Melodi Gurun Sepi

Pagi belum tiba. Sedang malam baru akan meninggalkan peraduannya. Senyap masih berselimutkan gelap. Membuat kebanyakan insan terbuai dalam lelap. Kehidupan malam pun turut dibuatnya lenyap. Karenanya, masa itu menjelma kala yang luar biasa. Menyibak segala  tabir doa hamba pada Pemeliharanya.

Di tengah sunyi, lantunan merdu dari pengeras suara yang dibawa sang bayu memecah sepi. Menggema di alam hening. Menelusup di tiap lekuk desa. Menjarah tiap penjuru. Syahdu. Irama berlirik ayat-ayat suci itu mengalun. Berayun di telinga jiwa-jiwa yang sudah terbangun. Menari di alam dengar. Mengisi kisi-kisi ruang fajar. Jangan katakan suara itu tak merdu. Kecuali bila memang kau tunarungu. Tapi ia tak sedang bernyanyi. Namun mengeja kata-kata suci.

Hana, ia yang mengalunkannya. Nama panjangnya Hanajir. Melodi suaranya begitu mempesona. Membuat selaksa decak kagum tercipta. Apalagi bila telinga-telinga itu tahu bahwa Hana tak sedang membaca. Ia mengalunkannya hanya dengan meraba memori kata-kata suci yang tersimpan dalam kepalanya. Rangkaian kata yang terkumpul dalam 114 surat tertanam di sana. Ia mengalunkannya siang dan malam. Luar biasa. Kalimat yang tepat untuknya.

#     #     #

Seperti biasa. Hana menghabiskan waktu subuhnya  dengan membaca Al-Qur`an sampai ia melihat bulatnya sang surya. Kebiasaan Hana yang hampir tak pernah ia tinggalkan. Pahalanya sama dengan ibadah Haji, ujarnya saat suatu kali ia ditanya. Usai rutinitas paginya itu, ia mencoba menyapa hari dengan berjalan-jalan. Menapaki jalanan desa yang mulai ramai. Menyusuri sketsa-sketsa pagi yang baru dimulai. Hamparan sawah yang sudah dijarah oleh para petani. Deruman kendaraan yang mengisi ramai jalanan. Para bapak dengan jiwa ikhtiar yang melangkah menuju pencaharian. Anak-anak berseragam yang baru akan membuka jendela alam. Mengais ilmu dengan kobaran semangat yang menggebu. Menjelma panorama pagi di atas panggung kehidupan insani.

“’Ain, nggak sekolah kamu?” langkah Hana terputus. Lantunan ayat-ayat suci yang sejak tadi menemani langkahnya juga terhenti di samping ‘Ain yang sedang tak beraktivitas seperti lainnya. Pemuda itu hanya menaruhkan duduknya di atas kursi panjang di taman yang bersebelahan dengan perbatasan jalan. Sambil mengarahkan pandangnya pada tiap orang yang lewat, terutama bila yang lewat perempuan.

“Ini kan hari Jum’at. Sekolahku libur.”

“Truz kalo hari libur nggak ada aktivitas apa gitu, selain cuma duduk-duduk di sini.” Rupanya Hana tak begitu setuju dengan aktivitas ‘Ain kali ini.

“Aktivitas? Ya ini apa bukan aktivitas. Menikmati indahnya ciptaan Allah yang luar biasa indahnya. Kalo` pagi-pagi begini, ciptaan Allah yang indah-indah itu banyak yang lewat sini. Masih seger-seger lagi.” ‘Ain menjawab Hana tanpa melihatnya. Dan terus menoleh kanan kiri melihat orang-orang yang lewat.

“Tuh, tuh, subhanallah…..indahnya….” seorang perempuan tanpa kerudung baru saja lewat dengan sepedanya.

“’Ain, dengarkan sebentar.” Hana mengambil nafas agak dalam. Kalimat ta’awudz ia lantunkan dengan nada pembukaan yang mempesona. Rangkaian ayat 30 dan 31 dalam surat An-Nuur mengalun dengan anggun. Jernihnya suara, sempurnanya makhroj baca, membuat alunan ayat-ayat suci itu memanjakan telinga.

Qul lilmu`miniina yaghudldluu min abshoorihim…..

‘Ain tak bergeming. Hanya seulas senyum yang tersungging.

“Apa aku harus membuka majlis tafsir di pinggir jalan ini supaya kamu paham maksudnya?” Hana agak jengkel.

“Nggak, nggak usah. Aku tau maksudnya.”

“Lha truz kok masih di sini?”

“Halah, ngganggu aktivitas orang lain aja. Kalo kamu pergi kelihatannya duniaku pasti bakal damai banget.”

Hana hanya bisa geleng kepala.

#     #     #

“Hana, nggak ada kerjaan, kan?”

“hmm”

“Bantu aku bagi sayur untuk makan siang, ya!” Yadah datang dengan panci besar berisi sayur lodeh untuk temen-temen di asrama.

“Okelah.” Hana mulai memindahkan sayur lodeh dari panci Yadah ke tiga wadah lain tanpa menghentikan bacaan ayat-ayat sucinya. Dengan suara lirih hafalannya tak terputus.

Sayur di panci Yadah belum habis. Tapi Yadah sudah beranjak dari pekerjaannya.

“Lho, mau ke mana? Dibantu kok malah pergi.”

“Sebentar, nanti aku kembali lagi.” Tak berselang lama, Yadah kembali dengan mangkuk plastik. Lalu menuang sayur lodeh ke mangkuknya. Penuh.

“Kan cuma untuk tiga kamar. Yang di mangkuk itu untuk siapa?” Hana terheran.

“Lil ‘aamilina ‘alaiha.” Jawab Yadah dengan santai.

“Maksudmu?”

“Jangan khawatir. Nanti kamu juga dapat bagian.”

Hana geleng-geleng kepala. Lalu menarik nafas agak dalam. Rangkaian kata dalam surat Ali ‘Imran ayat 161 terlantun olehnya.Jernihnya suara, sempurnanya makhroj baca, membuat alunan ayat-ayat suci itu memanjakan telinga.

…wa mayyaghlul ya`ti bimaa ghalla yaumal qiyaamah…”

“Ssst…kalo sudah selesai, langsung di  bawa ke kamar masing-masing aja. Nggak usah lama-lama.” Yadah langsung beranjak ke kamarnya.

Hana kembali hanya bisa geleng-geleng kepala.

#     #     #

“Lis, bagaimana acara semalam. Sukses?” Lagi-lagi rangkaian ayat dalam lantunan Hana terhenti. Menyapa Lisan, sahabatnya yang semalam baru saja mengadakan acara bedah makalah di aula asrama.

“Ya, sukses sih sukses. Tapi si Ina tuh nyebelin banget. Masa sudah dikasih waktu bicara lima belas menit, masih nyrocos lebih. Jadinya waktu bicarku kan terkurangi. Apalagi gaya bicaranya yang sok banget. Memang si Ina itu orangnya gitu. Kemayu banget. Suka cari perhatian orang. Sok centhil lagi. Ih!” Tanpa ditanya, Lisan mengurai segalanya. Hana yang mendengarkan mencipta sedikit senyum sambil sesekali mengangguk. Lalu mengambil nafas agak dalam. Kalimat ta’awudz kembali ia lantunkan. Kemudian rangkaian kata dalam surat Al-Hujurat ayat 11 dan 12 mengisi lirik suaranya.

…laa yaskkhor qoumum min qoumin ‘asaa ayyakuunuu khoiromminhum….

“Hana, kamu ini juga. Nggak mendukung, malah ceramah di sini. Nggak tahu orang lagi sebel apa?” Lisan malah balik marah pada Hana. Lalu beranjak meninggalkannya. Lagi-lagi Hana hanya bisa geleng kepala.

#     #     #

Hana kembali melantunkan rangkaian kata-kata suci dalam memorinya. Melodi indah menari-nari dari suaranya. Tiap makhroj bacaan mendapat tempat sempurna darinya. Telinga-telinga terlena dengan iramanya. Tapi sayang, ia hanya sendiri. Tak ada teman-temannya yang turut melantukan ayat-ayat itu bersamanya. Tak ada siapa-siapa.  ‘Ain (matanya), Yadah (tangannya) bahkan Lisan (mulutnya) semua menjauh darinya. Tak peduli dengan apa yang Hana baca. Suaranya menari-nari sendiri.Di tengah gurun sepi. Decak kagum untuknya hanya fatamorganayang akan segera sirna. Di baliknya, jilatan api menantinya.

#     #     #

Sekelompok manusia akan muncul dari arah timur. Mereka membaca Al-Qur’an tidak lebih dari Hanajir (kerongkongan) mereka. Mereka keluar dari agama layaknya anak panah keluar dari busurnya. Kemudian mereka tidak kembali padanya sampai anak panah itu kembali pada tali busurnya.” HR. Bukhariy

                                                                                                   Oleh: Vairuz Arham

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *