SEBERSIT RASA

Oleh       : Vairuz Arham

Untuk Sebersit Rasa

03.30 WIB

“Akhi, shalat tahjjud dulu!”

Sms itu datang lagi. Justru mengganggu orang shalat. Padahal aku sudah bangun sejak setengah jam yang lalu. Nokia N300-ku sejak dua hari lalu selalu kedatangan sms seperti itu pada jam segini. Misterius. Aku tak tahu dari siapa.

081234567891. Dan selalu nomor itu.

07.10 WIB

“Akhi, sblm kuliah, sarapan dulu!”

Padahal aku sedang puasa. Lama-lama menyebalkan juga orang ini.

13.25 WIB

“Akhi, sudah makan belum? Makan juga penting. spy dakwah jd ok!”

Pada awalnya tak masalah. Kuanggap sms nasehat biasa. Tapi kalau seperti ini, menyebalkan juga. Kesabaranku kini benar-benar habis. Yang seperti ini bukan nasehat  namanya. Tapi gangguan suasana.

“Maaf, antum siapa ya?”

Mungkin dengan tahu orangnya, aku bisa beri dia nasehat dengan cara yang lebih tepat. Tapi SMS-ku yang ini tak dijawab. Lama. 

“Tak perlu tahu siapa diriku. Yg kuharap hanya kebaikan dirimu.”

Akhirnya dijawab juga. Tapi jawabannya hanya menambah emosi saja.

“Maaf, sy serius. Jangan main2 dg sy.”

Tak dijawab lagi. Baru setelah maghrib, ringtone HP-ku berdering kembali.

“Akhi, maafkan aku. Aku tdk bermksd mengganggu. Aq hnya berhrap agr kt bisa meraih surga dg saling bersama.”

Pesan yang ini membuat dahiku berkerut. Maksudnya?

“Hani`ah”

Berselang hanya beberapa detik, SMS sudah datang lagi. Apa? seorang akhawat. Bola mataku seakan hampir copot membaca SMS barusan. Kutatap lekat-lekat. Barangkali aku salah baca. Tapi tidak. Memang dari seorang akhawat.

20.00 WIB

“aq minta maaf sekali lagi”

Nomor yang mengaku kepunyaan seorang akhawat bernama Hani`ah itu kembali memasukkan pesannya. Aku mulai mencium gelagat yang tidak beres.

“akhi, semua ini kulakukan hny krn Allah. Dzat yg tlh menciptakan rasa ini di hatiku. Kalimat2 dakwahmu selalu menumbuhkan bunga2 dihatiku”

Pesan pertama belum sempat terbalas, pesan selanjutnya sudah masuk. Yang ini bau busuknya semakin kentara. Tapi di mana dia mendengar aku berceramah. Hanya satu jadwalku ceramah. Majlis akhir pekan di masjid kampus. Mungkin dia peserta rutin majlis itu.

Salsa, adik permpuanku yang tadinya khusyuk membaca buku kini jadi sedikit meperhatikanku. Mungkin terheran. Kenapa aku melihat HP berkali-kali. Serius, sambil geleng-geleng kepala lagi.

“Ada apa, mas?” Ia sekarang bertanya.

“Nggak apa-apa. Cuma ada orang yang lagi kurang kerjaan.”

“akhi, sekali lagi maafkan aku.”

Sms dari orang tadi masuk lagi. Sepertinya orang ini benar-benar menunggu jawabanku. Tapi bila kujawab, jangan-jangan dia mengira aku menanggapinya. Tak boleh. Kuputuskan tak menjawabnya. Daripada khalwat ini belangsung semakin lama.  

Pesan yang sama masuk lagi. Dengan kalimat yang sama juga. Dalam waktu satu jam, sms yang sama masuk sebanyak tujuh kali. Bahaya ini orang! Tapi aku sudah bertekad. Tak akan kujawab sms-nya. Sampai seratus kali pun tak akan kujawab. Toh yang kehabisan pulsa juga bukan aku. Sebaiknya memang ganti nomor. Tapi kalau harus mengganti, bisa susah nantinya. Nomer ini dibutuhkan banyak orang. Dari asatidz, majlis ta’lim sampai lembaga-lembaga dakwah.

Aku punya ide.

“Sal, sini bentar!” Kupanggil adikku yang sedang asyik membaca bukunya di sudut ruangan.

“Aku minta tolong, bisa ya?”

“Tergantung, apa dan berapa?” Dasar. Adikku yang satu ini memang sedikit matrialistis.

“Soal berapa gampang. Yang penting kamu bantu mas dulu!”

“Ok, dech!”

“Begini. Tolong besok, di majlis akhir pekan, cari orang yang namanya Hani`ah.”

“Hayo, ngapain?”

“Huss. Dengarkan dulu. Kalo sudah dapat, ajak dia tinggal di masjid sebentar setelah ta’lim selesai. Ada yang mau kusampaikan padanya.”

“Soal apa?”

“Ah, pokoknya lakuin aja. Besok kamu tahu sendiri.”

“Tapi karena kelihatannya tugas yang satu ini agak berat, ya jangan lupa…” Ujarnya dengan cengir khas Salsa sambil menggosok-gosokkan jari telunjuk ke ibu jarinya. Persis seperti juragan bakso di samping rumah yang sedang menghitung lembaran-lembaran rupiah. Dasar Salsa.

#     #     #

Sabtu. Hari yang menjadi jadwalku mengajar di majlis akhir pekan yang biasa digelar di masjid kampus. Sebuah majlis dengan materi siroh nabawi yang bisa diikuti seluruh mahasiswa. Diadakan rutin setiap Sabtu, setelah shalat Ashar sampai pukul lima sore. Dan alhamdulillah, pesertanya yang terdiri dari ikhwan dan akhawat memang jarang terlihat sepi.  

Hari ini juga saatnya aku menyadarkan orang yang sejak tiga hari kemarin menerorku dengan sms gombalnya. Kutata segala frasa dan kata. Kuharap dia bisa faham tanpa aku harus menyakiti hatinya. Bukan berarti aku sudah menaruh hati juga pada orang itu. Akan tetapi agar ia benar-benar sadar, cara penyampaian harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Kalau dia sampai sakit hati karena kecewa, dia bisa bertambah gila. Dan mungkin juga menyimpan dendam dalam hatinya.

Majlis akhir pekan dimulai. Materi yang kusampaikan berkenaan dengan apa yang akan kusampaikan pada seseorang yang bernama Hani`ah nanti. Semoga saja ini bisa menjadi permulaan yang bagus. Kusampaikan cerita mengenai para sahabat yang hendak meminang seorang wanita. Bagaimana adab dan syari’at mengaturnya. Bagaimana pula seharusnya hubungan laki-laki dan wanita.

Satu jam selesai. Arloji berwarna perak biru yang melingkar di pergelangan kiriku menunjukkan pukul 16.45 WIB. Masih ada waktu setengah jam untuk berbicara pada Hani`ah agar ia tidak pulang terlalu sore. Semua peserta sudah mulai beranjak meninggalkan tempat. Tapi aku tetap duduk di pojok depan masjid. Menunggu semua peserta habis. Di belakang papan pembatas yang memisahkan peserta ikhwan dan akhawat Salsa sudah duduk di shaf paling belakang. Tapi dia sendirian. Mana Hani`ah. Apa ia tidak dapat orangnya.

“Mana orangnya?” Ucapku pada Salsa hanya dengan gerak bibir dari tempat dudukku di pojok depan masjid. Salsa mengisyaratkan dengan telunjuknya ke arah kamar mandi akhawat. Aku paham. Rupanya ia dapat orangnya. Dan sedang di kamar mandi. Tak lama berselang, seseorang berkerudung putih dengan long dress berwarna kuning muncul. Dengan sedikit malu-malu. Astaghfirullah. Parasnya sempat tertangkap mataku. Mempesona. Langsung saja kupalingkan ini mata. Aku tak ingin terjerumus sendiri dengan perkataan yang akan kusampaikan padanya. Hatiku kini berdebar kencang. Pesona parasnya mengguncang alam kalbuku. Getarannya yang sedang berlunjakan tak membiarkanku merasakan sedikit pun ketenangan. Membuat nafasku tak karuan hembusannya. Tanganku juga ikut bergetar sendiri. Apa sebaiknya aku mundur saja. Tidak. Aku tak bisa membatalkan ini semua. Dia butuh nasihat. Dia sedang sakit. Ya Allah, bantulah hambaMu.

Agar tidak bahaya, aku ada ide. Kuisyaratkan pada Salsa agar membawa Hani`ah mendekat ke papan pembatas. Aku akan bicara dari balik pembatas saja. Aku khawatir, sesuatu yang lebih ngeri akan terjadi.

Salsa dan Hani`ah sudah duduk tepat di belakang papan pembatas yang hanya bertinggi satu meter. Dari balik pembatas itu hatiku semakin kencang berdetak. Gugup.

“Maaf, sebelumnya, benar anti yang bernama Hani`ah?” Suara pertamaku keluar dengan sedikit bergetar.

“Iya, benar.” Astaghfirullah. Suaranya lembut merasuk ke telinga.

“Kalau begitu, langsung saja” aku tak ingin banyak bergombal ria. Aku takut pintu fitnah akan mudah terbuka. “Begini, Islam telah mengajarkan adab dan cara bagi muda-mudinya dalam bergaul. Semuanya diatur agar setiap kita memperoleh kemuliaan di dunia dan di hadapan Allah Ta’ala. Termasuk ketika sebesit rasa merasuk dalam hati kita. Rasa kecenderungan terhadap lawan jenis yang merupakan fitrah manusia.” Aku masih sedikit gemetar. Aku tak ingin mengeluarkan kata ‘asmara’ atau ‘cinta’. “Islam melarang laki-laki berkhalwat dengan perempuan yang bukan mahramnya. Dan di zaman modern ini, khalwat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya dengan SMS. Saat seorang laki-laki dengan perempuan bukan mahram saling berkirim SMS, siapa yang mendengar percakapan mereka? Yang jelas syaithon berada di antara mereka berdua. Meskipun isi pesannya berbau nasihat, tetap saja itu dinamakan khalwat. Apalagi jika hal seperti itu terjadi di waktu malam.” Aku berhenti sejenak. Semuanya terhening. Aku, Hani`ah, Salsa semuanya tak bersuara. “Saat timbul rasa di antara mereka, bukan seperti itu cara menampakkannya. Karena hal seperti itu lebih mudah membawa kita pada perbuatan zina. Islam memberi solusi yang lebih baik. Yaitu menikah. Jika seorang perempuan melihat seorang laki-laki yang menurutnya dapat memberikan perlindungan dan bimbingan sesuai jalan Allah Ta’ala, bisa disampaikan pada wali atau kerabatnya agar menyampaikan maksudnya itu pada si laki-laki. Kemudian pihak laki-laki akan melamarnya, jika ia memang memiliki maksud yang sama. Dalam Islam tidak dibenarkan adanya hubungan laki-laki dengan perempuan ajnabi sebelum menikah. Jadi, dengan beribu maaf, saya meminta kepada ukhti Hani`ah agar tidak lagi mengirimkan berbagai SMS yang saya rasa kurang perlu dan tidak baik bagi kia berdua. Ukhti bisa mengerti maksud saya?”

“Saya mengerti. Tapi maaf, sejak kapan saya mengirimkan SMS pada antum?” Ih, orang ini masih mengelak.

One Response
  1. Muhammad iqbal September 15, 2019 Reply

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *