Konsekwensi Beraqidah

(Materi Jilid 11 – 15)

Konsekuensi XI (Kesebelas)

Hanya Menyeru Manusia kepada Allah

قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِيْ أَدْعُوْا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِى وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ المُشْرِكِيْنَ_يوسف : 108.

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Inilah jalanku ! Aku menyeru kepada Allah -atas pemandangan- aku dan orang yang mengikutiku, dan Maha Suci Allah serta bukanlah aku ini dari kalangan orang-orang yang menyekutukan (akan Allah) !”. S. Yusuf (12) : 108.

Ayat ini tergolong Makiyyah. Maksud ayat ini adalah: Nabi saw. disuruh menyatakan bahwa: Aku dan orang-orang yang mengikutiku itu menyeru manusia kepada Allah, atas dasar pengertian -yakni hujjah dari Allah; perbuatan menyeru kepada Allah ini adalah jalanku, sunnahku yang aku pilih dan aku jalani; Maha Sucilah Allah dan bukanlah aku dari golongan orang yang menyekutukan Allah [80].

Dari sini jelas sekali bahwa tugas Rasulullah saw. itu adalah menyeru manusia kepada Allah, dan bahwa tugas itulah yang dipilih sebagai jalan hidupnya (way of life). Menyeru manusia kepada Allah ini dipilih atas dasar kesadaran setelah mengetahui dan menerima hujjah yang terang dari Allah, bukan atas dasar dugaan, pertimbangan akal terbatas manusia atau yang lain lagi. Dan jalan ini dipilih bukan saja khusus untuk diri Rasulullah saw. belaka, bahkan juga untuk pengikut-pengikut beliau. Maka tidak dapat tidak, setiap orang yang jadi pengikut beliau -dan itulah manusia beriman- mesti mengikuti jalan ini; jalan menyeru manusia kepada Allah. Dan jadilah sudah tugas menyeru manusia kepada Allah ini mendarah-daging buat mereka. Tidak mungkin mereka akan meninggalkan atau melalaikannya. Kalau untuk berdiam diri tanpa menyeru manusia kepada Allah saja sudah tidak mungkin, apalagi justru menyeru manusia kepada selain Allah, sudah barang tentu lebih tidak mungkin lagi akan dilakukan oleh orang yang beriman. Dan inilah konsekuensi pengikut para nabi dan rasul.

Kalau dikatakan “menyeru manusia kepada Allah”, maka seruan ini kadang kala dikenal dan disebut dengan kalimat lain yang maksudnya satu juga dalam perbuatan. Hal ini kita dapatkan misalnya sebutan-sebutan:

  • menyeru manusia ke jalan Allah,
  • menyeru manusia kepada Petunjuk,
  • menyeru manusia kepada Keselamatan,
  • menyeru manusia kepada Kebaikan,
  • menyeru manusia kepada Al-Islam,
  • menyeru manusia kepada Al-Iman,
  • menyeru manusia ke Shiratal Mustaqim

dan lainnya lagi yang dipergunakan dalam Al-Qur`an maupun al-Hadits. Memang Allah tidak identik dan tidak sama dengan istilah-istilah itu. Adapun tentang menyeru kepada Allah itu, dalam perbuatan sama dengan menyeru kepada yang tersebut itu tadi. Maka tentulah hasil ini merupakan satu hal yang tidak mudah untuk diterangkan kepada setiap orang.

Bahkan terlalu sulit untuk dipecahkan dengan rumus-rumus matematik orang yang tidak beriman. Dengan memahami ayat-ayat yang menyebutkan istilah-istilah itu mudahlah kita ketahui satunya istilah-istilah tersebut pada pengamalannya:

  • Menyeru manusia kepada Allah, Pemelihara manusia:

Di samping dalam Surat Yusuf : 108 itu, kita dapatkan pula:

وَالَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الكِتَابَ يَفْرَحُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُط قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ وَلاَ أُشْرِكَ بِهِط إِلَيْهِ أَدْعُوا وَإِلَيْهِ مَآبِ_ الرعد : 36.

“Dan orang-orang yang kami telah berikan kepada mereka itu akan Al-Kitab itu amat bersenang hati dengan apa yang diturunkan kepada engkau, sedang dari kalangan ahzab (golongan-golongan) itu ada orang yang mengingkari sebagiannya; katakanlah (wahai Muhammad): ‘Sesungguhnya hanyalah aku ini diperintah untuk mengabdi kepada Allah dan tidaklah aku menyekutukan denganNya, kepadaNya kau menyeru dan kepadaNya tempat kembali(ku)’”_S. Ar-Ra`d : 36.

Surat Ar-Ra`d itu tergolong Madaniyyah, tetapi masih ada yang memperselisihkannya. Maksud ayat ini [81]:

Orang-orang yang (pernah) diberi kitab oleh Allah yakni dari kalangan (bekas) Yahudi dan (bekas) Nashara itu bergembira dengan sebab persamaan dan pembenaran Al-Qur`an kepada kitab mereka, khususnya ditentang sebutan Ar-Rahman [82]. Adapun orang-orang dari kalangan kafir Yahudi, Nashara atau pun musyrikin Makkah itu mengingkari sebagian Al-Qur`an; bagian yang mereka ada yang menerimanya adalah: pengutusan rasul-rasul terdahulu, bahwa Allah itu Pencipta segala sesuatu dan semisal ayat-ayat itu pula yang mereka kenal ajarannya sejak semula. Kemudian Rasulullah saw. disuruh mengatakan bahwa dirinya hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNya. Rasulullah saw. menyeru manusia kepada Allah dan mengembalikan segala urusan pun juga kepada Allah, tidak selainNya.

Demikian pula pada ayat:

لِكُلِّ أُمَّةٍ مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلاَ يُنَازِعُنَّكَ فِى الأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيْمًا_الحج : 67.

“Untuk tiap ummat itu telah Kami jadikan cara beribadah yang mereka sama menjalaninya. Maka jangan sampai mereka membantahmu dalam urusan (agama) ini. Dan serulah (manusia) kepada Pemeliharamu; sesungguhnya engkau ini sungguh (berada) di atas petunjuk yang lurus!”_S. Al-Hajj: 67.[83]

Surat ini banyak yang mengatakan tergolong Madaniyyah. Jumhur ulama menyatakan surat ini campuran antara ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah [84].

Adapun maksud ayat ini adalah: untuk masing-masing ummat (pengikut rasul) itu Allah telah tentukan peribadatan yang (harus) dijalani, peribadatan untuk satu kurun tertentu berbeda dengan yang lainnya. Maka kamu (Muhammad) janganlah membantah atau memperdebatkan peribadatan yang dijalani ummat yang terdahulu, supaya mereka (Yahudi dan Nashara) juga tidak membantah atau memperdebatkan engkau dalam urusan agama ini.

Serulah manusia ini untuk mau beriman kepada Pemeliharamu, mau meng-Esakan dan memakai agamaNya ini (karena) sesungguhnya engkau berada di atas petunjuk yang lurus, yakni dari Allah.

Di samping penggunaan istilah itu, terang pula wajibnya da`wah dari ayat ini. Isitilah yang sama dipergunakan pula pada ayat/surat yang tergolong Makiyyah:

وَلاَ يَصُدَّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى ٍرَبِّكَ وَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ المُشْرِكِيْنَ_القصص : 87.

“Dan benar-benar jangan sampai mereka menghalangi engkau dari ayat-ayat Allah sesudah diturunkan(nya) kepadamu; dan serulah kepada Pemeliharamu dan benar-benar jangan engkau menjadi dari golongan orang-orang musyrik._S. Al-Qashash : 87.

Menurut Qurthubiy, sebab turunnya ayat ini adalah ajaran orang Quraisy kepada Nabi saw. agar menghormati berhala mereka [85]. Ada dikatakan bahwa ayat ini sudah mansukh dengan ayatis saif [86]. Jadi maksudnya: Kamu jangan terpengaruh oleh perkataan mereka, pendustaan dan gangguan mereka atau lainnya untuk condong kepada selain Al-Qur`an; selebihnya sudah jelas.

  • Menyeru manusia ke jalan Allah.

أُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ أَحْسَنُ إِنّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالمُهْتَدِيْنَ_النحل: 125.

“Serulah ke jalan Pemeliharamu dengan al-Hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka itu dengan yang dia itu (=bantahan) lebih baik! Sesungguhnya Pemeliharamu -Dia itu- lebih mengetahui kepada orang yang sesat dari jalanNya dan Dia lebih mengetahui kepada orang-orang yang mendapat petunjuk”._S. An-Nahl (16) : 125.

Surat dan juga ayat ini tergolong Makiyyah.

Menurut Ibnu Jarier [87] al-Hikmah adalah: Al-Kitab dan As-Sunnah; demikian pula yang dipilih Ibnu Katsier. Adapun membantah dengan yang lebih baik itu sebagaimana yang tersebut pada Surat Al-Ankabut : 46 (awal juz 21) dan Surat Thaha : 44 (juz 16).

  • Menyeru manusia kepada petunjuk.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسْيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُط إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوْبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوْهُ وَفِى آذَانِهِمْ وَقْرًاط وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوآ إِذًا أَبَدًا_الكهف : 58.

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang diingatkan dengan ayat-ayat Pemeliharanya lantas dia berpaling darinya dan melupakan apa yang dua tangannya telah dahulukan; sesungguhnya Kami menjadikan atas hati-hati mereka itu tutupan bahwa mereka akan memahaminya dan (menjadikan) di kuping-kuping mereka itu sumbat; maka meskipun engaku menyeru mereka kepada petunjuk, maka tidak akan mereka mengikuti petunjuk selamanya”._S. Al-Kahfi (16) : 57.

Maksud ayat yang tergolong Makiyyah ini adalah: Tidak ada orang yang lebih dhalim kepada dirinya sendiri [88] daripada orang yang diingatkan dengan ayat-ayat Allah lantas dia tidak ambil peduli [89], menganggap sepele [90] dan berpaling dari mentaatinya, dan dia melupakan keburukan/dosa-dosa yang sudah dikerjakannya, maka tidak mau minta ampun atau bertaubat. Mereka itu hati mereka diberi tutup oleh Allah dan telinga-telinga merekapun ditutup (sumbat) sehingga mereka tidak dapat memahami ayat-ayat Allah (Al-Qur`an). Maka selagi keadaan mereka tetap begitu saja, biarpun diseru untuk menuju kepada petunjuk, tetap tidak maulah mereka mengikuti selamanya.

Istilah ini kita dapatkan juga pada Surat Al-An`am : 71 dan pada Surat Al-A`raf : 193 dan 198.

  • Menyeru manusia kepada keselamatan.

يَا قَوْمِ مَالِى أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَ تَدْعُونَنِى إِلَى النَّار ِتَدْعُونَنِى لأَِنْ أَكْفُرَ بِاللهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَالَيْسَ لِى بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى العَزِيْزِ الغَفَّارِ _ المـؤمن:42.

“Dan wahai kaumku ! Kenapakah aku ini menyeru kalian kepada keselamatan tetapi kalian menyeruku ke neraka ? (Kenapa) Kalian menyeruku supaya aku kufur kepada Allah dan (supaya) aku menyekutukan denganNya akan apa yang tidak ada bagiku dengannya akan ilmunya, sedang aku ini menyeru kalian kepada Dzat Yang Maha Gagah, Yang Maha Pengampun ?”._S. Al-Mukmin (40) : 41-42.

Ayat yang tergolong Makiyyah ini maknanya:

Orang yang beriman dari kaum Fir`aun itu menasehati kaumnya agar mau beriman; seruan untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah itu adalah jalan yang jadi sebab terlepasnya manusia dari neraka, dan inilah jalan “kepada Allah”; sedang seruan Fir`aun dan kaumnya untuk kufur kepada Allah dan menyekutukanNya dengan sesuatu yang memang tidak ada hujjahnya itu adalah seruan untuk menuju neraka, tidak bisa terlepas dari padanya.

  • Menyeru manusia kepada kebaikan.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَألئِكَ هُمُ المُفْلِحُوْنَ_ال عمران : 104.

“Dan hendaklah ada -dari kalian itu- orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan memerintahkan dengan yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kejayaan”._S. Ali Imran (3) : 41-42.

Ayat ini tergolong Madaniyyah.

Kalimat مِنْ dalam مِنْكُمْ itu apabila ditaqdirkan  sebagaimana dikatakan oleh kebanyakan ulama, maka makna ayat ini adalah:

Hendaklah ada segolongan manusia dari ummat ini yang menyeru manusia kepada kebaikan, dan menyuruh kepada yang ma`ruf serta melarang dari yang mungkar, walaupun sebenarnya hal ini wajib atas tiap-tiap muslim menurut keadaan dan kemampuan masing-masing [91].

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. membaca:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الخَيْرِ

Kemudian bersabda:

الخَيْرُ إِتِّبَاعُ القُرْآنِ وَسُنَّتِيْ

Al-Khair itu ialah mengikuti Al-Qur`an dan Sunnahku” [92].

  • Menyeru manusia kepada Al-Islam.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الإِسْلاَمِ وَاللهُ لاَ يَهْدِى القَوْمَ الظَّالِمِيْنَ_الصف : 7.

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membikin-bikin kedustaan atas Allah sedang dia itu diseru kepada Al-Islam ? Dan Allah itu tidak menunjuki kaum yang dhalim !”._S. Ash-Shaaf (  ) : 7.

Surat ini walaupun ada yang memperselisihkan tentang turunnya, tetapi kebanyakan ulama menggolongkan sebagai Madaniyyah.

Adapun maksudnya: Tidak ada orang yang lebih aniaya daripada orang yang membikin kedustaan lantas dia sandarkan bikinannya itu kepada Allah; padahal dia sudah diseru untuk mengikuti dan menjalani Al-Islam serta ditunjukkan bukti-bukti/mu`jizat yang dibawa para rasul saw. Orang yang demikian itu tergolong orang-orang yang aniaya dan Allah tidak menunjuki mereka itu.

  • Menyeru manusia kepada Al-Iman.

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الإِيْمَانِ فَتَكْفُرُوْنَ_المؤمن : 10.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu diseru: ‘Sungguh kemurkaan Allah itu lebih besar dari kemarahan kalian kepada diri kalian, tatkala kalian diseru kepada Al-Iman lalu kalian kafir!’ ”._S. Al-Mukmin ( ) : 10.

Surat ini tergolong Makiyyah.

Adapun maksudnya:

Nanti di akhirat kepada orang-orang kafir akan dikatakan bahwa kemurkaan Allah kepada mereka waktu mereka di dunia diseru kepada Al-Iman lantas mereka kufur itu lebih besar daripada kemarahan mereka terhadap diri mereka sendiri, yang karena ulahnya jadi kekal dalam neraka.

  • Menyeru manusia ke Shiratal Mustaqim

وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ_المؤمنون : 73.

“Dan sesungguhnya engkau sungguh menyeru mereka kepada Shirat Mustaqim (=jalan yang lurus)”._S. Al-Mukminun ( ) : 10.

Ayat ini tergolong Makiyyah, dan dia itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. itu menyeru manusia untuk menuju jalan yang  lurus,  yakni  dienul  Islam  yang  berpangkalkan  kalimat

 لا إله إلا الله .

Dengan keterangan-keterangan tentang asal ayat-ayat tersebut, nyata kepada kita bahwa pada pengamalan atau perbuatannya semua istilah itu sama saja; masalahnya hanya dari segi atau bagian apanya yang dilihat.

Tetapi dalam praktek seringkali sulit bagi kebanyakan orang untuk membedakan: mana yang menyeru kepada kebaikan (kepada Allah) dan mana yang tidak, tatkala dua orang penyeru atau lebih sama-sama menyeru kepada beberapa perkara yang berbeda yang masing-masing kelihatannya seperti baik. Atau misalnya apa buruknya orang yang atas nama sesuatu organisasi menyeru manusia untuk masuk ke dalamnya dan berjuang untuk menyiarkan ajaran Islam serta mengamalkannya ?

Ada rahasia yang tersembunyi, yang merupakan ciri khas dari Da`wah Ilallah atau sebutan lain yang satu saja dalam perbuatannya itu. Dan itu ditambah dengan satu aksioma, satu prinsip yang tidak mungkin ditawar lagi dari keyakinan manusia beriman. Aksioma itu adalah: bahwa tidak ada satu kebaikanpun melainkan Rasulullah saw. telah mengajarkannya dan/atau telah menunjukkannya.

Adapun ciri khas da`wah ini ialah bahwa tidak ada seorang pun yang memenuhi atau memperkenankannya melainkan dia itu mesti lebih baik daripada yang tidak memperkenankan da`wah itu. Maka memenuhi panggilan ini senantiasa berarti satu peningkatan derajat atau nilai seseorang di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia; walaupun ada kalanya manusia pun menghargai peningkatan prestasi yang didapat orang lain.

Dengan dua hal itu maka tiap perbuatan yang akan diuji itu dihadapkan pada dua soal:

  • Apakah hal itu ada dilakukan oleh Rasulullah saw. dan/atau para sahabat beliau ? dan
  • Apakah orang yang menjalani itu mesti lebih baik dari orang yang tidak menjalaninya dihadapan Allah ?

Apabila dua soal itu terjawab dengan: ya, maka itulah dia da`wah ilallah itu, sedang apabila tidak, bukanlah dia adanya !

Konsekuensi XII (Kedua belas)

Tidak Berpamrih Dunia atas Da`wah yang Dilakukan

Dalam hal ini sekurang-kurangnya dapat dibicarakan tujuh ayat; yang kesemuanya tergolong Makiyyah; yang disebut lebih dahulu adalah yang lebih dahulu turun suratnya:

  • S. Shad                       : 86  –  88.
  • S. Yasin                       : 20  –  21.
  • S. Al-Furqan                : 57.
  • S. Yusuf                      : 103 – 104.
  • S. Al-An`am                 : 90.
  • S. Saba`                      : 47.
  • S. Asy-Syura               : 23.

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِيْنَ (86) إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِيْنَ (87) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِيْنٍ (88)_ص : 87-88.

“Katakanlah: ‘Tidaklah aku meminta kalian atasnya itu dari pada upah dan bukanlah aku ini dari golongan orang-orang yang memberatkan’ (86) Tidak adalah dia itu melainkan peringatan untuk seluruh alam (87) Dan kalian benar-benar akan mengetahui cerita(nya) sesudah waktu yang pendek (88)”._S. Shad (  ) : 86-88.

Maksud ayat itu ialah:

Allah Ta`ala menyuruh Nabi Muhammad saw.: “Katakanlah kepada orang-orang musyrik itu: “Aku ini tidak meminta upah dari kalian akan sesuatu yang bersifat duniawi ini sebagai imabalan tablighku; dan aku ini tidak mau memberati kalian atau memberati diriku sendiri dengan jalan menambah atau mengurangi apa yang telah diwahyukan kepadaku.

Tidak lain dia -yang aku sampaikan itu, yakni Al-Qur`an- melainkan peringatan untuk seluruh alam ini. Dan sedikit waktu lagi, yakni sesudah mati, benar-benar kalian akan melihat dan mengetahui kebenaran apa yang aku beritakan itu seluruhnya [93].

Dhamir dalam kalimat  (ayat 86) kembalinya kepada tabligh inilah yang paling dekat; walaupun dari siyaqnya, kalimat ini bisa juga dipaham bahwa dia itu Al-Qur`an adanya; demikian pula bila dikembalikan kepada  (ayat 87 Surat ini).

Kemanapun kembalinya, arti yang diperoleh tidak jauh berbeda.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَ المَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُوا المُرْسَلِيْنَ (20) إِتَّبِعُوْا مَنْ لاَ يَسْئَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21)_يس : 20 –21.

“Dan datanglah dari pinggiran kota itu seorang lelaki berlari-lari (dan) berkata: ‘Wahai kaumku ! Ikutilah oleh kalian para rasul itu ! Ikutilah oleh kalian orang yang tidak minta upah pada kalian, sedang mereka itu mendapat petunjuk !”._S. Yasien : 20 – 21.

Ada beberapa riwayat yang berlain-lainan tentang siapa lelaki yang datang dari pinggiran kota itu dan apa pekerjaannya [94]. Tetapi yang lebih penting buat kita sebenarnya adalah “pesan” yang disampaikan lewat misal ini dan bukan siapa yang diberitakan itu.

Di dalam pesan itu ada tiga sifat yang diterangkan mengenai keadaan orang yang harus diikuti:

  • mereka itu adalah para rasul.
  • mereka itu tidak minta upah dari kaumnya;
  • mereka itu mendapat petunjuk.

Maka dari pesan ini pula diketahui bahwa para rasul dan (mereka itu adalah orang yang) mendapat petunjuk itu, di antara sifat-sifat mereka adalah: tidak meminta upah dari orang atas tabligh mereka, lebih-lebih orang yang kepadanya risalah itu hendak disampaikan.

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلاَّ مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيْلاً_الفرقان: 57.

“Katakanlah: ‘Tidaklah aku meminta kepada kalian atasnya dari (sesuatu) upah; melainkan barangsiapa yang mau mengambil jalan kepada Pemeliharanya (maka boleh dia perbuat) !’ ”_S. Al-Furqan: 57.

Istisna` (perkecualian) dalam ayat ini adalah istisna’ yang terputus (munqathi`) [95], maka jatuhnya pengertian adalah: aku tidak minta upah kepada kalian atasnya -yakni atas (pengajaran/pembacaan) Al-Qur`an [96] atau tabligh ini [97]– berupa harta benda kalian; tetapi barangsiapa yang bermaksud mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap ganjaran dari Allah dengan jalan mengeluarkan sebagian hartanya untuk infaq fie sabilillah atau shadaqah, maka silahkan dia lakukan hal itu [98]. Demikianlah pengertian yang shahih.

Apabila istisna` itu dianggap muttashil (bersambung) sebagaimana sebagian ulama dahulu ada yang mengatakannya, maka jatuhnya pengertian itu adalah:

Aku tidak meminta sesuatu upahpun dari kalian atas hal ini, kecuali -yang aku harapkan adalah hanya- ganjaran (dari Allah) bagi orang yang mau mengambil jalan kepada Pemeliharanya dengan jalan mengikuti agamaku ini [99].

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسَ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ (103) وَمَا تَسْأَلُهُمْ مِنْ أَجْرٍط  إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِيْنَ (104)_يوسف : 104.

“Dan tidaklah kebanyakan manusia ini beriman, walaupun kamu amat menghendaki (dan mengusahakannya). Padahal tidaklah kamu minta kepada mereka atasnya itu dari sesuatu upah; tidaklah dia (Al-Qur`an) itu melainkan peringatan untuk sekalian alam”_S. Yusuf : 103-104.

Maksud ayat ini adalah:

Walaupun besar kemauanmu dan kamu usahakan dengan cara bagaimanapun, kebanyakan manusia ini tidak mau beriman. Padahal atas penyampaian/pembacaan Al-Qur`an itu [100] (ada juga diartikan: atas da`wah itu [101]) kamu tidak minta upah kepada mereka. Al-Qur`an itu adalah peringatan untuk sekalian alam.

أُولئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَى هُمُ اقْتَدِهِط قُلْ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًاط إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِيْنَ_الأنعام : 90.

“Mereka itu (adalah) orang-orang yang Allah telah tunjuki; maka dengan petunjuk mereka itu berpeganglah ! Katakanlah: ‘Tidaklah aku meminta kepada kalian itu atasnya akan sesuatu upah ! Tidak adalah dia itu melainkan peringatan untuk sekalian alam’ ”_S. Al-An`am : 90.

Maksud ayat ini adalah:

Mereka itu (Ishaq, Ya`qub, dan nabi-nabi lain yang disebut di sana) adalah orang-orang yang Allah telah menunjuki, maka engkau Muhammad hendaklah berpegang dengan petunjuk mereka itu, dan katakanlah kepada orang-orang musyrik itu: “Aku tidak minta kepada kalian upah atas penyampaian/pembacaan Al-Qur`an ini [102], tidak adalah Al-Qur`an itu melainkan untuk peringatan bagi sekalian alam.

Ada satu kalimat yang jadi pembicaraan ramai di kalangan mufassirin dari ayat ini; yakni: بِهُدَى. Apa yang dimaksud هُدَى disini? Tauhidkah, Syari`atkah atau apa lagi lainnya ?

Pembicaraan tentang hal ini dapat diikuti dalam berbagai kitab tafsir seperti Al-Mannar [103] maupun lainnya. Untuk kali ini kita sedang memerlukan pembahasan لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا bahkan secara umum dapat dikatakan bahwa perbuatan tidak memintai upah ini (atas tabligh atau penyampaian Al-Qur`an) adalah sebagian dari perkara yang Rasulullah saw. harus iqtida’ dengannya, karena para rasul yang terdahulu pun demikian.

قُلْ مَاسَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْط إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللهِج وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئِ شَهِيْدٌ_سبأ : 47.

“Katakanlah: ‘Apa yang aku minta kepada kalian dari sesuatu upah maka dia itu untuk kalian; tidak adalah upahku kecuali atas (tanggungan) Allah dan Dia itu Menyaksikan atas segala sesuatu”_S. Saba` : 47.

Ayat ini dalam kitab-kitab tafsir banyak yang diringkaskan pembahasannya[104] lantaran dianggap sudah cukup diterangkan pada ayat-ayat lainnya yang serupa.

Adapun maksudnya Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. Agar mengatakan kepada kaum beliau bahwa untuk tugas-tugas tabligh memberi kabar gembira atau mengamcam itu bleiau tidak minta upah kepada mereka, melainkan mengharapkan ganjaran dari Allah belaka; dan untuk ini tidak ada kekhawatiran tidak terbalas, lantara Allah itu menyaksikan atas segala sesuatu.

Secara sepintas pengertian begini sulit dipahami dari susunan kalimat pada ayat di atas. Tetapi hal ini dapat diterangkan begini:

Apa yang aku minta kepada kalian kemudian kalian menyediakannya untukku itu adalah untuk keperluan kalian sendiri, andaikata aku memintanya kepada kalian[105].

Kalimat seperti itu dalam Bahasa Arab memang ada dikenal untuk menunjukkan bahwa yang disebut itu sama sekali tidak ada atau belum pernah terjadi 105. Dan memang sebelum atau sesudah turun ayat ini Nabi Muhammad saw. tidak pernah minta upah/pembayaran untuk da`wah, tabligh, atau pengajaran beliau[106]. Asy-Syaukaniy membandingkannya dengan perkataan orang:

مَا أَمْلِكُـهُ فِى هَذَا فَقَدْ وَهَبْتُـهُ لَكَ

Maksudnya memang sama sekali dia belum atau tidak mempunyai hak atasnya 105 .

Adapula diriwayatkan bahwa ayat ini turun di Madinah, sebagaimana akan kita ketahui nanti 106, insyaallah.

ذَالِكَ الَّذِى يُبَشِّرُ اللهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِط قُلْ لآ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلاَّ المَوَدَّةَ فِى القُرْبَىط وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيْهَا حُسْنًاط إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ_الشورى : 23.

“Itu (karunia yang besar) adalah barang yang menggembirakan Allah (dengannya) akan hamba-hambaNya, (ialah) orang-orang yang beriman dan beramal shalih; katakanlah: ‘Tidaklah aku meminta kepada kalian atasnya itu akan upah melainka percintaan di kalangan kerabat ini !’ Dan barangsiapa mengusahakan kebaikan, Kami akan menambah baginya satu kebaikan padanya; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Penerima kasih”_S. Asy-Syura : 23.

Tidak ada selisih (khilaf) dalam pengertian ayat ini kecuali pada kalimat: إِلاَّ المَوَدَّةَ فِى القُرْبَى .

Ada dikatakan bahwa maksud ayat

(kalimat: لآ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلاَّ المَوَدَّةَ فِى القُرْبَى ) ini adalah:

Aku tidak minta kepada kalian upah atas penyampaian risalah ini, melainkan yang aku minta adalah percintaan di kalangan kerabat,   -yakni di antara aku dengan kalian- agar kalian tidak menyakiti aku dan orang-orang yang mengikuti aku. TEKS KURANG SATU BARIS….rabat yang ada antara beliau dengan mereka.

Menurut Ibnu Abbas, adalah keadaan Rasulullah saw. itu  mempunyai hubungan kerabat dengan semua keluarga (=puak) dari Quraisy [107]. Dengan dasar ini mudah diterima pengertian bahwa kalimat لآ أَسْأَلُكُمْ itu ditujukan kepada orang Quraisy dan bukan lainnya. Kemudian kalau ini khusus ditujukan kepada orang Quraisy (yang justru menentang beliau), sudah barang tentu kalimat إِلاَّ المَوَدَّةَ فِى القُرْبَى itu tidak bisa dipaham dengan pengertian: kecuali yang aku minta sebagai upah hanyalah percintaan dalam kekerabatan; bahkan ini memekankan arti kalimat di depannya dengan: untuk tabligh atau penyampaian risalah dan penyampaian Al-Qur`an ini aku sama sekali tidak minta upah kepada kalian; pengertian ini pulalah yang diriwayatkan dari Qatadah pada Ibnu Jarier [108].

Di samping pengertian seperti itu, ada pula diterangkan oleh Qurthubiy [109] bahwa pengertian إِلاَّ المَوَدَّةَ فِى القُرْبَى itu adalah: kalau kalian tidak mau mengikuti aku karena nubuwwah ini, maka ikutilah karena adanya hubungan kerabat ini.

Ada pula diriwayatkan bahwa maksud ayat (pada kalaimat dimaksud) adalah:

Aku tidak meminta kepada kalian –orang-orang yang beriman– atas tabligh ini akan sesuatu upah, melainkan yang aku harap ialah agar kalian agar kalaian menjaga dan mencintai kaumkerabatku (sesudahku) nanti [110]. Sehubungan dengan itu pula ada diriwayatkan oleh Ibnu Jarier bahwa ayat ini diturunkan di Madinah mengenai sahabat-sahabat Anshar [111]; hanya dalam isnadnya ada orang bernama Yazied bin Abi Ziyad, sedang dia ini seorang yang dla`if.

Sebagian ulama menyetakan bahwa ayat ini sudah mansukh oleh (dengan) S. Saba` : 47 [112], bahkan juga dengan S. Shad : 86, S. Al-Mu`minun : 72, S. Ath-Thuur : 40, dan S. Al-Qalam : 47 [113].

Pendapat terakhir yang perlu dikemukakan dalam tafsir ayat dimaksud adalah yang mengatakan bahwa pengertian ayat itu:

Aku tidak meminta upah kepada kalian atasnya, kecuali (yang aku minta adalah) agar kalaian senang/berharap serta berusaha mendekatakan diri kepada Allah dengan jalan taat kepadaNya [114].

Dari sekian pengertian yang disamapaikan itu, pengertian pertamalah yang shahih dipandang dari segi kaitan makna dengan buyi ayat maupun dari shahihnya riwayat dari Ibnu Abbas tersebut [115].

Adapun terhadap pengertian yang lainnya dapat ditunjuk kelemahannya antara lain sebagai berikut:

  • orang Quraisy tidak mungkin mau mengikuti Rasulullah saw. Karena ada hubungan kerabat; bahkan mereka mau mengusir dan (akan) membunuh karena alasan agama, walaupun ada hubungan kerabat.
  • Ayat ini terang tertuju kepada orang Quraisy yang pada waktu itu justru (kebanyakan) menentang beliau; jadi bukan atas orang yang beriman.
  • Surat ini terang Makiyyah, turun sebelum hijrah.
  • Ayat-ayat yang dikatakan sebagai nasakhnya itu justru turun lebih dahulu, kecuali S. Al-Mukminun dan S. Ath-Thuur.

Baik dari pengertian yang diriwayatkan tentang Surat Asy0Syura : 23 maupun ayat-ayat yang lain lagi ternyatalah bahwa baik utnuk tabligh, da`wah maupun penyampaian/pembacaan Al-Qur`an itu Rasulullah saw. tidak meminta upah apapun kepada manusia. Bahkan demkian ula para rasul yang terdahulu.

Di pandang dari segi contoh yang sudah diberikan oleh Rasulullah saw. dan keharusan ikhlash dalam beramal (lihat konsekuensi ketujuh) [116] dan keharusan tidak memilih sesuatu di luar ketetapan Allah dan rasulNya (lihat konsekuensi kesembilan) [117] maka tidak ada pilihan lain bagi orang yang beriman melainkan harus tidak mengharapkan upah yang bersifat duniawi (harta maupun lainnya) dari manusia dalam melakukan da`wah, melainkan hanya mengharap dan menggantungkannya kepada Allah semata !

Konsekuensi XIII (Ketiga belas)

Tidak Diperbudak Hawa Nafsu

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُط أَفَأَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلاً_الفرقان : 43.

“Adakah engkau melihat orang yang mengambil (sebagai) tuhannya akan hawa-nafsunya ? Adakah maka engkau menjadi pengawal atasnya ?”. S. Al-Furqan (25) : 43.

Surat ini tergolong Makiyyah.

Maksud ayat ini adalah:

Lihatlah wahai Muhammad orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ikutan/penentu. Mana saja yang hawa nafsunya menganggap baik, itulah yang dia jalankan. Kamu tidak bisa jadi pengawal yang akan bisa melepaskan orang ini dari kekafiran dan menariknya kepada iman, karena tugas kamu hanyalah menyampaikan belaka [118].

Maka pada pokoknya orang musyrik itu apa saja yang dia mau, itulah yang dia jalankan [119], karena memang dia mentaati hawa nafsunya [120].

Asalnya pada zaman dahulu, orang-orang musyrik Mekkah itu apabila condong kepada sesuatu maka lantas menyembahnya. Kemudian apabila pada suatu kali yang lain merasa ada sesuatu lainnya yang lebih baik maka ditinggalkannyalah dia itu dan beralihlah penyembahannya kepada barang yang baru [121]. Pendeknya mana saja yang baik menurut hawa nafsunya maka itulah agama dan madzhabnya [122].

Apabila keadaan yang demikian itu dibiarkan terus berlaku niscayalah manusia tidak pernah bisa mendapatkan kebenaran dan ketentraman. Sebab apa yang dianggap baik oleh hawa nafsu pada suatu kali, belum tentu akan dianggap baik pula pada kali yang lain. Bahkan mungkin pula terjadi sesuatu yang oleh hawa nafsu seseorang dianggap baik, justru dianggap buruk oleh hawa nafsu orang lain pada saat dan tempat yang sama.

Adapun nilai dan tingkatan orang yang mengikuti hawa nafsunya itu tidak sama antara satu dengan lainnya.

Ada orang yang tidak mampu menahan hawa nafsunya pada suatu saat -karena situasinya- sehingga memperbuat satu kemaksiatan, tetapi setelah itu segera bertaubat karena menyadari kekeliruannya; ini misalnya orang yang sering bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, sehingga sedikit demi sedikit dia terseret oleh tingkah mereka dan tahu-tahu sudah terperosok dalam kemaksiatan; maka bagi orang seperti ini wajib segera bertaubat dan menghentikan kelakuannya yang sesat dan membahayakan dirinya itu.

Ada orang yang karena kebodohannya dia mengikuti saja apa yang orang lain katakan sebagai kebaikan. Walaupun anggapan ini mula-mula bukan dari dirinya, akan tetapi “mengikutinya kepada orang lain” inipun hanya berdasar anggapan nafsunya akan perkataan orang tadi.

Ada pula orang yang memang dengan tanpa dasar menganggap sesuatu sebagai baik dan menganggap sesuatu sebagai buruk. Maka apabila hawa nafsunya sudah condong ke sana, dicarikan atau dibikinkanlah alasan untuk memperkuat kecondongan itu walaupun dengan kedustaan dan tidak masuk akal sekalipun. Inilah yang paling mendasar, paling besar dan paling berbahaya dari ke tiga tingkatan itu. Di tingkatan ini pulalah kedudukan orang-orang musyrik seperti yang ditunjuk pada asal ayat 43 Surat Al-Furqan itu; dan di sini pula kedudukan pengikut bid`ah, pengikut kebathilan dan klenik, dan semisalnya itu.

Sebagai satu contoh betapa sesat mereka itu ialah: mereka membagi-bagi hari ini jadi lima dan masing-masing mereka beri nilai yang berbeda-beda; kemudian apabila mereka mempunyai sesuatu keperluan mereka lihatlah dahulu hari yang dimaksud itu. Nama hari dan nilainya (menurut sangkaan mereka tadi), nama dan nilai menurut penggolongannya tadi dan kemudian dari jumlah nilai ini mereka tentukan “nasib” urusan yang mereka akan kerjakan; dengan ini mereka menetapkan urusan pekerjaan, urusan perjodohan, membuat rumah, bepergian dan lain-lainnya lagi, sehingga hampir segala urusan mereka pecahkan dan mereka tetapkan dengannya. Maka jadilah sudah angka-angka dan rumus-rumus itu sebagai tuhan pada pengamalan mereka, karena itulah yang mereka tunduki. Penyakit mengikuti hawa nafsu ini tidak hanya menyerang orang-orang kuno, bahkan juga orang-orang modern. Kita lihat betapa dungu manusia-manusia yang kagum kepada angka-angka tertentu atau ngeri pada angka yang lain !

Kalau kita mengambil dua contoh: satu dari kalangan penyembah berhala (berhala angka ataupun lainnya) dan satu dari kalangan peminum Khamr misalnya, tentu kita akan melihat dua contoh yang amat jauh antara satu dengan yang lainnya dipandang dari segi nilai kejahatan dan pelanggarannya. Tetapi pada keduanya kita dapatkan satu latar belakang yang sama. Ialah bahwa keduanya sama-sama dikendalikan dan didorong oleh hawa nafsunya ! Keduanya sama-sama tunduk, patuh dan menuruti hawa nafsu dengan ketundukan, kepatuhan dan penurutan yang lebih kuat daripada larangan Allah padanya !

Ini artinya, walau dalam bentuk satu nilai sekecil apapun, keduanya tetap mempunyai -isi- membanding atau menyekutukan Allah. Dan di sinilah letak kontradiksinya dengan ucapan لاإله إلاالله. Mungkin ada yang hendak mengatakan: kesimpulan ini terlalu menggeneralisir makna ayat ! Bukankah ayat itu pada asalnya mengenai para penyembah berhala batu di tanah Arab ?

Kita jawab:

Bahkan ayat itu mengenai semua pemuja dan penyembah hawa nafsu, sebagiamana terbaca padanya: اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ, (mengambil hawa nafsunya sebagai tuhannya). Lagi pula pengertian ayat itu tidak terikat pada sebab yang khusus yang bertalian dengan turunnya ayat, melainkan dari umumnya lafal.

Atau taruhlah masih ada yang keberatan menerima kaidah ini, bukankah mereka yang ditunjuk ayat itu menyembah batu, sedang bunyi pada ayat itu “menyembah” hawa nafsu ? Kalau begitu teranglah bahwa penyembahan berhala batu yang mereka lakukan itu hanyalah merupakan salah satu hasil dari pengikutan atau penyembahan hawa nafsu saja! Karena dalam ayat itu tidak dibatasi bagaimana dan sampai berapa jauh pengambilan hawa nafsu sebagai tuhan ini, maka tetaplah dia itu berlaku pada segala macamnya dan segala ukurannya.

Bagaimanapun, bahwa orang yang mengucapkan لاإله إلاالله dan konsekuen dengannya itu harus lepas dari perbudakan oleh hawa nafsu dan penyembahan kepadanya, itu dijamin pula oleh ayat:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الهَوَى () فَإِنَّ الجَنَّةَ هِيَ المَأْوَى () _النازعات : 40 – 41.

“Dan adapun orang yang takut akan tempat (milik) Pemeliharanya dan dia menghalangi dirinya dari pada hawa nafsu; maka sesungguhnya jannah itulah tempat tinggalnya”_Surat An-Nazi`at : 40 – 41.

Maksudnya: orang yang takut akan akibat dan pertanggungan jawab nanti di tempat yang telah ditentukan di hadapan Allah, serta mau menahan hawa nafsunya daripada berbuat maksiat, maka nanti di akhirat dia akan masuk jannah. Kita lihat betapa dalam ayat ini dijanjikan balasan yang tidak kepalang tanggung buat orang yang menahan hawa nafsunya; sedang dalam ayat ini secara langsung tidak ada sebutan tentang penyembahan hawa nafsu. Maka kalau kita melihat kaitan antara balasan yang demikian besar dengan amalan yang dibalas, demikian pula dari rangkaian ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya, kita dapatkan bahwa tentunya menahan hawa nafsu dalam ayat ini termasuk pula di dalamnya menahan diri dari pada mempertuhankannya, demikian pula sebaliknya: mempertuhankan hawa nafsu itu merupakan gandengan yang tidak boleh tidak merupakan sebagian unsur yang dengan sendirinya terdapat pada tiap perbuatan mengikuti hawa nafsu.

Kadang-kadang terjadi bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu atau mempertuhankannya itu sebenarnya bukannya sama sekali tidak tahu keburukan dan kesesatan perbuatannya; atau setidak-tidaknya sebenarnya ada sesuatu yang bisa menjadikan dia tidak tersesat ke sana. Ini misalnya sebagaimana firman Allah:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ _الجاثية : 23.

“Adakah maka engkau melihat orang yang mengambil sebagai tuhannya akan hawa nafsunya dan Allah menyesatkannya atas pengertian, serta (Allah) menyegel atas pendengarannya dan hatinya, serta (Allah) menjadikan atas penglihatannya itu tutupan? Maka siapakah yang akan menunjuki dari sesudah Allah? Maka adakah tidak kalian mengambil peringatan?”_S. Al-Jatsiyah : 23.

Ayat yang tergolong Makiyyah ini maksudnya adalah:

Allah berfirman kepada Rasulullah saw.: “Apakah engkau tahu orang yang menjadikan apa yang dia condongi sebagai agamanya? Allah menyesatkan orang itu atas pengertian, yakni dia (orang kafir) mengetahui bahwa dirinya itu dalam kesesatan[123]. Dan Allah menjadikan pendengaran, hati, dan penglihatannya itu tidak dapat berguna untuk membantu dia mendapat petunjuk. Maka tidak ada yang dapat menunjukinya selain Allah, sedang Allah menyesatkannya. Maka hendaklah kalian mengambilnya sebagai peringatan, jangan berlaku seperti mereka.

Dalam kalimat عَلَى عِلْمٍ ini ada beberapa keterangan dan riwayat yang pada pokoknya terbagi dalam dua pengertian [124]:

Pertama, kalimat itu menjadi hal (=menunjukkan keadaan) bagi maf`ul (=obyek); maka pengertian ayat ini adalah sebagaimana diterangkan di atas. Atau bisa juga berarti bahwa pelaku kesesatan itu mengetahui bahwa perbuatan itu tidak ada manfaatnya.

Kedua, dia itu menjadi hal bagi fa`il (pelaku); maka pengertian ayat ini menjadi: Allah menyesatkannya dengan pengertian yang sudah ada pada Allah sejak dahulu bahwa orang itu akan sesat; pengertian seperti ini seperti yang dikatakan Ibnu Abbas [125], dan semisal itu juga yang dikatakan oleh Muqatil 125.

Di luar ayat-ayat itu ada hal yang amat menarik sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas 124: “Allah tidak menyebut soal hawa nafsu dalam Al-Qur`an melainkan mesti mencelanya !”. Ambillah misalnya:

وَلاَ تَتَّبِعِ الهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ _الجاثية : 23.

“…dan jangan engkau (Daud) mengikuti hawa (yakni yang menyalahi perintah Allah), lalu nanti dia akan menyesatkanmu dari jalan Allah !”_S. Al-Jatsiyah : 23.

وَمَنْ أَضَلَّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَا ـهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللهِ _القصص : 50.

“…dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawanya dengan tanpa petunjuk dari Allah ?!..”_S. Al-Qashash: 50.

Konsekuensi XIV (Keempat belas)

Tidak Berzina

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ () إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ () فَمَنِ ابْتَغَى وَرَآءَ ذَالِكَ فَأُلئِكَ هُمُ العَادُوْنَ_المؤمنون : 5-7.

“Dan orang-orang yang berkata: “Wahai Pemelihara kami ! Palingkanlah dari pada kami siksaan jahannam; sesungguhnya siksaannya itu adalah tetap/mencelakakan”. S. Al-Furqan (25) : 65.

Surat ini seluruhnya Makiyyah.

Sebagaimana sudah pernah kita bicarakan (konsekuensi I, menegakkan shalat, buku ini halaman (5) lima), rangkaian ayat-ayat ini sampai sepuluh ayat sejak ayat pertama adlaah tentang keadaan orang-orang yang beriman.

Maka maksud ayat-ayat ini adalah: orang-orang yang beriman itu iala orang-orang yang menjaga farji mreka dari pada terlihat atau terjatuh dalam perbuatan zina, kecuali kalau hanya kepada isteri-isteri dan budak-budak mereka sendiri. Adapun yang mau mengumpuli selain isteri dan budak miliknya itu adalah tercela dan telah melewati batas yang diperkenankan Allah.

Karena sifatnya yang jadi keterangan maksud ayat di depannya itu , yakni menunjukkan sifat orang-orang beriman, maka sudah barang tentu setiap orang beriman mesti bersifat sebagaiman yang disebutkan itu. Dengan ringkas jelaslah sudah kedudukannya sebagai konsekuensi ucapan   لاإله إلاالله.

Tetapi rasanya masih ada yang perlu diselesaikan dalam persoalan kedudukan perbuatan zina itu dipandang dari segi “apakah pezina itu punya harapan masuk jannah ataukah tidak ?, atau sampai seberapa jauh penyimpangan itu dalam hubungannya kemungkinan taubat ?”

Untuk itu tentunya juga dibedakan macam apa perzinaannya. Sebab seseorang yang menjadikan zina itu sebagai profesinya       -na`udzubillaahi min syarri dzaalik- tentunya berbeda dengan zinanya seseorang yang mempunyai sangkaan bahwa dia melakukannya dengan nikah yang sah (misalnya menikahnya seseorang dengan cara jahiliyyah yang tidak memenuhi syarat sahnya nikah menurut Islam), lain pula dengan zinanya seseorang yang tergelincir, dan lebih jauh lagi dengan zinanya seseorang di masa masih jahiliyyah dan kemudian pelakunya masuk Islam.

Untuk dua keadaan yang disebutkan di muka, tidak perlu kita bicarakan karena jelas andaikata tidak berzinapun, pelakunya akan diadzab karena kekafiran mereka. Dua yang disebutkan belakangan itulah yang akan kita bicarakan.

Bagaimanapun, dalam perbuatan zina itu ada beberapa unsur dosa yang mungkin terdapat padanya:

  1. Unsur pelanggaran hukum, karena zina itu merupakan perbuatan terlarang. (Harap disuruh mencari ayatnya !)
  2. Unsur mengikuti hawa nafsu (secara maksiat) yang menjurus ke arah syirik.
  3. Unsur penolakan hukum dan hukumannya, yakni kekufuran.

Maka tergantung kepada unsur yang mana dari yang tersebut itu yang merupakan unsur penentu dalam perbuatan zina itu, yang dengannya akan dapat digolongkan dan dihukumkan dia.

Adapun untuk penentuannya kita tela`ah dalil-dalil:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ ص م قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ: “بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لاَتُشْرِكُوا بِاللهِ شَيْئًا وَلاَ تَسْرِكُوا وَلاَ تَزْنُوْا وَلاَ تَقْتُلُوْا أَوْلاَدَكُمْ وَلاَ تَأْتُوْا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُوْنَهُ بَيْنَ أَيْدِيْكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلاَ تَعْصُوْا فِى مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَالِكَ شَيْئًا فَعُوْقِبَ فِى الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَالِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللهُ فَهُوَ إِلَى اللهِ, إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ – فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَالِكَ _ رواه السبعة إلاّ أبو داود وابن ماجه عن عبادة بن الصامت واللفظ له:

خ  : ج1 ص11 ك2 – الإيمان – ب11 ح18.

أطرافه  : ك64 – مغازي – ب12 ح3696.

ك65 – التفسير – ب3 ح4894.    ك92 – الفتن – ب2 ح7055.

ك86 – الحدود – ب8 ح6784.    ك93 – الأحكام – ب43 ح7213.

ك86 – الحدود – ب14 ح6801.  ك97 – التوحيد – ب31 ح7468.

ك87 – الديات –ب2 ح6873.     

م   : ج5 ص167 ك28 – الحدود – ح14+43.

حم : ج5 ص214+320.

ت : ج4 ص145 ك15 – الحدود – ب12 ح1439.

ج5 ص16 ك41 – الإيمان – ب11 ح2625.

ن  : ج7 ص161 ك39 – البيعة – ب37.

ج7 ص143 ك39 – البيعة – ب9.

ج7 ص148 ك39 – البيعة – ب17.

ج8 ص108 ك47 – الإيمان – ب14.

“Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, sedang di sekitar beliau ada sebagian dari sahab-sahabat beliau: “Bai`atlah kalian kepadaku atas bahwasanya kalian jangan mempersekutukan dengan Allah akan sesuatu apapun dan jangan kalian mencuri dan jangan kalian berzina dan jangan kalian membunuh anak-anak kalian dan jangan kalian mendatangkan kedustaan yang kalian membuat-buatnya di antara tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian dan janganlah kalian mendurhakai dalam soal kebaikan ! Maka barangsiapa yang menunaikannya di antara kalian itu, maka ganjarannya atas tanggungan Allah ! Dan barang siapa yang mengenai (melanggar) dari yang demikian itu lantas disiksa (dihukum) di dunia ini maka dia itu sebagai kafarah untuknya; sedang barang siapa yang melanggar dari yang demikian itu kemudian Allah menutupinya, maka dia itu terserah kepada Allah; jika Dia kehendaki Dia maafkan darinya, dan jika Dia kehendaki Dia menyiksanya !”. Maka kami membai`at beliau yang demikian itu. Riwayat Tujuh kecuali Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit dan lafal ini bagi Bukhariy (jz. 1 hlm.11 ktb.2 –Al-Iman– bb.11 hdt.18).  

Dari hadits ini kita dapatkan ketetapan tentang kemungkinan-kemungkinan:

  1. Seseorang berzina kemudian dihukum di dunia (jilid dan pengasingan di dunia; dirajam sampai mati bagi yang muhshan) maka ini jadi kafarah untuknya dan si pelaku tidak akan dituntut lagi di akhirat;
  2. Seseorang bersina kemudian Allah menutupinya di duni (misalnya dengan tidak ketahuan oleh orang lain) sehingga dia terhindar dari hukuman dera, maka jika nanati di akhirat Allah mau memaafkan, selamat pulalah dia dari hukuman di akhirat, tetapi bila tidak tetaplah dia disiksa di neraka.

Dalam hal yang pertama, dimana pelaku itu sudah bertaubat, maka Imam Bukhariy berpendapat bahwa persaksiannya bisa diterima [126]. Hal ini lantaran jatuhnya (dilaksanakannya) had dan taubat itu jadi pembersih untuknya. Demikian pula untuk sekalian orang yang sudah terkena had untuk perbuatan-perbuatan lainnya apabila sudah bertaubat.

Tetapi hal ini akan lain bagi mereka yang sudah dijatuhi had ini padahal tidak bertaubat, bahkan dia menolak dan menentang hukum itu. Dalam hal ini walaupun dia sudah ”dibersihkan” dari perbuatan zinanya akan tetapi dia masih berurusan karena kekufurannya terhadap hukum/ayat tersebut, maka persaksian orang seperti ini tidak diterima.

Adapun hal yang kedua, orang dapat memilih satu di antara dua kemungkinan:

Pertama, dia tetap diam tidak membukakan kepada manusia sehingga dia tetap bebas dari hukuman di dunia, tetapi disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah. Kemungkinan ini yang lebih disukai dan dipilih oleh Iman Asy-Syafi`ie, dan bahkan diriwayatkan pula bahwa Abu Bakar dan Umar ra. Menyuruh orang untuk menutup (tidak membuka) dosa yang dijalani itu [127].

Pilihan ini tentunya berdasarkan pengharapan bahwa Allah akan berkenan memberikan ampunan kepada si pelaku tersebut mengingat masih adanya kemungkinan untuk itu, sebagaimana yang didapat dari matan hadits Ubadah bin Shamit di muka. Hal ini harus diakui memang amat mengundang resiko; soalnya apakah orang yang sudah tergelincir ke sana itu benar-benar taubat sebersih-bersihnya dan dapat sepenuhnya mengisi sisa hidupnya dengan kebaikan tanpa tergelincir dalam perbuatan serupa atau yang semisalnya ?

Kedua, dia membukakan hal ini agar dapat dijatuhkan/dilaksanakan had atasnya, sehingga dengan demikian dia terlepas dari siksaan akhirat nanti.

Sebagai perbandingan adalah riwayat dari Abu Hurairah ra. pada Abu Daud:

جَاءَ الأَسْلَمِيُّ نَبِيَّ اللهِ ص م فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَنَّهُ أَصَابَ امْرَأَةً حَرَامًا أَرْبَعَ مَرَّاتٍ كُلُّ ذَالِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ, فَأَقْبَلَ فِى الخَامِسَةِ فَقَالَ: أَنِكْتَهَا ؟ قَالَ: نَعَمْ ! قَالَ: حَتَّى غَابَ ذَالِكَ مِنْكَ فِى ذَالِكَ مِنْهَا ؟ قَالَ: نَعَمْ ! قَالَ: كَمَا يَغِيْبُ المِرْوَدُ فِى المِكْحَلَةِ وَالرِّشَاءُ فِى البِئْرِ ؟ قَالَ: نَعَمْ ! قَالَ: هَلْ تَدْرِى مَا الزِّنَا ؟ قَالَ: نَعَمْ, أَتَيْتُ مِنْهَا حَرَامًا مَا يَأْتِى الرَّجُلُ مِنْ المْرَأَتِهِ حَلاَلاً !

قَالَ: فَمَا تُرِيْدُ بِهَذَا القَوْلِ؟ قَالَ: أُرِيْدُ أُنْ تُطَهِّرَنِيْ, فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. فَسَمِعَ النَّبِيُّ ص م رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِهِ يَقُوْلُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: أُنْظُرْ إِلَى هَذَا الَّذِى سَتَرَ اللهُ عَلَيْهِ فَلَمْ تَدَعْهُ نَفْسُهُ حَتَّى رُجِمَ رَجْمَ الكَلْبِ, فَسَكَتَ عَنْهُمَا ثُمَّ سَارَ سَاعَةً حَتَّى مَرَّ بِجِيِفَةِ حِمَارٍ   _ رواه السبعة إلاّ أبو داود وابن ماجه عن عبادة بن الصامت واللفظ له:

“Datanglah Al-Aslamie[128] kepada Nabiyullah saw. lalu bersaksi atas dieinya empat kali persaksian bahwa sanya dia telah mengenai seorang perempuan dengan jalan haram (maksudnya berzina). Tiap-tiap (dia bersaksi) itu beliau berpaling darinya. Maka menghadaplah dia pada yang kelima kalinya lalu beliau bersabda: “Apakah engkau telah mengpulinya ?” Berkata dia: Ya! Bersabda beliau: Sehingga hilang itumu di dalam itunya ? Berkata dia: Ya!

Bersabda beliau: Seperti masuknya alat celak ke dalam tempat celak dan (seperti) timba ke dalam sumar? Berkat dia: Ya !

Bersabda beliau: Lalu apakah kamu tahu apa zina itu ? Berkata dia: Ya! Aku mendatangi dirinya secara haram akan apa yang mendatangi seseorang dari perempuannya secara halal !

Bersabda beliau: “Lalu apa yang kamu kehendaki dengan omongan ini ? Berkata dia: Aiku bermaksud agar engkau membersihkanku !” Maka beliaupun memerintahkan dengannya, lalu dirajam. Maka mendengar Nabi saw. dua orang dari sahabat beliau berkata salah satunya kepada temannya: “Lihatlah, ini orang yang Allah telah menutupi atasnya lalu dirinya tidak mau membiarkannya, sehingga dia dirajam seperti perajaman anjing !”

Maka beliau diam dari keduanya kemudian berjalan sebentar sampai lewat pada bangkai seekor khimar; beliau mengungkit dengan kaki beliau lalu bersabda: “Mana si fulan dan sifulan ?

Maka kata keduanya: “Kami di sini wahai Rasulullah”. Beliau bersabda: “Turunlah kalian berdua lalu kalian makanlah dari bangkai khimar ini !”. Maka berkata keduanya: “Wahai Nabiyullah ! Siapa yang mau makan dari barang ini ?”

Beliau bersabda: “Maka apa yang kalian kenai dari kehormatan saudara kalian barusan itu lebih berat dari pada memakan darinya (bangkai khimar)! Demi Dzat Yang jiwaku ini di tanganNya, sesungguhnya dia (Al-Aslamie) sekarang ini sungguh (berada) di sungai-sungai jannah, sedang berendam padanya !”. Riwayat Abu Daud.

Dari hadits inipun dapat pula diketahui bahwa hukuman had yang dijalankan itu jadi pembersih bagi pelaku kejahatan tadi, sebagiaman juga dipaham dari hadits sebelumnya; dan inilah jalan taubat itu.

Di sinilah pula sebenarnya kedudukan hadits yang menerangkan bakal masuknya orang yang beriman ke dalam jannah, apapun yang sudah dia perbuat:

قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ) أَتَيْتُ النَّبِيَّ ص م وَعَلَيْهِ ثَوْبٌ أَبْيَضٌ  _ رواه السبعة إلاّ أبو داود وابن ماجه عن عبادة بن الصامت واللفظ له:

Berkata Abu Dzar: “Aku mendatangi Nabi saw. sedang atas beliau itu satu kain putih dan beliau sedang tidur. Kemudian aku mendatangi beliau (pula) sedang beliau telah terjaga, lalu beliau bersabda: “Tidak ada dari seorang hamba yang mengucapkan    لاإله إلاالله kemudian dia mati atas (kalimat) itu melainkan dia masuk jannah ?”

Aku berkata: “Meskipun dia berzina dan meskipun dia mencuri ?”

Bersabda beliau: “Meskipun dia (pernah) berzina dan meskipun dia (pernah) mencuri !”.

Aku berkata: “Meskipun dia (pernah) berzina dan meskipun dia (pernah) mencuri !”.

Bersabda beliau: “Meskipun dia (pernah) berzina dan meskipun dia (pernah) mencuri !”.

Aku berkata: “Meskipun dia (pernah) berzina dan meskipun dia (pernah) mencuri !”.

Bersabda beliau: “Meskipun dia (pernah) berzina dan meskipun dia (pernah) mencuri, atas ketidaksenangan Abu Dzar !”. Riwayat Ahmad, Bukhari (lafal ini baginya), Muslim, dan Turmudzi.

Hadits ini tidaklah bermakna bahwa setiap orang yang sudah Islam itu akan masuk jannah, meskipun dia penzina atau pencuri. Maka kelirulah paham setengah manusia yang mengartikan demikian itu.

Tetapi kitapun tak hendak mengatakan bahwa mereka yagn pernah berzina atau pernah mencuri itu tertutup kemungkinannya untuk masuk jannah. Kedua pengertian itu bahkan menyalahi makna hadits Ubadah bin Shamit yang diterangkan di muka.

Adapun maksud hadits ini ialah bahwa seseorang yang pernah tergelincir atau tersesat dalam perbuatan zina atau mencuri itu apabila sudah bertaubat dan mengucapkan لاإله إلاالله kemudian mati dalam keadaan tidak bergeser dari kalimat itu maka dia akan masuk jannah -walaupun  seperti kita tahu- Abu Dzar tidak menyukai dua perbuatan tercela itu.

Ada beberapa hal yang dapat kita pengangi untuk memaham yang seperti ini:

Pertama, sabda Rasulullah saw. dalam hadits ini ثمّ مات على ذلك menunjukkan bahwa orang yang dimaksud sesudah pengucapan لاإله إلاالله ini tidak lagi bergeser darinya; padahal menurut pengetian dari Surat Al-Mukminun : 5-7, perbuatan zina itu merupakan satu penyimpangan dari iman !

Kedua, kalimat سرق dan زنى ini mempergunakan bentuk fi`il madhie, yang menunjukkan waktu yang sudah lampau. Inilah sebabnya dalam terjemah itu ditambahkan kata: pernah (di dalam tanda kurung),

Ketiga, bisa kiranya diterima perkataan Imam Bukharie tatkala menerangkan hadits ini:

هَذَا عِنْدَ المَوْتِ أَوْ قَبْلَهُ إِذَا تَابَ وَنَدِمَ وَقَالَ لاَإِلـهَ إِلاَّ اللهُ غُفِرَ لَهُ

Ini pada waktu (menjelang) mati atau sebelumnya apabila sudah bertaubat dan menyesal serta mengucapkan لاإله إلاالله diampunkanlah untuknya.

Demikian pula halnya seseorang yang berzina di masa jahiliyyah dan kemudian masuk Islam; maka keIslaman itu jadi penghapus apa yang telah lewat.

Bagaimanapun, pelaku zina itu ada kemungkinan taubatnya selagi memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang telah ditentukan Allah Ta`ala

Surat ini tergolong Madaniyyah.

Adapun berbuat keburukan dengan kebodohan itu ada kalanya kebodohan dari pada ilmu bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang buruk, atau kebodohan tentang akibat perbuatan itu bagi dirinya. Maka tergolong dalamkebodohan ini pula mereka yang terdorong hawa nafsunya sehingga hilang pertimbangan akal sehatnya, lalu lupa akan akibat perbuatan yang dia lakukan itu, sampai dia tergelincir melakukannya.

Dengan pengertian seperti ini maka arti taubat dalamwaktu dekat itu tentunya bertaubat secfepat kembali akal sehatnya pada dirinya dan secepat dia menyadari akibat perbuatan buruknya itu [129]

Pemahaman seperti ini memang beda dengan paham jumhur mufassrin yagn mengkaitkan waktu yang dekat ini degan waktu datangnya maut.

Bagi mereka yang bertaubat degan taubat yang sebenar-benarnya itu Allah akan memberikan taubat atas mereka. Allah itu amat Mengetahui akan kesungguhan orang yang bertaubat (juga amat Mengetahui perkara lainnya), Bijaksana dalam hukumNya.

Adapun taubat yang dilakukan oleh orang yang hampir mati padahal sepanjang hidupnya dia isi dengan keburukan itu tentunya sulit diharapkan dilakukan  dengan bersungguh-sungguh; demikian pula halnya orang-orang yang mati dalam keadaan kafir itu tidak mungkin akan melakukan taubat di akhirat degna sebanar-benarnya; maka kedua golongan manusia yan gtidak bertaubat dengan sebenar-benarnya itu disediakan untuk mereka siksaan yang pedih.

Kalau demikian halnya, maka tidak mungkin taubat (yang sebenar-benarnya) itu direncanakan lebih dahulu oleh orang yang merencanakan keburukan, seperti rencana orang: biarlah saya lakukan keburukan ini lantas sesudahnya nanti saya akan bertaubat.

Kalau dia lakukan hal ini, maka tidak bisalah dia nanti bersungguh-sungguh dalam bertaubat ini.

Terlepas dari segala persoalan dankeadaan itu semua, sebenarnya Allah Yang Maha Belaskasihan kepada hamba-hambaNya itu sudah memberi benteng dari perbuatan zina itu.

Berpuasa, menundukkan sebagian penglihatan, menutup aurat, membatasi dan mengatur pergaulan, menjauhi dari bersunyi-sunyi dengan lain jenisnya, beristeri dan lain-lainnya, itu merupakan bagian benteng bagi hamba-hamba Allah dari perbuatan zina, agar mereka dapat terjaga dengan iman mereka.

Konsekuensi XV (Kelima belas)

Tidak Bunuh Diri

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالبَاطِلِ إلا أن تكون تحارة عن تراض منكم ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما _الفرقان : 65.

“Wahai orang-orang yang beriman ! Jangan kalian makan harta benda kalian di antara kalian itu dengan (jalan) yang bathil, kecuali bahwa adalah dia itu (dengan jalan) perdagangan dengan keridlaan kalian ! Dan jangan kalian membunuh diri-diri kalian ! Sesungguhnya Allah itu adalah belas kasih kepada kalian !”. Surat An-Nisa` (5) : 29.

Ada beberapa masalah dalam ayat yang tergolong Madaniyyah ini. Di antaranya adalah:

  • Orang beriman tidak boleh makan (mengambil dan sebagainya) harta yang ada di antara mereka (yakni harta lain pribadi ata harta seikat) dengan jalan yang bathil; maka mengambil denan jalan ini haram hukumnya.
  • Apabila pengambilan harta itu dengan jalan mengambil keuntungan dalam perdagangan yang sama-sama diridloi kedua pihak, maka tidak termasuk dalam larangan tersebut; perdagangan ini merupakan sebagian saja dari jalan pengambilan yang halal, sebagaimana kelak akan terang pula setelah turunnya ayat 61 surat An-Nur yang menerangkan tentang kebolehan makan di rumah-rumah kerabat dan sebagainya.
  • Orang beriman tidak boleh membunuh diri mereka sendiri.

Tentang hal ini ada dua wajah penafsiran di kalangan mufasirin; pertama orang beriman tidak boleh membunuh orang beriman lainnya [130] ; demikianlah banyak mufasir memahaminya, bahkan Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubiy bahwa ini sudah jadi ijma’ kalangan ahli ta’wil [131].

Adapun yang lain adalah: Orang beriman tidak boleh membunuh dirinya endiri.

Pengertian kedua ini antara lain dibenarkan oleh riwayat berikut:

عن عمرو بن العاص قال: احتلمت فى ليلة باردة فى غزوة ذات السلاسل فاسفقت ان اغتسلت ان اهلك فتيممت ثم صليت باصحابي الصبح فذكروا ذلك للنبي ص م فقال: يا عمرو صليت باصحابك وانت جيب؟ فأخبرته بالذي منعني من الإغتسال وقلت: إني سمعت الله يقول: ولا تقتلوا أنفسكم ان الله كان بكم رحيما, فضحك رسول الله ص م ولم يقل شيئا.

حم: 4 ص 203.

د  : ج1 ص92 ك1 طهارة ب125 ح334 واللفظ له

   ( عون المعبود: ج1 ص530).

Dari Amr bin Ash berkata: “Aku ihtilam pada suatu malam yang amat dingin dalam perang Dzatis salasil; maka aku takut jika aku mandi bahwa aku akan binasa, lalu aku tayammum kemudian aku shalat shubuh dengan sahabat-sahabatku; maka merekapun menyebutkan yang demikian itu kepada nabi sas; maka bersabda beliau; ‘ya Amr! Engkau sholat dengan sahabat-sahabatmu padahal Engkau junub?’

Maka aku menceritakan beliau dengan perkara yang menghalangiku dari mandi itu dan aku berkata: ‘Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman (=mendengar firman Allah): ’dan jangan kalian membunuh diri-diri kalian! Sesungguhnya Allah itu adalah belas kasih kepada kalian!’ Maka tertawalah Rasulullah sas. Dan tidak berkata sesuatupun’ “.

Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dan lafal ini baginya [132] .

Tidak menegurnya Nabi sas. dan bahkan tertawa beliau ini menunjukkkan bahwa apa yang diperbuat dan diucapkan sebagai alas an oleh Amr bin Ah itu adalah benar, pada tempatnya. Jelasnya ayat “لاتقتلوا انفسكم” diberi makna: “Jangan membunuh diri itu benar”.

Larangan membunuh diri termasuk larangan yang besar; artinya pelarangannya akan merupakan suatu perkara besar, dosa besar. Hal ini kita dapatkan dari ayat berikut:

ومن يفعل ذلك عدوانا وظلما فسوف يصليه نارا وكان ذلك على الله يسيرا. النساء: 30.

“Dan barangsiapa yang memperbuat yang demikian itu (ruju’nya sekurang-kurangnya kepada kata bunuh diri, atau boleh juga ditambah yang sebelumnya) secara memusuhi dan aniaya, maka kami akan memasukkannya dalam neraka; dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah”. Surat An-Nisa’: 30.

Juga misalnya dari riwayat:

عن ابي هريرة رضي الله عنه عن النبي ص م قال: ” من تردى من جبل فقتل نفسه فهو فى نار جهنم يتردى فيه خالد مخلد فيها ابدا, ومن …..

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi sas. bersabda: ‘Barangsiapa yang sengaja melemparkan diri dari gunung sehingga mumbunuh dirinya maka dia di dalam neraka Jahannam melemparkan diri padanya dalan keadaan kekal yang dikekalkan padanya selama-lamanya; Dan barangsiapa yang meminum racun dengan sengaja sehingga membunuh dirinya maka racunnya itu ditangannya (sedang) dia akan meminumnya di neraka Jahannam dalam keadaan kekal yang dikekalkan padanya selama-lamanya;

Dan barangsiapa sengaja membunuh dirinya dengan besi maka besinya itu di tangannya (sedang) dia akan menikamkan dengannya di perutnya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal yang dikekalkan padanya selama-lamanya”.

Riwayat Bukhari [133] .

Dari ayat maupun hadits ini terang bahwa bunuh diri akan mengakibatkan pelakunya masuk neraka, bahkan kekal di dalamnya.

Dengan tegas larangan melakukannya ditujukan kepada orang-orang yang beriman, yang dibelaskasihani Allah dan perlu dijaga dari neraka.

Padahal mereka yang mengucapkan kalimat syahadat, dengannya menyatakan keimanan mereka. Oleh sebab itu mereka terkena larangan ini, larangan karena belas kasih Allah kepada mereka.

Karena bagian orang-orang yang beriman itu bukan meraka, sedang bagian bagi pembunuh diri itu adalah mereaka dan kekal padanya, maka tidak boleh tidak, seseorang yang beriman yakni pengucap kalimat لاإله إلا الله itu harus tidak melakukan perbuatan bunuh diri ini.

Tinjauan lain:

Seseorang yang mengaku beriman, betapapun dengan imannya itu dia mempunyai sandaran. Dan sandaran ini adalah Dzat Yang Maha Kuat, Yang Maha Gagah, Yang Maha Pemurah dan Mendengar seruan hamba-hambaNya sebagaimana di sini.

Apa saja yang Dia kehendaki, yang Dia tentukan mesti terjadi.

Sedang perbuatan bunuh diri, bagaimanapun hanyalah dilakukan oleh mereka yang berjiwa kecil, yang putus asa terhadap usaha perbaikan dan kebaikan. Karena menghadapi kesulitan-kesulitan yang menurut pandangannya tidak mungkin lagi dperbaiki atau merasa tidak mungkin lagi untuk bisa mendapatkan kebaikan di luar kegagalannya maka dilakukannya bunuh diri itu. Manudia beriman mana yang yakin bahwa Allah tidak mampu menolongnya dari kesulitan? Maha Besarlah Allah dari hal itu dan Maha Sucilah Dia.

Atau katakanlah seseorang melakukan bunuh diri karena mau ‘menjaga kehormatan’ dirinya, seperti dilakukan orang Jepang yang kafir dan lainnya.

Ada dua hal perlu ditegaskan di sini:

Pertama, bahwa alasan ‘menjaga kehormatan’ itu sebenarnya berarti suatu pengakuannya bahwa kehormatan dirinya sudah tidak bisa diperbaiki lagi dengan jalan apapun, tanpa menumpas kehidupan dirinya sendiri. Ini terang suatu kepengecutan yang luar biasa, sehingga untuk menghadapi hidup selanjutnya pun dia merasa sudah tidak berani lagi, dengan cara bagaimanapun. Betapa jauhnya dengan keadaan orang beriman, yang untuk hari esoknya tawakal kepada Allah.

Kedua pada hakikatnya ‘menjaga kehormatan’ dengan jalan bunuh diri ini merupakan suatu jalan yang terbaik. Ibarat orang yang buang air karena merasa lapar! Kapan kenyangnya?

Tidak ada nikmat, tidak ada hormat untuk penghuni neraka. Tidak di dunia, tidak ada di alam kubur dan apalagi di akhirat. Andaikata di dunia ada ‘penghormatan’ maka hanyalah penghormatan semu belaka, suatu formalitas yang tidak berguna yang kadang-kadang dilakukan dengan terpaksa.

Inilah kebodohan pelaku bunuh diri, yang tidak mungkin dimiliki oleh orang beriman.

=== ** ===


[80]  Fathul Qadier, jz.3 hlm. 59.           

[81]  Tafsir Qurthubiy, jz. 9 hlm. 326.

[82]  Lihat Surat Al-Isra` : 110; Surat Al-Anbiya` : 36.

[83]  Tafsir Qurthubiy, jz. 12 hlm. 93-94.                             Fathul Qadier, jz.3 hlm. 401. 

[84]  Tafsir Qurthubiy, jz. 12 hlm. 1.                      Fathul Qadier, jz.3 hlm. 434.

[85]  Tafsir Qurthubiy, jz. 13 hlm. 322, tidak jelas dari mana sumbernya.       

[86]  Tafsir Qurthubiy, jz. 13 hlm. 322, barangkali pendapat Qurthubiy sendiri.             

[87]  Tafsir Thabariy, jz.    hlm.    .                        Tafsir Ibnu Katsier, jz.2 hlm. 591. 

[88]  Tafsir Qurthubiy, jz. 11 hlm. 7.

[89]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 3 hlm. 91.

[90]  Tafsir Qurthubiy, jz. 11 hlm. 7.

[91]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 1 hlm. 390.

[92]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 1 hlm. 390.

[93]  Makna ini diambil seluruhnya dari Tafsir Ibnu Katsier, jz. 4 hlm. 44 dan tidak pula disalahi Tafsir Fathul Qadier maupun Qurthubiy.

[94]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 3 hlm. 568                 Tafsier Qurthubiy, jz. 15 hlm.18

Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 365.

[95]  Tafsier Qurthubiy, jz. 13 hlm. 62.                  Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 82.

[96]  Tafsier Qurthubiy, jz. 13 hlm. 62.                  Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 82.

[97]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 3 hlm. 322                 Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 83.

[98]  Tafsier Qurthubiy, jz. 13 hlm. 62.                  Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 83.

[99]  Tafsier Qurthubiy, jz. 13 hlm. 62.                  Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 83.

[100]  Tafsier Qurthubiy, jz. 13 hlm. 62.

[101]  Tafsier Qurthubiy, jz. 9 hlm. 27.                  Fathul Qadier, jz. 3 hlm. 58.

[102]  Pengertian inilah yang shahih dan terpilih (Ibnu Katsier, jz.2 hlm.156; Tafsir Qurthubiy, jz. 7 hlm. 36; Al-Mannar, jz. 7 hlm. 609 walau ada juga diartikan: Tabligh (seperti Al-Mannar) keduanya memang dipaham dari siyaqnya kalam.

[103]  Al-Mannar, jz. 7 hlm. 598 dan sekitarnya.

[104]  Seperti pada Tafsir Ibnu Katsier, jz. 3 hlm. 543; Tafsir Qurthubiy, jz. 14 hlm. 312; Tafsir Thabariy, jz.22 hlm.71.

[105]  Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 334.

[106]  Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 537.

[107]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 4 hlm. 111                Tafsir Qurthubiy, jz. 16 hlm.21

Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 534.                       Tafsir Thabariy, jz. 25 hlm.15-16.

[108]  Tafsir Thabariy, jz. 25 hlm. 16.

[109]  Tafsir Qurthubiy, jz. 16 hlm.21.

[110]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 4 hlm. 112                Tafsir Qurthubiy, jz. 16 hlm.21-22

Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 534 & 536.            Tafsir Thabariy, jz. 25 hlm.16.

[111]  Idem, kecuali Tafsir Qurthubiy, jz. 16 hlm. 24.

[112]  Tafsir Qurthubiy, jz. 16 hlm. 22                   Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 534.

[113]  Tafsir Qurthubiy, jz. 16 hlm. 22

[114]  Tafsir Ibnu Katsier, jz. 4 hlm. 112                Tafsir Qurthubiy, jz. 16 hlm.21-22

Fathul Qadier, jz. 4 hlm. 534 & 536.            Tafsir Thabariy, jz. 25 hlm.16.

[115]  Lihat juga dalam Shahih Bukhariy.

[116]  Buku ini halaman   .

[117]  Buku ini halaman   .

[118]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.77.

[119]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.77.

[120]  Tafsir Qurthubiy, jz.13 hlm.36.

[121]  Tafsir Qurthubiy, jz.13 hlm.35.

[122]  Tafsir Ibnu Katsier, jz.3 hlm.320.

[123]  Tafsir Qurthubiy, jz.16 hlm. 169.

[124]  Tafsir Qurthubiy, jz.16 hlm. 167.

[125]  Tafsir Qurthubiy, jz.16 hlm. 169.

[126]  Shahih Bukhariy, jz.8 hlm.201 Ktb.86 -Hudud- bb.14 no.6801.

[127]  Sunan Turmudziy, jz.4 hlm.45 ktb.15 –Hudud– bb.12 no.1439.

[128]  Namanya: Ma`iedz bin Malik ( ماعذ بن مالك ).

[129]  Tafsir Al-Mannar, jz. 4 hlm. 440.

[130]  Tafsir Al-Mannar, jz. 5 hlm. 43;     Tafsir Al-Qurthubi, jz. 5 hlm. 156..

[131]  Tafsir Al-Mannar, jz. 5 hlm. 43;     Tafsir Al-Qurthubi, jz. 5 hlm. 156..

[132]  Dimuat pula dalam Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm. 480.

[133]  Hadits semisal juga bisa didapat pada:

خ: ج  ص  ك جنائز ب83 ح

    ج  ص  ك ادب ب44 و 73

م : ج  ص  ك إيمان ح 175-177

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *