Timah-Timah Runcing

Matanya menelisik jeli. Menjelajah setiap sudut ruangan anyir itu. Memastikan bahwa pasukan-pasukan bersenjataa tadi tak lagi bersamanya. Kakinya mulai berani melangkah. Baru dua langkah, ia kembali terhenti. Pandangannya menajam ke depan. Lalu ke seluruh penjuru. Ruangan yang pagi tadi masih penuh dengan canda tawa, sekarang tak lebih dari hamparan berserakan mayat-mayat. Berbau anyir penuh darah. Lapis bening di matanya menjelma genangan. Hatinya gerimis. Tak kenan menahan perih tusukan rasa sedih. Tak ada lagi canda sapa. Tak ada lagi ledak tawa ceria di ruangan itu. Genangan di matanya mulai mengalir. Membasahi pipinya. Senyum ceria kawan-kawannya hilang, menetes bersama linangan air mata. Membasuh kenangan menggantinya dengan duka.

#     #     #

Al-Ma’hadulIslamiyDarutTauhid, Ramallah, Palestina

Mentari kota Ramallahmasih menyapa pagi dengan hangatnya yang belum terlalu menyengat. Diiringi kicauan burung-burung mengisi  cerah pagi. Bangunan persegi panjang berlantai tiga itu masih di penuhi riuh canda tawa. Bangunan yang tak bisa dikatakan mewah itu menampung remaja-remaja dari seluruh penjuru negri. Para remaja yang rela menghabiskan masa muda mereka untuk mengeruk berbagai ilmu. Bangunan sederhan itu kini sedang sibuk dipenuhi oleh pelajar yang bersiap-siap mengikuti pelajaran rutin mereka.

Di tengah ceria pagi yang mengawali hari itu dengan indah. Suara gemuruh tak diundang memecahnya menjadi serpihan-serpihan takut dan khawatir. Semua mata menyorot tajam pada tiga truk yang berhenti di halaman ma’had. Sorotan-sorotan tajam penuh tanya itu segera tersentak oleh apa yang mereka saksikan. Semua mata terbelalak melihat satu persatu prajurit-prajurit berseragam lengkap dengan senjata serbu tersiap di tangan mereka keluar dari dari truk-truk itu. Gumpalan khawatir dan penasaran di mata mereka meledak, menjadi puing-puing rasa takut dan panik yang berkecamuk. Sekejap itu suasana yang tadi cerah ceria menjelma gemuruh teriakan histeris rasa takut. Semua berlarian. Semuanya sirna. Meninggalkan pagi cerah yang beberapa detik lalu masih menyelimuti mereka.

Prajurit bersenjataa lengkap itu mulai mendobrak masuk pintu gerbang ma’had. Beberapa senior mencoba untuk mencari kejelasan kepada mereka. Merekaberusaha agar ketenangan pondok mereka tidak terusik dengan kehadiran prajurit bersenjata itu. Tapi nihil hasilnya. Bukan sebuah penjelasan yang mereka peroleh, melainkan gamparan, pukulan, dan timah-timah runcing yang pada akhirnya merenggut nyawa mereka. Para pelajar merasa ini bukan hal sepele. Keadaan sudah tidak aman. Bersamaan dengan itu, senjata serbu terus menghujani mereka dengan peluru-peluru ganas yang siap menembus tubuh siapa pun.

Para prajurit bersenjataa itu sepertinya mencari seseorang. Mereka menyebut-nyebut nama Abu Ayyub Az-Zarqawiy. Ia adalah salah seorang ustadz di tempat itu. Rupanya beliau diburu karena dituduh sebagai tokoh utama dalam aksi peledakan yang belakangan ini terjadi. Tapi beliau sudah pergi meninggalkan tempat itu  beberapa saat sebelum kedatanganmereka.

Beberapa pelajar mencoba untuk menghadang mereka. Mereka kerahkan segalanya. Tapi apalah daya, satu persatu dari mereka berjatuhan. Busana-busana mereka memerah. Tertembus timah-timah runcing dari senapan serbu di depan mereka. Mereka tak tahu harus mengatakan apalagi pada tentara zionis itu. Mungkin inilah saatnya mereka berjuang membela diri dan agama mereka. Mereka yakin para tentara itu menghabisi mereka bukan semata-semata mencari Abu Ayyub Az-zarqawiy. Tentara zionis itu pasti juga punya maksud untuk menghancurkan umat Islam. Mereka tak akanberhenti sampai umat Islam tunduk pada mereka.

Para pelajar itu tak peduli apa yang sedang mereka hadapi. Belati, balok kayu, tongkat besi dan apa pun yang ada di sekitar mereka sudah siap menemani perjuangan melawan tentara zionis di hadapan mereka. Bukan tak sadar akan apa yang mereka lakukan, tapi keyakinan mereka mengatakan bahwa tekad dalam diri mereka lebih tajam dari pada peluru-peluru dalam senjata serbu di hadapan mereka.

Pekik takbir bersahutan, beriringan dengan rentetan peluru serbu yang meluncur bertubi-tubi menghujani anak-anak tak berdosa itu. Semuanya mulai bersimbah darah. Ratusan nyawa berjatuhan di tempat itu. Diantar oleh gelegar tawa tentara-tentara biadab zionis. Senapan serbu mereka sudah tak peduli lagi siapa yang dihadapinya, laki-laki, perempuan, kecil dan dewasa semuanya akan menjadi sasaran timah-timah runcing.

Di gudang belakang, seorang anak laki-laki  bertubuh kecil berkacamata berusaha menyelamatkan diri di tengah bisingnya rentetan peluru yang membantai kawan-kawannya di luar. Anak dengan dengan jaket bertuliskan “Haris Audah” di dada kirinya itu berusaha mencari persembunyian. Dengan ditemani rasa takut ia berlarian dengan menundukkan tubuh kecilnya di balik sebuah rak. Rasa takutnya semakin memuncak setelah tahu bahwa para tentara itu sudah berada bersamanya. Suara senapan serbu yang menyemburkan timah-timah runcing mulai membising di ruangan itu. Rasa takutnya semakin meledak-ledak. Untungnya belum satu pelurupun yang berhasil menembus tubuhnya. Ia masih berlarian dengan setengah membungkuk. Peluru-peluru itu membuat gudang menjadi berantakan. Anak itu tiba-tiba terjatuh. Kakinya menginjak minyak yang tumpah. Ia terpeleset. Kepalanya membetur lantai. Pandangannya kabur. Sebuah kardus jatuh menimpanya. Alam sadarnya hilang.

#     #     #

Ia menekuk lututnya. Pandangannya tertuju pada sesosok tubuh yang sudah tak bernyawa di dekat kakinya. Ia perhatikan wajah di balik lumuran darah itu. Diusapnya darah yang menutupi wajah itu. Matanya kembali meleleh. Mengingat senyum sapa masih terukir indah di wajah itu pagi tadi. Kini tak akan lagi ia dapati senyum darinya. Tapi ia bisa menangkap pesan yang memancar dari wajah bersimbah darah itu.  Darahnya tumpah dengan kedholiman. Darahnya harus dibayar mahal. Darahnya harus ditebus dengan kemenangan. Ia pejamkan matanya. Menghentikan air mata yang sedari tadi menganak sungai. Dalam hatinya ia tancapkan sebuah tekad tuk menebus atas darah-darah yang tumpah di tempat ini dengan kemenangan. Ia buka kembali matanya. Diambilnya sebuah belati yang masih terselip dalam genggaman jasad di depannya. Ia genggam erat-erar belati itu. Diseka linangan air mata yang membasahi pipinya. Ia hentikan tangis, mungkin ia sadar air mata akan semakin menenggelamkannya dalam kesedihan.

“Angkat tangan!”

Sebuah suara pelan tapi lantang menggugah kagetnya. Tak disangka, rupanya ia tak sendiri. Rasa takut menusuknya kembali setelah mendengar sebuah suara kokang. Matanya terbelalak. Bulu kuduknya menjarum tegak. Kini ia tak punya banyak harapan untuk selamat. Jika tadi ia terselamatkan karena dikira sudah mati, kini moncong UZI sudah berada tepat di belakang kepalanya. Tinggal menarik sebuah pengait di dekat magazin, dan nyawanya akan segera habis.

“Berdiri!”

“Letakkan pisaumu dan angkat tangan!”

Kali ini suara itu makin meninggi. Ia serahkan semuanya pada Allah jika memang ia harus tewas bersama kawan-kawannya di tempat ini. Ia membalikkan tubuhnya. Tangannya masih di bawah. Seorang personil Israel dengan UZI siap merenggut nyawanya .

“Maaf pak, anda boleh membunuhku, tapi sebentar. Andapasti“ Ia beranikan dirinya untuk sedikit angkat bicara. Meski ia tahu, timah panas bisa menembus tubuhnya kapan saja dari jarak beberapa jengkal saja. “mempunyai anak, istri atau keluarga yang anda cintai. Apakah anda rela bila mereka meniggalkan anda selamanya? Apakah anda rela bila mereka di bantai secara keji? Dibunuh tanpa alasan saat anda tidak di rumah, dan ketika anda pulang, hal pertamakali yang anda saksikan adalah tubuh-tubuh mereka yang sudah tak bernyawa bergeletakan di lantai, berlumuran darah, kepala mereka pecah, mereka dilucuti, bekas-bekas memar masih tersisa di tubuh mereka? Jika anda tidak rela, demikian juga kami. Berapabanyakkeluarga kami yang kalian perlakukansepertiitu?Apakah kami telah membantai keluarga anda sehingga anda membantai ke…”

Di sela-sela bicaranya iaberanikandiriuntukmelayangkan belati di tangannya ke perut personil Israel itu.Iatahuiniberesiko, tapiiasiapmenanggungsegalanya.Takdisangkaia berhasil. Tentara itu merengkuh lalu terjatuh. Ia segera menjauh dari tentara itu. Sebelum tentara itu benar-benar kehilangan nyawanya, ia menembakkan pelurunya ke langit-langit. Anak itu sadar. Tembakan tadi bukan untuknya. Ia tak mengerti apa arti tembakan itu.

“Drub…drub…drub…”

suara lars sedang mendekat kearahnya. Suaranya tak hanya satu. Mungkin lebih dari sepuluh. Tak beberapa lama. Sebuah pleton yang kira-kira terdiri dari lima belas atau dua puluh personil telah siap dengan senapan tertodong kepadanya. Rupanya tembakan tadi panggilan untuk mereka. Tapi ia benar-benar heran. Akankah mereka membunuh anak kecil sepertinya dengan cara seperti ini.

“Letakkan senjata  kalian! Atau kalian akan binasa bersama-sama di tempat ini!”

Ia semakin tidak mengerti. Rasanya ia sendiri. Apalagi senjata. Belati yang tadi dibawanya sudah ia tancapkan di perut tentara tadi. Lalu sekarang ia sendiri dan tanpa senjata apapun. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi karenanya. Ia benar-benar bingung. Sekarang ia pasrah. Tak ada lagi belati yang bisa menyelamatkannya. Kini di hadapannya dua puluh moncong senapan serbu siap menghujaninya dengan timah-timah runcing. Ia mencoba untuk benar-benar menyerahkan semuanya pada Allah dengan memejamkan matanya. Kepalanya juga ia tundukkan. Anak itu kini telah siap menyusul kawan-kawannya.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dibarengi dengan sedikit goncangan. Ia hampir tak percaya, separuh bangunan lantai tiga itu runtuh. Para tentara Israel yang tadi menodongnya kini berteriak kebingungan bersama runtuhnya separuh bangunan itu secara perlahan. Tapi anak itu tak terjadi apa pun padanya. Ia masih tetap berdiri tegap di tempatnya. Tak ada lagi senapan serbu. Tak ada lagi tentara. Semuanya tertimbun bersama reruntuhan. Akal sehatnya belum sepenuhnya percaya pada yang baru saja terjadi. Banyak tanda tanya yang masih tersisa di benaknya. Tapi entahlah. Yang pasti nyawanya belum berkenan meninggalkannya kali ini.

#     #     #

Di tanah suci yang selalu tersirami oleh air mata dan darah tak berdosa, biarlah anak-anak kecil mengganti tawanya dengan teriakan takbir. Biarlahmerekamenggantimainanmerekadenganbatu-batubisudanketapelkayu.Sepanjanggelarantangis di teras Al-Quds.

A story by: VairuzArham

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *