MUSLIMAH DI MEDAN DAKWAH

MUSLIMAH DI MEDAN DAKWAH

Oleh : Ummu Zahra

­­

Dakwah, Tanggung jawab Bersama Laki-Laki dan Wanita :

Dakwah ilallah, dengan amar ma’ruf nahi munkar merupakan tanggung jawab bersama kaum muslimin, khususnya kalangan ulama’ dan para penuntut ilmu din.  Kewajiban dakwah ini merupakan taklif yang tidak hanya dikhususkan untuk laki-laki, melainkan juga mencakup kaum wanita. Hal ini sebagaimana yang Allah Ta’ala tegaskan dalam kitab-Nya :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ  [التوبة :71]

“Mukminin dan mukminat, sebagian mereka adalah wali sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Mahagagah juga Mahabijaksana.” [Q.S. At-Taubah (9) : 71]

Oleh karena itu, laki-laki dan wanita harus bersinergi mengemban tugas dakwah, sebab Allah telah menciptakan dua makhluk berlainan jenis ini dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menjadi khalifah penegak syariatullah di muka bumi.  Apalagi melihat fakta bahwa tidak semua persoalan bisa disampaikan secara terbuka oleh da’i laki-laki, terutama jika dia harus berdakwah kepada lawan jenisnya. Ada permasalahan-permasalahan sensitif perempuan yang hanya bisa disampaikan oleh sesama kaum hawa. Di sinilah dibutuhkan da’iyah-da’iyah yang sanggup menjelaskan persoalan khas wanita tanpa terhalang rasa rikuh dan pakewuh, seperti saat ‘Aisyah menjelaskan cara bersuci dengan kapas berbalur minyak wangi.

Muslimah Da’iyah dalam Sejarah :

Sejak awal kemunculannya, dakwah Islam tidak lepas dari peranan para wanita. Sebut saja Khadijah radhiyallahu ‘anha, wanita pertama pendukung dakwah kenabian, yang kesetiaannya di jalan dakwah tak tertandingi oleh wanita manapun juga. Tentangnya Rasulullah pernah melantunkan pujian yang membuat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tiada henti menaruh rasa cemburu padanya :

مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِىَ النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِىَ النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِىَ النَّاسُ   (رواه احمد عن عائشة)

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Dia mengimaniku saat orang-orang kufur padaku, membenarkanku saat orang-orang mendustakanku, dan menolongku dengan hartanya saat orang-orang memboikotku.” [H.R. Ahmad dari ‘Aisyah]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *