Materi yang Disampaikan KH. Mudzakir di Pertemuan Habaib dan Ulama Demi Persatuan Umat


بِسمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله رب العالمين , الصلاة و السلام على سيدنا و حبيبنا و قدوتنا محمد رسول الله وعلى أله الطاهرين أجمعين و من تبعهم من الصالحين إلى يوم القيامة أما بعد

Pendahuluan

Sebagaimana kita tahu, Allah menjadikan kita, setiap yang mengaku beriman ini sebagai saudara dan kita disuruh membaguskan hubungan persaudaraan ini sebagaimana:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةࣱ فَأَصۡلِحُوا۟ بَیۡنَ أَخَوَیۡكُمۡۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ (10) الحجرات (49)

  • Dalam rangkaian pelaksanaan perintah Allah tersebut, kita diingatkan juga:

وَأَطِیعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَـٰزَعُوا۟ فَتَفۡشَلُوا۟ وَتَذۡهَبَ رِیحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ (46) الأنفال (8)

  • Bahkan perselisihan (pertengkaran) sebenarnya merupakan keburukan/siksa.

قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰۤ أَن یَبۡعَثَ عَلَیۡكُمۡ عَذَابࣰا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ یَلۡبِسَكُمۡ شِیَعࣰا وَیُذِیقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ ٱنظُرۡ كَیۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّهُمۡ یَفۡقَهُونَ (65) الأنعام (6)

  • Oleh karena itu perpecahan merupakan larangan sangat keras dalam Al-Islam

وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِیعࣰا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ۚ وَٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَاۤءࣰ فَأَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَ ا⁠نࣰا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةࣲ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ یُبَیِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَایَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ (103) وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةࣱ یَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَیۡرِ وَیَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَیَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (104) وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخۡتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَاۤءَهُمُ ٱلۡبَیِّنَـٰتُۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِیمࣱ (105) ال عمران (3)

Demikian juga:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّینِ حَنِیفࣰاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِی فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَیۡهَاۚ لَا تَبۡدِیلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّینُ ٱلۡقَیِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ (30) ۞ مُنِیبِینَ إِلَیۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ (31) مِنَ ٱلَّذِینَ فَرَّقُوا۟ دِینَهُمۡ وَكَانُوا۟ شِیَعࣰاۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَیۡهِمۡ فَرِحُونَ (32) الروم (30)

  • Kalau kebanggaan terhadap golongan (suku, bangsa, ataupun lainya) berlebihan, sangat memungkinkan menjadi seperti para penyembah berhala, sebagaimana kaum ‘Aad (kaum Nabi Hud), teman nabi Yusuf dalam penjara dan kaum kafir Quraisy serta kaum Nabi Nuh:

قَالَ قَدۡ وَقَعَ عَلَیۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسࣱ وَغَضَبٌۖ أَتُجَـٰدِلُونَنِی فِیۤ أَسۡمَاۤءࣲ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَـٰنࣲۚ فَٱنتَظِرُوۤا۟ إِنِّی مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِینَ (71) الأعراف (7)

قَالَ قَدۡ وَقَعَ عَلَیۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسࣱ وَغَضَبٌۖ أَتُجَـٰدِلُونَنِی فِیۤ أَسۡمَاۤءࣲ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَـٰنࣲۚ فَٱنتَظِرُوۤا۟ إِنِّی مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِینَ (40) يوسف (12)

إِنۡ هِیَ إِلَّاۤ أَسۡمَاۤءࣱ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَـٰنٍۚ إِن یَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا تَهۡوَى ٱلۡأَنفُسُۖ وَلَقَدۡ جَاۤءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰۤ (23) النجم (53)

Catatan: tentang kaum Nabi Nuh beritanya di S. Nuh (71), khususnya ayat 23:

وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدࣰّا وَلَا سُوَاعࣰا وَلَا یَغُوثَ وَیَعُوقَ وَنَسۡرࣰا (23) نوح (71)

Perkara-perkara Pokok dalam Persoalan Muslimin (Indonesia) dewasa ini:

Muslimin sedang dalam keadaan “tidak baik-baik saja”: masyarakatnya dipecah belah, para Ulama dan Habaib dihujat, dilecehkan, bahkan diadu-dombakan, dijadikan saling membelakang dan saling serang.

Muslimin mengalami ketertinggalan dalam banyak bidang, antara lain dan tidak terbatas pada masalah ekonomi, social-politik, pendidikan, dan hak-hak Muslimin dalam bidang-bidang tersebut banyak direbut oleh orang kafir dari kalangan bangsa Indonesia atau asing.

Secara tidak disadari Muslimin tertipu oleh reka-daya orang-orang kafir, sehingga hanyut dan terbawa arus pergerakan gaya hidup dan budaya mereka.

Generasi muda Muslimin banyak terbawa arus budaya – “millah” – yahudi, Nashara dan kafir lainya lewat medsos atau pergaulan lainya, sehingga Aqidah dan Akhlaq semakin jauh dari Al-Islam (vide peringatan hari Natal, Valentine, cara bergaul, berpakaian dll).

 Apa yang disarankan untuk keluar dari keadaan tersebut

Muslimin (Ulama) harus bertindak untuk memperbaiki keadaan, setidak-tidaknya dengan menjadi contoh dan memberi peringatan, tidak boleh berdiam diri, apalagi justru dikendalikan oleh mereka yang bukan Ulama.

Dilakukan perbaikan dengan penggalangan Kesatuan Ummat yang dimulai dari Ulama, dengan memupuk Ukhuwwah Islamiyyah sebagaimana ajaran Al-Islam, jangan sampai dipalingkan atau dikalahkan oleh berbagai pseudo ukhuwwah (semu, tiruan) yang sering digaungkan, yang tidak ada perintah dalam Syari’at. Disamping mengajar, mendidik dan menyiarkan Al-Islam, Ulama menjadi pelopor perbaikan dalam sosial kemasyarakatan, jangan justru diarahkan / dikendalikan oleh mereka yang bukan ahli agama (bukan Ulama)

Jangan sampai ada ta’ashub kepada sesuatu (golongan, faham, partai atau lainya) yang mengalahkan atau menyebabkan terabaikanya Ukhuwwah Islamiyyah, sehingga menjadikannya “semacam nama berhala” yang memalingkan dari Al-Islam.

 Usulan tindak lanjut dan jalan keluar

Para Ulama (dan Habaib) mengadakan acara saling mengunjungi, dalam pertemuan non-formal, tidak dilembagakan, untuk memupuk Ukhuwwah Islamiyyah dengan menghidupkan As-Sunnah.

Mewujudkan dan menghidupkan budaya kerjasama dengan sesama muslimin, dalam segala bidang yang memungkinkan untuk itu (Pendidikan, Ekonomi dll).

Dalam masa-masa tertentu dilakukan pertemuan Bersama untuk memusyawarahkan berbagai keperluan Muslimin, dalam rangka mencari jalan keluar terbaik secara aturan Al-Islam.

(Yang paling penting) tetap berusaha meningkatkan segala kebaikan dalam bidang ibadah maupun mu’amalah, semakin mendekat dan mohon pertolongan Allah untuk mendapat ridlaNya, termasuk dalam perkara yang sedang kita jalani.

Pandaan, 08 Rajab 1445 H

                   20 Januari 2024 M

Abu Faqih Mudzakir

Materi ini beliau sampaikan dalam acara Pertemuan Habaib dan Ulama Demi Persatuan Umat.

Tinggalkan komentar