Remorse

sebuah penyesalan yang mendalam

“Min, kita pulang dulu ya”

nggih, pak”

“kamu nggak apa-apa kan?”

mboten, pak. Amin juga sudah nggak ada pelajaran lagi. Tinggal tugas penulisan”

#    #    #

Gelap perlahan merayapi langit kabupaten Magetan. Sebuah desa yang menjadi pijakan gagahnya gunung Lawu. Kucuran gerimis yang belum berhenti sejak sore tadi menelan bulan dan gemintang di balik gumpalan-gumpalan awan. Tergantikan oleh hiruk pikuk nyanyian katak yang menggema di antara rerintik hujan. Tapi maaf, aku tak begitu suka dengan suara-suara itu. Sebab, hatiku lebih serasi dengan langit yang tak kunjung cerah. Mendung, kalut, gerimis dan kacau.

Ini adalah malam keduaku  di rumah. Bukan untuk liburan ma’had. Karena liburan ma’had baru saja usai dua hari yang lalu. Mungkin lebih tepatnya ini adalah masa hukuman. Tapi jangan sangka aku melakukan palanggaran. Aku hanya menjalani masa hukuman sebagai konsekwensi dari masalah administrasi yang baru saja menimpaku.

Untuk dapat kembali ke ma’had, setiap santri harus melunasi uang SPP bulan terakhir senilai Rp 450.000,-. Kali ini Allah belum memberiku izin untuk kembali ke ma’had. Sebab, tak ada rupiah untuk memenuhi syarat tersebut. Yang lebih ironisnya lagi, ternyata uang SPP selama 5 bulan sebelum ini juga belum dilunasi. Jadi, harga syarat kembali ke ma’haduntukku sebesar Rp 2.250.000,-. Sebuah nominal yang sangat luar biasa bagiku dan keluargaku. Aku tak tahu, dari mana aku bisa dapatkan rupiah sebesar itu. Apalagi pekerjaan bapak hanya penjual bubur ayam keliling. Dibantu emak yang hanya buruh tani. Tak bisa kulukiskan betapa sesak rasanya hidup ini, terlebih bila mengingat waktu yang diberikan pada bapak hanya satu bulan. Hanya keajaiban dari Allah yang bisa menolongku kali ini. Dua hari yang lalu aku sempat meminta keringanan pada pengurus ma’had, tapi beliau tidak bisa memberikannya. Dan akhirnya beginilah nasib membawaku. Saat semua rekanku sudah memulai kegiatan di ma’had, aku masih tesangkut nasib di rumah.

Malam ini, bersama gemerintik hujan, hatiku merasakan gelapnya hari tanpa rembulan. Dalam kalbu kumenangis lebih deras dari hujan yang hingga kini belum reda. Bingung pun turut menambah perihnya derita. Di bawah atap bocor sebuah gubuk di kaki gunung Lawu, keluargaku meradukan harinya. Makan malam menjadi sebuah magnet yang mengumpulkan semua penduduk gubuk. Bapak, emak, aku dan adik perempuanku yang masih kelas 6 SD. Dalam remang cahaya 5 watt, makan malam menjadi acara yang paling kutunggu-tunggu di rumah. Semua berkumpul, semua bercerita, tertawa bersama dan terkadang merenung bersama. Seperti malam ini, meski yang terhidang hanya nasi berlaukkan sambal dan tempe goreng, kebersamaan tak ingin ditinggalkan oleh siapapun dari kami. Sebuah tikar plastik yang hampir lapuk menjadi meja makan sekaligus kursinya.

Tapi kali ini semuanya terdiam. Sibuk dengan nasi sambal masing-masing. Pasti bapak dan emak juga sedang merasakan kesedihan sepertiku. Bahkan mungkin lebih perih. Saat bapak hampir menyelesaikan makannya, sebuah kalimat menusuk telingaku.

“pak, beras kita tinggal sedikit. Hanya cukup sampai besok pagi. Tidak cukup sampai makan siang” suara emak memecah keheningan. Pelan tapi begitu menghantam.

Bapak menghentikan kunyahan di mulutnya saat kalimat itu melintas di telinganya.

“ya” sebuah jawaban singkat. Aku tak begitu paham maksudnya.

Percakapan singkat itu semakin membuat perih sesak yang kurasakan. Ingin sekali kulakukan sesuatu untuk mereka. Sebenarnya aku sedang mencari kalimat yang tepat untuk sesuatu yang akan kuungkapkan pada bapak dan emak. Tapi aku takut, kalau mereka malah menjadi marah. Di sisi lain, hanya ini satu-satunya jalan yang kupunya untuk membantu mereka keluar dari masalah ini. Bimbang berkecamuk dalam hatiku.

Kini semuanya telah selesai makan. Adik perempuanku menata piring kami. Menumpuknya jadi satu. Lalu membawanya ke sumur untuk dicuci. Tapi bapak dan emak belum beranjak. Mungkin inilah saatnya. Semoga mereka tak marah.

“pak, bagaimana kalau aku tak usah kembali ke ma’had saja?”

“apa? Terus kamu mau sekolah di mana. Sekolah kamu itu sudah yang paling murah, Min!” suara bapak meninggi, padahal suaraku tadi amat pelan.

“Amin bantu bapak kerja saja. Untuk bayar hutang dan makan sehari-hari. Toh masih ada dik Imah yang sekolah. Kan juga butuh biaya.” Suaraku semakin kurendahkan.

“Min, kamu jangan berpikir macam-macam!” semakin tinggi saja suara bapak. Dan langsung beranjak dari duduknya. Sepertinya bapak marah. Dingin semakin terasa sampai ke relung hati. Hening malam itu sangat menusuk. Bapak, maafkan Amin. Aku tak bermaksud begitu.

“Min, kamu ini bagaimana, tho le?” wanita yang begitu istimewa bagiku itu kini angkat bicara “bapakmu itu begitu semangat mencari uang untuk sekolahmu. Siang kepanasan, sore kehujanan. Sampai bapak sakitpun tetap berangkat jualan. Sekarang malah kamu yang patah semangat. Apa kamu tidak malu sama bapak. Bapak dan emak tak apa-apa jungkir balik siang dan malam seperti ini. Asalkan kamu tetap bisa belajar. Dan nantinya kamu bisa jadi orang yang bermanfaat besar bagi Islam. Kan kamu sendiri yang sering cerita. Islam sekarang punya banyak musuh pemikiran. Jadi diperlukan orang-orang pintar untuk melawan mereka. Bapak dan emak tidak bisa apa-apa. Bapak dan emak cuma punya kamu yang harus diperjuangkan. Apa kamu sendiri ingin mundur begitu saja setelah bapakmu berenang peluh selama ini?” suara emak pelan, tapi setiap katanya bisa menembus jiwaku begitu dalam. Semakin perih saja rasanya hidup ini. Aku tak berani memandang wajah emak. Tak kukira kalimatku tadi akan berujung seperti ini. Pandanganku kini agak berkaca-kaca. Ada genangan di sudut mataku. Kutahan kuat-kuat mataku tak berkedip agar genangan itu tidak tumpah. Tapi tak bisa. Kelopak mataku tak cukup membendung air mata yang terus mengalir. Pipiku basah. Butiran-butiran bening mulai berjatuhan. Membentur di pangkuan. Aku menyesal, malu dan marah pada diriku sendiri.

“sudahlah, Min” emak kembali mengalirkan kalimatnya. “mencari uang itu tugas bapak dan emak. Sedang tugasmu itu belajar. Jangan kecewakan bapak dan emak. Jangan pupuskan harapan emak. Jika kamu putus belajar, berarti kamu sudah menjadikan perjuangan bapak selama ini tak berarti, keringat bapak selama ini terbuang sia-sia, air matanya saat berdoa untukmu tak ada hasilnya. Emak tahu, kamu kasihan pada bapak. Kamu mau bantu bapak. Tapi bukan begitu caranya. Kamu belajar sungguh-sungguh, jadi anak sholeh, terus doakan bapak dan emak setiap kamu sholat. Itu saja sudah lebih dari cukup bagi bapak dan emak. Kamu ngerti kan, Min?” aku hanya bisa mengangguk.

Suasana menjadi begitu sunyi. Di telingaku hanya ada suara emak yang menggema keras, merangsek ke lubuk hati. Mataku kian sembab. Air mata terus mengalir di pipiku. Bibirku tak mampu bersuara sepatahpun kata. Padahal dalam hati jiwaku beribu permintaan maaf ingin kuserahkan pada bapak dan emak.

Aku tenggelam dalam hening renungan. Aku berjanji pada diriku tak akan mengatakan kalimat itu lagi. Dengan pemikiran macam itu rupanya bukan masalah yang terselesaikan. Tapi menghancurkan seluruh harapan.

Oleh: Abdullah Je.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *