Penggunaan Sutrah Ketika Sholat, Wajibkah?

Penggunaan Sutrah Ketika Sholat, Wajibkah?

Oleh : Ustadzah Khoirotul Banatil Mardhiyyah

Pendapat Ulama

Pertama, Wajib

Ulama yang berpendapat bahwa penggunaan sutrah ketika shalat itu wajib adalah Asy-Syaukani [1] dan Al-Albani [2].

Asy-Syaukani berhujah dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudri. Selain itu, beliau juga beralasan bahwa hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas :صَلَّى فِيْ فَضَاءٍ لَيْسَ بَيْنَ يَدَيْهِ شَيْئٌ  (beliau -Rasulullah- melakukan shalat di tanah lapang sedangkan di hadapan beliau tidak ada sesuatu pun) itu khusus untuk beliau, karena beliau tidak akan menyelisihi perintah beliau untuk menggunakan sutrah ketika shalat, sehingga hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas itu tidak dapat dijadikan qarinah untuk memalingkan perintah menggunakan sutrah dari makna wajib kepada sunnah. [3]

Catatan: tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa melakukan shalat tanpa menggunakan sutrah itu khusus untuk Rasulullah, sedangkan dalam ilmu Ushul Fiqh dinyatakan bahwa suatu amalan yang dikhususkan untuk Rasulullah itu harus ada dalil yang jelas [4]. Dengan demikian, hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas yang beliau gunakan sebagai hujah tersebut bukan khusus bagi Nabi, tetapi  merupakan qarinah yang memalingkan perintah menggunakan sutrah dari makna wajib kepada sunnah.

Adapun Al-Albani berhujah dengan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar tentang larangan melakukan shalat tanpa sutrah. [5]

Catatan: terdapat qarinah yang menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat tanpa menggunakan sutrah (lihat analisa hadis Thalhah). Selain itu, dalam ilmu Ushul Fiqih disebutkan bahwa suatu amalan yang Rasulullah pernah meninggalkannya itu menunjukkan bahwa amalan tersebut tidak wajib. [6]

Kedua, Sunnah

Ulama yang berpendapat bahwa penggunaan sutrah ketika shalat itu sunnah adalah As-Sayyid Sabiq, Az-Zuhaili [7], Ulama Lajnah Daimah [8], dan Al-‘Utsaimin [9].

Hujjah: hadits Abu Sa’id Al-Khudri, ‘Abdullah bin ‘Umar. hadits Abu Juhaifah, hadits Thalhah, hadits Sabrah bin Ma’bad. [10]

Catatan:

(1). perintah dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri, hadits Thalhah, dan hadits  Sabrah bin Ma’bad yang mereka gunakan sebagai hujah tersebut tidak menunjukkan wajibnya menggunakan sutrah ketika shalat (lihat analisis hadits Abu Sa’id Al-Khudri, analisis hadits Thalhah, dan analisis hadits Sabrah bin Ma’bad yang akan datang)

(2). hadits Ibnu ‘Umar dan hadits Abu Juhaifah yang mereka gunakan sebagai hujah tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah biasa menggunakan sutrah ketika shalat, sedangkan kebiasaan Rasulullah dalam Ad-Dien itu merupakan amalan yang disunnahkan, sehingga menggunakan sutrah ketika shalat itu disunnahkan (lihat analisis hadits ‘Abdullah bin ‘Umar dan analisis hadits Abu Juhaifah yang akan datang).

Kesimpulan:

Penggunaan sutrah ketika shalat hukumnya sunnah

Hendaknya muslimin menggunakan sutrah ketika shalat untuk mengikuti sunnah Rasulullah.

Dalil-Dalil dan Analisa Ringkasnya

Pertama, Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar tentang Rasulullah Menggunakan Tombak sebagai Sutrah ketika Shalat

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أََنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيْدِ ، أَمَرَ بِالْحَرْبَةِ فَتُوْضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَيُصَلِّيْ إِلَيْهَا وَ النَّاسُ وَرَاءَهُ ، وَ كَانَ يَفْعَلُ ذلِكَ فِي السَّفَرِ ، فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا اْلأُمَرَاءُ . [11] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ .

Artinya:

Dari Ibnu ‘Umar: bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam adalah beliau apabila keluar pada hari ‘Ied, beliau memerintahkan untuk membawakan tombak lalu diletakkan di depan beliau, maka beliau melakukan shalat ke (arah)-nya (tombak) sedang orang banyak di belakang beliau. Dan beliau biasa melakukan hal itu dalam safar, maka dari sana, para amir menjadikannya (sebagai sunnah). HR Al-Bukhari.

Menurut Ibnu Hajar, lafal ( وَ كَانَ يَفْعَلُ ذلِكَ فِي السَّفَرِ ) dalam hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam biasa menggunakan sutrah ketika shalat. [12]

Catatan: Perkara-perkara yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukannya dan jarang meninggalkannya dalam Ad-Dien ini merupakan amalan yang disunnahkan [13].

Kedua, Hadits Abu Juhaifah tentang Rasulullah Melakukan Shalat dengan Menggunakan Tongkat sebagai Sutrah

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِيْ جُحَيْفَةَ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِيْ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ بِالْبَطْحَاءِ وَ بَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ ، اَلظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ، وَ الْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ، يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ الْمَرْأَةُ وَ الْحِمَارُ . [14]  رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya:

Dari ‘Aun bin Abu Juhaifah, dia berkata: Aku mendengar bapakku (berkata): Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melakukan shalat Dhuhur dua rakaat dan ‘Ashar dua rakaat bersama mereka (para shahabat) di Bathha` dan di depan beliau ada sebuah tongkat, (sedangkan) wanita dan keledai lewat di depan beliau. HR Al-Bukhari.

Menurut Zakariyya Al-Anshari, hadits ini sebagai dalil disunnahkannya menggunakan sutrah ketika shalat. [15]

Catatan: penggunaan sutrah ketika shalat merupakan kebiasaan Nabi, sedangkan perkara-perkara yang Rasulullah biasa melakukannya dan jarang meninggalkannya dalam Ad-Dien ini merupakan amalan yang disunnahkan, sebagaimana telah dijelaskan di hadis Abdullah bin Umar sebelum ini.

Ketiga, Hadits tentang Perintah Melakukan Shalat dengan Menggunakan Sutrah

عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَ لاَ يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذلِكَ . [16] رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Artinya:

Dari Musa bin Thalhah, dari bapaknya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian meletakkan di hadapannya semisal sandaran pada pelana, maka hendaklah dia melakukan shalat (ke arahnya) dan tidak mempedulikan siapa yang lewat di belakang itu.” HR Muslim.

An-Nawawi memahami bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya penggunaan sutrah bagi orang shalat. [17]

Catatan: Dalam ilmu Ushul Fiqih terdapat kaidah bahwa perintah itu menunjukkan wajib, selagi tidak didapati qarinah [18] yang memalingkannya dari makna wajib. [19] Dalam hal perintah penggunaan sutrah ketika shalat ini terdapat qarinah yang memalingkan perintah tersebut dari makna wajib, yaitu hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas yang menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat tanpa sutrah. Berikut ini lafal haditsnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ ، وَ أَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ اْلإِحْتِلاَمَ ، وَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ ، فَنَزَلْتُ وَ أَرْسَلْتُ اْلأَتَانَ تَرْتَعُ ، وَ دَخَلْتُ فِي الصَّفِّ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ . [20] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ .

Artinya:

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwasanya dia berkata: Aku datang dengan menunggang keledai betina, dan waktu itu aku sungguh mendekati baligh, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat bersama orang banyak di Mina ke (arah) tanpa dinding, lalu aku lewat di depan sebagian shaf, maka aku turun dan aku melepaskan keledai betina itu merumput, dan aku pun masuk ke shaf itu, maka tidak ada seorang pun mengingkariku pada yang demikian itu. HR Al-Bukhari.

Catatan:

(1). Asy-Syafi’i memahami bahwa maksud lafal إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ pada hadits ini adalah إِلَى غَيْرِ سُتْرَةٍ yang artinya ke arah yang tidak ada sutrahnya. [21] Pemahaman ini disetujui pula oleh Zakariyya Al-Anshari [22] dan Al-‘Utsaimin [23]. Jadi, Rasulullah pernah melakukan shalat tanpa menggunakan sutrah.

(2). Menurut Ibnu Baththal, hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas ini menunjukkan bahwa penggunaan sutrah bagi orang shalat bukanlah perkara wajib, akan tetapi merupakan perkara sunnah, karena beliau pernah melakukan shalat tanpa menggunakan sutrah. [24]

Kesimpulan hadis Thalhah: Perintah dalam hadits ini tidak menunjukkan wajibnya menggunakan sutrah ketika shalat, tetapi menunjukkan sunnahnya menggunakan sutrah ketika shalat.

Keempat, Hadits Abu Sa’id Al-Khudri tentang Perintah Menggunakan Sutrah ketika Shalat

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ أَبِيْ سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ ، وَ لْيَدْنُ مِنْهَا . [25] رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ .

Artinya:

Dari ‘Abdurrahman bin Abu Sa’id Al-Khudri, dari bapaknya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian melakukan shalat, maka hendaklah dia melakukan shalat ke (arah) sutrah dan hendaklah dia mendekat padanya (sutrah). HR Abu Dawud.

Hadits ini berderajat hasan [26]. Hadits hasan dapat dijadikan hujah. [27] Hadits ini rawi-rawinya merupakan rawi-rawi tsiqat, kecuali Abu Khalid, Ibnu ‘Ajlan, dan Zaid bin Aslam.

(1). Abu Khalid adalah Sulaiman bin Hayyan Al-Azdi. Ibnu Hajar menyatakan bahwa dia adalah rawi shaduqun yukhthi` (seorang yang sangat jujur, kadang-kadang berbuat salah). [28] Rawi shaduq haditsnya merupakan hadits hasan. [29] Sifat rawi yukhthi` merupakan jarh yang tidak menurunkan derajat ketsiqatannya. [30] Oleh karena itu, Abu Khalid termasuk rawi hasan.

(2). Ibnu ‘Ajlan adalah Muhammad bin ‘Ajlan Al-Madini. Ibnu Hajar menyatakan bahwa dia adalah rawi shaduq, akan tetapi hafalannya tercampur pada hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. [31] Namun, hadits ini diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri, maka tidak termasuk dalam hadits yang hafalannya tercampur. Oleh karena itu, Ibnu ‘Ajlan termasuk rawi hasan.

(3). Zaid bin Aslam dinyatakan oleh Ibnu Hajar sebagai rawi tsiqat, akan tetapi meriwayatkan hadits-hadits mursal. [32] Dalam kitab Tahdzibut Tahdzib disebutkan bahwa riwayat-riwayat Zaid bin Aslam yang mursal adalah riwayat dari Sa’d, Abu Umamah, ‘Abdullah bin Ziyad dari ‘Ali, Abu Sa’id, dan riwayat dari Mahmud bin Lubaid. [33] Adapun hadits ini diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Abi Sa’id dari Abu Sa’id Al-Khudri, sehingga tidak termasuk riwayat yang mursal.

Asy-Syaukani memahami bahwa lafal  فَلْيُصَلِّ إِِلَي سُتْرَةdalam hadits ini menunjukkan wajibnya penggunaan sutrah ketika shalat. [34]

Catatan: terdapat hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas yang menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat tanpa menggunakan sutrah (lihat analisa hadis Thalhah). Suatu amalan yang Rasulullah pernah meninggalkannya itu menunjukkan bahwa amalan tersebut tidak wajib.

Kelima, Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar tentang Larangan Melakukan Shalat tanpa Sutrah

حَدَّثَنِيْ صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ ، قَالَ ، سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ ، وَ لاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ . [35] رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

Artinya:

Telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Yasar, dia berkata, aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau melakukan shalat kecuali ke (arah) sutrah, dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di hadapanmu, maka jika dia enggan maka hendaklah engkau mencegahnya, maka sesungguhnya bersamanya ada yang menemani (setan).” HR Ibnu Khuzaimah.

Hadits ini berderajat hasan. [36] Hadits hasan dapat dijadikan sebagai hujah. Rawi-rawi dalam hadits ini merupakan rawi-rawi tsiqat, kecuali Adl-Dlahhak bin ‘Utsman.

Catatan: Adl-Dlahhak bin ‘Utsman dinyatakan oleh Ibnu Hajar bahwa dia adalah rawi shaduqun yahimu (yang sangat jujur, kadang-kadang keliru). [37] Rawi shaduq haditsnya merupakan hadits hasan. Sifat rawi yahimu merupakan jarh yang tidak menurunkan derajat ketsiqatannya. [38]  Oleh karena itu, Adl-Dlahhak termasuk rawi hasan.

Al-Albani menjadikan hadits ini sebagai dalil wajibnya menggunakan sutrah ketika shalat. [39]

Catatan: terdapat hadits shahih riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas yang menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat tanpa menggunakan sutrah, sedangkan Rasulullah mustahil meninggalkan suatu amalan yang diwajibkan. Dengan demikian, penggunaan sutrah ketika shalat itu tidak wajib.

Keenam, Sabrah bin Ma’bad tentang Perintah Menggunakan Sutrah walaupun dengan Anak Panah

ثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ الرَّبِيْعِ بْنِ سَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لِيَسْتُرْ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ وَ لَوْ بِسَهْمٍ . [40] رَوَاهُ الْحَاكِمُ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Harmalah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad, dari bapaknya, dari kakeknya, dia (Sabrah) berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian menggunakan sutrah (pada) shalatnya, walaupun dengan anak panah.” HR Al-Hakim.

Hadits ini berderajat hasan lighairihi. [41] Hadits hasan lighairihi dapat dijadikan hujah. [42]  Rawi-rawi dalam hadits ini merupakan rawi-rawi tsiqat, kecuali ‘Abdul ‘Aziz.

Abdul ‘Aziz adalah ‘Abdul ‘Aziz bin Ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad. Ibnu Hajar mengatakan bahwa dia termasuk rawi shaduqun rubama ghalitha (yang sangat jujur, kadang-kadang berbuat salah). [43]

Menurut Al-‘Utsaimin, perintah dalam hadits ini tidak menunjukkan wajibnya penggunaan sutrah ketika shalat, dengan alasan  adanya qarinah yang memalingkan perintah dalam hadits ini dari makna wajib kepada sunnah, yaitu hadits riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas yang menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat tanpa menggunakan sutrah. [44]

Catatan: jika menggunakan sutrah ketika shalat itu wajib, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan meninggalkan penggunaan sutrah tersebut. Dengan demikian, hadits ini tidak menunjukkan wajibnya penggunaan sutrah ketika shalat, akan tetapi menunjukkan sunnahnya penggunaan sutrah ketika shalat. (Muhammad Iqbal/ed)

 

FOOTNOTE: 

[1] Lihat Nailul Authar, karya Asy-Syaukani, jld. 2, jz. 3, hlm. 2.

[2] Lihat Talkhishu Shifati Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam susunan Al-Albani, hlm. 4.

[3] Lihat Nailul Authar susunan Asy-Syaukani, jld. 3, jz. 3, hlm. 2-5.

[4] Lihat Ushulul Fiqh susunan Muhammad Ridha Al-Mudhaffar, jz. 2, hlm. 59.

[5] Lihat Talkhishu Shifati Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam susunan Al-Albani, hlm. 4.

[6] Lihat Ushulul Fiqh susunan Muhammad Ridla Al-Mudhaffar, jz. 2, hlm. 56.

[7] Lihat Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Az-Zuhaili, jld. 1, hlm. 780-781.

[8] Lihat Fatawal Lajnatid Da`imah susunan Ad-Duwaisy, jld. 7, hlm. 76.

[9] Lihat Ad-Durarul Bahiyyatu fi Bayanil Manahisy Syar’iyyah susunan Al-‘Utsaimin, jld. 1, hlm. 353.

[10] Lihat Fiqhus Sunnah susunan As-Sayyid Sabiq, jld. 1, hlm. 255-256. Lihat juga Fatawal Lajnatid Da`imah susunan Ad-Duwaisy, jld. 7, hlm. 76. Lihat juga Ad-Durarul Bahiyyatu fi Bayanil Manahisy Syar’iyyah susunan Al-‘Utsaimin, jld. 1, hlm. 353. Lihat juga Al-Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuh susunan Az-Zuhaili, jld. 1, hlm. 780-781.

[11] As-Sindi, Shahihul Bukhariyyi bi Hasyiyatil Imamis Sindi, jld. 1, hlm. 185, k. Ash-Shalah, h. 494.

[12] Lihat Fat-hul Bari susunan Ibnu Hajar, jz. 2, hlm. 151.

[13] Lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Az-Zuhaili, jz. 1, hlm. 78.

[14] As-Sindi, Shahihul Bukhariyyi bi Hasyiyatil Imamis Sindi, jld. 1, hlm. 185, k. Ash-Shalah, h. 495.

[15] Lihat Tuhfatul Bari susunan Zakariyya Al-Anshari, jld. 1, hlm. 360.

[16] Lihat Shahihu Muslim susunan Muslim, jld. 1, hlm. 450, k. Ash-Shalah, h. 241.

[17] Lihat Shahihu Muslimin bi Syarhin Nawawi susunan An-Nawawi, jld. 2, jz. 4, hlm. 216.

[18] Qarinah adalah sesuatu yang digunakan untuk menentukan makna yang dimaksud (lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Az-Zuhaili, jz. 1, hlm. 297).

[19] Lihat Ushulul Fiqhil Islami susunan Az-Zuhaili, jz. 1, hlm. 219.

[20] As-Sindi,Shahihul Bukhari bi Hasyiyatil Imamis Sindi, jld. 1, hlm. 185, k. Ash-Shalah, h. 493.

[21] Lihat Fat-hul Bari susunan Ibnu Hajar, jz. 2, hlm. 151.

[22] Lihat Tuhfatul Bari susunan Zakariyya Al-Anshari, jld. 1, hlm. 100-101.

[23] Lihat Ad-Durarul Bahiyyatu fi Bayanil Manahisy Syar’iyyah susunan Al-‘Utsaimin, jld. 1, hlm. 353-354.

[24] Lihat Syarhubni Baththal susunan Ibnu Baththal, jld. 2, hlm. 646.

[25] Abu Dawud, Sunanu Abi Dawud, jld. 1, jz. 1, hlm. 186, k. Ash-Shalah, h. 698.

[26] Lihat lampiran, hlm. 23-25.

[27] Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Ath-Thahhan, hlm. 39.

[28] Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 384, no. 2555.

[29] Lihat Asy-Syarhu wat Ta’lil susunan Yusuf Muhammad Shiddiq, hlm. 73.

[30] Lihat Asy-Syarhu wat Ta’lil susunan Yusuf Muhammad Shiddiq, hlm. 160.

[31] Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 112, no. 6156.

[32] Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 326, no. 2123.

[33] Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 535.

[34] Lihat Nailul Authar susunan Asy-Syaukani, jld. 3, jz. 3, hlm. 2.

[35] Muhammad Musthafa Al-A’dhami, Shahihubni Khuzaimah, jz. 2, hlm. 9-10, h. 800.

[36] Lihat lampiran, hlm. 25.

[37] Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 443, no. 2983.

[38] Lihat Asy-Syarhu wat Ta’lil susunan Yusuf Muhammad Shiddiq, hlm. 160.

[39] Lihat Talkhishu Shifati Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam susunan Al-Albani, hlm. 4.

[40] Al-Hakim, Al-Mustadrak, jz. 1, hlm. 252, k. Ash-Shalah.

[41] Lihat lampiran, hlm. 25-27.

[42] Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Ath-Thahhan, hlm. 43.

[43] Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld.1, hlm. 603, no. 4105.

[44] Lihat Ad-Durarul Bahiyyatu fi Bayanil Manahisy Syar’iyyah susunan Al-‘Utsaimin, jld. 1, hlm. 353.

Tinggalkan komentar