Hukum Tabarruk (Ngalap Berkah) kepada Orang Shalih Selain Nabi


Hukum Tabarruk (Ngalap Berkah) kepada Orang Shalih Selain Nabi

Oleh: Umar Ibnu Abbas

Pendapat Ulama Tentang Hukum Tabarruk (Ngalap Berkah) kepada orang Shalih selain Nabi

Boleh

Pendapat tentang bolehnya tabarruk dengan benda bekas orang shalih selain Nabi dikemukakan oleh Al-‘Aini [1], Ibnu Baththal [2], An-Nawawi [3], Ibnu Mulaqqin [4], Ibnu Hajar [5], Abuth Thayyib Abadi [6], dan Asy-Syaukani [7]

Para Ulama tersebut berhujjah dengan hadits Anas, hadits Ummu ‘Athiyyah, hadits Sahl dan atsar Asma`.

Catatan:

(1). hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa para shahabat mencari berkah dengan sisa Nabi. Perbuatan mereka tersebut tidak bisa dijadikan hujah atas bolehnya mencari berkah dengan sisa orang shalih selain Nabi. Hal itu disebabkan Nabi memiliki berkah pada sisa beliau. Adapun orang selain Nabi tidak memiliki berkah pada sisanya. Dengan demikian, perbuatan mencari berkah dengan sisa orang shalih khushus dilakukan dengan sisa Nabi. (lihat analisa masing-masing hadis tersebut pada analisa yang akan datang)

(2). Selain itu, para shahabat tidak pernah mencari berkah dengan sisa orang selain Nabi, termasuk orang yang terbaik setelah beliau yaitu Abu Bakr [8]. Kalaupun perbuatan tersebut disyari‘atkan, sungguh mereka telah melakukannya karena mereka sangat antusias dalam hal kebaikan.

Tidak Boleh

Pendapat tentang tidak bolehnya tabarruk dengan benda bekas orang shalih selain Nabi Muhammad dikemukakan oleh ‘Abdurrahman bin Hasan [9], Asy-Syathibi [10], ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz [11], Al-‘Utsaimin [12], ‘Abdul Mun‘im Ibrahim [13], Al-Bassam [14], dan Shalih bin Fauzan [15]

Argumen:

(1). Mencari berkah dengan sisa orang selain Nabi tidak dilakukan oleh para shahabat.

Catatan: Para shahabat adalah orang yang sangat antusias dalam hal kebaikan. Jikalau mereka berkeyakinan bahwa mencari berkah dengan sisa orang selain Nabi itu disyari‘atkan, sungguh mereka telah melakukannya.

(2). Tidak boleh mengiaskan atau menyamakan orang selain Nabi dengan beliau karena ada perbedaan di antara keduanya.

Catatan: tidak ada yang menyamai Nabi dalam soal keberkahan. Nabi diberi keberkahan yang tidak diberikan kepada orang selain beliau, yaitu keberkahan pada sisanya. Mengiaskan orang selain Nabi dengan beliau termasuk qiyas ma‘al fariq, sedang qiyas ma‘al fariq itu batil. Dengan demikian mengiaskan orang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dengan beliau itu batil. (Lihat analisa hadis Ummu Athiyyah yang akan datang)

(3). Mencari berkah dengan sisa orang shalih selain Nabi dapat mengantarkan pelakunya kepada syirik, sehingga wajib dilarang.

Catatan: perbuatan mencari berkah tersebut jika diperbolehkan, maka masyarakat awam yang melakukannya biasanya cenderung berlebih-lebihan dalam mencari berkah karena kejahilan mereka, sampai-sampai mereka mengultuskan orang yang dicari berkahnya. Bisa jadi mereka juga akan meyakini pada diri orang yang dicari berkahnya ada sesuatu yang sebenarnya tidak dimilikinya. [16] Hal itu bisa dibuktikan dengan apa yang disebutkan oleh ahli sejarah seperti Al-Farghani —komentator kitab Tarikhuth Thabari— tentang Al-Hallaj, bahwa pengikut-pengikutnya sangat berlebihan dalam mencari berkah dengannya, sampai-sampai mereka mengusapkan air kencingnya ke bagian tubuh mereka dan mendupai dengan kotorannya. Perbuatan itu berlanjut sampai mereka meyakininya sebagai sesembahan, Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan [17]. Perbuatan yang mengantarkan pelakunya kepada perbuatan yang dilarang itu dilarang, sehingga mencari berkah dengan sisa orang shalih selain Nabi itu dilarang. (lihat Analisa Hadis Sahl).

(4). Mencari berkah dengan sisa orang selain Nabi dapat menimbulkan fitnah bagi orang yang dicari berkah dengan sisanya, semisal perbuatan sombong. Hal ini sebagaimana terjadi pada orang yang dipuji secara berlebih-lebihan.

Catatan: Memuji secara berlebihan dapat membuat orang yang dipuji merasa ujub. Dalam syari‘at Islam, memuji secara berlebih-lebihan itu dilarang jika dikhawatirkan bahwa hal itu dapat membuat orang yang dipuji menjadi ujub [18]. Mencari berkah dengan sisa seseorang sama halnya dengan memujinya karena keduanya dilakukan untuk memuliakan orang tersebut. Meskipun keduanya sama, akan tetapi tidak dapat dipahami bahwa mencari berkah dengan sisa orang yang tidak dikhawatirkan akan merasa ujub itu diperbolehkan, karena ada argumen lain yang menunjukkan pelarangannya, misalnya perbuatan tersebut dapat mengantarkan pelakunya kepada kesyirikan.

(5). Masalah mencari berkah termasuk perkara ibadah. Perkara ibadah tidak disyari‘atkan sampai ada dalil yang menjelaskannya. Mencari berkah dengan sisa orang selain Nabi tidak ada dalil yang menjelaskan pensyari‘atannya. Dengan demikian, mencari berkah dengan sisa orang shaih selain Nabi itu tidak disyari‘atkan.

Catatan: Disebutkan dalam kitab Ma‘alimu Ushulil Fiqh [19], bahwa pada asalnya setiap ibadah itu harus berdasarkan nas, sehingga tidak disyari‘atkan sampai ada dalil yang menunjukkan pensyari‘atannya. Karena tidak ada dalil pensyari‘atan mencari berkah dengan sisa orang shalih selain Nabi, maka dapat disimpulkan bahwa mencari berkah dengan sisa orang shalih selain Nabi itu tidak disyari‘atkan.

Kesimpulan:

Mencari berkah (Tabarruk/Ngalap berkah) kepada orang shalih selain Nabi Muhammad  itu tidak boleh.

Dalil-Dalil yang Berkaitan dengan Hukum Tabarruk (Ngalap Berkah) kepada Orang Shalih Selain Nabi dan Analisa Ringkasnya

Hadits Anas tentang Mencari Berkah dengan Cincin Nabi Muhammad

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ، وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ، وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ، جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيْسَ، قَالَ: فَأَخْرَجَ اْلخَاتَمَ فَجَعَلَ يَعْبَثُ بِهِ فَسَقَطَ قَالَ: فَاخْتَلَفْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مَعَ عُثْمَانَ، فَنَنْزَحُ الْبِئْرَ فَلَمْ نَجِدْهُ. [20] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya:

Dari Anas, dia berkata, “Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada di tangan beliau, kemudian di tangan Abu Bakr setelah beliau, kemudian di tangan ‘Umar setelah Abu Bakr. Tatkala ‘Utsman (menjabat sebagai khalifah), dia duduk di atas sumur Aris, –dia (rawi) berkata,– ‘Kemudian dia (‘Utsman) mengeluarkan cincin itu lalu bermain-main dengannya, maka jatuhlah (cincin) itu.’ –Dia (rawi) berkata,– ‘Kemudian kami mencari (cincin itu) bersama ‘Utsman selama tiga hari, lalu kami menguras sumur itu, lantas kami tidak mendapatkannya.” Al-Bukhari telah meriwayatkannya.

Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman memakai cincin Nabi sepeninggal beliau untuk mencari berkah dengannya.

Saat mengakhiri pensyarahan hadits Anas radliyallahu ‘anhu ini, Ibnu Hajar menyatakan bahwa di dalam hadis ada dalil penggunaan sisa-sisa orang-orang shalih dan pemakaian pakaian-pakaian mereka dengan tujuan mencari berkah dan mengharap berkah dengannya. [21]

Secara tidak langsung, pernyataan Ibnu Hajar di atas tidak dibenarkan oleh ‘Abdul Mun‘im Ibrahim dalam kitabnya ‘Mughnil Murid’ karena beberapa argumen. Di antara argumen yang beliau utarakan adalah sebagai berikut: pertama, tidak ada orang yang menyamai Nabi dalam hal keutamaan maupun keberkahan; kedua, perbuatan mencari berkah dengan sisa orang shalih itu dikhushuskan untuk Nabi, karena para shahabat maupun tabi‘in tidak pernah mencari berkah dengan sisa orang shalih selain beliau. [22]

Catatan:

Pertama, Nabi Muhammad memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun dari umat beliau. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Nabi adalah pemuka bani Adam di hari kiamat, orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur, orang yang pertama kali memberi syafa’at, dan orang yang pertama kali diterima syafa‘atnya [23]. Hadits tersebut menunjukkan bahwa Nabi lebih utama dari seluruh makhluk [24]. Dengan demikian, tepatlah pernyataan ‘Abdul Mun’im bahwa tidak ada yang mirip ataupun menyamai Nabi dalam hal keutamaan.   Begitu juga dalam hal keberkahan yang Allah berikan kepada. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz mengemukakan bahwa Rasulullah diberi keberkahan pada tubuh dan apa yang beliau sentuh [25]. Adapun keberkahan yang diberikan Allah kepada orang shalih selain Rasulullah adalah berkah amal (berkah yang didapatkan karena ilmu, amalan dan itibak kepada ajaran Rasulullah) [26]. Dengan demikian, dapat diterima pernyataan ‘Abdul Mun‘im bahwa tidak ada orang yang menyamai atau hampir menyamai Rasulullah dalam hal keberkahan.

Kedua, Asy-Syathibi menerangkan bahwa salah satu kemungkinan para shahabat tidak mencari berkah dengan sisa orang selain Nabi adalah keyakinan mereka bahwa perbuatan tersebut dikhushuskan untuk beliau serta tidak adanya orang yang mendekati derajat beliau [27]. Sebagaimana yang telah lewat, diberi keberkahan yang tidak diberikan kepada orang selain beliau, yaitu berkah pada tubuh dan apa yang beliau sentuh. Dengan demikian, mencari berkah dengan sisa orang shalih itu dikhushuskan untuk beliau.

Kesimpulan: hadits Anas ini tidak dapat dijadikan hujah atas bolehnya mencari berkah dengan benda bekas orang shalih selain Nabi Muhammad.

Hadits Ummu ‘Athiyyah tentang Mencari Berkah dengan Sarung Nabi Muhammad

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَغْسِلُ ابْنَتَهُ فَقَالَ… فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ فَقَالَ « أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ ».[28] رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، وَهٰذَا اللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.

Artinya:

Dari Ummu ‘Athiyyah, dia berkata,“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepada kami dan kami sedang memandikan (jenazah) putrinya, lalu (beliau) berkata… Maka tatkala selesai, kami memberitahu beliau, lalu (beliau) melemparkan sarungnya kepada kami, lantas (beliau) berkata,‘Jadikanlah (sarung) itu syi’ar [29] (untuk)nya!” Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkannya, dan lafal ini milik Muslim.

Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah Nabi memerintah Ummu ‘Athiyyah untuk menjadikan sarung beliau sebagai pakaian yang menempel langsung dengan tubuh jenazah putri beliau.

Al-Harari menjelaskan bahwa melakukan hal itu agar jenazah putri beliau mendapatkan berkah pakaian tersebut [30]. Ibnu Hajar menjadikan hadits Ummu ‘Athiyyah ini sebagai dalil mencari berkah dengan sisa-sisa orang-orang shalih. [31]

Pernyataan Ibnu Hajar di atas disanggah oleh Ibnu Baz dalam catatan kaki kitab Fathul Bari. Menurut Ibnu Baz, mencari berkah dengan sisa-sisa orang shalih itu hanya boleh dilakukan dengan sisa Nabi Muhammad karena Allah memberikan keberkahan pada tubuh beliau dan setiap yang beliau sentuh. Mengiaskan orang selain Nabi Muhammad dengan beliau itu tidak boleh karena dua hal : salah satunya bahwasanya para sahabat tidak melakukan perbuatan itu dengan orang shalih selain beliau. [32]

Catatan:

(1). tidak ada yang menyamai Nabi dalam hal keberkahan dan keutamaan, sebagaimana yang telah dijelaskan pada analisis hadits Anas yang telah lewat.

(2). Mengiaskan orang selain Nabi dengan beliau termasuk qiyas ma‘al fariq (kias dengan adanya pembeda), yaitu kias yang ‘illah [33] pada ashl [34] dan far’ [35] tidak sama [36]. Ketidaksamaan ‘illah pada masalah ini adalah keberkahan, Nabi diberikan keberkahan yang tidak diberikan kepada orang selain beliau. Kias ini tidak memenuhi salah satu syarat sahnya kias, yaitu kesamaan ‘illah pada ashl dan far’. Kias yang tidak memenuhi syarat sahnya kias adalah kias yang batil. [37] Dengan demikian, mengiaskan orang shalih selain Nabi dengan beliau itu batil.

Kesimpulan: bahwa hadits Ummu ‘Athiyyah ini tidak dapat dijadikan hujah atas bolehnya mencari berkah dengan benda bekas orang shalih selain Nabi Muhammad

Hadits Sahl bin Sa‘d tentang Mencari Berkah dengan Wadah yang pernah Dipakai Minum oleh Rasulullah

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ ذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ … فَأَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ حَتَّى جَلَسَ فِي سَقِيفَةِ بَنِيْ سَاعِدَةَ هُوَ وَأَصْحَابُهُ ثُمَّ قَالَ اسْقِنَا يَا سَهْلُ فَخَرَجْتُ لَهُمْ بِهٰذَا الْقَدَحِ فَأَسْقَيْتُهُمْ فِيهِ فَأَخْرَجَ لَنَا سَهْلٌ ذٰلِكَ الْقَدَحَ فَشَرِبْنَا مِنْهُ قَالَ ثُمَّ اسْتَوْهَبَهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ ذٰلِكَ فَوَهَبَهُ لَهُ. [38] رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، وَ هٰذَا اللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ .

Artinya:

Dari Sahl bin Sa‘d radliyallahu ‘anhu, dia berkata, “Disebutkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang wanita dari Arab, … Maka pada hari itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kemudian duduk di saqifah Bani Sa‘idah bersama para sahabatnya, kemudian berkata, ‘Wahai Sahl, berilah kami minuman!’ Lalu aku keluar kepada mereka dengan (membawa) wadah ini, lantas aku memberi mereka minuman yang (berada) di dalamnya. ”(Rawi berkata), “Maka Sahl mengeluarkan wadah itu untuk kami, lalu kami minum darinya. Dia berkata, ‘Kemudian setelah itu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz memintanya, maka dia (Sahl) memberikannya kepadanya’. HR Al-Bukhari dan Muslim.

Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah para sahabat minum dengan wadah yang pernah dipakai oleh Nabi. Setelah itu, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz meminta wadah itu dari Sahl untuk mencari berkah dengannya [39].

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjadikan hadits Sahl ini sebagai dalil (disyariatkan) mencari berkah dengan sisa-sisa orang-orang shalih. [40]

Catatan:

(1). Dari pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa Ibnu Hajar menyamakan sisa Nabi Muhammad dengan sisa orang shalih selain beliau, baik berupa benda bekas maupun yang lainnya, sehingga kedua-duanya boleh digunakan untuk mencari berkah.

(2). Analisa hadis ini sama dengan analisa Hadis Anas dan Hadis Ummu ‘Athiyyah.

Kesimpulan: hadits Sahl ini tidak dapat dijadikan hujah bolehnya mencari berkah dengan benda bekas orang shalih selain Nabi Muhammad.

Hadits Sahl tentang Mencari Berkah dengan Pakaian milik Rasulullah

عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبُرْدَةٍ مَنْسُوْجَةٍ ، فِيْهَا حَاشِيَتُهَا … فَحَسَّنَهَا فُلاَنٌ فَقَالَ: اكْسُنِيْهَا، مَا أَحْسَنَهَا، قَالَ الْقَوْمُ: مَا أَحْسَنْتَ، لَبِسَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا، ثُمَّ سَأَلْتَهُ، وَعَلِمْتَ أَنَّهُ لاَ يَرُدُّ ! قَالَ: إِنِّيْ وَاللهِ، مَا سَأَلْتُهُ لِأَلْبَسَهُ، إِنَّمَا سَأَلْتُهُ لِتَكُوْنَ كَفَنِيْ. قَالَ سَهْلٌ فَكَانَتْ كَفَنَهُ. [41] رَوَاهُ البُخَارِيُّ .

Artinya:

Dari Sahl radliyallahu ‘anhu, (dia berkata), “Bahwasanya seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan (membawa) sebuah burdah [42] yang ditenun. Pada (burdah) itu ada rumbainya.” … maka seseorang menilai bagus padanya, lalu dia berkata, ‘Pakaikanlah (burdah) itu (pada)ku! Alangkah bagusnya (burdah) itu!’ Orang banyak berkata, ‘Kamu tidak memperbagus (perbuatanmu). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakainya dalam kondisi membutuhkannya, kemudian kamu memintanya, dan kamu tahu bahwa beliau tidak menolak (seorang peminta).’ Dia berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memintanya untuk memakainya, (namun) aku hanya memintanya agar (burdah) itu menjadi kafanku’. Sahl berkata, “Lalu (burdah) itu pun menjadi kafannya.” HR Al-Bukhari.

Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah seorang shahabat meminta pakaian yang dipakai oleh Nabi, untuk menjadikannya sebagai kafannya.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menuturkan dalam Fathul Bari bahwa di dalam hadits Sahl ini ada dalil mencari berkah dengan sisa-sisa orang-orang shalih. [43]

Penuturan Ibnu Hajar tersebut disanggah oleh Ibnu Baz dalam catatan kaki kitab Fathul Bari, beliau menyatakan bahwa pernyataan Ibnu Hajar salah, yang benar perbuatan tersebut terlarang karena: a). para shahabat tidak melakukan (perbuatan) itu terhadap (orang) selain Nabi, Seseorang selain Nabi tidak dapat dikiaskan dengan beliau karena adanya perbedaan yang banyak antara beliau dan dia, b). menutup perantara syirik.

Catatan:

(1). mengiaskan Nabi dengan orang shalih selain beliau adalah qiyas ma‘al fariq, sebagaimana telah disebutkan pada analisa hadis Ummu Athiyyah.

(2). perbuatan mencari berkah dengan sisa orang-orang selain Nabi itu dapat mengantarkan pelakunya kepada kultus terhadap mereka bahkan kepada penyembahan mereka. Hal itu disebabkan perbuatan mencari berkah tersebut jika diperbolehkan, maka masyarakat awam yang melakukannya biasanya cenderung melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam mencari berkah karena kejahilan mereka, sampai-sampai mereka mengultuskan orang yang dicari berkahnya. Bisa jadi mereka juga akan meyakini pada diri orang yang dicari berkahnya ada sesuatu yang sebenarnya tidak dimilikinya, demikian penjelasan Asy-Syathibi. [44]

(3). Berdasarkan penjelasan Asy-Syathibi di atas, dapat diketahui bahwa mencari berkah dengan sisa orang-orang shalih selain Nabi itu dapat menggiring seseorang kepada pengultusan mereka. Pengultusan terhadap orang-orang shalih termasuk dalam perbuatan berlebih-lebihan yang dilarang oleh Rasulullah, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. [45] Syaikhul Islam mengatakan bahwa larangan pada hadits ini umum, mencakup semua bentuk berlebih-lebihan, baik dalam bentuk keyakinan, maupun perbuatan [46]. Kultus terhadap orang-orang shalih termasuk dalam perbuatan berlebih-lebihan dalam agama [47].

(4). Berdasarkan penjelasan Asy-Syathibi tersebut, dapat diketahui juga bahwa mencari berkah dengan sisa orang-orang selain Nabi itu juga dapat mengantarkan seseorang kepada penyembahan mereka. Penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta‘ala merupakan syirik. Syirik itu dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala [48]. Perbuatan yang menjadi perantara perbuatan yang dilarang itu dilarang [49]. Dengan demikian mencari berkah dengan sisa orang shalih selain Nabi itu dilarang.

Kesimpulan: hadits Sahl ini tidak dapat dijadikan hujah bolehnya mencari berkah dengan benda bekas orang shalih selain Nabi Muhammad

Atsar Asma` tentang Mencari Berkah dengan Jubah Rasulullah

عَنْ عَبْدِ اللهِ مَوْلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ وَكَانَ خَالَ وَلَدِ عَطَاءٍ قَالَ أَرْسَلَتْنِي أَسْمَاءُ إِلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ … فَرَجَعْتُ إِلَى أَسْمَاءَ فَخَبَّرْتـُهَا فَقَالَتْ هٰذِهِ جُبَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَخْرَجَتْ إِلَيَّ جُبَّةَ طَيَالَسَةٍ كِسْرَوَانِيَّةً لَهَا لِبْنَةُ دِيْبَاجٍ وَفَرْجَيْهَا مَكْفُوْفَيْنِ بِالدِّيْبَاجِ فَقَالَتْ هٰذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا. [50] رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Artinya:

Dari ‘Abdullah, bekas budak Asma` binti Abu Bakr dan paman anak ‘Atha`, (dia) berkata, “Asma` mengirimku kepada ‘Abdullah bin ‘Umar, … Kemudian aku kembali ke Asma` lantas aku memberinya kabar. Lalu (dia) berkata, ‘Ini jubah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas (dia) mengeluarkan suatu jubah dari pakaian-pakaian yang tebal ala Kisra yang mempunyai kerah (yang terbuat dari) kain sutra kepadaku dan (aku melihat) kedua ujung (jubah) yang terbelah dijahit dengan sutra. Lalu (dia) berkata, ‘Dahulu jubah ini berada pada ‘Aisyah sampai (dia) meninggal. Maka tatkala (dia) meninggal, aku mengambilnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakainya, sehingga kami mencucinya untuk orang-orang sakit yang diharapkan kesembuhan dengannya”. HR Muslim.

Maksud atsar yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah Asma` mencari kesembuhan untuk orang-orang sakit dengan membasuh jubah yang pernah dipakai oleh Rasulullah kemudian memberikan air basuhannya kepada mereka agar meminumnya dan mengusap-usap badan mereka dengannya.

Catatan: Atsar dapat dijadikan hujah jika tidak menyelisihi nash. [51] Atsar ini tidak menyelishi nash bahkan sesuai dengan nash berupa hadits shahih yang menerangkan bahwa para shahabat mencari berkah dengan sisa Nabi, misalnya hadits Sahl yang telah lewat. Dengan demikian, atsar Asma` ini dapat dijadikan hujah pensyari‘atan mencari berkah dengan sisa Nabi.

Imam An-Nawawi menjadikan atsar ini sebagai dalil disukainya mencari berkah dengan sisa orang-orang shalih. [52]

Catatan: Analisa hadis ini sama sama dengan Analisa hadis Sahl, Hadis Ummu Athiyyah dan Hadis Anas yang telah lewat.

Artikel ini diringkas dan diedit oleh: Muhammad Iqbal dari tulisan Ilmiyyah karya Umar Ibnu Abbas yang berjudul “Telaah boleh tidaknya mencari berkah dengan barang bekas orang sholih selain Nabi Muhammad.” dan diedit menjadi, “Hukum Tabarruk (Ngalap Berkah) kepada Orang shalih selain Nabi.”

 

FOOTNOTE:

[1] Lihat ‘Umdatul Qari, susunan Al-‘Aini, jld. II, jz. III, hlm. 75, h. 187.

[2] Lihat Syarhubni Baththal, susunan Ibnu Baththal, jld. IX, hlm. 145,  h. 76/ 3490.

[3] Lihat Shahihu Muslim bi Syarhin Nawawi, susunan An-Nawawi, jld. VII, jz. XIV, hlm. 44.

[4] Lihat At-Taudlih, susunan Ibnu Mulaqqin, jld. XXVIII, hlm. 91.

[5] Ibnu Hajar, Fathul Bari, jz. XI, hlm. 517.

[6] Lihat ‘Aunul Ma‘bud, susunan Abuth Thayyib Abadi, jld. XI, hlm. 102, h. 4036.

[7] Lihat Nailul Authar, susunan Asy-Syaukani, jld. II, jz. IV, hlm. 28,.

[8] Lihat Bab IV Pendapat Ulama, hlm. 15.

[9] ‘Abdurrahman bin Hasan, Fathul Majid, jld. I, hlm. 264.

[10] Lihat Al-I‘tisham, susunan Asy-Syathibi, hlm. 270-271.

[11] Lihat Majmu‘u Fatawa wa Maqalatun Mutanawwi‘ah, susunan Ibnu Baz, jz. IV, hlm. 353-356.

[12] Lihat Majmu‘u Fatawa wa Rasa`il, susunan As-Sulaiman, jld. XVII, hlm. 66-67.

[13] Lihat Mughnil Murid, susunan Abdul Mun‘im Ibrahim, jld. III, hlm. 985.

[14] Lihat Taudlihul Ahkam, susunan Al-Bassam, jz. II, hlm. 37.

[15] Lihat catatan kaki kitab At-Taudlih susunan Ibnu Mulaqqin, jld. IV, hlm. 327-328.

[16] Lihat analisis hadits Sahl, hlm. 23.

[17] Lihat Al-I‘tisham, susunan Asy-Syathibi, hlm. 271-272.

[18] Lihat At-Taudlih, susunan Ibnu Mulaqqin, jld. XVI, hlm. 601.

[19] Lihat Ma‘alimu Ushulil Fiqh susunan Al-Jizani, hlm. 310.

[20] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, hlm. 1089, k. (77) Al-Libas, b. (55) Hal Yuj‘alu Naqsyul Khatam…, h. 5879.

[21] Ibnu Hajar, Fathul Bari, jz. XI, hlm. 517.

[22] Lihat Mughnil Murid susunan ‘Abdul Mun‘im Ibrahim, jld. III, hlm. 1007-1008.

[23] Lihat Shahihu Muslim susunan Muslim, jld. IV, hlm. 461-462, k. (43) Al-Fadla`il, b. (2) Tafdlilu Nabiyyina shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘ala Jami‘il Khala`iq, h. 3 (2278).

[24] Lihat Shahihu Muslim bi Syarhin Nawawi, susunan An-Nawawi, jld. VII, jz. XV, hlm. 37.

[25] Lihat Majmu‘ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi‘ah, susunan Ibnu Baz, jz. VII, hlm. 67.

[26] Lihat Meluruskan Pemahaman (terjemahan dari kitab Hadzihi Mafahimuna susunan Syaikh Shaleh bin Abdul Aziz bin Muhammad Al Syaikh) terjemahan Team Nashirul Haq, hlm. 270.

[27] Lihat Al-I‘tisham susunan Asy-Syathibi, hlm. 271.

[28] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, hlm. 233, k. (23) Al-Janaiz, b. (8) Ghuslil Mayyit wa Wadlu`ihi bil Ma`i was Sidri, h. 1253.

Muslim, Shahihu Muslim, jld. II, hlm. 337, k. (11) Al-Janaiz, b. (12) Fi Ghuslil Mayyit, h. 36(939).

[29] Pakaian yang menempel langsung dengan tubuh seseorang, (Lihat Mu‘jamul Wasith, susunan Ibrahim Unais dkk., hlm. 503, kolom 3).

[30] Lihat Al-Kaukabul Wahhaj war Raudlul Bahhaj susunan Al-Harari, jz. XI, hlm. 161.

[31] Lihat Fathul Bari, susunan Ibnu Hajar, jz. III, hlm. 469.

[32] Lihat Fathul Bari, susunan Ibnu Hajar, jz. III, hlm. 469 , pada catatan kaki yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Baz.

[33] Al-‘Illah adalah sifat yang mengumpulkan antara Al-Ashl dan Al-Far’ (lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Az-Zuhaili, jz. I, hlm. 576).

[34] Al-Ashl adalah objek hukum yang telah ditetapkan dengan nash atau ijmak (lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Az-Zuhaili, jz. I, hlm. 576).

[35] Al-Far’ adalah objek (hukum) yang belum disebutkan nash atau ijmak padanya (lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Az-Zuhaili, jz. I, hlm. 576).

[36] Lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Az-Zuhaili, jz. I, hlm. 612.

[37] Lihat Al-Wajizu fi Ushulil Fiqh susunan DR. ‘Abdul Karim Zaidan, hlm. 197.

[38] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, hlm. 1051, h. 5637.

Muslim, Shahihu Muslim, jld. IV, hlm. 250-251, h. 88 (2007).

[39] Lihat Al-Kaukabul Wahhaj war Raudlul Bahhaj susunan Al-Harariy, jz. XXI, hlm. 109.

[40] Lihat Fathul Bari, susunan Ibnu Hajar, jz. XI, hlm. 235.

[41] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, hlm. 237, h. 1277.

[42] Pakaian yang bergaris-garis dan digunakan untuk berselimut. (lihat Mu‘jamul Wasith, susunan Ibrahim Unais dkk., hlm. 48).

[43] Lihat Fathul Bari, susunan Ibnu Hajar, jz. III, hlm. 488.

[44] Lihat Al-I‘tisham, susunan Asy-Syathibi, hlm. 271.

[45] Ahmad bin Hanbal, Musnadul lmami Ahmadabni Hanbal, jz. V, hlm. 298, h. 3248.

[46] Lihat Fathul Majid susunan ‘Abdurrahman bin Hasan, jz. I, hlm. 383.

[47] Lihat At-Tabarruku Anwa‘uhu wa Ahkamuh susunan DR. Nashir bin ‘Abdurrahman, hlm.471.

[48] Lihat Surah An-Nisa` (4), ayat: 36.

[49] Lihat Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul susunan Al-‘Utsaimin, hlm. 27.

[50] Muslim, Shahihu Muslim, jld. IV, hlm. 303-304, h. 10 (2069).

[51] Lihat Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul susunan Al-‘Utsaimin, hlm. 61.

[52] Lihat Shahihu Muslim bi Syarhin Nawawi susunan An-Nawawi, jld. VII, jz. XIV, hlm. 44.

Tinggalkan komentar