيَ المِلَّةُ وَالطَّاعَةُ وَهِيَ العِصْمَةُ, فَقَالَ عُمَرُ: صَدَقْتَ_رواه ابن جرير [58].

“Dari Yazid bin Abi Maryam, berkata: ‘Lewat (datang) Umar pada Mu`adz bin Jabal lalu berkata: ‘Apa penegak umat ini?’ Berkata Mu`adz: ‘Tiga, dan semuanya itu menyelamatkan; (pertama) ikhlas dan dia itu adalah fitrah itu, (yakni) fitrah Allah yang Dia menjadikan manusia ini di atasnya, dan (kedua) shalat dan dia ini adalah millah (agama) ini dan (ketiga) tha`at dan dia itu adalah penjagaan/kekuatan!’ Maka berkata Umar: ‘Benar kau !’ ”.Riwayat Ibnu Jarier.

Ayat berikutnya (31) menunjukkan keharusan keadaan tegak pada agama itu dengan kembali -bertaubat- kepada Allah, kemudian berhati-hati (taqwa) kepada Allah dan menegakkan shalat dan larangan syirik.

Kalimat “jangan kalian menjadi dari golongan orang-orang musyrik” dalam kalimat begini ini bisa mempunyai arti:

  • Jadilah orang yang condong kepada Allah dan bertaubat kepadaNya, taqwa dan menegakkan shalat, dan jangan menjadi orang yang tidak berbuat begitu karena mereka yang tidak memperbuat itu adalah orang musyrik.
  • Jadilah orang yang condong kepada Allah, bertaubat kepadaNya, taqwa, menegakkan shalat, dan jangan menyertai semua itu dengan kesyirikan.

Dalam hal pertama, yang itu termasuk kelakuan syirik adalah melalaikan kewajiban-kewajiban, menerjang larangan-larangan dan menyalahi agama yang manusia diseru kepadanya [59]. Dalam hal yang kedua, maka menunjukkan bahwa ibadah itu tidak bermanfaat kecuali bila disertai ikhlas, sebagaimana dipilih oleh Qurthubiy untuk tafsirnya [60].

Dengan penafsiran yang seperti ini jelaslah bahwa di kalangan orang yang mengaku menjalani agama ini saja masih mungkin terdapat orang yang tergolong musyrik. Hal ini lebih jelas lagi dengan rangkaian ayat berikutnya:

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا

Ada yang memahami ayat ini dengan: “Orang-orang yang menukar agama mereka, lalu mereka memisah(kan diri) dan jadilah tergolong-golong sebagaimana orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara [61], mengubah ajaran-ajarannya dan beriman kepada sebagian serta kufur kepada sebagian ajarannya [62]. Pendapat ini berdasar penafsiran yang bersandar kepada keterangan Ali ra. yang mengartikannya dengan: “Meninggalkan agama mereka yang (se)harus(nya) diikuti”, lantaran pada bacaan beliau ayat ini berbunyi bunyinya: فَارَقُوْا دِيْنَهُمْ [63].

Adapun pengertian yang terpilih -sebagaimana juga yang dipilih oleh Asy-Syaukaniy- adalah:

“Orang-orang yang berpecah-belah dalam agama, menggolong sebagian atas sebagian lainnya dari kalangan ahli bid`ah dan ahli hawa nafsu [64].

Takwil yang demikian ini amat kuat dikarenakan oleh beberapa faktor, di antaranya karena hujjah dan banyaknya shahabat yang menyampaikannya. Abu Hurairah, `Aisyah dan Abu Umamah misalnya mentakwilkan ayat ini untuk ahli kiblat dari kalangan ahli hawa nafsu dan ahli bid`ah [65], dan sebangsanya.

Adapun kalimat  كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ sudah barang tentu mengikuti kalimat di depannya menurut penafsiran yang telah dikemukakan itu, yakni seperti dikatakan oleh Ibnu Zaid:

“Tiap puak/pecahan dari orang yang memisahi agama mereka yang haq itu, yang mengada-adakan bid`ah itu, merasa senang dengan madzhab mereka dan menyangka bahwa kebenaran itu ada pada mereka”. [66]

Dengan demikian amat jauhlah kesesatan mereka itu dan tidak maulah mereka berhenti dari kesesatan itu, lantaran kesenangan yang mereka peroleh. Demikianlah misalnya orang yang berbuat maksiat senang dengan kemaksiatan itu, perampok senang dengan hasil rampokannya dan sebagainya [67].

Tadi diterangkan bahwa takwil ayat ini untuk kalangan orang-orang yang mengaku Islam didukung oleh hujjah (dalil/bukti). Hujjah itu di antaranya:

إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَيْئٍج إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ_الأنعام : 159.

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan jadilah mereka bergolong-golong itu, bukanlah engkau (Nabi Muhammad saw.) dari kalangan mereka itu dalam sesuatu (pun); sesungguhnya tiada lain urusan mereka itu terserah kepada Allah, kemudian Dia akan kabarkan kepada mereka akan apa-apa yang mereka telah perbuat” ._S. Al-An`am (6) : 159.

Kalau kalimat الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا  ini hanya berlaku untuk orang-orang yang telah lepas dari dienullah sama sekali seperti Yahudi dan Nashara, tentunya tidak usah disebut kalimat  لَسْتَ مِنْهُمْ  pada ayat tersebut, lantaran sejak semula orang-orang Yahudi dan Nashara tidak pernah bai`at dan tidak menggolong kepada Nabi Muhammad saw. Teranglah bahwa kalimat الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا  itu berlakunya justru atas orang-orang ahli kiblat (=yang mengaku Islam), sebagaimana juga pada riwayat:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص م قَالَ لِعَائِشَةَ: إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا إِنَّمَا هُمْ أَصْحَابُ البِدَعِ وَأَصْحَابُ الأَهْوَاءِ وَأَصْحَابُ الضَّلاَلَةِ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ, يَاعَائِشَةُ إِنَّ لِكُلِّ صَاحِبِ ذَنْبٍ تَوْبَةٌ غَيْرَ أَصْحَابِ البِدَعِ وَأَصْحَابُ الأَهْوَاءِ لَيْسَ لَهُمْ تَوْبَةٌ وَأَنَا بَرِيْئٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مِنَّا بَرَاءٌ_رواه الحاكم و الترمذي وابن أبي حاتم وأبو الشيخ والطبراني والبيهقي فى شعب الإيمان [68] واللفظ له منقولة من تفسير القرطبي [69].

“Dari Umar bin Khattab ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda kepada `Aisyah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan jadilah mereka bergolong-golong itu, sesungguhnya tiada lain mereka itu adalah pengikut-pengikut bid`ah dan pengikut-pengikut hawa nafsu dan pengikut-pengikut kesesatan dari ummat ini ! Wahai `Aisyah ! Sesungguhnya bagi tiap-tiap orang yang berdosa itu ada taubat(nya), selain pengikut-pengikut bid`ah, dan pengikut-pengikut hawa nafsu, tidak ada pada mereka itu taubat ! Dan aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun dari kita (juga) berlepas diri !”. Riwayat Hakim, dan Turmudzie, dan Ibnu Abi Hatim dan Abu Asy-Syaih dan Thabrani dan Baihaqie dalam Syu`bil Iman dan lafadz ini dinukil dari Tafsir Al-Qurthubie

Pada hadits itu dengan jelas digunakan lafal الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ sebagaimana pada Surat Ar-Ruum: 32 dan Surat Al-An`am : 159 dan diterangkan pula siapa mereka itu.

Dengan keterangan tersebut, jelas sudah bahwa orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi bergolong-golongan (=berfirqah-firqah) termasuk dalam klasifikasi musyrik(ien). Padahal tidak mungkin seseorang akan mengalami atau memiliki iman dan syirik sekaligus pada saat yang sama. Maka  tidak  dapat  tidak  seseorang  yang  mengucapkan  kalimat:

لا إله إلا الله secara konsekuen haruslah menjauhi segala macam syirik dan inipun juga sekaligus berarti harus tidak berfirqah, tidak mengikuti pecahan-pecahan, partai atau golongan manapun kecuali apa yang disuruhkan oleh Allah dan Rasulullah saw.

Konsekuensi IX ( Kesembilan )

Tidak Memilih Sesuatu di luar Ketetapan Allah dan RasulNYa

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْط وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِيْنًا_الأحزاب : 65.

“Dan tidak ada (macamnya) bagi laki-laki beriman dan tidak pula bagi perempuan beriman itu apabila telah menetapkan Allah dan RasulNya itu akan satu perkara bahwasanya akan ada buat mereka itu sesuatu pilihan lagi dari perkara mereka; dan barangsiapa mendurhakai Allah dan (mendurhakai) RasulNya maka sungguh telah sesat dia akan kesesatan yang terang !” ._S. Al-Ahzab (33) : 65.

Tidak ada selisih bahwa ayat ini dan bahkan surat ini sepenuhnya Madaniyah. Tentang sebab turunnya, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas [70], bahwa Rasulullah saw. melamar Zainab binti Jahsyin Al-Asadiyyah untuk Zaid bin Haritsah, Zainab menolak lantaran merasa tidak sekufu (=tidak sebanding); dia dari pihak yang terkemuka dari kaumnya sedang Zaid bekas budak Nabi saw. Demikian pula halnya Abdullah saudara Zainab tidak menyukai hal itu. Kemudian turun ayat ini dan keduanya lantas mau menerima pilihan serta ketetapan Rasulullah saw.

Menurut lain riwayat, ayat ini turun mengenai Ummi Kultsum binti `Uqbah bin Abi Mu`ied [71] yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah saw. [72]; beliau menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah setelah bercerai dengan Zainab dan dia serta saudara laki-lakinya merasa tidak senang karenanya, sebab yang dimaksud adalah diri Nabi saw.

Setelah turun ayat ini ridlalah mereka berdua. Ada pula riwayat yang lain lagi tentang sebab turun ayat ini [73], tetapi masih juga soal perjodohan yakni antara seorang gadis Anshar dengan Julaibib.

Walaupun begitu pengertian ayat ini bukan hanya terbatas pada masalah perjodohan saja, melainkan umum untuk segala perkara. Jadi maksudnya seseorang yang mengaku beriman itu tidak boleh memilih-milih yang lain lagi dalam segala urusannya manakala Allah atau RasulNya telah menetapkan sesuatu perkara untuknya, menetapkan sesuatu perkara atasnya. Bahwa mentaati dalam segala hal ini wajib atasnya, itu ditegaskan lagi pada akhir ayat itu dengan kalimat:

Yakni, bahwa walaupun penentangan kepada Rasulullah saw. itu dalam urusan penetapan perjodohan sekalipun, tetapi tetaplah penentangan itu tersesat dengan kesesatan yang terang.

 Dengan demikian teranglah bahwa orang beriman laki-laki maupun perempuan itu tidak mempunyai kemauan lagi kepada sesuatu yang di luar ketetapan Allah dan RasulNya. Sebab tidak halal sudah buat mereka memilih sesuatu menurut kemauan sendiri setelah ditetapkan hal itu oleh Allah dan RasulNya.

Yang demikian ini meliputi segala urusan. Dalam hal bunyi asal ayat ini, khususnya sebenarnya untuk hal-hal di luar hukum/syari`at. Sebab soal seseorang harus menikah dengan seseorang lainnya, sebenarnya urusan pilihan dan kemauan pribadinya tidak diatur syari`at, yang diatur dan diikat hanya bahwa laki-laki dan perempuan itu masing-masing memenuhi syarat-syarat tertentu dan tidak dalam kedudukan atau situasi terlarang.

Walaupun begitu apabila dalam hal yang manusia diberi “kebebasan” itu ada ketetapan dari Allah atau RasulNya, maka sifat mengikat itu tetap ada dan berlaku. Kekhususan ayat ini berubah menjadi umum karena beberapa hal, di antaranya:

  • Pengertian ayat tidak hanya berlaku untuk sebab turunnya saja melainkan menurut umumnya lafal.
  • Kalau untuk sesuatu yang menyangkut “urusan dunia” yang orang diberi kebebasan saja ada ikatan, lebih-lebih lagi yang bersangkutan dengan syari`at sudah barang tentu tidak mungkin tidak terikat.
  • Adanya ayat-ayat lain yang menunjukkan dengan tegas bahwa dalam soal syari`at orang beriman tentu dan harus terikat kepada ketetapan Allah dan RasulNya (khusus tentang ini akan dibicarakan pada konsekuensi X (kesepuluh), insyaallah).

Jelaslah sudah bahwa haram bagi orang beriman memilih sesuatu di luar ketetapan Allah dan RasulNya. Barangkali akan dirasa musykil untuk mengamalkan ayat ini pada masa sekarang:

Apakah masih ada masalah yang akan diputuskan Allah dan RasulNya sekarang? Adapun Allah, maka wahyu sudah lama terputus. Adapun RasulNya maka sudah lama wafat. Kalau apa yang sudah ditetapkan Allah dan Rasulnya, maka bisa didapat dalam Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah saw., dan ini berarti sudah menjadi syari`at bagi muslimin; tidak berlaku khusus untuk pribadi-pribadi tertentu. Untuk ini berlakulah pengambilan istimbath, bahwa ketaatan itu berlaku kepada Allah, RasulNya, dan ulil amri dari kalangan mu`minin. Maka terhadap pribadi-pribadi muslim sekarang manakala ulil amrinya sudah menetapkan sesuatu perkara berdasarkan ayat Al-Qur`an atau hadits yang bisa dijadikan hujjah, wajiblah baginya untuk mentaati ketetapan tersebut dan tidak memilih sesuatu di luarnya. Wallaahu a`lam.

Konsekuensi X ( Kesepuluh )

Berhukum/Menghukum dengan Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya serta Ridla Kepada Hukum Itu

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَط فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْط وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُوْنَ_المائدة : 49.

“Dan bahwa hukumilah di antara mereka itu dengan apa yang Allah turunkan dan jangan kamu ikuti hawa-nafsu mereka; dan waspadalah terhadap mereka kalau-kalau mereka akan menfitnahmu dari (sebagian) apa yang Allah turunkan kepadamu ! Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah bermaksud akan menyiksa mereka itu dengan sebab sebagian dosa mereka! Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia ini sungguh fasiq-fasiq” ._S. Al-Ma`idah (5) : 49.

Ayat ini dan bahkan surat ini sepenuhnya Madaniyah. Tentang sebab turun ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarier, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi dalam “Dalaa`il” [74] dari Ibnu Abbas, berkata: berkata Ka`ab bin Asad, Ibnu Suraya, dan Syas bin Qais sebagian mereka kepada sebagian lainnya: “Mari kita pergi kepada Muhammad saw., barangkali kita dapat menggelincirkannya dari agamanya! Maka mereka mendatangi beliau lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau sudah mengerti bahwasanya kami ini adalah ahbar Yahudi dan pemuka-pemuka serta ketua-ketua mereka. Dan bahwasanya kami ini, kalau kami mengikuti engkau niscaya orang-orang Yahudi itu mengikuti kamu dan mereka menyalahi kami. Dan sesungguhnya antara kami dengan kaum kami terjadi pertengkaran, maka kami menghukumkan mereka itu kepadamu supaya engkau menetapkan untuk kami atas (mengalahkan) mereka dan (sebagai imbalannya) kami akan beriman kepadamu dan kami membenarkan engkau. Maka engganlah Rasulullah saw. lalu menurunkanlah Allah di tentang mereka itu:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَط فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْط وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُوْنَ (49) أَفَحُكْمَ الجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَط وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ (50)

Adapun isi dan maksud ayat ini pada asalnya adalah:

  1. Perintah dalam ayat ini asalnya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, dan ini sebagaimana kita sudah pahami jadinya berlaku pula atas sekalian ummatnya, karena tidak adanya sesuatu yang akan membatasi atau mengkhususkannya.
  2. Kalimat هُمْ (=mereka) dalam ayat ini pada asalnya adalah orang-orang Yahudi, sebagaimana juga kita ketahui dari sebab turun ayat ini. Kemudian berlakunya ayat ini tidak lagi hanya pada mereka, namun siapa saja yang dihukumi atasnya itu oleh hakim yang beriman.

Adapun sebabnya ayat ini berlaku umum dapat diterangkan dengan pemahaman sebagai berikut:

  • Pemahaman dan mengamalan ayat itu tidak harus terikat dengan sebab turunnya, melainkan dengan keumuman yang ditunjukkan oleh lafalnya;
  • Apabila atas orang non Islam (dalam hal ini Yahudi) saja harus dilakukan penghukuman dengan hukum Allah, apalagi apabila yang dihukumi itu orang Islam, orang yang sudah menyatakan ketundukan dan penyerahannya kepada Allah. Sudah barang tentu lebih patut lagi kalau hukum Allah itu dijalankan atas orang yang mau tunduk kepadaNya. Orang yang mau tunduk kepadaNya, maka tidak dapat dipungkiri berlaku umumnya ayat ini atas semua orang.
  • Yang dimaksud dengan “barang yang Allah turunkan” -yang harus digunakan untuk menghukumi- dalam ayat ini adalah Al-Qur`an. Hujjahnya adalah:
    • Pada kelanjutan kalimat dalam rangkaian ayat ini disebutkan: مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ yang dengan tegas menunjukkan Nabi saw. sebagai penerima wahyu, padahal yang diturunkan kepada beliau adalah Al-Qur`an, bukan Taurat atau lainnya.
    • Nabi Muhammad saw. dan ummat beliau tidak ada keterikatan hukum dengan kitab-kitab yang terdahulu.
  • Kalimat fitnah (di sini dalam bentuk يَفْتِنُوْكَ) dalam ayat ini maksudnya: menghalangi, mengembalikan atau menggelincirkan dari al-haq [75].
  • Fasiq, maksudnya keluar dari ketaatan atau menyalahi yang haq.
  • Dalam praktek/pelaksanaan, kalimat بَعْض ini seolah-olah tidak terpakai. Sebab apabila menghadapi satu persoalan toh yang dipakai juga tidak semua ayat; sehingga andai kata terjadi ketergelinciran -naudzu billahi min syarri dzaalik- pun juga pada “sebagian” ayat yang diturunkan, tidak semua. Jadi tergelincir pada “sebagian” ayat yang diturunkan ini berarti tergelincir pada (semua) ayat yang digunakan untuk menghukumi. Demikian sebaliknya. Maka dikatakan bahwa kalimat بَعْض dalam ayat ini berarti كل (=semua).

Sekarang jelaslah bahwa maksud ayat itu adalah: Nabi Muhammad saw. dan ummat beliau ini harus menghukumi siapapun dengan Al-Qur`an dan tidak boleh mengikuti kemauan mereka yang menolak berhukum dengannya; beliau dan ummat beliau harus waspada jangan sampai digelincirkan dari Al-Qur`an oleh orang-orang yang menolak untuk berhukum dengannya;

  • Apabila mereka berpaling daripada berhukum dengan Al-Qur`an, maka berarti mereka sudah menghalalkan jatuhnya siksaan atas diri mereka dengan sebab dosa mereka itu;
  • Kebanyakan manusia itu (suka) melanggar ketaatan, menyalahi yang haq.

Rasanya dalam ayat ini kita hanya membicarakan soal “menghukum atau menghukumi dengan Al-Qur`an”, dan belum soal “berhukum” dengannya. Jawabnya adalah: pertama, pengertian itu sebenarnya sudah tercakup pula pada ayat dimaksud; kedua, memang ada ayat lain yang tegas-tegas menunjuknya HAL ITU. Pengertian yang dimaksud adalah: Kalau ummat ini harus menghukumi dengan Al-Qur`an yang hukumnya DI DALAMNYA itu harus berlaku atas muslimin, lantas bagaimana muslimin tidak harus berhukum dengannya ?

Adapun ayat lain yang menyebutkan dengan tegas dan jelas dengan lafalnya adalah:

 أَفَحُكْمَ الجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَط وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ

“Adakah maka akan hukum jahiliyah itu yang mereka kehendaki ? Lantas siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi (pada MENURUT pandangan) orang-orang yang yakin ?

Sebagaimana sudah dituliskan pada sabab nuzul, ayat ini turun sekaligus dan merupakan rangkaian dari ayat sebelumnya. Adapun hukum jahiliyah itu adalah hukum yang berdasarkan atas pikiran, perasaan, hawa nafsu, atau lainnya dan tidak berdasar wahyu (Al-Qur`an maupun sunnah RasulNya) [76].

Maka maksud ayat ini ialah Allah mencela orang yang bermaksud memilih dan mengikuti hukum yang selain hukum Allah itu. Dan bagi orang yang mempunyai keyakinan tidak ada yang lebih baik hukumnya selain hukum Allah. Dengan ini jelas pulalah bahwa kewajiban bagi orang beriman itu bukan hanya “menghukumi” dengan Al-Qur`an, melainkan juga “berhukum” kepadanya.

Ayat lain:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِى أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا_النساء : 49.

“Maka tidak sekali-kali (seperti pengakuan mereka)! Demi Pemeliharamu! Tidak beriman mereka itu sehingga mereka berhukum kepadamu di dalam perselisihan di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapatkan pada diri mereka itu kesempitan dari apa yang engkau tetapkan dan mereka benar-benar menyerah (pada hukum itu)” ._S. An-Nisa’ (5) : 65.

Menurut riwayat Ibnu Zubair pada Imam Enam[77], ayat ini turun pada sebab pertengkaran Zubair bin Awwam dengan seorang Anshar tentang pengairan kebun mereka. Rasulullah saw. menyuruh/menetapkan agar Zubair mengairi kebunnya yang kebetulan tempatnya di atas, kemudian melepaskan air ke kebun tetangganya. Mendengar putusan ini orang Anshar itu menuduh Rasulullah saw. berat sebelah dengan memenangkan Zubair, kerabat beliau. Maka turunlah ayat ini padanya.

Ada pula diriwayatkan sabab nuzul lainnya yang amat gharib, tentang riwayat dibunuhnya penentang Nabi saw. oleh Umar bin Khattab ra.[78].

Apabila kita telaah ayat ini akan terasa sekali bahwa ayat ini bertalian erat sekali dengan ayat sebelumnya, bahkan merupakan satu rangkaian dengan ayat 59 dan selanjutnya. Maka baik dari sebab turunnya maupun dari pertalian dengan ayat-ayat di depannya kita peroleh bahwa maksud ayat ini adalah: Allah bersumpah, menegaskan bahwa mereka itu tidak beriman sebelum memenuhi tiga perkara yang disebutkan padanya, yakni:

  • Berhukum kepada Rasulullah saw. dalam segala persoalan dan perselisihan mereka;
  • Tidak merasa keberatan terhadap keputusan apapun yang diambil dan tidak kecewa dalam hati;
  • Mau menyerah sepenuhnya dan menjalankan keputusan itu sebagaimana mestinya.

Sudah tidak ada masalah bahwa berhukum kepada Rasulullah saw. itu kini bisa dijalankan dengan sunnah beliau dan inipun sekaligus berarti juga menyertakan Al-Qur`an (!), karena dia itu tidak pernah terlepas darinya.

Apa yang sudah dihukumkan oleh Rasulullah saw. sudah barang tentu menjadi syari`at dalam agama ini. Maka berhukum dan menghukum dengan Al-Qur`an dan sunnah RasulNya ini sudah barang tentu berarti menegakkan Syari`at Islam, tidak selainnya. Karena untuk menegakkan hukum itu harus ada pelaksana dan penerimanya, maka setiap disampaikan seruan untuk berhukum dengan Al-Qur`an dan dengan sunnah Rasullullah saw. wajiblah setiap orang beriman memperkenankan dan memenuhinya, sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ المُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوْا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَاط وَأُلئِكَ هُمُ المُفْلِحُوْنَ_النور : 51.

“Sesungguhnya tiadalah lain keadaan perkataan orang-orang yang beriman itu apabila diseru mereka itu kepada Allah dan kepada RasulNya supaya (Rasul itu) menghukumi di antara mereka, bahwa mereka sama berkata: ‘Kami mendengarkan dan kami mentaati !’ Dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. _S. An-Nuur (24) : 51.

Dari ayat yang tergolong Madaniyah ini telah kita ketahui bahwa maksud “diseru kepada Allah dan kepada RasulNya” itu adalah: diseru untuk berhukum dengan/kepada Al-Qur`an dan sunnah RasulNya.

Dalam hal pelaksanaan di masa sekarang, di mana Rasulullah saw. sudah wafat, sudah barang tentu pelakunya bukan lagi beliau, tetapi dari kalangan ummatnya ini. Pada bacaan Ibnu Qa`qa`, ayat ini bunyinya [79]:

لِيُحْكَـمَ بَيْنَـهُمْ                    (supaya dihukumi di antara mereka)

yakni dengan tidak menyebut pelakunya (majhul).

Dari ayat-ayat tersebut (Surat Al-Ma`idah:49 – 50; Surat An-Nisa`:65, dan Surat An-Nuur:51) teranglah bahwa seseorang yang mengaku sebagai orang beriman -dengan mengucapkan لا اله إلا الله – tidak dapat lolos dan tidak pula DAPAT ingkar dari kewajiban berhukum/menghukum dengan Al-Qur`an dan sunnah RasulNya, serta ridla pula kepada hukum itu.


[49]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.85.

[50] Fie Dzilaalil Qur`an, jz.19 hlm.57.

[51]  Munjid, hlm.191

[52]  Tafsir Qurthubiy, jz.17 hlm.29.

[53]  Tafsir Qurthubiy, jz.17 hlm.55.

[54]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.32.

[55]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.33.

[56]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.33.

[57]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.32.

[58]  Tafsir Ath-Thabariy, jz.21 hlm.26

Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.433.

[59]  Lihat penafsiran dalam Tafsir Thabariy, jz.21 hlm.28.

[60]  Tafsir Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32.

[61]  Tafsir Ath-Thabariy, jz.21 hlm.28.

Fathul Qadier, jz.4 hlm.

[62]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.433.

[63]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.225 dan kitab-kitab lainnya. 

[64]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.225.

Tafsir Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32.

[65]  Tafsir Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32; jz.7 hlm. 149.

Al-Mannar, jz.8 hlm.

[66]  Tafsir Ath-Thabariy, jz.21 hlm.28.

[67]  Lihat pula keterangan Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32.

[68]                                                                                         تفسير المنّار, ج8 ص23.

[69]                                                                                  تفسير الفرطبي, ج7 ص 15.

[70]  Tafsir Thabariy, jz.22 hlm.9.                         Ibnu Katsir, jz.3 hlm.489

Tafsir Qurthubie, jz.14 hlm.186.                    Fathul Qadier, jz.4 hlm.283.

[71]  Tafsir Thabariy, jz.22 hlm.10. Selanjutnya seperti nomor 70 (footnote di atas).

[72]  Dia ini perempuan pertama yang hijrah sesudah Hudaibiyah: Lihat kembali: jz.3 hlm.489.

[73]  Ibnu Katsir, jz.3 hlm.489.

[74]  Tafsir Thabariy, jz.6 hlm.177.                       Ibnu Katsir, jz.2 hlm.

Tafsir Qurthubie, jz.6 hlm.213.                      Fathul Qadier, jz.2 hlm.45.

Tafsir Al-Mannar, jz.6 hlm.421.

[75]  Lihat tafsir-tafsir Ibnu Katsir, Fathul Qadir, dan Al-Mannar.

[76]  Pengertian ini dari Tafsir Qurthubi, jz. 5 hlm. 266.

[77]  Tafsir Al-Mannar, jz. 5 hlm.239;                                   Ibnu Katsir, jz. 1 hlm.520.

[78]  Tafsir Ibnu Katsir, jz. 1 hlm. 521.

[79]  Tafsir Qurthubiy, jz. 12 hlm. 235.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *