Peranan Ulama dalam Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Berhasil Membebaskan Baitul Maqdis


Tentang Buku

Buku ini berjudul ‘Hakadza Dzahara Jilu Shalahiddin wa Haakadza ‘Aadatil Quds.

Buku ini adalah karya Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani; seorang penulis beberapa karya penting dalam bidang pendidikan dan sejarah. Di antara yang terpenting adalah trilogi Ushul Tarbiyyah al-Islamiyyah, dimana salah satunya, yaitu Falsafah at-Tarbiyyah al-Islamiyyah meraih penghargaan Al-Farabi Internasional Award (2008) setelah mengungguli 128 kandidat lainya di seluruh dunia.

Gambar: Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani

Dalam kata pengantar buku ini, penulis menyebutkan bahwa salah satu chanel tv di Israel membahas buku ini selama 1 jam dan menyimpulkan bahwa buku ini sangat berbahaya, karena buku ini bisa menjadi panduan yang sangat kongrit untuk membentuk masyarakat radikal.

Gambar: Terjemahan buku ini dalam bahasa Indonesia yang terbit pada th. 2007

Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1985 dalam Bahasa Arab.

Adapun versi terjemahan buku ini ke Bahasa Indonesia pertama kali terbit pada tahun 2007 dengan judul, “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib; Refleksi 50 tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina” yang diterjemahkan oleh Asep Shobari, Lc dan Amaluddin Lc. MA.

Pada tahun 2019, versi terjemahan buku ini diterbitkan kembali oleh Mahdara Publishing dengan judul: “Model Kebangkitan Umat Islam; Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina”.

Gambar: Terjemahan buku ini dalam versi Bahasa Indonesia yang terbit pada th. 2019

Sekilas Tentang Buku Ini

Buku ini menerangkan tentang bagaimana kemunculan generasi emas Shalahuddin Al-Ayubi yang mampu memenangkan perang Salib dan merebut Kembali Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha kembali ke pangkuan Muslimin, setelah kurang lebih 90 tahun dikuasai oleh kaum Nasrani.

Buku ini sangat menarik dan mencerahkan. Dikatakan mencerahkan karena buku ini menyajikan realita bahwa kemenangan yang dicapai oleh umat Islam pada perang Salib yang dipimpin oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi bukanlah kemenangan yang dicapai oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi secara individual. Bukan karena beliau seorang utusan dari langit. Bukan pula beliau seorang pahlawan tunggal yang muncul secara tiba-tiba.

Kemenangan tersebut diraih berkat proses panjang yang dilalui oleh Umat Islam pada saat itu selama hampir satu abad lamanya. Proses tersebut berupa jerih payah para Ulama dalam mendidik umat hingga menghasilkan sosok-sosok hebat seperti Shalahuddin Al-Ayyubi.

Isi Buku

Buku ini secara umum terbagi menjadi 3 bagian Utama, yaitu:

Bagian Pertama

Dr. Majid Irsan Al-Kilani pada bagian pertama ini membeberkan fakta terkait kondisi Umat Islam pra (menjelang) penaklukan pasukan salib.

Penulis mendiagnosa tentang apa sajakah penyebab umat Islam terpuruk, sehingga dapat ‘dikalahkan’ oleh Pasukan Salib.

Beliau menyebutkan beberapa aspek yang menyebabkan Umat Islam saat itu yang memang ‘pantas’ untuk ‘dikalahkan’ oleh Pasukan Salib.

Penyebab paling peting adalah aspek ilmu. Ilmu saat itu ‘disalah fahami’ oleh kebanyakan Umat Islam terkhusus para ‘Ulama’ dan ‘Umara’.Dampak dari ‘kesalahan fahaman’ tetang ilmu tersebut, akhirnya banyak bermunculan ‘Ulama’ dan ‘Umara’ yang ‘salah’.

Dampak dari ‘kesalah fahaman’ dalam mendefinisikan ilmu dan pemikiran itu pada akhirnya memberikan efek yang sangat komplek dan signifikan dalam aspek lainnya secara umum; dari segi sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya.

Kalau boleh dikatakan, Umat Islam pada saat itu sedang mengidap penyakit kronis yang akut sehingga Pasukan Salib ‘dengan mudahnya’ melanggeng masuk ke wilayah Muslimin dan berhasil merebut Palestina.

Diantara penyakit tersebut adalah;

i). Bidang Pemikiran (Ilmu), seperti penyakit fanatisme madzhab, penyimpangan tasawwuf, ancaman pemikiran kebatinan, dan ancaman filsafat dan para filsuf.

Pengaruh dari ‘bermasalahnya’ bidang pemikiran,dan ilmu tersebut berdampak pada:

ii). Rusaknya Aspek Ekonomi

Terjadinya inflasi ekonomi yang sangat tinggi yang diperburuk dengan adanya strata sosial di masyarakat saaat itu mengakibatkan si-Kaya semakin kaya dan si-Miskin semakin miskin.

Ibnu Taghri Bardi dalam kitab an-Nujum Az-Zahirah menyebutkan bahwa pada th. 511 H harga barang kebutuhan naik dan bahan makanan habis, sehingga harga sekarung gandum atau tepung terigu bisa mencapai 300 dinar, sebutir telur seharga 1 dinar, sebuah delima dan jambu seharga 1 dinar. Lalu beberapa saat kemudian habis sama sekali. Banyak manusia yang mati kelaparan dan adapula yang mengonsumsi daging anjing dan kucing.

Ibnu jauzi, Ibnu Katsir dan Ibnu Taghri Bardi juga mencatat bahwa beberapa keluarga menderita kelaparan dan tidak dapat mengatasinya kecuali dengan cara memangsa anggota keluarganya sendiri, anak kecil atau mayat yang sudah meninggal alias terjadi praktek kanibalisme pada saat itu.

iii). Rusaknya Aspek Sosial

iii). Perpecahan Politik dengan pertentangan Sunni-Syiah

iV). Lemahnya Dunia Islam secara umum

Berikut ini contoh fakta yang dibeberkan penulis tentang lemahnya Umat Islam dan pemimpin Muslimin saat itu:

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa disaat serangan pasukan salib semakin meluas, para sultan dan penguasa daerah tidak melakukan tindakan apapun. Mereka malah sibuk dengan urusan pribadi, kepetingan pribadi dan terus bersaing dalam hal-hal itu.

Ibnu Atsir dalam al-Muntadzam juga merekam sebuah peristiwa saat para Ulama berusaha memobilisasi Muslimin untuk bangkit melawan pasukan salib atas titah Khalifah Abbasiyyah, akan tetapi hasilnya nihil dan mereka pulang dengan tangan hampa.

Ibnu Tagrhi Bardi dalam An-Nujum Az-Zahirah menyebutkan sebuah peristiwa yang sangat memilukan dimana saat delegasi dari Syam datang ke Baghdad untuk menghadap Khalifah an-Nashir li dinillah sambil membawa karung besar yang berisi tumpukan tulang belulang manusia, rambut wanita dan anak-anak, lalu dai menggelarnya di depan Khalifah dan pembesarnya. Ironisnya, Khalifah justru berkata kepada menterinya, “Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting! merpatiku, si Balqa`, sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya.

Penyakit-Penyakit tersebut di atas melemahkan umat dari dalam (internal) diri mereka sendiri. Imunitas mereka menurun, sehingga dengan mudah ‘dikalahkan’ oleh pihak lain (eksternal) yang saat itu adalah Pasukan Salib. Puncaknya pada tahun 429 H, Baitul Maqdis berhasil dikuasai oleh orang-orang Nashrani dan mengakibatkan 70.000 orang dibantai pada peristiwa itu.

Bagian Kedua

Pada bagian ini penulis menyebutkan tentang usaha apa saja yang dilakukan Ulama untuk mengobati penyakit tersebut. Di dalam buku ini, usaha tersebut diistilahkan dengan ‘islah’ atau ‘reformasi’.

Bagaimana Ulama mereformasi bahkan merevolusi akhlaq dan mentalitas umat pada saat itu, sehingga mereka sembuh dari penyakit-penyakit yang telah disebutkan di atas.

Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghozali

Salah satu sosok ulama yang disebutkan secara terperinci pada buku ini adalah Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghozali. Beliau lahir pada th. 450 H dan wafat pada th. 505 H.

Beliau berusaha mereformasi dan merevolusi pandangan ‘ilmu yang salah’ yang menjangkit kaum Muslimin saat itu, terutama dari kalangan Ulama, baik Fuqaha maupun Sufi. Beliau berusaha menyeimbangkan antara fiqih dan tasawwuf, antara syari’at dan haqiqat, sehingga menghasilkan Ulama yang zuhud yang berkecimpung dan terlibat langsung dengan kehidupan masyarakat.

Sebelumnya, Imam Al-Ghozali terlebih dahulu meng-ishlah (mereformasi) diri beliau sendiri dengan melengserkan diri dari rektorat Universitas Nizamiyyah, melakukan uzlah sekian lama, bertafakkur, mendiagnosa penyakit yang sedang menjangkit umat sekaligus merancang obatnya.

Dalam bidang ilmu fiqih/tasawwuf beliau menulis kitab Ihya Ulumiddin (Menghidupkan -kembali- Ilmu Agama). Untuk mengkounter faham Bathiniyyah beliau menulis kitab Fadlo`ihul Bathiniyyah. Untuk melurusan Filsafat dan para Filsuf beliau menulis kitab Tahafutul Falasifah, dan lain sebagainya.

Setelah selesai ‘meramu obat’ untuk mengobati ‘penyakit-penyakit kronis’ yang menjangkit Muslimin, beliau kembali lagi ke tengah masyarakat untuk melakukan reformasi atau Ishlah.

Pada periode ishlah yang pertama ini, upaya beliau tidak banyak membuahkan hasil, karena begitu komplek permasalahan yang sedang menjangkit umat. Akhirnya, beliau kembali menarik diri dari hiruk pikuk masyarakat dan kembali ke kampung halaman di Thus, Iran.

Beliau mendirikan madrasah dan merancang kurikulum yang fokus membenahi dan mereformasi umat. Sepeninggal beliau, tren madrasah-isasi ini berkembang pesat dan mulai banyak madrasah-madrasah yang mengadopsi kurikulum beliau.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Beliau lahir pada th. 470 H dan wafat pada th. 561 H.

Menurut penulis, pemikiran dan kurikulum Ishlah Imam Al-Ghozali banyak mempengaruhi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Hal tersebut dapat dilihat dari corak dan ciri khas madrasah-madrasah yang beliau dirikan.  Madrasah-madarasah tersebut menjadi agen ishlah di tengah umat saat itu.

Selain madrasah yang beliau dirikan terdapat pula madrasah-madrasah yang berafiliasi dengan madrasah beliau yang tersebar di penjuru negeri kaum Muslimin pada saat itu.

Konsolidasi dan Koordinasi antar Madrasah

Hal yang menarik yang disajikan penulis buku ini adalah bagaimana upaya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani melalui madrasah-madrasah yang beliau dirikan berhasil melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan mengadakan perkumpulan (konferensi) antar madrasah-madrasah Ulama lain, sehingga dihasilkan penyamaan persepsi dan arah dakwah yang sama untuk mendidik kaum Muslimin saat itu.

Pertemuan pertama diadakan di ribath Madrasah Al-Qadiriyyah, di Halabah, Baghdad.

Pertemuan kedua diselenggarakan bersamaan dengan momentuk pelaksanaan ibadah haji dan dilanjutkan degan pertemuan-pertemuan lainya yang lebih besar dan intensif.

Gelar-gelar seperi Al-Quthbul Ghouts yang disandang oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani juga gelar Al-Abdal untuk Ulama di bawahnya dan dibawahnya lagi Al-awtad dan Al-Awliya merupaka strata dari satu kesatuan struktur organisasi konsolidasi madrasaah-madrasah tersebut, sehingga memudahkan kaderisasi dan pengaplikasian kurikulum-kurikulum yang sama dalam rangka untuk memperbaiki keadaan ummat dan menyembuhkan penyakit yang sedang menjangkit mereka terutama di kalangan para Ulama.

Terbentuknya Ummah Al-Mahjar; Kesultanan Nuruddin Az-Zanki

Madrasah-madrasah tersebut akhirnya menghasilkan banyak alumni yang secara aktif ikut bergabung dalam kesultanan Nuruddin Az-Zanki dengan berbagai profesi.

Ada yang menjadi penasehat kesultanan, qadli, guru, pejabat, bahkan ada pula yang menjadi perwira militer yang tentunya sangat mempengaruhi atmosfir pemerintahan tersebut.

Sultan Nuruddin Az-Zanki mempunyai keponakan yang bernama Shalahuddin Al-Ayyubi. Pada periode selanjutnya, dia menjadi sosok pemimpin yang menggerakkan ummat untuk membebaskan Baitul Maqdis pada th. 582 H, tepat 90 tahun setelah dikuasai oleh Pasukan Salib.

Ringkasan bagian kedua adalah usaha yang diakukan Ulama untuk menyembuhkan penyakit Kaum Muslimin pada saat itu, sehingga berkat usaha tersebut para Ulama berhasil memunculkan generasi emas seperti generasi Shalahuddin Al-Ayyubi.

Bagian Ketiga

Bagian ini membahas pola sejarah yang kerap terulang dari zaman ke zaman. Bagaimana mendeteksi penyakit kaum Muslimin, bagaimana mengupayakan solusinya dan bagaimana mengaplikasikan gagasan tersebut di era Modern saat ini.

Menurut penulis, apa yang terjadi di masa perang salib sudah terjadi di masa-masa sebelumnya dan bisa terjadi lagi di masa-masa setelahnya, bisa terjadi pada hari ini bahkan bisa terjadi lagi pada masa yang akan datang.

Beliau tidak setuju dengan adigum, “Sejarah akan terulang Kembali” dan “Sejarah Pasti Menyimpan Ibrah”. Beliau mengusung kaidah lain yang lebih realistis yaitu, “Sejarah memiliki pola yang sama”.

Diantara pola yang dirumuskan penulis adalah:

Sehat atau sakitnya suatu masyarakat tergantung pada sehat atau sakitnya pemikiran yang berkembang pada masyarakat tersebut.

Poros kebangkitan itu ada 3, yaitu: i). Pemikiran/ilmu, ii). SDM (Sumber Daya Manusia), dan iii). Materi.

Masyarakat yang sehat adalah ketika loyalitas kepada pemikiran atau ilmu sebagai titik pusat perilaku, dan kebijakan-kebijakannya. Sementara aspek Sumber Daya Manusia dan materi bergerak di bawah kendali pemikiran dan ilmu.

Masyarakt yang sakit adalah ketika loyalitas kepada aspek Sumber Daya Manusia sebagai titik pusat, sementara pemikiran dan materi bergerak di bawah kendali ‘manusia’.

Masyarakat yang sekarat adalah ketika loyalitas kepada materi menjadi titik pusat, sementara pemikiran dan sumber daya manusia berada di bawah kendali ‘materi’.

Kesimpulan

Penulis buku ini mengajak kita untuk menelaah sejarah Umat Islam di masa lalu, khususnya pada masa perang Salib secara kongkrit dan menyeluruh.

Kemenangan yang dicapai Muslimin pada saat itu bukanlah dicapai oleh aksi tunggal dan individual seorang pahlawan bernama Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, tapi merupakan aksi bersama (kolektif).

Hasil dari kerjasama setiap elemen Ummat Islam yang berlangsung dalam rentang waktu yang lumayan lama yang diinisisai oleh para Ulama diantaranya adalah Imam Al-Ghozali dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ulama-ulama lainya dalam mereformasi umat Islam, merevolusi akhlaq mereka hingga sembuh dari penyakit-penyakit kronis yang menggerogoti mereka.

Hingga pada akhirnya muncul Ummat al Mahjar (Komunitas Solid yang Merangkul Segenap Potensi ishlah) yang pantas memikul beban amanah dan mendapatkan kemenangan yang mereka idamkan yaitu pembebasan Baitul Maqdis.

Tinggalkan komentar