Relativitas Semu

“surga tuhan yang satu terdiri daribanyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki surganya. Syarat memasuki surga adalah keikhlasan untuk mengentaskan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama.” 

#     #     #

“Ri, kalo cuci baju, hemat air. Jangan banyak-banyak, kemarau belum kelar.”

Suara Harun untuk yang kesekian kalinya mengingatkanku. Teman kosku yang satu ini orangnya memang cukup disiplin. Pinter lagi. Tapi menurutku radak aneh.

“Ri, karena pemanasan global, cuaca jadi sulit diperkirakan. Siapa tahu kemarau kali ini bakal panjang banget. Makanya kamu jangan boros-boros pake air!”

“nggih pak guru.”

Temenku ini wawasannya juga luas. Maklum camilannya tiap hari buku dan Koran. Memang nggak dimakan, tapi kalo sudah pegang buku pasti habis dibaca. Kemaren lusa dia ke mana-mana bawa bawa The Challenge of Pluralism nya Dianna L. Eck. Kemarinnya lagi malah sempat tidur sama Pintu-Pintu Menuju Tuhankarangan Nur Cholis Madjid. Itu mungkin karena dia mahasiswa UIN fakultas ushuluddin di kota gudeg Yogyakarta ini. Tapi yang aneh, dia malah jarang baca Al-Qur`an. Entah juga kenapa, dia jarang ke masjid. Meskipun aku sendiri juga lebih sering shalat di kosan.

Sudah setahun ini Harun tinggal sekamar denganku. Selain karena sama-sama perantauan, kita juga sama-sama cari yang murah. Maklum hanya terdiri dari satu kamar dan dapur plus kamar mandi di belakangnya. Meskipun aku dan Harun beda kampus, tak mengahalangi kita untuk hidup rukun dalam satu atap. Dia kuliah di UIN, aku di UGM. Dia fakultas  ushuluddin, aku tehnik. Nggak nyambung memang. Tapi sepertinya nggak ada yang perlu disambung. Taqdirlah yang berhasil mempertemukan kami dalam kamar yang agak pengap ini.

“Run, orang zaman sekarang makin aneh-aneh aja, ya. Masa orang lesbi malah banyak yang mendukung.  Itu kan kelainan. Nggak bener ni.” Aku mencoba memecah keheningan di antara keasyikan kami masing-masing. Harun masih serius dengan bukunya, sedang aku lebih enak memainkan jari telunjuk di atas  touchpad note book kesayanganku. Aku lebih suka mencari berita via on line dari pada membaca koran seperti Harun. Dan kali ini sebuah berita terbaru yang berhasil membuatku menggeleng-gelengka kepala.

“Irsad Manji maksud mu?” jawabnya, meski masih tak menoleh dari wajah bukunya.

“yap, seratus. Lama-lama kita bisa kesulitan cari perempuan normal, Run.”

“heh, Run. Lesbian itu kelainan kan menurut kamu. Menurut mereka itu sah-sah saja, selama tanpa ada unsur paksaan. Asal kamu tahu aja, laki-laki yang homo juga sudah mulai banyak lho!” kali ini dia baru mau menoleh. Malah berlagak kayak dosennya. Tapi aku belum sepenuhnya mengerti maksudnya.

“maksudmu menurut mereka?”

“ya, sebagaimana kamu menganggap hubungan yang normal itu laki-laki perempuan, mereka juga berhak mengatakan lesbian itu normal. Semuanya relativ bro, jangan mau menang sendiri!”

“lho, kok jadi relativ? Menurut Islam, lesbian dan homoitu kan nggak bener. Malahan kalo nggak salah, akau ingat cerita dari guru ngajiku dulu, ada kaum yang homo dan lesbi. lalu mereka kena adzab.” Aku mulai tak mengerti jalan fikirnya. “eh, tapi kamu masih normal kan, Run?”

“hus, masih lah. Ngawur kamu!” aku lega teman se-kosku ini tidak berkelainan seks. Jujur, mending tidur di pinggir jalan, dari pada tidur sekamar sama homo. “apalagi kamu bawa-bawa agama. Urusannya bisa semakin melebar. Akibatnya bisa jadi menumpahkan darah orang banyak. “ jelasnya cukup singkat. Tapi omongannya semakin membuat keningku berkenyit. Yah, terpaksa aku jadi ikut mikir.

“kok bisa?”

“bisa lah, buktinya sekarang banyak perang di Afghanistan, Myanmar, baru-baru ini malah di Madura. Itu semua karena masing-masing pihak punya anggapan hanya mereka yang benar dan lawannya yang salah besar. Ya, seperti kamu tadi!” sepertinya aku mulai paham.

“hmm..bener juga. Tapi kalo semua dianggap bener. Trus,yang salah siapa?”

“yang salah, ya yang menganggap dirinya paling benar. Kamu boleh menganggap dirimu dan yang kamu yakini itu benar. Tapi jangan menyalahkan orang yang tidak sekeyakinan dengan kamu. Apalagi kamu memaksa orang lain untuk sama denganmu. Karena di dunia ini nggak ada kebenaran yang absolut. Kalau menurut Charles Kimball, agama yang menganggap keyakinannya paling benar dan selainnya salah adalah evil religion. Karena akibatnya akan menimbulkan pertumpahan darah seperti tadi.” Wah, ternyata nggak percuma dia tiap hari makan buku. Lagaknya semakin mirip dosen-dosen. Aku hanya bisa manggut-manggut kali ini.

“sepertinya aku mulai ngerti, Run. Jadi orang-orang Kristen itu nggak bener, dong. Soalnya, di kampungku banyak orang yang dibaptis secara paksa. Nggak beres.”

“sip. Ibaratnya begini. Surga tuhan itu pintunya nggak cuma satu. Ada banyak pintu di sana. Nah, pintu-pintu itu ibarat agama-agama yang ada. Silakan masuk dari pintu manasaja boleh.” Sekarang tangannya ikut mengilustrasikan surga yang banyak pintunya itu.

“lewat pintu Islam?” Tanyaku.

“silakan!” jawabnya sambil beranjak dari duduknya menuju galon air minum di pojok ruangan.

“lewat pintu Kristen?” lanjutku.

“silakan!”

“pintu Budha?”

“silakan juga!”

“Run, lama-lama lagakmu kayak penjaga pintu surge aja. Emang gajinya berapa, gedhe ya?” eh dia malah nyengir. “eh, ngomong-ngomong kamu sendiri muslim kan. Kenapa kamu pilih pintu Islam, nggak pintu-pintu lainnya, Run. Kan sama aja.”

Kali ini geraknya terdiam di depan galon air minum. Pandangannya menerawang ke langi-langit kamar yang mulai dipenuhi sarang laba-laba. Memangnya di sana ada siapa. Atau sepertinya dia memikirkan sesuatu.

“Run, kok malah bengong.”

“hmm… iya , ya. Kenapa pilih pintu Islam ya?” nah lu. Si jenius kehabisan jawaban rupanya. Kelihatannya ia benar-benar mencerna pertanyaanku sambil menuang air ke dalam gelasnya lalu dibuang lewat jendela.

“lho..lho..Run. kenapa di buang. Katanya hemat air, air minum lagi!”

“gelasnya kotor, Ri” enteng banget jawabnya. Apa hemat air juga relativ, ya. Tadi aku cuci baju pake air banyak disalahkan. Sekarang dia buang-buang air minum, nggak masalah. Jujur, sebenarnya aku masih bingung soal relativ itu.

#     #     #

“Ri, Ari… udah berapa kali kubilang. Kalo pake air jangan banyak-banyak. Hemat, Ri!”

Lagi-lagi Harun. Padahal aku sudah berusaha supaya kata-kata seperti itu tak kudengar lagi. Tapi entah kenapa masih aja ngomel.

“eit, ntar dulu Run!” sekarang giliranku berargumen. Lama-lama telinga inijuga  bisa  geli mendengar omelannya terus-menerus. Kuhampiri pertapaannya di kamar depan. Masih sibuk dengan bukunya. “kamu jangan benar sendiri dulu. Apalagi maksa orang lain sependapat denganmu!”

“hei, itu kan kalimatku kemarin” Harun agat tak terima rupanya.

“katamu nggak ada kebenaran yang absolut. Semuanya relativ. Jadi aku juga berhak punya pendapat kalo pakai air banyak-banyak untuk cuci baju itu boleh-boleh aja.”

“Tapi…”

“Eit, semuanya relativ, bro. jangan mau menang sendiri! He..he..”Nggak percuma ceramah Harun kemarin kudengarkan benar-benar, meskipun belum sepenuhnya kupahami.

Cuci baju selesai, saatnya istirahat. Mataku sekali-kali perlu juga di ajak tidur siang. Ternyata Harun sudah mendahului terlentang di atas kasurnya. Tapi matanya belum terpejam. Bahkan sepertinya ia sedang membaca sesuatu di langit-langit kamar. Serius, tapi tidak dengan buku. Bukunya bahkan terselip di antara jemarinya. Kali ini bukunya kelihatan bernuansa Hindhu. Tapi entahlah. Pandangannya masih seperti kosong. Tak bergerak. Tak juga bersuara.

“Run!” dia belum juga menyadari kehadiranku.

“Run! Kenapa, kok kelihatannya seru banget. Sedang baca plavon, ya. Atau lagi cari cicak?”

“nggak.” Matanya masih terpaku di plafon-plafon “ternyata Mahatma Gandhi juga mengatakan bahwa semua agama itu benar. Dia tidak mengakui bahwa agamanya sendiri yang  paling benar.”

“trus apa hubungannya denganku. Siapa juga Mahtam… siapa tadi, An..an..”

“Mahatma Gandhi”

“oh, ya Mahatma Gandhi.” Orang ini bicara denganku tapi pandangannya masih tak beranjak dari plafon-plafon itu.

“aku juga nggak ngerti kenapa Mahatma Gandhi pilih agama Hindu. Kenapa nggak pilih Islam atau Kristen aja. Katanya semua agama sama.”

Rupanya pertanyaanku kemarin masih menghantui alam fikirnya. Aku sendiri yang bertanya nggak ambil pusing sama sekali. Heran.

Eh, HP-ku ketinggalan di dapur. Kubalik arah menuju dapur. Kalo HP-ku dibawa tikus  bisa repot urusannya. Kutinggal Harun dengan kebingungannya.

Belum sampai dapur, Harun ternyat juga menyusul. Tapi ia agak tergesa-gesa.

“dudah dapet jawabannya, Run. Gimana?” dia tak peduli. Hanya diam seribu kata. Ia mencari sesuatu di dapur.

“sari apa?” masih juga diam. Ternyata ia mangambil sebilah pisau. Pisau? Untuk apa. Masa sampai segitunya cari jawaban dari pertanyaan yang sejak kemarin menghantuinya. Jangan-jangan … anak ini nekat. Apa sudah kecapekan mencari jawaban.

“Run! Run! Mau apa kamu Run?” kukejar Harun menuju kamar. Tapi tetap membisu, aku tak percaya anak itu bisa senekat ini. Kupegang erat-erat tangan Harun yang membawa pisau. Kau tak mau melihat darah berceceran di kamar kos ini.

“Run! Tenang Run. Jangan frustasi. Tenang!” mungkin dia terlalu tertekan dengan fikirannya.

“tenang apaan?” dia masih terus melawan.

“tenang Run, istighfar.” Dia semakin kuat melawanku. Ia rogoh saku celana yang tergantung di tembok. Selembar E-KTP ia keluarkan. Ia tancapkan pisaunya di KTP itu.

“heh, sedang apa kau Run?” lagi-lagi aku tak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Untuk apa ia merusakE-KTP nya. Tapi untung saja bukan tangannya yang diayat. Aku merasa sedikit lega. Tapi aku belum mengerti juga maksudnya.

“sepertinya tulisan ini tak berguna.” Ternya ta ia merusak tulisan agama Islam pada E-KTP nya. Aneh-aneh saja orang ini. “aku masih bingung. Agama mana yang sebenarnya harus kuyakini. Semuanya tak ada yang meyakinkan untuk di anut.” Lanjutnya sambil masih merusak KTP nya.

Kalu Harun saja bingung. Aku sendiri jauh lebih bingung melihat kelakuannya. Apalagi tentang penjelan-penjelasannya soal semua hal yang relativ. Belum lagi semua kebenaran yang tidak pasti. Kenapa juga dia harus begitu percaya dengan teori itu. Seakan hanya teori itu yang paling benar. Padahal menyatakan pendapatnya sendiri yang paling benar itu kan tidak boleh, kata Harun. Kalau memang relativ, kenapa harus begitu percaya dengan kebenaran teori itu. Tapi..entahlah. Bingung? Sama.

A story by: Vairuz Anan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *