Pardi Laksana

Kreek ….

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumussalam. Lho..lho..lho..kamu kenapa, Par?”

“Tadi kepleset di jalan deket rumahnya pak Gio.”

Pantas saja baju kokonya belepotan tanah. Warna putihnya berubah jadi coklat.

“Makannya toPar, kalau naik sepeda liat jalan. Jangan nengAzizah aja dilamunin. Nyungsep deh…” candaku barangkali bisa menghiburnya.

Tapi ia hanya tersenyum simpul sambil berjalan ke kamar mandi.

“Tadi lampu mercury di sana mati. Jadi jalannya nggak kelihatan.” Sahutnya dari depan kamar mandi.

Tadi itu Pardi, Pardi Laksana lengkapnya. Dia yang menemani hari-hariku di masa tugas pengabdian ini. Setelah aku dinyatakan lulus setahun lalu, sebenarnya aku ditugaskan di ma’had Hidayatullah Jogjakarta. Tapi sebulan lalu, entah kenapa tugasku dipindahkan ke tempat ini. Suatu desa terpencil di kaki gunung Lawu. Tepatnya di kecamatan Parang, kabupaten Magetan. Di sini aku ditugaskan untuk membina madrasah ibtida`iyyah dan dakwah kepada masyarakat luas, menemani Pardi.

Pardi sudah bertugas di sini satu tahun lebih dulu dariku. Dia adalah keponakan salah satu ustadz di ma’had Hidayatullah. Aku baru mengenalnya saat pertama kali pindah ke sini, karena ia bukan dari ma’had Al-Islam. Mengakunya, dia lulusan dari sebuah pondok pesantren di daerah Geumpang, Aceh Barat. Entah apa namanya, aku lupa. Yang pasti ilmunya tak bisa diremehkan.

Dipindahtugaskan ke tempat ini merupakan kesialan bagiku. Bagaimana tidak, kehidupan di sini sangat jauh dari perkotaan. Masuk sangat dalam ke pedesaan gunung Lawu. Setiap hari aku dan Pardi harus pergi ke madrasah yang jauhnya tak kurang dari 10 km. Jangan kira kami pergi ke sana dengan sepeda motor. Setiap pagi kami harus melewati jalanan yang masih berbatu dan tanah dengan sepeda. Bisa dibayangkan kami harus berangkat jam berapa agar tidak terlambat sampai madrasah. Setelah pulang dari madrasah tugas dibagi dua, agar semua desa dapat jatah. Setelah ‘Ashar, aku harus pergi mengajar TPA. Masjidnya juga tak bisa di bilang dekat. Untuk sampai ke sana,membutuhkan waktu seperempat jam dengan sepeda. Jalannya, hampir semua jalan di sini masih berupa batu-batu kali yang ditata atau bahkan masih berupa tanah coklat. Jatah Pardi lebih jauh lagi. Setelah Maghrib sampai habis ‘Isya, harus bepindah ke masjid lain yang tak kalah jauh jaraknya untuk mengajar bapak-bapak. Setelah capek-capek sampai di sana, kami harus berhadapan dengan bapak-bapak tua yang sudah tak bisa lagi menahan kantuk. Sungguh pekerjaan yang melelahkan sekaligus menyebalkan.Sesudah semua itu, kami harus pulang ke rumah dengan membelah gelap, dan meraba-raba jalanan. Karena banyaknya kebun jati dan persawahan, jalanan di malam hari akan sangat gelap. Inilah mengapa aku merasa sial mendapat tugas ditempat ini.

Itu tugas dakwahnya. Kesialanku semakin lengkap dengan kehidupan yang sangat jauh dari kata cukup. Karena kami berdua setiap hari bertugas mengajar, jadi tak ada yang sempat bekerja. Walhasil, kebutuhan kami sehari-hari disuplai oleh paman Pardi yang tinggal di Jogja. Masalahnya adalah kedatangan uang untuk kebutuhan kami selalu terlambat. Kalau datang pun kami harus mati-matian berhemat.Tak pernah ada cerita kami makan dengan lauk daging ayam. Kalau ada makanan istimewa, pasti itu sedekah dari tetangga atau masyarakat sini yang punya hajatan. Lauk yang paling sering menghiasi nasi kami adalah kerupuk. Kalau uang yang tersisa benar-benar tinggal sangat sedikit, terpaksakami harus hari berpuasa. Untuk membeli kebutuhan butuh perjuangan lagi. Dalam radius dua kilometer dari tempat kami tinggal tak ada toko bahan-bahan pokok. Kalau ingin ke pasar, kami harus mengayuh sepeda sejauh 5 km dengan jalan naik turun.Meski aku bukan berasal dari keluarga kaya, tapi kehidupan seperti ini benar-benar terasa menyiksa.   

Jangan pernah tanya soal koneksi internet. Sinyal telepon saja disini lebih sering hilang. Jadi, di rumah yang hanya berukuran lima kali lima meter ini, kalau tidak mengajar, kami hanya bisa baca buku dan menulis. Atau kalau bosan baca, biasanya aku akan pergi ke kebun belakang, lalu menanam apa saja yang bisa kutanam. Pilihan kami di sini hanya dua, bersusah payah dengan tugas atau terkurung dalam kesepian pelosok desa.

Yah, inilah nasib. Mau tak mau aku harus menjalaninya. Aku hanya bisa berharap sisa masa pengabdianku bisa berjalan lebih cepat. Setelah itu, aku tak akan sudi tinggal di tempat ini. Aku tak habis pikir, bagaimana Pardi bisa betah tinggal di tempat ini. Tapi selama ini memang dia kelihatannya bertipe orang yang tegar dan penyabar. Dan satu lagi sifatnya, pendiam.

“Eh Zal, kata pak Muji tadi kamu tidak datang ke TPA. Kenapa?” Tiba-tiba Pardi muncul dengan badan yang sudah bersih dan secangkir air putih hangat di tangannya. Air putih hangat, sebuah trik menghangatkan tubuh yang super hemat. Gerimis malam ini memang membawa dingin yang cukup dahsyat.

“Hmm…iya.”

“Berarti kamu juga nggak dateng ke Kedunglagah?” Pertanyaannya mulai merembet ke mana-mana. Kedunglagah adalah tempat jadwalku mengajar bapak-bapak sesudah ‘Isya hari ini.

Aku hanya terdiam. Tak ingin memberi jawaban.

“Kok nggak dateng kenapa? Padahal mereka kan nunggu.”

“Tadinya aku mau berangkat habis ‘Ashar. Tapi tiba-tiba hujan. Jadi aku nggak jadi berangkat.”

“Hujan? Perasaan tadi cuman gerimis.”Tanyanya setelah menyeruput air hangat di tangannya.

“Ya meski gerimis, sampai sana aku bisa basah kuyup, Par.”

“Pake mantel apa nggak bisa? Itu mantel yang sobek kan cuma dikit.” Nada Pardi mulai agak meninggi.

“Kalau hujan gini kan jalannya licin banget, Par. Lagian, yang dateng ke TPA paling cuma itu-itu aja. Apalagi gerimis, mungkin yang dateng bisa diitung pake tangan satu. Belum lagi di Kedunglagah. Yang dateng paling cuma satu shaf. Itu pun semuanya ngantuk. Jadi, ya aku mau berangkat perhitungan dulu.”

Kali ini Pardi tersenyum mendengar alasanku. Senyum yang sama sekali tak enak dilihatnya. Lalu terdiam. Sunyi menjelma di antara kami berdua. Hanya terdengar suara semahut nyanyian katak dan gemerintik hujan di luar sana. Setelah ini, Pardi pasti akan marah besarpadaku.

“Eh Zal, katanya kamu dari pondok pesantren. Di mana itu pondok kamu?” Sepertinya dugaanku salah. Ia beralih ke pembahasan lain. Pardi memang bukan tipe orang yang pemarah.

“Di Solo, daerah Mangkubumen. Timurnya hotel Paragon. Baratnya Tune Hotel. Selatannya TK Al-Firdaus.” Jelasku rinci.

“Wah berarti di tengah kota, dong? Pasti enak banget di sana. Pantesan kamu bisa kerasan sampai lulus.” Air putih hangatnya kembali diseruput.

“Ya alhamdulillah. Pondokku menyediakan hampir semua fasilitas yang dibutuhkan santri. Mulai dari kitab-kitab sampai komputer. Dibanding tempat ini, di sana memang terhitung enak. Di sana makan wajib tiga kali sehari. Nasi bisa masak berapapun yang kita butuhkan. Nasi selalu bergandeng dengan lauk. Lauknya nggak kerupuk terus. Kadang telor, ikan, daging. Rasanya…wah uenak-uenak pisan. Itu yang wajib, Par. Kalau mau jajan, koperasi selalu sedia banyak menu. Kalau kamu mau baca kitab, nggak perlu susah-susah buka kitab kuning yang sudah lapuk. Tinggal buka komputer ada maktabah syamilah yang isinya ribuan kitab. Masjid deket. Kelas deket. Jalannya juga diaspal semua. Kalau panas ada AC. Kalau dingin ada selimut tebel. Pokokknya hidupmu bakal terjamin. Tinggal tugas kita adalah belajar.” Kuceritakan semua hal yang pernah kudapatkan di ma’had, yang sangat berbeda jauh dari kehidupan di sini.

Tadinya Pardi mendengarnya serius. Tapi setelah aku selesai ia hanya tersenyum kecut. Senyum yang menyebalkan itu keluar lagi. Lalu ia berbaring di tikar anyaman pelepah pisang yang kami duduki setelah meletakkan cangkir air putihnya.

“Rizal Fathoni, Ternyata dugaanku benar. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau semua santri di negri ini hidupnya seperti yang kamu jalani.” Aku tak mengerti apa yang dibicarakannya.

“Maksudmu?”

“Kalau semua calon da’i di negeri ini terbiasa hidup serba enak seperti kamu, tak pernah merasakan sulitnya kehidupan.Lalu ketika dihadapkan dengan berbagai rintangan dakwah seperti ini akan selalu mengeluh dan mengeluh, mau dibawa kemana dakwah ini, Zal? Kamu hujan gerimis aja nggak jadi ngajar. Yang hadir sedikit mendingan bubar. Da’i macem apaan kamu ini? Yang kita rasakan saat ini belum apa-apa, Zal.”

Aku tertegun seketika. Sepayah itukah aku. Alam fantasiku memutar kembali kehidupan di ma’had yang penuh dengan fasilitas dan serba enak, sangat jauh dari kehidupan yang kujalani saat ini.

“Belum lagi berbagai pelanggaran yang kau lakukan. Seseorang yang terbiasa mengikuti apa kata hawa nafsunya akan mudah berbuat jelek, termasuk melanggar peraturan.Jangan kira kebiasaan melanggar peraturan tak akan berakibat buruk pada kepribadian seseorang, apalagi seorang da’i.”

Kalimatnya yang terakhir ini sekali lagi menusuk alam renungku. Aku teringat berbagai pelanggaran yang pernah kulakukan bersama kawan-kawanku. Semuanya hancur dihantam penyesalan akibat kalimat Pardi.

“Kalau kau ingin tahu, kehidupanku di pondok dulu tak jauh berbeda dengan yang kita jalani saat ini. Bahkan terkadang bisa lebih parah. Pondokku lebihpelosok dari tempat ini. Dan tahukah kau bagaimana aku bisa dinyatakan lulus oleh para guruku? aku dinyatakan lulus sebelum waktunya, karena pondokku lebih dulu digrebek oleh densus yang ingin mengahibisi nyawa kyiaiku. Akhirnya pondok kami bubar. Terpaksa, murid-murid yang dipandang cukup dewasa sepertiku diluluskan tanpa syarat saat itu juga.”

A story by Vairuz Arham (27019)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *