Konsekwensi Beraqidah

(Materi Jilid 1 – 5)

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, Pemelihara sekalian alam Yang telah melimpahkan berbagai nikmat-karunia kepada hamba-hamba-Nya; shalawat dan salam Allah tetapkan kiranya atas Nabi Muhammad dan keluarga beliau serta sekalian sahabat dan pengikut beliau.

Adapun sesudah itu; Kalimat : “لا اله إلا الله  “ yang juga sering disebut dengan “kalimah thayyibah” adalah merupakan kalimat yang pertama kali harus diucapkan oleh orang yang masuk Islam atau menyatakan keislamannya dalam rangkaian kalimat syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ “.

Ibarat orang memasuki suatu bangunan, kalimat ini bagi orang yang masuk Islam juga merupakan pintu pertama yang dilewatinya. Dikatakan juga, karena -berbeda dengan pintu gerbang yang dilewati begitu saja- kalimat ini kendatipun pertama kali diucapkan, dia akan tetap terbawa, dibawa dan diulang-ulang dalam sepanjang perjalanan memasuki bangunan menegakkan agama tersebut, baik secara langsung dengan mengucapkan kalimat ini maupun secara tidak langsung dengan mengucapkan kalimat yang semakna, atau dengan bentuk amal perbuatan yang merupakan rangkaian serta konsekuensi logis dari pengucapannya.

Dari sini saja dengan mudah dapat dimengerti apabila kalimat ini merupakan prinsip ajaran Al-Islam -dienullah ini- dan sekaligus merupakan titik tolak setiap amalan pemeluk-pemeluknya, baik dalam soal-soal ibadah (dalam arti khusus seperti: shalat) atau lainnya.

Kalau ini merupakan prinsip, maka dia harus jadi “penyelesai” atau “kesempurnaan” amalan yang menghantarkan pelakunya kepada akhir cita, yakni ridla Allah dan jannah:  

 جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّه_سـورة البينة: 8

“Balasan mereka (orang-orang yang beriman dan beramal shalih) di sisi Pemelihara mereka (adalah) jannah yang tetap, yang mengalir di bawahnya itu beberapa sungai, mereka dalam keadaan kekal padanya -selama-lamanya- Allah telah ridla dari mereka dan mereka (pun) ridla dari-Nya; yang demikian itu bagi orang-orang yang takut kepada Pemeliharanya”. S. Al-Bayyinah (98) : 8.

Jadi prinsip ajaran Islam (kalimat لا اله إلا الله) yang menyelesaikan urusan seorang hamba dengan Penciptanya ini terang bukan sekedar ucapan di lisan, melainkan sekaligus menjadi keyakinan yang diiringi dan disertai dengan perbuatan-perbuatan yang menjadi kosekuensi-konsekuensinya. Inilah yang dikatakan Wahab bin Munabbih tatkala dikatakan orang kepadanya: “Bukankah لا اله إلا الله itu kuncinya jannah? Ya, tetapi tidak ada sesuatu kunci kecuali padanya itu ada gigi-gigi, maka jika engkau datang dengan kunci yang ada padanya itu gigi-gigi dibuka untukmu, dan jika tidak, tidak dibukakan untukmu [1].

Maksud لااله إلا الله

Arti لا اله إلا الله adalah : “Tidak ada sesembahan selain Allah”. Dua potong kalimat ini hanya mempunyai arti satu, yakni sudah menjadi satu kalimat yang tidak bisa dipisahkan. Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal kalimat/kata: “rumah sakit” yang tidak bisa dipisahkan antara potongan yang satu dengan yang lainnya, karena rangkaian dua kata itu mempunyai arti/maksud yang sudah tertentu.

Kalimat لا اله إلا الله mempunyai maksud yang sudah jelas dan pasti, yakni: “Selain Allah tidak pantas dan tidak boleh diibadahi (disembah), sedang Allah itu satu-satunya yang harus diibadahi”.

Keharusan adanya ‘pengertian’

Setiap ucapan atau perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Tetapi bagaimana mungkin orang yang mempunyai niat yang benar kalau dia belum mempunyai pengertian, belum mempunyai ilmu tentang ucapan atau perbuatannya itu ?!

Sebutan kalimat ini di dalam Al-Qur’an pun menunjukkan bahwa ilmu/pengertian itupun didahulukan:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُم_ محمد: 19

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan selain Allah dan mintalah ampun untuk dosamu dan untuk mukminin dan mukminat; dan Allah itu mengetahui tempat bolak-balik kalian dan tempat tinggal kalian”. S. Muhammad (47) : 19

Kalimat:  فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  ini oleh sebagian mufassirin dimaknakan: “Tetaplah atasnya dan kuatkanlah[2], karena sebelum turun ayat ini toh Nabi saw. telah mengetahui akan لا اله إلا الله.

Sebagian lain menyatakan bahwa maknanya adalah memberi kabar bahwa tidak ada sesembahan yang patut ketuhanan itu padanya -dan makhluk boleh menyembahnya- selain Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan Ibnu Katsir dan Ibnu Jarier Ath-Thabari.

Bukhari membabkan: Ilmu itu sebelum ucapan dan amal, dengan alasan ayat ini فاعلم أنه لا اله إلا الله { Shahih Bukhari jz.1 h.26 ktb.Ilm bb.10 }

Adapun tentang perkara-perkara yang orang tidak mempunyai ilmu atasnya -atau- tidak ada dalilnya, maka orang tidak boleh ikut-ikutan padanya:

وَلاَ تَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً_ الإسراء:36

“Dan janganlah mengikuti apa-apa yang tidak ada bagimu ilmu dengan (tentang)nya; (karena) sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan pikiran/perasaan itu masing-masing akan ditanyakan darinya”. S. Al-Isra’ (17) : 36.

Sebagian mufassir menyatakan bahwa mengatakan sesuatu yang tidak diketahui atau menuduhkan sesuatu tanpa bukti adalah termasuk dalam cakupan ayat ini. Dalam pengertian inipun, mengucapkanلا إله إلا الله  tanpa mengetahui kesungguhannya/ kebenarannya menurut ilmu atau pengertiannya adalah tetap tidak baik (bagi mukallaf).

KONSEKUENSI-KONSEKUENSI

Pengucapan لا اله إلا الله juga berarti pengikraran pengakuan bahwa orang itu beriman. Pengakuan iman ini -sebagaimana telah diterangkan di muka pada pendahuluan- mengandung konsekuensi–konsekuensi sehubungan dengan pengakuannya. Apabila salah satu saja dari konsekuensi ini ditinggalkan, maka ibarat kunci yang kehilangan giginya, fungsi pengucapan لااله إلا الله dapat terusakkan sama sekali sehingga tidak bermanfaat untuk membukakan jannah dan menyelamatkan dari api neraka.

Konsekuensi I (Pertama)

Menegakkan Shalat, Memelihara dan Khusyu’ Padanya

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ  يُنْفِقُونَ_ البقرة: 3

“(Orang-orang yang bertaqwa ialah) Orang-orang yang mereka itu beriman kepada yang ghaib dan mereka itu menegakkan shalat dan –sebagian- dari apa-apa yang telah Kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkannya”. S.Al-Baqarah (2) : 3.

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ وَمِمَّا رَزَقْنَا هُمْ يُنْفِقُوْنَ_ الأنفال :3

“(Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beriman itu) Orang-orang yang mereka itu menegakkan shalat dan -sebagian- dari apa-apa yang Kami telah berikan kepada mereka, mereka menginfaqkan(nya).”. S. Al-Anfal (8) : 3.

Surat Al-Baqarah diturunkan di Madinah dan menurut Mujahid empat ayat pertama -jadi termasuk 3 ayat ini- turun dalam hal orang-orang yang beriman, dan ini oleh Ikrimah diberitakan sebagai permulaan surat yang diturunkan di Madinah. [3]

Adapun Surat Al-Anfal itu menurut riwayat-riwayat dari Sa’d bin Abi Waqqas, Ibnu Abbas dan ‘Ubadah bin Shamit turun pada hari peperangan Badr.

Baik dari keterangan Mujahid tentang turunnya ayat maupun dari rangkaian dengan ayat di depannya (S. Al-Baqarah : 3 dan Al-Anfal : 3) nyatalah bahwa ayat-ayat itu memang turun dalam hal urusan orang-orang beriman, orang-orang yang taqwa.

Karena ayat-ayat ini merupakan keterangan atau penjelasan bagi ayat-ayat sebelumnya, yakni tentang pengertian, tanda-tanda orang yang beriman/bertaqwa, maka tidak boleh tidak, apa yang disebutkan dalam ayat-ayat itu (beriman kepada yang ghaib, menegakkan shalat dan berinfaq) harus ada dan dimiliki orang-orang yang mengaku beriman/bertaqwa kalau memang pengakuan itu bukan suatu kepalsuan.

Sebelum kita tela’ah lebih jauh apa makna “menegakkan shalat” marilah kita lihat dalil berikutnya:

قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ * الَّذِيْنَ هُمْ فِى صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ *_ المؤمنون: 1-2.

“Sungguh berbahagia orang-orang yang beriman, (ialah)orang-orang yang mereka itu -di dalam shalat mereka- sama khusyu’.”. S. Al-Mukminun (23) : 1 – 2.

Surat ini diturunkan di Makkah [4] yang menurut riwayat dari Abu Hurairah [5], sebab turunnya ayat ini (ayat 2) adalah Rasulullah  saw. apabila beliau shalat, mengangkat pandangan beliau ke langit, maka turunlah ayat 2 ini. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa yang mengangkat pandangan ke langit ini adalah para shahabat.[6]

Makna Khusu’

Apabila kita lihat sebab turunnya ayat ini maka dapatlah diartikan bahwa khusyu’ itu dalam artian menundukkan pandangan dan tidak mengangkatnya. Hal ini bersesuaian dengan larangan melihat ke atas (arah langit) bagi orang yang sedang shalat.[7]

Demikian pula jika kita ikuti riwayat yang menerangkan bahwa sesudah turun ayat ini Rasulullah saw. senantiasa mengarahkan pandangannya ke tempat wajah beliau bersujud akan didapat makna yang sama dengan itu. [8]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa arti khusyu’ adalah takut dan tenang [9], sedang yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib menunjuk kepada khusyu’nya hati.[10] Tentang khusu’nya hati, rupanya seperti yang tersebut pada Surat Al-Baqarah :46.

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلاَقُوْا رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ_البقرة: 46.

“Orang-orang yang (khusyu’ ialah) sama mengaku (=percaya) bahwasanya mereka akan bertemu Pemelihara mereka dan bahwasanya mereka akan kembali kepada-Nya“. S. Al-Baqarah (2): 46

Di samping khusyu’, pada ayat ketiga Surat Al-Mukminun ini (masih dalam rangkaian ayat satu dst) disebutkan:

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ

“Dan (orang yang beriman ialah) orang-orang yang mereka itu atas shalat-shalat mereka sama menjaga/memelihara”.

Makna menjaga/memelihara di sini adalah menjaga (pada) waktunya menurut riwayat dari Masruq, Muslim bin Shabih [11], Ibnu Mas’ud, ’Alqamah bin Qais, Sa’id bin Zubair dan ‘Ikrimah.[12]

Adapun yang lainnya mengartikan menjaga/memelihara dengan lebih luas lagi, yakni menjaga waktu-waktunya, ruku’nya dan sujudnya –seperti diterangkan oleh Qatadah[13]– dan dengan arti menegakkannya pada waktu-waktunya, kesempurnaan ruku’nya, sujudnya, bacaannya dan aturan-aturan dzikirnya.[14]

Sampai di sini dapat kita rasakan bahwa pengertian khusyu’ dan menjaga/memelihara ini sebenarnya tercakup dalam hakikat menegakkannya, atau menjadi keterangan baginya; dalam hal ini setiap orang beriman mesti menegakkannya sebagaimana sabda Rasulullah saw.  setelah turun 10 (sepuluh) ayat pertama dari Surat Al-Mukminun ini:

“Sungguh telah diturunkan atas kita sepuluh ayat (yang) barangsiapa menegakkannya (maka dia) masuk jannah”.

Demikian menurut riwayat Hakim yang asalnya dari riwayat Ahmad bin Hanbal dari Abdurrazzaq.[15]

Apabila kita rangkaikan dengan hadits-hadits yang menerangkan tentang shalat dan segala yang berhubungan erat dengan shalat dan pengertian menegakkan shalat menurut Ibnu Abbas[16] dapatlah diterangkan bahwa makna menegakkan shalat itu ialah: “Menunaikan dengan sempurna shalat lima waktu dengan menjaga akan thaharahnya, waktunya, jama’ahnya, shafnya, bacaannya, ruku’ dan sujudnya serta thuma’ninahnya, dzikir dan khusyu’ lahir maupun batinnya”.

Thaharah mesti dijaga, sebab shalat tanpa wudhu/thaharah tidak sah shalatnya dan wudhu yang tidak sempurna -walaupun hanya sebesar kuku di tumitnya terlewati- cukup untuk membawa ke neraka; waktunya dijaga, lantaran kehilangan atau terlewatkan waktu ini berarti kehilangan besar-besaran, bahkan apabila shalat ashar yang terlewatkan maka lebur-binasalah amalannya semua; jamaahnya dijaga karena pendengar adzan harus mendatanginya dan bila tidak mendatangi dikatakan sebagai:  لاصلاة(= tidak ada shalat), suruhan kepada Abdullah bin Ummi Maktum yang buta untuk mendatangi jama`ah dan perkataan sahabat tentang akan sesatnya kalau masing-masing shalat di rumah sendiri; shaf harus dijaga lantaran selisih dalam shaf akan menimbulkan perselisihan hati/orang-orangnya, longgarnya shaf membuka kesempatan bagi syaithan; adapun bacaan dan lain-lainnya itu menentukan nilai shalatnya, bahkan sah atau tidaknya shalat tersebut.

Hal-hal yang dikemukakan itu harus dimiliki oleh orang-orang yang beriman, padahal -sebagaimana telah diterangkan di muka- pengucapan لا اله إلا الله adalah merupakan penyataan atau pengakuan iman. Maka ini tanpa ragu lagi dikatakan sebagai konsekuensi dari pengucapan kalimat لا اله إلا الله, sebagai salah satu dari gigi-gigi kunci yang menentukan apabila diibaratkan bahwa kalimat لا اله إلا الله itu sebagai kunci yang akan dipergunakan untuk membuka pintu jannah.

Konsekuensi II (Kedua)

Taqwa Kepada Allah

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ  تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ_آل عمران : 102

“Wahai orang-orang yang beriman! Taqwalah kalian kepada Allah (dengan) sebenar-benar ketaqwaan (kepada) Nya dan jangan sekali-kali (benar-benar) kalian mati kecuali kalian dalam keadaan menyerah (sebagai muslimin).”._S. Ali-Imaran (3) : 102.

فَاتَّقُوْا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا وَأَنْفِقُوْا خَيْرًا  ِلأَنْفُسِكُمْط وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِكَ هُمُ المُفْلِحُوْنَ *_التغابن: 16.

“Maka taqwalah kalian kepada Allah sekuat-kuat kalian dan dengarkanlah serta taatlah dan infakkanlah akan kebaikan untuk  diri-diri kalian (sendiri); dan barang siapa yang terjaga akan kekikiran dirinya maka mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kejayaan.”._S.At-Taghabun (64) : 16.

Kedua ayat ini diturunkan di Madinah, meskipun sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa Surat At-Taghabun itu Makiyah. Adapun makna taqwa حقّ تقاته  itu adalah:

“bahwa Allah ditaati – tidak didurhakai dan diingat – tidak dilupakan; dan disyukuri – tidak dikufuri.”.

Makna yang demikian adalah sepanjang yang diriwayatkan orang dari Abdullah (Ibnu Mas’ud) kepada Ibnu Jarier [17], Ibnu Abi Hatim (yang dishahihkan oleh Ibnu Katsir)[18] dan Hakim dengan sanad yang shahih pula.[19] Ada juga riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah saw. oleh Ibnu Mardawaih[20] dengan pengertian seperti itu pula. Demikian pula menurut Thawus, Hasan dan Qatadah.[21]

Dengan makna yang demikian ini, maka setiap orang yang (mengaku) beriman haruslah:

  • Menjalankan segala perintah Allah, termasuk menegakkan haq dan memberlakukan syari’at-Nya;
  • Menjauhi segala larangan-Nya;
  • Senantiasa menyebut dan mengingat Allah, termasuk segala janji dan ancaman-Nya;
  • Mensyukuri segala nikmat-Nya.

Adapun ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون maksudnya: hendaklah sampai mati tetap dalam keadaan taqwa kepada Allah, dalam keadaan berprasangka baik (husnudhan) kepada Allah dan menyerah sepenuhnya kepada Allah, tetap sebagai muslim[22] menjaga sekalian amalannya.

Melihat besarnya kewajiban tersebut mudahlah difaham betapa akan payahnya orang yang mengaku beriman. Atas pengertian seperti inilah para sahabat (dan juga tabi’in) -sebagaimana diriwayatkan[23]– merasa tidak akan mungkin ada yang bisa menjalankannya. Andaikata tidak karena sengaja, niscaya tergelincir pula karena lupa, karena tidak kuasa atau kebodohannya.

Faham di kalangan mufassirin yang terdahulu, ayat dengan pengertian seperti diatas -padahal inilah yang paling kuat dipandang dari segi riwayat- sudah mansukh (dinasakh) dengan ayat 16 dari Surat At-Taghabun.

Dengan turunnya ayat 16 Surat At-Taghabun ini, manusia tidak lagi dituntut kecuali sekedar kekuatannya, sebagai kelonggaran Allah karena belaskasihan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.[24] Atas inilah Rasulullah saw. membai’at sahabat-sahabatnya.

Adapun maksud ayat/kalimat selanjutnya adalah: Orang yang beriman disuruh (wajib) mendengarkan dan mentaati Rasulullah saw. (dan ulil amri dari kalangan mereka) dan menginfaqkan dengan jalan yang baik akan hartanya yang baik-baik pula sehingga akan membuahkan kebaikan; kebaikan ini akan jatuh kepada orang yang melakukannya pula, yakni di hadapan Allah nanti. Tetapi manusia sering kikir untuk kebaikan ini. Maka beruntunglah orang yang Allah menjaga kekikiran dirinya itu daripada dirinya, sehingga tidak berat buatnya menginfaqkan harta.

Konsekuensi III (Ketiga)

Takut Bila Allah Disebut dan Bertambah Iman dengan Sebab Mendengar Bacaan Ayat-ayat-Nya.

إِنَّمَا المُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ  إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ  يَتَوَكَّلُوْنَ *_الأنفال: 2.

“Sesungguhnya hanyalah (yang disebut) orang-orang beriman itu orang-orang yang apabila disebut Allah itu takutlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan atas mereka itu ayat-ayatNya menambahlah (ayat itu) kepada mereka akan keimanan, dan atas Pemelihara mereka, mereka itu tawakkal.” ._S. Al-Anfal (8) : 2.

Surat ini diturunkan di Madinah.

Maksudnya, orang-orang yang benar-benar beriman dengan sempurna ialah mereka yang mempunyai sifat seperti yang tersebut dalam ayat ini dan seterusnya.

وَجِلَتْ –atau asalnya وَجِلَ- itu ada di dalam hati (tempatnya); demikian menurut Abu Darda [25], yang artinya adalah takut dan terkejut [26] menurut keterangan Mujahid, Sudie dan lainnya.

Dari keterangan Ibnu Abbas [27], dipaham dinyatakan/dijelaskan bahwa karena orang-orang munafiq itu hatinya tidak mengingat Allah atau tidak kemasukan dzikrullah, maka orang yang beriman haruslah bersifat kebalikannya, dengan jalan takut hatinya kepada Allah pada waktu menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah.

Adapun Mujahid, Sudie, dan mufassir lain mengatakan bahwa وَجِلَتْ itu takut yang karenanya lantas menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Perbedaan kedua tafsir ini sebenarnya hanyalah pada masa/waktunya saja. Yakni pada waktu disebutnya/diingatkannya asma Allah ataukah dalam keadaan mengingat Allah karena menjalankan perintahNya. Dan inilah tafsir إِذَا ذُكِرَ اللهُ yang berbeda pada keduanya (Ibnu Abbas dan Mujahid).

Apabila kita lihat ayat-ayat:

وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاخِشَةً أََوْظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلَى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ*_آل عمران: 135

“Dan orang-orang yang apabila memperbuat kejelekan atau menganiaya diri mereka sendiri (lantas) mereka ingat akan Allah maka mereka meminta ampun untuk dosa-dosa mereka dan siapa pula yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Allah, serta tidaklah mereka itu berterus-terusan atau apa yang mereka perbuat padahal mereka mengetahui.” ._S. Ali Imran (3) : 135.

وَالَّذِيْنَ إِذَا ذُكِّرُوْا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا *_الفرقان: 73.

“Dan orang-orang yang apabila mereka diingatkan dengan ayat-ayat Pemelihara mereka, tidaklah mereka tunduk atasnya dalam keadaan (seperti) tuli dan membuta.” ._S. Al-Furqan (25) : 73.

Maka cenderunglah kepada penafsiran Mujahid, Sudie dan lainnya bahwa وَجِلَتْ itu takut (kepada Allah) yang karenanya lantas menjalankan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya.

Sedang bila kita lihat ayat:

إِنَّ المُنَافِقِيْنَ يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوْا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوْا كُسَالَى يُرَآءُوْنَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ قَلِيْلاً *_النساء: 142.

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (hendak) menipu Allah, padahal (sebenarnya) Dia Yang memperdayakan mereka; dan apabila mereka (orang-orang munafiq) berdiri kepada shalat, berdirilah mereka dalam keadaan malas (dan) ria` kepada manusia, dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali (hanya) sedikit.” ._S. An-Nisa’ (4) : 142.

demikian pula ayat lain yang semisalnya[28], maka dengan mudah dapatlah dipahami keterangan (tafsir) Ibnu Abbas pada ayat dimaksud.

Tidak ada pertentangan dari dua penafsiran tersebut. Maka jika kita kumpulkan dua tafsir itu untuk satu ayat ini -dengan niatan yang baik dan mendapatkan pengertian yang lebih luas dari ayat dimaksud- kita peroleh pengertian:

Orang-orang yang (benar-benar) beriman itu apabila disebutkan atau diingatkan asma Allah maka terkejut dan takutlah dia sehingga apabila di waktu itu dia akan melanggar laranganNya segeralah dia berhenti (tidak terus melanggar) dan bersegera menjalankan perintahNya; kemudian dalam segala perbuatan dan perkataannya, dia senantiasa ingat akan Allah.

Adapun وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا, maka maksudnya orang-orang yang benar-benar beriman itu apabila mengetahui atau mendengar dibacakannya ayat-ayat Allah kepada mereka, bertambahlah iman mereka, hal ini kebalikan dari orang-orang munafiq/kafir seperti dalam ayat:

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هذِهِ إِيْمَانًاج فَأَمَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ إيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ * وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِى قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كَافِرُوْنَ *_التوبة: 124- 125.

“Dan tatkala diturunkan satu surat maka sebagian dari mereka ada orang yang berkata: ‘Siapa di antara kalian yang menambahinya (surat) ini akan iman(nya)? Maka adapun orang-orang yang beriman, maka menambahilah (surat itu) kepada mereka akan iman(nya) dan mereka itu bergembira. (Dan) Adapun orang-orang yang di dalam hati-hati mereka itu (ada) penyakit, maka menambahilah (surat itu) kepada mereka akan kejelekan (sebagai tambahan) kepada kejelekan mereka; dan mereka itu mati padahal mereka itu dalam keadaan kafir.” ._S. At-Taubah (9) : 124-125.

Mengartikan bertambahnya iman dengan bertambah amalannya dengan alasan bahwa iman itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa bertambah atau berkurang, tertolak oleh pengertian ayat ini dan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah[29]. Demikian pula hadits-hadits shahih yang menerangkannya.

Maka arti bertambah iman itu adalah: bertambah membenarkan, yakni iman yang sekarang ini menambah kepada iman yang lebih dahulu, [30] atau dapat pula berarti: bertambah kelonggaran dadanya dan tenang hatinya lantaran (bertambah) banyaknya ayat-ayat dan dalil-dalil (yang sampai kepadanya) [31].

Dengan demikian orang-orang yang benar-benar beriman itu, karena membaca/dibacakan ayat-ayat Allah semakin lama semakin bertambah pula imannya, tidak seperti orang-orang munafiq atau orang-orang kafir yang tidak ada bekas bacaan Al-Qur’an atasnya karena memang tidak bisa memahami atau tidak mau mengerti kepadanya. Jadilah orang munafiq/orang kafir itu baik dibacakan Al-Qur’an (ayat-ayat Allah) atas mereka atau tidak dibacakan sama saja keadaan mereka, tetap tidak beriman; apalagi bertambah, sudah barang tentu tidak.

Konsekuensi IV (Keempat)

Lebih Cinta Kepada Allah dan RasulNya daripada Selain KepadaNya

قُلْ إِنْ كَانَ آبَائُكُمْ وَأَبْنَائُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌنِ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِى سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِط وَاللهُ لاَيَهِدِى القَوْمَ الفَاسِقِيْنَ *_التوبة: 24.

“Katakanlah: ‘Jika adalah bapa-bapa kalian dan anak-anak kalian dan saudara-saudara kalian dan isteri-isteri kalian dan keluarga/teman kalian dan harta-benda yang kalian mengusahakannya dan perdagangan yang kalian takutkan kerusakannya dan tempat-tempat tinggal yang kalian meridlainya itu lebih tersukai kepada kalian daripada Allah dan RasulNya dan jihad di jalanNya, maka nantikanlah oleh kalian sampai Allah mendatangkan dengan urusanNya; dan Allah itu tidak menunjuki kaum yang fasiq!’.” ._S. At-Taubah (9) : 24.

Menurut riwayat ayat ini turun atas orang-orang yang memilih tinggal di Makkah tatkala diperintahkan untuk hijrah ke Madinah [32] meskipun dikatakan pula bahwa surat ini turun sesudah Fat-hu Makkah[33].

Adapun yang dimaksud dengan عَشِيْرَة adalah: Kumpulan (orang) yang kembalinya kepada satu ikatan[34]; jadi selain kerabat dapat termasuk padanya: orang-orang dekat, tetangga, teman kumpulan dan sebagainya. Kemudian selain penafsiran yang biasa, diriwayatkan bahwa Ibnu Mubarak menafsirkan: وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا dengan: Anak-anak perempuan atau saudara-saudara perempuan yang tinggal di rumah sampai buruk, tidak ada yang melamarnya; dan penafsiran ini adalah penafsiran yang gharib (asing)[35].

Ayat ini menunjukkan kepada wajibnya mencintai Allah dan RasulNya (dan jihad di jalan Allah) dengan kecintaan yang mengalahkan kecintaan kepada 8 perkara yang disebutkan itu, apalagi kepada lainnya. Orang yang lebih mencintai selain Allah dan RasulNya adalah orang yang fasiq dan tidak ditunjuki Allah. Keharusan ini adalah sebagaimana riwayat berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ ص م أَنَّهُ قَالَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا حَتَّى يُقْذَفَ فِى النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَعُوْدَ فِى الكُفْرِ بَعْدَ أَنْ نَجَاهُ اللهُ مِنْهُ وَلاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. (حم: ج3 ص207 و 278).

“Dari Anas bin Malik dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda: ‘Tidak beriman salah seorang kalian sehingga adalah Allah dan RasulNya itu lebih tercintai kepadanya dari apa saja selain keduanya, dan sehingga dicampakkan ke dalam api itu lebih tersukai kepadanya daripada dia kembali ke dalam kekufuran sesudah Allah menyelamatkannya darinya; dan tidak beriman salah seorang kalian sehingga jadilah aku ini lebih tercintai kepadanya daripada anaknya dan orangtuanya dan manusia ini seluruhnya’.“.

Riwayat Ahmad: jz.3 hlm.207 & 278.

Bukhari meriwayatkan pula hadits ini dengan susunan yang agak berbeda[36].

Ulama biasa menafsirkan kata-kata لاَيُؤْمِنُ itu dengan pengertian: Tidak sempurna iman; hal ini rupanya untuk menghindari penggunaan kata-kata yang dianggap terlalu tajam: sudah kafir atau masih kafir, walaupun sebenarnya ancaman Allah itu cukup tajam:

فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ

Menurut ulama[37] kecintaan kepada Allah itu ada dua bagian: yang fardhu dan yang nadb. Adapun yang fardhu itu adalah kecintaan yang dibangkitkan atas mewujudkan perintah-perintahNya, mencegah larangan-laranganNya dan ridla dengan ketetapanNya. Maka orang yang terjerumus ke dalam kemaksiatan -dengan memperbuat yang haram atau meninggalkan yang wajib- itu berkuranglah kecintaannya kepada Allah menurut ukuran seberapa dia perturutkan hawa nafsunya. Kadangkala kekurangan ini timbul bersama-sama dengan masuknya orang dalam perkara-perkara yang mubah dan membanyakkannya, yang menimbulkan kelalaian dan mendekatkan kepada maksiat; atau kelalaian itu sedemikian kuatnya sehingga terjatuhlah orang ke dalam kemaksiatan. Pengertian ini seperti maksud hadits:

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِيْنَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ. خ: ج4 ص  ب-الفتن ح4000.

نقل من: جة ج2 ص1299 ك36-الفتن- ب3 ح3936.

“Tidak berzina seorang pezina tatkala dia berzina sedang dia itu beriman.” Riwayat Bukhari, nukilan dari riwayat Ibnu Majah.

Adapun yang nadb itu adalah: rajin memperbuat perkara-perkara nawafil dan menjauhi dari terjerumus ke dalam perkara-perkara yang syubhat (samar, tidak jelas kepastian hukumnya). Demikian pula kecintaan kepada Rasul itupun ada yang fardhu dan ada pula yang nadb, ditambah dengan:

  • tidak menjalani kecuali jalan yang ditempuh oleh Rasul (Muhammad saw.).
  • ridla dengan ketetapan/keputusannya sehingga tidak mendapat kesempitan di dadanya dengan sebab apa yang dia putuskan.
  • berakhlaq dengan akhlaqnya.

Dalam beberapa riwayat lain (Bukhari, jz.1 hlm.10 ktb.iman bb.8&9) ada dipergunakan lafal: حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ yang artinya manisnya iman atau lezatnya iman. Kecintaan kepada Allah dan RasulNya ini memang hanya dimiliki oleh orang yang bisa merasakan manisnya iman; dan kecintaan serta merasakan manis ini adalah kenyataan yang dapat diusahakan, dan dipilih lewat pertimbangan akal sehat, bukan lewat rasa atau hawa nafsu.

Orang merasakan manisnya iman ini seperti cerita orang sakit[38]: Orang yang menderita sakit dua bibir dan lidahnya akan mendapatkan bahwa madu itu tidak enak rasanya, sedang orang yang sehat merasakan madu itu manis sebagaimana adanya. Semakin berkurang sehatnya semakin berkurang rasa manis dapat dicecap mulutnya sesuai dengan ukuran sehat dan sakitnya. Karenanya orang sakit itu kalau memperturutkan rasa yang diperoleh tatkala terkena madu yang sebenarnya manis rasanya, niscaya larilah dari padanya. Tetapi bila akal sehat berjalan bahwa kepahitan itu dari dirinya sendiri -atau- bahwa yang dirasakan pahit itu amat dia perlukan untuk keselamatannya, niscaya diambil dan diminumnya juga.

Demikianlah orang yang hatinya bersih dan penuh keyakinan merasakan iman dan taat serta kecintaan kepada Allah dan RasulNya itu lezat dan manis, sedang orang yang hatinya berpenyakit merasakannya sebagai beban yang pahit, berat, bahkan sebagai penderitaan.

Dengan mempergunakan akal sehat yang sadar bahwa iman, taat dan kecintaan kepada Allah dan RasulNya itu amat diperlukan untuk keselamatan diri dari ancaman: حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ, niscaya orang memilih memaksakan diri untuk mencintai Allah dan RasulNya (dengan iman dan taat) daripada memberatkan selain keduanya (سِوَاهُمَا).

Delapan perkara yang disebut dalam ayat 24 Surat At-Taubah itu -lima dari kalangan manusia dan tiga dari benda- cukup sudah mewakili segala yang biasa dicintai manusia selain Allah dan Rasulnya. Sebab bapa-bapa (آبَاء), termasuk padanya segala kecintaan kepada nenek-moyang yang sering dibanggakan karena kejayaannya dimasa lampau; anak-anak (أَبْنَاء) itu mencakup segala keturunan yang diharapkan sebagai penerus atau pengangkat kehormatan dan kemuliaan; saudara–saudara (إِخْوَان) mencakup segala kerabat dengan hubungan garis ke samping -sekutunya-; Isteri-isteri (أَزْوَاج) itu mencakup segala orang yang bisa diperisterikan –yang padanya orang mempunyai kecondongan syahwatnya-; keluarga (عَشِيْرَة) itu meliputi semua orang yang mempunyai hubungan/ikatan dengan dirinya misalnya: ikatan marga, ikatan suku, bangsa, usaha perdagangan, organisasi atau lainnya; adapun harta-benda yang diusahakan pencariannya, termasuk di antaranya lewat perdagangan dan tempat tinggal yang menyenangkan (وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ ..كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا) itu tidak ada sesuatu kesenangan manusia yang tidak kembali kepada salah satu dari tiga perkara itu, atau lewat tiga perkara itu baik sebagian atau seluruhnya, atau dicari dengannya.

Sebagian orang mungkin mempersoalkan yang di luar delapan itu: Bolehkah mencintai diri sendiri? atau dimana kedudukan diri dalam percintaan itu? Jawabnya adalah bahwa diri itu termasuk dalam delapan perkara itu -atau- bahwa diri sendiri itu terletak sepihak dengan delapan perkara tersebut. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut:

Pertama, kalau kecintaan kepada diri sendiri itu merupakan kecintaan yang hakiki (yang sebenar-benarnya), maka hakikat kecintaan kepada diri sendiri itu ialah dengan mengusahakan keselamatan di dunia dan akhirat; dan keselamatan hakiki ini hanya diperoleh bila orang taat serta mencintai Allah dan RasulNya. Maka teranglah bahwa kecintaan kepada Allah dan RasulNya itu pada hakikatnya merupakan kecintaan yang paling tinggi untuk dirinya sendiri.

Kedua, kalau kecintaan kepada diri sendiri itu yang dimaksudkan adalah kecintaan yang bersifat duniawi, maka kita lihat betapa banyak manusia yang rela berkorban -mempertaruhkan nyawanya- untuk sesuatu yang dicintainya. Kalau demikian maka kecintaan kepada diri sendiri ini haruslah dijadikan sepihak dengan kecintaan kepada delapan perkara sebagaimana yang telah diutarakan di muka, yakni jauh di bawah kecintaan kepada Allah dan RasulNya.

Ketiga, bahwa kecintaan kepada diri sendiri itu tidak dilebihkan -bahkan juga- tidak menyamai kecintaan kepada Allah dan RasulNya; hal ini sebagiamana hadits:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ص م وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ,  َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ إِلاَّ مِنْ نَفِسِيْ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص م: لاَ وَالَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ, حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ, فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الآنَ وَاللهِ  َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ, فَقَالَ النَّبِيُّ ص م: الآنَ يَاعُمَرُ.

خ: ج  ص  ك83 الإيمان ب3 ح6632 عن عبدالله بن هشام.

“Adalah kami beserta Nabi saw., sedang beliau memegang tangan Umar bin Khattab; maka berkata Umar kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah! Sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu, kecuali daripada diriku!’. Maka bersabda Nabi: ‘Tidak! Demi Dzat Yang jiwaku ini di tanganNya, sehingga jadilah aku ini lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri!’. Maka berkata Umar: ‘Maka sesungguhnya sekarang , demi Allah! Sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri! ‘. Maka bersabda Nabi saw.: ‘Sekarang Yaa Umar!”. Riwayat Bukhari, dari Abdullah bin Hisyam.

Maksud sabda Rasulullah saw. ini adalah bahwa dengan pernyataanmu ‘mencintai aku’, itu kamu belum sampai kepada kebaikan yang sesungguhnya sampai engkau mencintai aku lebih daripada mencintai dirimu sendiri. Adapun sabda beliau yang tersebut pada akhir hadits itu maksudnya: ‘sekarang, setelah kamu mengetahui hal itu barulah kamu mempunyai kecintaan yang benar dan mendapat kebaikan’.

Orang mengucapkan لا إله إلا الله sebagai pengakuan keimanannya adalah untuk mendapatkan keselamatan; sedang keselamatan dari أمر الله seperti yang dimaksud dalam Surat At-Taubah: 24 itu hanya diperoleh bilamana orang mencintai Allah dan RasulNya (juga jihad fi sabilillah) lebih dari yang lain-lainnya. Teranglah bahwa ”mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada mencintai selain keduanya” itu merupakan satu konsekuensi logis   -yang tidak akan lepas- dari pengakuan لا إله إلا الله.

Konsekuensi V (Kelima)

Ingat Akan Segala Nikmat-nikmat Allah dan Mensyukurinya

يَآأَيُّـهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ_البقرة: 172.

“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang Kami rizqikan kepada kalian dan bersyukurlah kalian kepada Allah jika memang adalah kalian itu hanya kepadaNya menyembah!” ._S. Al-Baqarah (2) : 172.

Tidak ada khilaf lagi bahwa ayat ini diturunkan di Madinah. Perintah ini termasuk perintah yang menunjukkan kepada wajib dan bukan menunjukkan kepada mubah [39], karena tidak ada yang akan memalingkan daripadanya dan karena hubungan dengan ayat-ayat sebelum serta sesudahnya.

Maksud ayat ini adalah bahwa pertama orang-orang yang beriman harus mau memakan -dalam artian menghalalkan- apa saja yang Allah halalkan, yakni barang-barang baik yang Allah berikan untuk manusia. Artinya, orang beriman tidak boleh mengharamkan sesuatu yang Allah tidak haramkan, sebagaimana orang Yahudi, Nashara dan Musyrikien lainnya mengharamkan binatang-binatang tertentu -atau bagian-bagian tertentu- yang Allah tidak haramkan buat mereka; atau juga orang beriman tidak boleh berlaku seperti orang-orang Yahudi dan Nashara yang mereka itu mempertuhankan ahbar-ahbar dan rahib-rahib mereka dengan jalan mengikuti saja perkataan ahbar/rahib yang mengharamkan sesuatu, padahal Allah tidak mengharamkannya buat mereka.

Jadi dalam hal ini, طَيِّبَاتِ diartikan barang-barang baik dengan makna barang-barang yang halal, sebagaimana dipergunakan pada ayat yang turun sebelumnya:

الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِى يَجِدُوْنَهُ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرَاتِ وَالإِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالمَعْرُوْفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْج فَالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِى أُنْزِلَ مَعَهُ أُولئِكَ هُمُ المُفْلِحُوْنَ_الأعراف: 157.

“Orang-orang yang mengikuti Rasul -yakni Nabi yang Ummi (buta huruf)- yang mereka mendapatkannya tertulis pada mereka (yakni) di dalam Taurat dan Injil, yang menyuruh mereka dengan yang ma`ruf dan melarang mereka dari yang munkar dan menghalalkan untuk mereka barang-barang yang baik dan mengharamkan atas mereka barang-barang yang jijik dan menaruhkan dari mereka perjanjian (beban) mereka dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka; maka adapun orang-orang yang beriman kepadanya dan membantunya dan menolongnya dan mereka itu mengikuti nur yang ditaruhkan besertanya, mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kejayaan.” ._S. Al-A`raf (7) : 157.

Demikian pula pada ayat yang turun jauh sesudahnya:

يَسْأَلُوْنَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتُلا وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الجَوَارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَلِّمُوْنَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللهُ فَكُلُوْا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوْا اللهَط إنَّ اللهَ سَرِيْعُ الحِسَابِ_المائدة (5): 4.

“Mereka bertanya kepadamu apakah yang dihalalkan untuk mereka? Katakanlah: ‘Dihalalkan untuk kalian barang-barang yang baik dan apa-apa yang kalian telah mengajar dari binatang pemburu yang terdidik yang kalian mengajar binatang-binatang itu dari sesuatu yang Allah telah mengajar kalian maka makanlah oleh kalian dari apa-apa yang mereka menangkapkan untuk kalian dan sebutlah  asma  Allah  atasnya;  dan  taqwalah  kalian  kepada Allah; sesungguhnya Allah itu amat cepat hitunganNya’.” ._S. Al-Maidah (5) : 4

اليَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُط وَطَعَامُ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالمُحْصَنَاتُ مِنَ المُؤْمِنَاتِ وَالمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا ءَاتَيْتُمُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ وَلاَ مُتَّخِذِى أَخْدَانٍقلى وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِى الآخِرَةِ مِنَ الخَاسِرِيْنَ_المائدة.

“Pada hari ini dihalalkan buat kalian barang-barang yang baik; dan makanan orang-orang yang diberi kitab itu halal untuk kalian dan makanan kalian halal untuk mereka; dan (halal pula untuk kalian nikahi) perempuan-perempuan yang terjaga dari kalangan perempuan-perempuan beriman dan juga perempuan-perempuan yang terjaga dari kalangan orang-orang yang diberi kitab dari sebelum kamu sekalian, apabila kalian berikan kepada mereka itu maskawin-maskawin mereka dalam keadaan yang terjaga (menikah), bukan berbuat jahat (zina) dan tidak mengambil sebagai gundik; dan barangsiapa yang kufur kepada keimanan maka sungguh leburlah amalannya dan dia itu di akhirat (termasuk) dari kalangan orang-orang yang rugi.” ._S. Al-Maidah (5) : 5.

Kemudian yang kedua (kembali pada ayat 172 Surat Al-Baqarah), orang-orang yang beriman harus bersyukur kepada Allah Yang telah menciptakannya (barang-barang yang halal) untuk mereka dan memudahkannya pula untuk mereka. Tidak sulit bagi orang yang beriman untuk menerima pengertian bahwa Allah Yang memudahkan sampainya rizqi yang baik/halal kepada mereka, baik melalui proses penyuburan tanah, penumbuhan tanaman, pengeluaran buah, penghalalan jual-beli dan sebaginya sehingga sampainya makanan kepada diri mereka yang memerlukannya; ini semua sudah tentu dengan i`tiqad bahwa kebaikan ini merupakan karunia dan kebaikan Allah, bukan pemberian berhala-berhala atau sebangsanya. Inilah, maka ayat ini diikuti dan diakhiri dengan kalimat: إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ yang dalam hal ini sekaligus menjadi kunci penunjuk hubungan antara syukur (yang sedang dibicarakan ini) dengan kalimat لا إله إلا الله .

Maksudnya menghalalkan barang yang halal dan bersyukur -atas nikmat- kepada Allah itu harus kalian lakukan jika memang kalian mengkhususkan ibadah ini hanya kepadaNya dan jika memang kalian beriman kepada ke-Esa-anNya dalam kekuasaan dan pemeliharaan alam semesta ini [40]. Jika dua hal itu tidak kalian lakukan –termasuk ‘bersyukur’ dalam pembicaraan ini– maka berarti kalian musyrik kepadaNya dan kafir kepada nikmat-nikmatNya sebagaimana orang-orang sebelum kalian yang bodoh akan makna ‘beribadah’ kepadaNya. Terang sudah tentang wajibnya bersyukur dalam hubungannya dengan pengakuan atau pernyataan: لا إله إلا الله .

Dengan banyaknya ayat yang menerangkan bahwa: Kebanyakan manusia tidak bersyukur, teranglah kepada kita bahwa kebanyakan manusia ini tidak memiliki لا إله إلا الله atau tidak konsekuen dengan pengakuannya لا إله إلا الله itu.

Bagaimana Syukur Dilakukan?

Sebagaimana arti kalimatnya, syukur adalah penunjukan dan penyampaian rasa terima kasih, maka syukur ini dilakukan dengan berbagai hal yang prinsipnya adalah penunjukan dan penyampaian tersebut. Dari segi istilah itu pula kita ketahui bahwa syukur adalah kebalikan (lawan) dari kufur; hal ini misalnya dari perkataan Nabi Sulaiman yang Allah sebut dalam Surat An-Naml:

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أًمْ أَكْفُرُ

“Ini adalah dari karunia Pemeliharaku, untuk mengujiku apakah aku akan bersyukur atau akan kufur.”

Dengan pengertian yang seperti ini dapat pula diketahui bahwa syukur itu akan diganjar/dibalas Allah; dan karenanya pula syukur ini haruslah untuk sesuatu yang baik, dalam sesuatu yang baik dan dengan jalan yang baik menurut ajaran Islam. Karenanya syukur itu dilakukan dengan jalan:

1.  Pertama, mempergunakan nikmat itu dengan sebaik-baiknya untuk dan dalam kebaikan atau untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Mempergunakan nikmat untuk/dalam hal-hal yang maksiat adalah menyalahi hakikat syukur -dan berarti mengikuti kekufuran- karena salah satu maksud bersyukur itu adalah untuk mendapat ridla Allah, sebagaimana akan diterangkan nanti, insya Allah [41].

2.  Kedua, sebagaimana arti kalimat syukur itu sendiri yakni penunjukan dan penyampaian rasa terima kasih, maka syukur dilakukan dengan jalan mengucapkan pujian kepada Allah:

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Hal ini sebagaimana hadits:

إِذَا قُلْتَ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ فَقَدْ شَكَرْتَ اللهَ فَزَادَكَ_رواه الطبري.

“Apabila kamu sudah mengucapkan Alhamdulillahirabbil`alamin maka berarti kamu sudah bersyukur kepada Allah. Maka Dia (Allah) menambahmu.” Riwayat Thabari [42].

Hadits ini sudah pernah dibicarakan pada takwil ayat dalam Surat Al-Fatihah (lihat tafsir halaman lima).

3.  Ketiga, menceritakan dan menunjukkan nikmat Allah serta bekas-bekas nikmat itu. Hal ini sebagaimana maksud hadits:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص م عَلَى المِنْبَرِ: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ القَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ, التَحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالجَمَعَةُ رَحْمَةٌ وَالفُرْقَةُ عَذَابٌ.

رواه عبدالله بن أحمد. (حم: ج4 ص278 قال ابن كثير إسناده ضعيف).

“Dari Nu`man bin Basyir, berkata: bersabda Nabi (sedang beliau) di atas mimbar: ‘Barangsiapa tidak mensyukuri barang yang sedikit, (maka) tidak dapat mensyukuri yang banyak dan barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia (maka berarti) tidak bersyukur kepada Allah; membicarakan/ menceritakan nikmat Allah itu (merupakan) syukur dan meninggalkannya itu kufur dan jama`ah itu rahmat sedang furqah itu adzab!”. Riwayat Abdullah bin Ahmad [43]; Ibnu Katsir berkata: ‘Sanadnya dhaif.’.

Hadits ini seperti ayat: وَأَمَّا بِنِعْمِةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.

عَنْ أَبِى الأَحْوَاصِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ ص م فِى ثَوْبٍ دُوْنٍ فَقَالَ: أَلَكَ مَالٌ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: مِنْ أَيِّ المَالِ؟ قَالَ: قَدْ أَتَانِيَ اللهُ مِنَ الإِبِلِ وَالغَنَمِ وَالخَيْلِ وَالرَّقِيْقِ قَالَ: فَإِذَا أَتَاكَ اللهُ مَالاً فَلْيُرَ أَثَرُ نِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ وَكَرَمَتِهِ. ] د: ج4 ص51 ح4063 ك اللباس ب16. (عون المعبود: 11\112\4045) [.

“Dari Abil Ahwash dari bapaknya, berkata: “Aku mendatangi Nabi saw. dengan memakai kain yang kurang pantas. Maka bersabda beliau: ‘Apakah engkau punya harta?’ Berkata dia: ‘Ya!’ Bersabda beliau: ‘Dari mana harta itu?’ Berkata dia: ‘Allah telah memberiku dari unta dan kambing dan kuda tunggang dan budak’. Bersabda beliau: ‘Maka jika Allah telah memberimu harta, maka hendaklah terlihat bekas nikmat Allah atasmu dan kemuliaannya!’.“. Riwayat Abu Dawud. Konon Nasa’ie juga meriwayatkan hadits ini [44]. Turmudzi juga meriwayatkan hadits yang semakna dengan sebagian isinya [45].

4.  Keempat, menyampaikan terimakasih kepada manusia yang jadi lantaran sampainya nikmat itu kepadanya. Ini sebagaimana hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص م قَالَ لاَ يَشْكُرِ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ.

حم: ج2 ص258-295-303-461-492.

د  : ج4 ص255 ح4811 ك(40) الأدب ب11 واللفط لهما.

ت : ج4 ص449 ح1954ك(28) البر ب35 فى الشكر لمن أحسن إليك.

“Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. bersabda: “Tidak (belum) bersyukur kepada Allah orang yang tidak (belum) bersyukur kepada manusia.”. Riwayat Ahmad, Abu Dawud (dan lafal ini untuk keduanya) dan Turmudzi.

Bagaimanapun syukur itu harus dilakukan atau hendak dilakukan manusia, dia itu tetap tidak akan terlaksana sebagaimana mestinya kecuali dengan pertolongan dan perkenan Allah. Hal ini sebagaimana yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ_النمل: 19.

“Maka tersenyumlah dia (Sulaiman as.) dari sebab perkataannya dan berkata: ‘Wahai Pemeliharaku berilah kecondongan kepadaku supaya aku mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau berikan atasku dan kedua orang tuaku, dan supaya aku memperbuat kebajikan yang Engkau meridlainya dan masukkanlah aku -dengan belaskasihMu- dalam kalangan hamba-hambaMu yang shalih.” ._S. An-Naml (27) : 19.

Demikian pula yang serupa ayat itu dalam Surat Al-Ahqaf: 15

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص م أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ: يَامُعَاذُ, وَاللهِ إِنِّى َلأُحِبُّكَ فَقَالَ: أُوْصِيْكَ يَامُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

حم: ج5 ص245.

د  : ج2 ص76 ح1522 ك الصلاة ب355 فى الإستغفار واللفط له.

ن : ج3 ص53 وقال النووي إسناده صحيح.

“Dari Muadz bin Jabal bahwasanya Rasulullah saw. memegang tangannya dan bersabda: ‘Wahai Muadz! Demi Allah, sesungguhnya aku ini sungguh menyukaimu!’ Lalu bersabda: ‘Aku mewasiati kamu wahai Muadz! Benar-benar jangan engkau tinggalkan di belakang tiap-tiap shalat, (kecuali) engkau ucapkan: ‘Ya Allah! Tolonglah aku atas mengingatmu dan mensyukurimu dan baik dalam mengibadahimu!”. Riwayat Ahmad, Abu Dawud (dan lafal ini baginya) dan Nasa`ie. Sanad hadits ini shahih/kuat menurut Imam Nawawie dan Ibnu Hajar.

Manfaat Syukur

Salah satu rahasia mengapa syukur hanya bisa diperbuat bila ada perkenan dan pertolongan Allah adalah karena besarnya manfaat syukur. Adapun manfaat syukur itu adalah:

Pertama, untuk (supaya) ditambah nikmat yang disyukuri itu oleh Allah atau ditambah dengan nikmat yang lainnya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ  َلإِنْ شَكَرْتُمْ  َلأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ_إبراهيم: 7.

“Dan tatkala memberitahukan Pemelihara kalian: ‘Sungguh jika kalian bersyukur (niscaya) sungguh Aku akan tambah kalian dan sungguh jika kalian kufur (maka) sesungguhnya siksaanKu itu amat dahsyat.” ._S. Ibrahim (14) : 7.

Sebagaimana diketahui ayat ini termasuk yang diturunkan di Makkah. Tidak ada persoalan di kalangan ulama pada ayat ini selain kalimat: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ yakni apakah merupakan bagian dari perkataan Nabi Musa ataukah bagian dari firman Allah pada isi pemberitahuan itu [46]. Persoalan ini dapat kita tinggalkan begitu saja di sini karena dimanapun jatuh pengertiannya tetap tidak mempengaruhi maksud/isi ayat sepenuhnya. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa syukur itu adalah sebab bagi adanya tambahan, apakah itu tambahan karunia / nikmat, ketaatan, ataupun ganjaran [47].

Kedua, syukur dilakukan untuk menghindarkan adzab, sebagaimana kita faham dari ayat 7 Surat Ibrahim itu pula, di samping dari yang tersirat pada ayat-ayat lainnya [48]. Adapun dari Surat An-Nisa`: 147.

مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَ آمَنْتُمْط وَكَانَ اللهُ شَاكِِرًا عَلِيْمًا_النساء: 7.

“Tidaklah memperbuat Allah itu dengan menyiksa kalian jika kalian sudah bersyukur dan beriman, dan adalah Allah itu Penerimakasih, amat Mengetahui.” ._S. An-Nisa` (4) : 7.

Catatan:

Pengertian dan terjemah: “Tidaklah” pada ayat ini berasal dari: ما (apakah) yang menjadi istifham inkari, yakni pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena sudah berarti: tidak [49].

Walaupun dalam ayat ini juga terkandung pengertian-pengertian yang lainnya tetapi jelas dari ayat ini bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tahu berterima kasih, yang beriman. Dari sini dapat kita katakan rumusan di atas sebagai salah satu manfaat syukur.

Ketiga, syukur dilakukan untuk menambah kebaikan bagi diri sendiri. Hal ini di samping kita ketahui dari ayat 7 Surat Ibrahim yang telah diterangkan, juga dari:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ  ِللهِط وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِج وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ_لـقمان: 12.

“Dan sungguh-sungguh Kami telah memberi kepada Luqman akan hikmah: bahwa bersyukurlah kepada Allah; dan barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya tiada lain dia itu bersyukur untuk (kebaikan) dirinya; dan barangsiapa kufur maka sesungguhnya Allah itu maha kaya, Maha terpuji.” ._S. Luqman (31) : 12.

Sebagaimana ayat yang lain, ayat ini menerangkan akibat syukur kepada Allah dan bahkan juga kedudukan dia sebagai hasil dari pemahaman kitab/wahyu. Dari akhir ayat ini pula dapat diketahui bahwa syukur ini bukan keperluan Allah sama sekali. Bahkan Maha Suci Dia daripada memerlukan syukur hambaNya.

Bedanya dari ayat 7 Surat ibrahim ialah bahwa yang di dalam ayat ini (Surat Luqman:12) lebih umum sifatnya dan langsung dari perbuatan itu, sedang tambahan seperti yang dimaksud dalam Surat Ibrahim: 7 itu terikat dengan syaratnya (syukur itu).

Keempat, syukur akan menjadikan Allah ridla kepada orang yang melakukannya, atau bisa pula dikatakan: syukur dilakukan agar orang diridlai Allah.

إِنْ تَكْفُرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الكٌفْرَج وَإِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَكُمْط وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىط ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّأُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَط إِنَّهُ عَلِيْمٌ  بِذَاتِ الصُّدُوْرِ_الزمر: 7.

“Jika kalian kufur maka sesungguhnya Allah itu Maha Kaya dari kalian (tidak berkeperluan kepada kalian) dan Dia tidak ridla kekufuran itu untuk hamba-hambaNya; dan jika kalian bersyukur Dia akan meridlainya untuk kalian, padahal tiada memikul seorang pemikul itu akan beban orang lain; kemudian kepada Pemelihara kalianlah tempat kembali kalian, maka Dia akan kabarkan kepada kalian dengan (akan) apa-apa yang kalian kerjakan; sesungguhnya Dia itu amat mengetahui akan isi dada-dada.” ._S. Az-Zumar (39) : 7.

Sampai di sini terang pula kepada kita bahwa walaupun syukur itu merupakan kewajiban dan sebagai konsekuensi ucapan لا إله إلا الله tetapi ternyata dengan perbuatan/kewajiban itu pula sebenarnya orang justru mendapatkan kebaikan yang banyak, baik dalam urusan dunia maupun akhiratnya.

Konsekuensi VI ( Keenam )

Takut Kalau Sampai Terjerumus ke dalam Neraka dan Berusaha/Berlindung darinya

وَالَّذِيْنَ يَقُـوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْـرِفْ عَـنَّا عَذَابَ جَهَـنَّمَ إِنَّ عَذَابَـهَا كَانَ غَـرَامًا_الفرقان : 65.

“Dan orang-orang yang berkata: “Wahai Pemelihara kami ! Palingkanlah dari pada kami siksaan jahannam; sesungguhnya siksaannya itu adalah tetap/mencelakakan”._S. Al-Furqan (25) : 65.

Surat ini diturunkan di Makkah sebelum hijrah. Untuk bisa mengetahui makna ayat ini secara jelas kita harus membacanya setidak-tidaknya mulai dengan ayat 63, yakni:

وَعِبَادُ الرَّحْمنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الجَاهِلُوْنَ قَالُوْا سَلاَمًا (63) وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (64)

“Dan (yang disebut) hamba-hamba Ar-Rahman itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi ini (hidup) dalam keadaan tenang[98] dan apabila menengkari mereka itu orang-orang yang bodoh, mereka mengatakan: ‘Selamatlah (kami dari perbuatan seperti ini)’ [64] Dan orang-orang yang bermalam kepada Pemelihara mereka dalam keadaan bersujud dan berdiri [65]”.

Maka kelengkapan arti ayat ini (ayat 65) adalah: Yang disebut hamba-hamba Ar-Rahman yang baik itu ialah orang-orang yang begini dan begini dan begini (seperti pada ayat 63-64) serta menyatakan begini (seperti pada ayat 65).

Sayyid Quthub menerangkan keadaan mereka itu dalam tafsirnya [99]:

Dalam waktu berdiri, sujud dan memperhatikannya mereka itu, penuhlah hati-hati mereka itu dengan taqwa dan takut dari adzab jahannam; maka mendoalah mereka seperti itu (ayat 65); padahal mereka itu tidak melihat jahannam! Tetapi mereka beriman kepada adanya dan mereka bayangkan gambarannya dari apa yang datang kepada mereka dalam Al-Qur`an Al-Karim dan atas lisan Rasulullah saw., dan ini adalah takut yang didapat sebagai buahnya iman, buah pembenaran. Mereka menghadap kepada Pemelihara mereka dengan khusyu` supaya Dia berkenan memalingkan adzab jahannam dari mereka.

Tidaklah cukup menenangkan mereka bahwa mereka bermalam dalam keadaan bersujud dan berdiri kepada Pemelihara mereka. Maka karena taqwa, mereka menganggap kecil (sedikit) amalan serta ibadah mereka dan tidak menganggap bahwa dengan amalan yang sudah mereka lakukan itu saja mereka dalam keadaan terjaga serta aman dari neraka; tidak ada penjagaan dan keamanan dari neraka itu apabila mereka tidak mendapat karunia Allah dan perkenanNya, maaf serta belas kasihNya; inilah yang memalingkan adzab jahannam dari mereka. Demikian Sayyid Quthub.

Bahwa hamba-hamba Allah yang terpilih itu selalu takut kepada adzab Pemelihara mereka -yakni neraka- itu sebagaimana tersebut pada ayat lain:

وَالَّذِيْنَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُوْنَ_المعارج : 27.

“Dan orang-orang yang mereka itu dari adzab Pemelihara mereka- dalam keadaan takut” ._S. Al-Ma`arij (70) : 27.

Dan dalam kelanjutan ayat ini pula kita dapatkan bahwa ketakutan atau kekhawatiran mereka ini adalah mempunyai alasan yang kuat, yakni lantaran adzab Allah itu tidak dapat diamankan atau dihindarkan begitu saja. Bahkan Allah menegaskan bahwa setiap orang mesti melaluinya, melainkan orang-orang yang taqwa saja yang kemudian Allah selamatkan:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَاج كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا * ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا *_مريم : 71- 72.

“Dan tidak adalah dari kalian itu kecuali (mesti) sampai kepadanya; adalah (yang demikian itu) atas Pemeliharamu (merupakan) keharusan yang ditetapkan * Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan Kami biarkan orang-orang yang dhalim itu berlutut padanya * ” ._S. Maryam (19) : 71-72.

Ketakutan dan kekhawatiran ini selain menjadikan orang berdoa untuk berlindung dari padanya -sebagaimana tersebut pada banyak ayat lainnya- sudah barang tentu menimbulkan bekas dengan menjauhnya orang dari kelakuan-kelakuan yang akan menyebabkan (di)masuk(kan) ke neraka.

Karena dengan mengucapkan kalimat: لا اله إلا الله  itu orang memasukkan diri dalam golongan hamba-hamba Allah yang terpilih -yakni beriman- dan karena hamba-hamba Allah yang pilihan itu tidak boleh tidak mesti khawatir dari siksa neraka dan berlindung dari padanya, maka teranglah bahwa orang yang sudah mengucapkan لا اله إلا الله  itu secara konsekuen harus takut dari padanya dengan sungguh-sungguh, yang ketakutan itu menumbuhkan bekas yang nyata pada ucapan/doa dan kelakuannya. Wallaahu a`lam.

Konsekuensi VII ( Ketujuh )

Ikhlas dalam Beramal dan Karenanya Hanya Mempunyai Satu Tali Hubungan

Untuk tidak terjadi salah paham, terlebih dahulu perlu diketahui bahwa ikhlas itu artinya murni atau bersih [100]. Adapun makna ikhlas atau murni dalam pembahasan berikut ini adalah: murni dalam niatan karena Allah semata; atau murni dalam perbuatan/ibadah, hanya yang ada tuntunannya saja, yang pertama itu lebih sering.

وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوِنِ_الذاريات: 56

“Dan tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku” ._S. Adz-Dzariyat : 56.

Surat ini diturunkan di Makkah [101]. Menurut Ali ra. makna ayat ini adalah: “Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali (disertai dengan) Aku perintahkan untuk beribadah [102]. Adapun alasannya adalah: kalimat  وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إلهً وَاحِدًا , bagian dari ayat:

إِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالمَسِيْحَ ابنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلهًا وَاحِدًا لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَج سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ_التوبة: 31.

“Mereka mengambil ahbar-ahbar (ulama Yahudi)  dan ruhban-ruhban (ahli ibadah Nashara) mereka sebagai sesembahan dari selain Allah dan (mengambil sebagai sesembahan pula akan) Al-Masih Ibnu Maryam; padahal tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan Yang Satu (yang) tidak ada Tuhan selain Dia; Maha suci Dia dari apa yang mereka sekutukan” ._S. At-Taubah (9) : 31.

Dalam masalah yang dibicarakan ini ada pula ayat yang semakna:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَج وَذَلِكَ دِيْنُ القَيِّمَةِ_البينة : 5.

“Dan (padahal) tidaklah mereka itu diperintahkan kecuali untuk mengabdi kepada Allah dalam keadaan memurnikan untukNya akan agama ini, dalam keadaan condong dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat; dan (yang demikian) itu (adalah) agama yang lurus” ._S. Al-Bayyinah (98) : 5.

Dari pengertian Surat Adz-Dzariyat : 56 seperti itu (menurut Ali ra.) bisa diketahui bahwa jin dan manusia itu mempunyai kewajiban menyembah Allah, mengabdi kepada Allah. Bentuk dan cara penyembahan itu haruslah bersih dari cara yang tidak diperintahkan, dan bersih pula pelakunya itu dari kelakuan menyembah/mengabdi kepada selain Allah. Mencampurkan penyembahan/pengabdian kepada Allah dengan penyembahan /pengabdian kepada selain Allah adalah merupakan perbuatan syirik. Hal ini dapat kita ketahui antara lain dari ayat 31 Surat At-Taubah : سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ .

Demikian pula dari Surat Al-Bayyinah : 5.مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن   -memurnikan untukNya akan agama ini- menunjukkan keharusan memurnikan penyembahan (pelaksanaan agama) itu hanya untuk Allah semata-mata, yakni tidak tercampur dengan niatan untuk selain Allah atau karena selain Allah. Dengan demikian segala macam perbuatan yang diperintahkan atau yang merupakan kebaikan dalam agama ini hanyalah diperbuat karena Allah semata. Maka shalatlah orang karena Allah; membayar zakatlah orang karena Allah (lihat Surat Al-Bayyinah ayat 5); memuliakan tetanggalah orang karena Allah; menghormati orang yang lebih tua karena Allah dan segala perbuatan yang lainnya lagi karena Allah semata-mata; pendeknya seluruh hidup dan matinya itu diperuntukkan mengabdi kepada Allah, karena Allah.

Maka perbuatan-perbuatan yang bersangkutan dengan lain orang pun hakikatnya merupakan pelaksanaan atau terikat hubungannya dengan Allah, yang demikian ini berarti bahwa orang hanya mempunyai satu tali; tali dari Allah yang terjulur kepada manusia. Dengan adanya satu tali ini maka semua persoalan sama sekali tergantung atau ditentukan berdasarkan kepadanya.

Adapun pendirian sebagian manusia bahwa orang harus mempunyai dua tali; tali (hubungan) vertikal dan tali (hubungan) horizontal, yakni hubungan kepada Allah dan sesama manusia, adalah pendirian yang tidak tepat untuk muslimin. Kekeliruan ini terjadi karena keliru menempatkan ayat :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَمَا ثُقِفُوْا إِلاَّ بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَآؤُوْا بِغَضَبٍ مِنَ اللهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ المَسْكَنَةُط ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُوْنَ الأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّط ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ_ال عمران : 112.

“Ditimpakan atas mereka itu kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali dengan tali dari Allah dan tali dari manusia; dan kembalilah mereka itu dengan kemurkaan dari Allah dan ditimpakan atas mereka itu kehinaan; yang demikian itu dengan sebab bahwasanya adalah mereka itu kufur kepada ayat-ayat Allah dan mereka membunuh Nabi-nabi dengan tanpa haq; yang demikian itu dengan sebab mereka durhaka dan adalah mereka itu melewati batas” ._S. Ali Imran (3) : 112.

Ayat ini dengan jelas kelihatan bahwa pada asalnya yang ditunjuk adalah: pembunuh nabi-nabi yakni Yahudi. Dalam kitab-kitab tafsir terdahulu maupun tafsir yang baru pun tidak kita dapatkan kelayakan ayat ini untuk muslimin ! [103].

Dari perkataan Ibnu Zaid misalnya kita dapatkan:

وَاليَهُوْدُ لاَ يَأْمَنُوْنَ فِى أَرْضٍ مِنْ أَرْضِ اللهِ إِلاَّ بِهَذَا الحَبْلِ الَّذِى قَالَ اللهُ عَزَّ  وَجَلَّ 

“Dan orang Yahudi itu tidak aman (berada) di satu tanah dari bumi Allah kecuali dengan tali ini, yang Allah `Azza wa Jalla firmankan [104].

Di sini tegas dinyatakan bahwa kehinaan “itu” khusus untuk orang Yahudi. Apalagi kalau kita lihat tafsir yang dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabariy.

“Ditimpakan atas mereka itu kehinaan di mana saja mereka berada, akan tetapi mereka itu berada (dalam keadaan) berpegang dengan tali dari Allah dan tali dari manusia……………. [105].

Dan dalam bagian lain dikatakan pula: 55

“…karena sesungguhnya mereka itu di mana saja mereka berada, dengan tali dari Allah dan tali dari manusia atau tanpa tali dari Allah dan tanpa tali dari manusia, maka kehinaan itu tetap saja ditimpakan atas mereka…”.

Dengan demikian jelas tidak ada alasan sedikitpun untuk mengkaitkan muslimin dengan keharusan memakai dua tali sebagaimana dilakukan oleh sebagian manusia.

Apabilaحَبْلٌُ مِنَ اللهِ   diartikan عَهْدٌ مِنَ اللهِ  dan حَبْلٌُ مِنَ النَّاسِ diartikan عَهْدٌ مِنَ النَّاسِ seperti dikatakan oleh: Hasan, Qatadah, Ikrimah, As-Sadie, Ibnu Abbas, Mujahid, dan lainnya [106], maka orang yang beriman tidak mempunyai keharusan atas diri mereka UNTUK MEMILIKI ikatan dengan manusia apabila tidak berdasar ketentuan agama (عَهْدٌ مِنَ اللهِ). Jadi atas muslimin hanya ada satu tali itu saja (حَبْلٌُ مِنَ اللهِ). Karena hubungan antar manusia itu tidak dimasukkan dalam hitungan (yang pokok), dan segala amalan itu hanya dilakukan dalam hubungan dengan Allah (yakni untuk memperbaikinya), maka hubungan yang menyangkut orang lain itupun termasuk dalam “amal shaleh” -menurut ta`rif Ibnu Abbas-. Di sinilah kedudukan ikhlas (niatan yang murni dalam beramal), sebagaimana sabda Rasulullah saw.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى الدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ_خ : ج1 ص2 ك بدأ الوحي ب1 ح1.

“Sesungguhnya hanyalah (sahnya) amal-amal itu dengan niatan dan sesungguhnya hanyalah bagi tiap-tiap orang itu apa yang dia niat(kan); maka barangsiapa yang adalah hijrahnya itu kepada dunia yang dia (akan) mendapatkannya atau kepada perempuan yang dia (akan) menikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia berhijrah kepadanya. Riwayat Bukhari.

Karena kalimat لا اله إلا الله merupakan permulaan jalan keselamatan dan kemuliaan, maka -tidak boleh tidak- diterimanya amalan oleh Allah yang merupakan sebab kemuliaan itu menjadi satu konsekuensinya. Dan ini hanya bisa terjadi bila orang beramal dengan ikhlas.

Konsekuensi VIII ( Kedelapan )

Meng-Esa-kan Allah dan Tidak Berfirqah

Meng-Esakan Allah adalah pengertian dari Tauhid. Kalimat  : لا إله إلا الله  sendiri adalah kalimat Tauhid, yang dengannya itu diakui/diikrarkan adanya satu Tuhan saja. Yang dimaksud dengan Tauhid (atau kalimat لا إله إلا الله ) itu merupakan satu konsekuensi, ialah: bahwa pengakuan tentang adanya Allah dan pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta -itu saja- tidak cukup menjadi jaminan sebagai suatu pelepasan diri dari syirik.Yang dimaksud di sini dengan: Tauhid itu merupakan satu konsekuensi. Juga dari kalimat لا إله إلا الله  itu ialah: bahwa pengakuan tentang adanya Allah dan pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta -itu saja- tidak cukup merupakan jaminan sebagai suatu pelepasan diri dari syirik. Hal ini dapat kita ungkap misalnya dari:

وَلإَِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّموَاتِ وَالأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللهُط فَأَنَّى يُؤْفَكُوْنَ_العنكبوت: 61.

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapa yang telah menciptakan langit-langit dan bumi ini dan (yang) memerintah matahari dan bulan, niscaya mereka mengatakan benar-benar “Allah !”. Maka bagaimana mereka itu dipalingkan ?!” ._S. Al-Ankabut (29) : 61.

Ayat-ayat yang serupa dan semakna dengannya kita dapatkan juga pada:

  • Surat Luqman  : 25
  • Surat Az-Zumar : 38 dan
  • Surat Az-Zuhruf : 9.

Dalam ayat-ayat yang diturunkan di Makkah itu diterangkan oleh Allah bagaimana pengakuan orang-orang musyrik bahwa Allah itu adalah Pencipta segala yang ada ini, tetapi bersamaan dengan pengakuan itu pula mereka menyembah selain Allah besertaNya.

Di sini ternyata bahwa: pengakuan terhadap Allah sebagai Maha pencipta itu saja tidak merupakan jaminan bahwa seseorang itu lepas dari kelakuan syirik. Menyembah kepada selain Allah menunjukkan bahwa orang tidak mempunyai “Tauhid Uluhiyyah”, mengakui adanya “pemelihara” selain Allah berarti tidak ber ”Tauhid Rububiyyah”.

Adapun orang yang mengaku sebagai atheis sudah barang tentu di luar pembicaraan lantaran lebih besar lagi kekufuran dan syiriknya daripada orang yang masih mengakui Allah sebagai Maha Pencipta.

Di samping dua golongan manusia ini ada pula yang menyembah kepada Allah -dan tidak menyembah patung-patung sebagaimana orang kafir Makkah- tetapi tergolong orang yang melakukan syirik pula, sebagaimana firman Allah:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاط فِطْرَتَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاط لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِط ذَلِكَ الدِّيْنُ القَيِّمُط وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ * مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ * مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًاط كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ_الروم :30-31.

“Maka hadapkan (tegakkan)lah dirimu kepada aturan ini (Al-Islam) dalam keadaan condong; (kepada) fitrah Allah yang Dia telah menjadikan manusia di atasnya; tidak ada pengganti untuk ciptaan Allah (=agama) ini; yang demikian itu adalah agama (=aturan) yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dalam keadaan kembali kepadaNya, dan taqwalah kepadaNya dan tegakkanlah shalat dan janganlah kalian menjadi dari (golongan) orang-orang Musyrik. (Ialah) dari (golongan) orang-orang yang memecah agama mereka dan jadilah mereka bergolong-golongan, (yang) tiap-tiap puak itu merasa senang / bangga dengan apa yang di sisi (=ada pada) mereka” ._S. Ar-Ruum (30) : 30-32.

Ayat yang tergolong Makiyyah ini menunjukkan harusnya orang condong kepada aturan ini (Al-Islam) dan tidak berpaling atau cenderung kepada selainnya. Hal ini sudah ditanamkan walaupun (atau justru karena) keadaan muslimin masih lemah, dipandang dari segi jumlah atau hitungan dhahir lainnya. Inilah bentuk kefanatikan dalam Al-Islam yang tidak mengenal tolerans; dalam arti tidak ada ayat atau hadits yang akan memalingkannya dari sana.

Khitab (panggilan) pada permulaan ayat 30 ini benar bunyinya khusus kepada Rasulullah saw., tetapi ulama telah paham bahwa isi ayat itu umum untuk semua manusia; hal ini lebih jelas lagi dari bentuk kalimat jama` di belakangnya:

مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ (31)

Kemudian dari ayat ini pula kita ketahui bahwa aturan (agama) Allah Al-Islam ini adalah aturan fitrah dari Allah, dan bahwa setiap manusia itu pada asalnya sesuai dengannya, serta ada padanya. Tidak ada aturan yang bisa jadi pengganti aturan Allah ini dalam arti sebagai aturan yang menyelamatkan manusia baik di dunia maupun akhrirat. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa inilah ajaran agama yang lurus.

Memang ada riwayat tentang makna “fitrah” yang berbeda dengannya, tetapi riwayat itu tidak menghapuskan pemakaian makna fitrah Allah itu pada dienul Islam.

عَنْ يَزِيْدَ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ: مَرَّ عُمَرُ بِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَقَالَ: قَوَّامُ هَذِهِ الأُمَّة ؟ فَقَالَ مُعَاذٌ: ثَلاَثٌ وَهُنَّ المُنْجِيَاتُ, الإِخْلاَصُ وَهُوَ الفِطْرَةُ فِطْرَةَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا وَالصَّلاَةُ وَهِيَ المِلَّةُ وَالطَّاعَةُ وَهِيَ العِصْمَةُ, فَقَالَ عُمَرُ: صَدَقْتَ_رواه ابن جرير [107].

“Dari Yazid bin Abi Maryam, berkata: ‘Lewat (datang) Umar pada Mu`adz bin Jabal lalu berkata: ‘Apa penegak umat ini?’ Berkata Mu`adz: ‘Tiga, dan semuanya itu menyelamatkan; (pertama) ikhlas dan dia itu adalah fitrah itu, (yakni) fitrah Allah yang Dia menjadikan manusia ini di atasnya, dan (kedua) shalat dan dia ini adalah millah (agama) ini dan (ketiga) tha`at dan dia itu adalah penjagaan/kekuatan!’ Maka berkata Umar: ‘Benar kau !’ ”.Riwayat Ibnu Jarier.

Ayat berikutnya (31) menunjukkan keharusan keadaan tegak pada agama itu dengan kembali -bertaubat- kepada Allah, kemudian berhati-hati (taqwa) kepada Allah dan menegakkan shalat dan larangan syirik.

Kalimat “jangan kalian menjadi dari golongan orang-orang musyrik” dalam kalimat begini ini bisa mempunyai arti:

  • Jadilah orang yang condong kepada Allah dan bertaubat kepadaNya, taqwa dan menegakkan shalat, dan jangan menjadi orang yang tidak berbuat begitu karena mereka yang tidak memperbuat itu adalah orang musyrik.
  • Jadilah orang yang condong kepada Allah, bertaubat kepadaNya, taqwa, menegakkan shalat, dan jangan menyertai semua itu dengan kesyirikan.

Dalam hal pertama, yang itu termasuk kelakuan syirik adalah melalaikan kewajiban-kewajiban, menerjang larangan-larangan dan menyalahi agama yang manusia diseru kepadanya [108]. Dalam hal yang kedua, maka menunjukkan bahwa ibadah itu tidak bermanfaat kecuali bila disertai ikhlas, sebagaimana dipilih oleh Qurthubiy untuk tafsirnya [109].

Dengan penafsiran yang seperti ini jelaslah bahwa di kalangan orang yang mengaku menjalani agama ini saja masih mungkin terdapat orang yang tergolong musyrik. Hal ini lebih jelas lagi dengan rangkaian ayat berikutnya:

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا

Ada yang memahami ayat ini dengan: “Orang-orang yang menukar agama mereka, lalu mereka memisah(kan diri) dan jadilah tergolong-golong sebagaimana orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara [110], mengubah ajaran-ajarannya dan beriman kepada sebagian serta kufur kepada sebagian ajarannya [111]. Pendapat ini berdasar penafsiran yang bersandar kepada keterangan Ali ra. yang mengartikannya dengan: “Meninggalkan agama mereka yang (se)harus(nya) diikuti”, lantaran pada bacaan beliau ayat ini berbunyi bunyinya: فَارَقُوْا دِيْنَهُمْ [112].

Adapun pengertian yang terpilih -sebagaimana juga yang dipilih oleh Asy-Syaukaniy- adalah:

“Orang-orang yang berpecah-belah dalam agama, menggolong sebagian atas sebagian lainnya dari kalangan ahli bid`ah dan ahli hawa nafsu [113].

Takwil yang demikian ini amat kuat dikarenakan oleh beberapa faktor, di antaranya karena hujjah dan banyaknya shahabat yang menyampaikannya. Abu Hurairah, `Aisyah dan Abu Umamah misalnya mentakwilkan ayat ini untuk ahli kiblat dari kalangan ahli hawa nafsu dan ahli bid`ah [114], dan sebangsanya.

Adapun kalimat  كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ sudah barang tentu mengikuti kalimat di depannya menurut penafsiran yang telah dikemukakan itu, yakni seperti dikatakan oleh Ibnu Zaid:

“Tiap puak/pecahan dari orang yang memisahi agama mereka yang haq itu, yang mengada-adakan bid`ah itu, merasa senang dengan madzhab mereka dan menyangka bahwa kebenaran itu ada pada mereka”. [115]

Dengan demikian amat jauhlah kesesatan mereka itu dan tidak maulah mereka berhenti dari kesesatan itu, lantaran kesenangan yang mereka peroleh. Demikianlah misalnya orang yang berbuat maksiat senang dengan kemaksiatan itu, perampok senang dengan hasil rampokannya dan sebagainya [116].

Tadi diterangkan bahwa takwil ayat ini untuk kalangan orang-orang yang mengaku Islam didukung oleh hujjah (dalil/bukti). Hujjah itu di antaranya:

إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَيْئٍج إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ_الأنعام : 159.

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan jadilah mereka bergolong-golong itu, bukanlah engkau (Nabi Muhammad saw.) dari kalangan mereka itu dalam sesuatu (pun); sesungguhnya tiada lain urusan mereka itu terserah kepada Allah, kemudian Dia akan kabarkan kepada mereka akan apa-apa yang mereka telah perbuat” ._S. Al-An`am (6) : 159.

Kalau kalimat الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا  ini hanya berlaku untuk orang-orang yang telah lepas dari dienullah sama sekali seperti Yahudi dan Nashara, tentunya tidak usah disebut kalimat  لَسْتَ مِنْهُمْ  pada ayat tersebut, lantaran sejak semula orang-orang Yahudi dan Nashara tidak pernah bai`at dan tidak menggolong kepada Nabi Muhammad saw. Teranglah bahwa kalimat الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا  itu berlakunya justru atas orang-orang ahli kiblat (=yang mengaku Islam), sebagaimana juga pada riwayat:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص م قَالَ لِعَائِشَةَ: إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا إِنَّمَا هُمْ أَصْحَابُ البِدَعِ وَأَصْحَابُ الأَهْوَاءِ وَأَصْحَابُ الضَّلاَلَةِ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ, يَاعَائِشَةُ إِنَّ لِكُلِّ صَاحِبِ ذَنْبٍ تَوْبَةٌ غَيْرَ أَصْحَابِ البِدَعِ وَأَصْحَابُ الأَهْوَاءِ لَيْسَ لَهُمْ تَوْبَةٌ وَأَنَا بَرِيْئٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مِنَّا بَرَاءٌ_رواه الحاكم و الترمذي وابن أبي حاتم وأبو الشيخ والطبراني والبيهقي فى شعب الإيمان [117] واللفظ له منقولة من تفسير القرطبي [118].

“Dari Umar bin Khattab ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda kepada `Aisyah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan jadilah mereka bergolong-golong itu, sesungguhnya tiada lain mereka itu adalah pengikut-pengikut bid`ah dan pengikut-pengikut hawa nafsu dan pengikut-pengikut kesesatan dari ummat ini ! Wahai `Aisyah ! Sesungguhnya bagi tiap-tiap orang yang berdosa itu ada taubat(nya), selain pengikut-pengikut bid`ah, dan pengikut-pengikut hawa nafsu, tidak ada pada mereka itu taubat ! Dan aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun dari kita (juga) berlepas diri !”. Riwayat Hakim, dan Turmudzie, dan Ibnu Abi Hatim dan Abu Asy-Syaih dan Thabrani dan Baihaqie dalam Syu`bil Iman dan lafadz ini dinukil dari Tafsir Al-Qurthubie

Pada hadits itu dengan jelas digunakan lafal الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ sebagaimana pada Surat Ar-Ruum: 32 dan Surat Al-An`am : 159 dan diterangkan pula siapa mereka itu.

Dengan keterangan tersebut, jelas sudah bahwa orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi bergolong-golongan (=berfirqah-firqah) termasuk dalam klasifikasi musyrik(ien). Padahal tidak mungkin seseorang akan mengalami atau memiliki iman dan syirik sekaligus pada saat yang sama. Maka  tidak  dapat  tidak  seseorang  yang  mengucapkan  kalimat:

لا إله إلا الله secara konsekuen haruslah menjauhi segala macam syirik dan inipun juga sekaligus berarti harus tidak berfirqah, tidak mengikuti pecahan-pecahan, partai atau golongan manapun kecuali apa yang disuruhkan oleh Allah dan Rasulullah saw.

Konsekuensi IX ( Kesembilan )

Tidak Memilih Sesuatu di luar Ketetapan Allah dan RasulNYa

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْط وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِيْنًا_الأحزاب : 65.

“Dan tidak ada (macamnya) bagi laki-laki beriman dan tidak pula bagi perempuan beriman itu apabila telah menetapkan Allah dan RasulNya itu akan satu perkara bahwasanya akan ada buat mereka itu sesuatu pilihan lagi dari perkara mereka; dan barangsiapa mendurhakai Allah dan (mendurhakai) RasulNya maka sungguh telah sesat dia akan kesesatan yang terang !” ._S. Al-Ahzab (33) : 65.

Tidak ada selisih bahwa ayat ini dan bahkan surat ini sepenuhnya Madaniyah. Tentang sebab turunnya, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas [119], bahwa Rasulullah saw. melamar Zainab binti Jahsyin Al-Asadiyyah untuk Zaid bin Haritsah, Zainab menolak lantaran merasa tidak sekufu (=tidak sebanding); dia dari pihak yang terkemuka dari kaumnya sedang Zaid bekas budak Nabi saw. Demikian pula halnya Abdullah saudara Zainab tidak menyukai hal itu. Kemudian turun ayat ini dan keduanya lantas mau menerima pilihan serta ketetapan Rasulullah saw.

Menurut lain riwayat, ayat ini turun mengenai Ummi Kultsum binti `Uqbah bin Abi Mu`ied [120] yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah saw. [121]; beliau menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah setelah bercerai dengan Zainab dan dia serta saudara laki-lakinya merasa tidak senang karenanya, sebab yang dimaksud adalah diri Nabi saw.

Setelah turun ayat ini ridlalah mereka berdua. Ada pula riwayat yang lain lagi tentang sebab turun ayat ini [122], tetapi masih juga soal perjodohan yakni antara seorang gadis Anshar dengan Julaibib.

Walaupun begitu pengertian ayat ini bukan hanya terbatas pada masalah perjodohan saja, melainkan umum untuk segala perkara. Jadi maksudnya seseorang yang mengaku beriman itu tidak boleh memilih-milih yang lain lagi dalam segala urusannya manakala Allah atau RasulNya telah menetapkan sesuatu perkara untuknya, menetapkan sesuatu perkara atasnya. Bahwa mentaati dalam segala hal ini wajib atasnya, itu ditegaskan lagi pada akhir ayat itu dengan kalimat:

Yakni, bahwa walaupun penentangan kepada Rasulullah saw. itu dalam urusan penetapan perjodohan sekalipun, tetapi tetaplah penentangan itu tersesat dengan kesesatan yang terang.

 Dengan demikian teranglah bahwa orang beriman laki-laki maupun perempuan itu tidak mempunyai kemauan lagi kepada sesuatu yang di luar ketetapan Allah dan RasulNya. Sebab tidak halal sudah buat mereka memilih sesuatu menurut kemauan sendiri setelah ditetapkan hal itu oleh Allah dan RasulNya.

Yang demikian ini meliputi segala urusan. Dalam hal bunyi asal ayat ini, khususnya sebenarnya untuk hal-hal di luar hukum/syari`at. Sebab soal seseorang harus menikah dengan seseorang lainnya, sebenarnya urusan pilihan dan kemauan pribadinya tidak diatur syari`at, yang diatur dan diikat hanya bahwa laki-laki dan perempuan itu masing-masing memenuhi syarat-syarat tertentu dan tidak dalam kedudukan atau situasi terlarang.

Walaupun begitu apabila dalam hal yang manusia diberi “kebebasan” itu ada ketetapan dari Allah atau RasulNya, maka sifat mengikat itu tetap ada dan berlaku. Kekhususan ayat ini berubah menjadi umum karena beberapa hal, di antaranya:

  • Pengertian ayat tidak hanya berlaku untuk sebab turunnya saja melainkan menurut umumnya lafal.
  • Kalau untuk sesuatu yang menyangkut “urusan dunia” yang orang diberi kebebasan saja ada ikatan, lebih-lebih lagi yang bersangkutan dengan syari`at sudah barang tentu tidak mungkin tidak terikat.
  • Adanya ayat-ayat lain yang menunjukkan dengan tegas bahwa dalam soal syari`at orang beriman tentu dan harus terikat kepada ketetapan Allah dan RasulNya (khusus tentang ini akan dibicarakan pada konsekuensi X (kesepuluh), insyaallah).

Jelaslah sudah bahwa haram bagi orang beriman memilih sesuatu di luar ketetapan Allah dan RasulNya. Barangkali akan dirasa musykil untuk mengamalkan ayat ini pada masa sekarang:

Apakah masih ada masalah yang akan diputuskan Allah dan RasulNya sekarang? Adapun Allah, maka wahyu sudah lama terputus. Adapun RasulNya maka sudah lama wafat. Kalau apa yang sudah ditetapkan Allah dan Rasulnya, maka bisa didapat dalam Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah saw., dan ini berarti sudah menjadi syari`at bagi muslimin; tidak berlaku khusus untuk pribadi-pribadi tertentu. Untuk ini berlakulah pengambilan istimbath, bahwa ketaatan itu berlaku kepada Allah, RasulNya, dan ulil amri dari kalangan mu`minin. Maka terhadap pribadi-pribadi muslim sekarang manakala ulil amrinya sudah menetapkan sesuatu perkara berdasarkan ayat Al-Qur`an atau hadits yang bisa dijadikan hujjah, wajiblah baginya untuk mentaati ketetapan tersebut dan tidak memilih sesuatu di luarnya. Wallaahu a`lam.

Konsekuensi X ( Kesepuluh )

Berhukum/Menghukum dengan Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya serta Ridla Kepada Hukum Itu

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَط فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْط وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُوْنَ_المائدة : 49.

“Dan bahwa hukumilah di antara mereka itu dengan apa yang Allah turunkan dan jangan kamu ikuti hawa-nafsu mereka; dan waspadalah terhadap mereka kalau-kalau mereka akan menfitnahmu dari (sebagian) apa yang Allah turunkan kepadamu ! Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah bermaksud akan menyiksa mereka itu dengan sebab sebagian dosa mereka! Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia ini sungguh fasiq-fasiq” ._S. Al-Ma`idah (5) : 49.

Ayat ini dan bahkan surat ini sepenuhnya Madaniyah. Tentang sebab turun ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarier, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi dalam “Dalaa`il” [123] dari Ibnu Abbas, berkata: berkata Ka`ab bin Asad, Ibnu Suraya, dan Syas bin Qais sebagian mereka kepada sebagian lainnya: “Mari kita pergi kepada Muhammad saw., barangkali kita dapat menggelincirkannya dari agamanya! Maka mereka mendatangi beliau lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau sudah mengerti bahwasanya kami ini adalah ahbar Yahudi dan pemuka-pemuka serta ketua-ketua mereka. Dan bahwasanya kami ini, kalau kami mengikuti engkau niscaya orang-orang Yahudi itu mengikuti kamu dan mereka menyalahi kami. Dan sesungguhnya antara kami dengan kaum kami terjadi pertengkaran, maka kami menghukumkan mereka itu kepadamu supaya engkau menetapkan untuk kami atas (mengalahkan) mereka dan (sebagai imbalannya) kami akan beriman kepadamu dan kami membenarkan engkau. Maka engganlah Rasulullah saw. lalu menurunkanlah Allah di tentang mereka itu:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَائَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَط فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْط وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُوْنَ (49) أَفَحُكْمَ الجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَط وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ (50)

Adapun isi dan maksud ayat ini pada asalnya adalah:

  1. Perintah dalam ayat ini asalnya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, dan ini sebagaimana kita sudah pahami jadinya berlaku pula atas sekalian ummatnya, karena tidak adanya sesuatu yang akan membatasi atau mengkhususkannya.
  2. Kalimat هُمْ (=mereka) dalam ayat ini pada asalnya adalah orang-orang Yahudi, sebagaimana juga kita ketahui dari sebab turun ayat ini. Kemudian berlakunya ayat ini tidak lagi hanya pada mereka, namun siapa saja yang dihukumi atasnya itu oleh hakim yang beriman.

Adapun sebabnya ayat ini berlaku umum dapat diterangkan dengan pemahaman sebagai berikut:

  • Pemahaman dan mengamalan ayat itu tidak harus terikat dengan sebab turunnya, melainkan dengan keumuman yang ditunjukkan oleh lafalnya;
  • Apabila atas orang non Islam (dalam hal ini Yahudi) saja harus dilakukan penghukuman dengan hukum Allah, apalagi apabila yang dihukumi itu orang Islam, orang yang sudah menyatakan ketundukan dan penyerahannya kepada Allah. Sudah barang tentu lebih patut lagi kalau hukum Allah itu dijalankan atas orang yang mau tunduk kepadaNya. Orang yang mau tunduk kepadaNya, maka tidak dapat dipungkiri berlaku umumnya ayat ini atas semua orang.
  • Yang dimaksud dengan “barang yang Allah turunkan” -yang harus digunakan untuk menghukumi- dalam ayat ini adalah Al-Qur`an. Hujjahnya adalah:
    • Pada kelanjutan kalimat dalam rangkaian ayat ini disebutkan: مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ yang dengan tegas menunjukkan Nabi saw. sebagai penerima wahyu, padahal yang diturunkan kepada beliau adalah Al-Qur`an, bukan Taurat atau lainnya.
    • Nabi Muhammad saw. dan ummat beliau tidak ada keterikatan hukum dengan kitab-kitab yang terdahulu.
  • Kalimat fitnah (di sini dalam bentuk يَفْتِنُوْكَ) dalam ayat ini maksudnya: menghalangi, mengembalikan atau menggelincirkan dari al-haq [124].
  • Fasiq, maksudnya keluar dari ketaatan atau menyalahi yang haq.
  • Dalam praktek/pelaksanaan, kalimat بَعْض ini seolah-olah tidak terpakai. Sebab apabila menghadapi satu persoalan toh yang dipakai juga tidak semua ayat; sehingga andai kata terjadi ketergelinciran -naudzu billahi min syarri dzaalik- pun juga pada “sebagian” ayat yang diturunkan, tidak semua. Jadi tergelincir pada “sebagian” ayat yang diturunkan ini berarti tergelincir pada (semua) ayat yang digunakan untuk menghukumi. Demikian sebaliknya. Maka dikatakan bahwa kalimat بَعْض dalam ayat ini berarti كل (=semua).

Sekarang jelaslah bahwa maksud ayat itu adalah: Nabi Muhammad saw. dan ummat beliau ini harus menghukumi siapapun dengan Al-Qur`an dan tidak boleh mengikuti kemauan mereka yang menolak berhukum dengannya; beliau dan ummat beliau harus waspada jangan sampai digelincirkan dari Al-Qur`an oleh orang-orang yang menolak untuk berhukum dengannya;

  • Apabila mereka berpaling daripada berhukum dengan Al-Qur`an, maka berarti mereka sudah menghalalkan jatuhnya siksaan atas diri mereka dengan sebab dosa mereka itu;
  • Kebanyakan manusia itu (suka) melanggar ketaatan, menyalahi yang haq.

Rasanya dalam ayat ini kita hanya membicarakan soal “menghukum atau menghukumi dengan Al-Qur`an”, dan belum soal “berhukum” dengannya. Jawabnya adalah: pertama, pengertian itu sebenarnya sudah tercakup pula pada ayat dimaksud; kedua, memang ada ayat lain yang tegas-tegas menunjuknya HAL ITU. Pengertian yang dimaksud adalah: Kalau ummat ini harus menghukumi dengan Al-Qur`an yang hukumnya DI DALAMNYA itu harus berlaku atas muslimin, lantas bagaimana muslimin tidak harus berhukum dengannya ?

Adapun ayat lain yang menyebutkan dengan tegas dan jelas dengan lafalnya adalah:

 أَفَحُكْمَ الجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَط وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ

“Adakah maka akan hukum jahiliyah itu yang mereka kehendaki ? Lantas siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi (pada MENURUT pandangan) orang-orang yang yakin ?

Sebagaimana sudah dituliskan pada sabab nuzul, ayat ini turun sekaligus dan merupakan rangkaian dari ayat sebelumnya. Adapun hukum jahiliyah itu adalah hukum yang berdasarkan atas pikiran, perasaan, hawa nafsu, atau lainnya dan tidak berdasar wahyu (Al-Qur`an maupun sunnah RasulNya) [125].

Maka maksud ayat ini ialah Allah mencela orang yang bermaksud memilih dan mengikuti hukum yang selain hukum Allah itu. Dan bagi orang yang mempunyai keyakinan tidak ada yang lebih baik hukumnya selain hukum Allah. Dengan ini jelas pulalah bahwa kewajiban bagi orang beriman itu bukan hanya “menghukumi” dengan Al-Qur`an, melainkan juga “berhukum” kepadanya.

Ayat lain:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِى أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا_النساء : 49.

“Maka tidak sekali-kali (seperti pengakuan mereka)! Demi Pemeliharamu! Tidak beriman mereka itu sehingga mereka berhukum kepadamu di dalam perselisihan di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapatkan pada diri mereka itu kesempitan dari apa yang engkau tetapkan dan mereka benar-benar menyerah (pada hukum itu)” ._S. An-Nisa’ (5) : 65.

Menurut riwayat Ibnu Zubair pada Imam Enam[126], ayat ini turun pada sebab pertengkaran Zubair bin Awwam dengan seorang Anshar tentang pengairan kebun mereka. Rasulullah saw. menyuruh/menetapkan agar Zubair mengairi kebunnya yang kebetulan tempatnya di atas, kemudian melepaskan air ke kebun tetangganya. Mendengar putusan ini orang Anshar itu menuduh Rasulullah saw. berat sebelah dengan memenangkan Zubair, kerabat beliau. Maka turunlah ayat ini padanya.

Ada pula diriwayatkan sabab nuzul lainnya yang amat gharib, tentang riwayat dibunuhnya penentang Nabi saw. oleh Umar bin Khattab ra.[127].

Apabila kita telaah ayat ini akan terasa sekali bahwa ayat ini bertalian erat sekali dengan ayat sebelumnya, bahkan merupakan satu rangkaian dengan ayat 59 dan selanjutnya. Maka baik dari sebab turunnya maupun dari pertalian dengan ayat-ayat di depannya kita peroleh bahwa maksud ayat ini adalah: Allah bersumpah, menegaskan bahwa mereka itu tidak beriman sebelum memenuhi tiga perkara yang disebutkan padanya, yakni:

  • Berhukum kepada Rasulullah saw. dalam segala persoalan dan perselisihan mereka;
  • Tidak merasa keberatan terhadap keputusan apapun yang diambil dan tidak kecewa dalam hati;
  • Mau menyerah sepenuhnya dan menjalankan keputusan itu sebagaimana mestinya.

Sudah tidak ada masalah bahwa berhukum kepada Rasulullah saw. itu kini bisa dijalankan dengan sunnah beliau dan inipun sekaligus berarti juga menyertakan Al-Qur`an (!), karena dia itu tidak pernah terlepas darinya.

Apa yang sudah dihukumkan oleh Rasulullah saw. sudah barang tentu menjadi syari`at dalam agama ini. Maka berhukum dan menghukum dengan Al-Qur`an dan sunnah RasulNya ini sudah barang tentu berarti menegakkan Syari`at Islam, tidak selainnya. Karena untuk menegakkan hukum itu harus ada pelaksana dan penerimanya, maka setiap disampaikan seruan untuk berhukum dengan Al-Qur`an dan dengan sunnah Rasullullah saw. wajiblah setiap orang beriman memperkenankan dan memenuhinya, sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ المُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوْا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَاط وَأُلئِكَ هُمُ المُفْلِحُوْنَ_النور : 51.

“Sesungguhnya tiadalah lain keadaan perkataan orang-orang yang beriman itu apabila diseru mereka itu kepada Allah dan kepada RasulNya supaya (Rasul itu) menghukumi di antara mereka, bahwa mereka sama berkata: ‘Kami mendengarkan dan kami mentaati !’ Dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. _S. An-Nuur (24) : 51.

Dari ayat yang tergolong Madaniyah ini telah kita ketahui bahwa maksud “diseru kepada Allah dan kepada RasulNya” itu adalah: diseru untuk berhukum dengan/kepada Al-Qur`an dan sunnah RasulNya.

Dalam hal pelaksanaan di masa sekarang, di mana Rasulullah saw. sudah wafat, sudah barang tentu pelakunya bukan lagi beliau, tetapi dari kalangan ummatnya ini. Pada bacaan Ibnu Qa`qa`, ayat ini bunyinya [128]:

لِيُحْكَـمَ بَيْنَـهُمْ                    (supaya dihukumi di antara mereka)

yakni dengan tidak menyebut pelakunya (majhul).

Dari ayat-ayat tersebut (Surat Al-Ma`idah:49 – 50; Surat An-Nisa`:65, dan Surat An-Nuur:51) teranglah bahwa seseorang yang mengaku sebagai orang beriman -dengan mengucapkan لا اله إلا الله – tidak dapat lolos dan tidak pula DAPAT ingkar dari kewajiban berhukum/menghukum dengan Al-Qur`an dan sunnah RasulNya, serta ridla pula kepada hukum itu.


[1]   Shahih Bukhari, jz.2 hlm.89 ktb.Janaiz bb.1.

[2]   Asy-Syaukani, Fathul Qadier, jz.5 hlm.35.

[3]   Asbabun Nuzul, hlm.12.

[4]   Tafsir Thabary, jz.18 hlm.2 hamisy dan hlm.3.

[5]   Asbabun Nuzul, hlm.210

[6]   Tafsir Thabary, jz.18 hlm.3;           Tafsir Ibnu Katsir jz.3 hlm.238.

[7]   Dalil-dalil shalat.

[8]   Tafsir Thabari, jz.18 hlm.3.

[9]   Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.238.

[10]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.238.

[11]  Tafsir Thabari, jz.18 hlm.5.

[12]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.239.

[13]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.239.

[14]  Fathul Qadier, jz.3 hlm.474 brs.4 (dr bawah).

[15]  Asbabun Nuzul, hlm.210 brs.3 (dr atas).

[16]  Tafsir Ibnu Abbas hlm.3 brs.14 (dr bawah) dan hlm.113 brs.10 (dr bawah).

[17]  Tafsir Thabari, jz.4 hlm.19 brs.15 (dr bawah).

[18]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm.387 brs.6 (dr bawah).

[19]  Al-Mustadrak, jz.2 hlm.294 brs.14 (dr atas) & Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm.387.

[20]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm.387 brs.4 (dr bawah).

[21]  Tafsir Thabari, jz.4 hlm.20 brs.3-9; Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm.388.

[22]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm.388 brs.7&17 (atas).

[23]  Tafsir Thabari, jz.4 hlm.20.

[24]  Tafsir Thabari, jz.4 hlm.20 brs.11(bwh); jz.28 hlm.82.

     Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm.388brs.4 (atas); jz.4 hlm.377.

[25]  Tafsir Thabari, jld.6 jz.39 hlm.120 brs.3 (bawah).

[26]  Fathul Qadier, jz.2 hlm 285, Tafsir Ibnu Katsir, jz.2 hlm.285.

[27]  Tafsir Thabari, jld.6 jz.39 hlm.120 brs.18 (bwh); Tafsir Ibnu Katsir, jz.2 hlm.285.

[28]  Sebagai contoh lihat Surat Al-Baqarah (2): 54.

[29]    Lihat Surat Ali Imran: 173 & Surat Al-Kahfi: 13 dan Surat Maryam: 76 & Surat    Al-Ahzab: 22 dan Surat Muhammad: 17 dan Surat Al-Fath: 4 dan Surat Al-     Muddatstsir: 31.

[30]  Tafsir Qurthubi, jz.7 hlm.36 dan jz.4 hlm.280 brs.6 (atas).

[31]  Tafsir Asy-Syaukani, jz.2 hlm.285 brs.3 (bawah).

[32]  Tafsir Thabari, jz.10 hlm.70; Tafsir Qurthubi, jz.8 hlm.35 dan Tafsir Fathul Qadier, jz.2 hlm.347.

[33]  Tafsir Fathul Qadier, jz.2 hlm.347.

[34]  Tafsir Qurthubi, jz.8 hlm.95 dan Fathul Qadier, jz.2 hlm.346.

[35]  Tafsir Qurthubi, jz.8 hlm.95 dan Fathul Qadier, jz.2 hlm.346.

[36]  Shahih Bukhari, jz.1 hlm.10 ktb.iman bb.8-9.

[37]  Fathul Bari, jz.1 hlm.61.

[38]  Tafsir Fathul Qadier, jz.1 hlm.60.

[39]  Muhammad Rasyid Ridla, Tafsir Al-Mannar, jz.2 hlm.95.

[40]  Tafsir Al-Mannar, jz.4 hlm.95.

[41]  Buku ini lihat halaman 38 (Manfaat syukur yang keempat).

[42]  Tafsir Thabarie, jz.1 hlm.46; Fathul Qadier, jz.1 hlm.20; Tafsir Ibnu Katsir, jz.1 hlm.23.

[43]  Musnad Ahmad, jz.4 hlm.278; Tafsir Qurthubi, jz.20 hlm.102.

[44]  Aunul Ma`bud: jz.11 hlm.112 bb.16 hdt.4045.

Tafsir Qurthubi, jz.20 hlm102.

[45]  Sunan At-Turmudzi, jz.5 hlm.123 bb.54 hdt._

[46]  Tafsir Qurthubie, jz.9 hlm.343.

[47]  Tafsir Qurthubie, jz.9 hlm.343.

[48]  Mafhum mukhalafah dari

[49]  Tafsir Al-Mannar, jz.5 hlm.475.

[98]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.85.

[99] Fie Dzilaalil Qur`an, jz.19 hlm.57.

[100]  Munjid, hlm.191

[101]  Tafsir Qurthubiy, jz.17 hlm.29.

[102]  Tafsir Qurthubiy, jz.17 hlm.55.

[103]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.32.

[104]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.33.

[105]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.33.

[106]  Tafsir Thabariy, jz.4 hlm.32.

[107]  Tafsir Ath-Thabariy, jz.21 hlm.26

Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.433.

[108]  Lihat penafsiran dalam Tafsir Thabariy, jz.21 hlm.28.

[109]  Tafsir Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32.

[110]  Tafsir Ath-Thabariy, jz.21 hlm.28.

Fathul Qadier, jz.4 hlm.

[111]  Tafsir Ibnu Katsir, jz.3 hlm.433.

[112]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.225 dan kitab-kitab lainnya. 

[113]  Fathul Qadier, jz.4 hlm.225.

Tafsir Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32.

[114]  Tafsir Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32; jz.7 hlm. 149.

Al-Mannar, jz.8 hlm.

[115]  Tafsir Ath-Thabariy, jz.21 hlm.28.

[116]  Lihat pula keterangan Al-Qurthubiy, jz.14 hlm.32.

[117]                                                                                         تفسير المنّار, ج8 ص23.

[118]                                                                                  تفسير الفرطبي, ج7 ص 15.

[119]  Tafsir Thabariy, jz.22 hlm.9.                        Ibnu Katsir, jz.3 hlm.489

Tafsir Qurthubie, jz.14 hlm.186.                    Fathul Qadier, jz.4 hlm.283.

[120]  Tafsir Thabariy, jz.22 hlm.10. Selanjutnya seperti nomor 70 (footnote di atas).

[121]  Dia ini perempuan pertama yang hijrah sesudah Hudaibiyah: Lihat kembali: jz.3 hlm.489.

[122]  Ibnu Katsir, jz.3 hlm.489.

[123]  Tafsir Thabariy, jz.6 hlm.177.                      Ibnu Katsir, jz.2 hlm.

Tafsir Qurthubie, jz.6 hlm.213.                      Fathul Qadier, jz.2 hlm.45.

Tafsir Al-Mannar, jz.6 hlm.421.

[124]  Lihat tafsir-tafsir Ibnu Katsir, Fathul Qadir, dan Al-Mannar.

[125]  Pengertian ini dari Tafsir Qurthubi, jz. 5 hlm. 266.

[126]  Tafsir Al-Mannar, jz. 5 hlm.239;                                  Ibnu Katsir, jz. 1 hlm.520.

[127]  Tafsir Ibnu Katsir, jz. 1 hlm. 521.

[128]  Tafsir Qurthubiy, jz. 12 hlm. 235.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *