Umroh sebelum Berhajji, bolehkah?

Umroh sebelum Berhajji, bolehkah?

Oleh: Ustadz Muhammad Farid Ma’ruf

Maksud umrah bagi orang yang belum berhaji pada pembahasan ini adalah ibadah umrah yang dilakukan seseorang tanpa berhaji, sedangkan dia belum pernah menjalankan ibadah haji, bukan umrah dalam haji Tamattu’.

Pendapat Ulama dan Analisa Ringkasnya

Pertama, Boleh

An-Nawawi [14] dan Al-Baghawi [15] menyatakan bahwa ulama sepakat atas kebolehan umrah bagi orang yang belum berhaji. Ulama lain yang berpendapat atas kebolehan umrah bagi orang yang belum berhaji adalah Ash-Shagharji [16], Al-‘Utsaimin [17], dan Ulama Lajnah Da`imah [18].

An-Nawawi dan Al-Baghawi menyatakan bahwa ulama sepakat atas kebolehan umrah bagi orang yang belum berhaji berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar tentang umrah Nabi sebelum berhaji, hadits Al-Bara` bin ‘Azib tentang umrah Rasulullah dua kali sebelum berhaji, serta hadits-hadits shahih yang masyhur tentang umrah beliau tiga kali sebelum berhaji. [19]

Adapun Ash-Shagharji, Al-’Utsaimin, dan Ulama Lajnah Da`imah, mereka mengatakan bahwa umrah boleh dilakukan sebelum berhaji berdasarkan hadits tentang umrah Rasulullah sebelum berhaji. [20]

Catatan: Umrah Rasulullah yang dilakukan sebelum berhaji adalah umrah beliau yang dilakukan sebelum haji Wada’ (setelah hijrah), sedangkan beliau pernah berhaji sebelum hijrah. Dengan demikian, umrah tersebut dilakukan setelah beliau berhaji (lihat analisis hadits Ibnu ‘Umar).

Adapun pernyataan An-Nawawi dan Al-Baghawi tentang adanya ijmak dalam bolehnya umrah sebelum berhaji itu perlu ditinjau ulang, sebab (1). An-Nawawi termasuk ulama yang bermudah-mudah dalam menukil ijmak, sebagaimana disebutkan oleh Al-Utsaimin [21]. (2). Penggunaan hadits-hadits tersebut sebagai dasar ijmak tentang bolehnya umrah sebelum berhaji itu tidak tepat, sebab maksud umrah Rasulullah dalam hadits-hadits tersebut adalah umrah yang dilakukan setelah berhaji (lihat analisis dalil-dalil yang telah lewat).

Al-’Utsaimin juga menyatakan bahwa masalah umrah sebelum berhaji dalam syariat itu seperti taqdimun nafli ’alal fardli (mendahulukan yang sunah atas yang wajib). [22]

Catatan:

(1). Dalam kaidah ushul fikih disebutkan bahwa apabila dalam satu keadaan ada kemampuan untuk melakukan dua maslahat, maslahat yang wajib dan yang sunnah, maka maslahat yang wajib harus didahulukan. [23]

(2). Dalam keterangan kaidah fikih juga disebutkan bahwa Allah Ta’ala tidak akan menerima amalan sunah seorang hamba selagi dia belum mengerjakan amalan wajib. [24] Berkaitan dengan kaidah di atas, Al-Qardlawi menerangkan bahwa orang yang melakukan amalan sunnah -misalnya haji atau umrah yang sunnah- padahal dia masih memiliki tanggungan untuk melakukan amalan wajib -misalnya zakat-, maka amalan sunah yang dilakukan tersebut tidak diterima oleh Allah Ta’ala. [25]

Kesimpulan: Dalam masalah ini hukum haji adalah wajib, sedangkan hukum umrah adalah sunnah [26], maka haji harus didahulukan daripada umrah.

Kedua, tidak boleh

Sebagian muslimin berpendapat bahwa umrah bagi orang yang belum berhaji itu tidak boleh. [27]

Pendapat ini ditolak oleh Al-Utsaimin, beliau menyatakan bahwa perkara ini tidak ada dalil padanya, bahkan Rasulullah pernah berumrah sebelum berhaji setelah hijrah beliau. [28]

Catatan:

(1). Nabi pernah berhaji sebelum hijrah (lihat analisis hadits Ibnu ’Umar).

(2). Terdapat hadis shahih lain riwayat Bukhori bahwa Nabi telah berhaji sebelum hijrah [29] Berdasarkan perkataan Abu Ishaq yang terdapat di hadis tersebut, Ibnu Hajar mengatakan bahwa Rasulullah telah berhaji ketika berada di Makkah sebelum hijrah. [30]

(3). Surat Al-Hajj (22): 27. Menurut riwayat Ibnu ‘Abbas yang paling kuat, surah Al-Hajj itu makiyyah kecuali ayat 19-21 [31]. Fakhrur Razi juga mengatakan bahwa sebagian ulama memahami ayat 27 dari surah Al-Hajj sebagai permulaan diwajibkannya haji atas Nabi Muhammad [32]. Sayyid Quthb mengatakan bahwa sebagian ulama berpendapat kewajiban haji telah ditetapkan di Makkah berdasarkan ayat tersebut [33]. Al-Kasani mengatakan bahwa kewajiban haji itu dinyatakan dengan ayat 97 dari surat Ali ‘Imran  dan ayat 27  dari surat Al-Hajj [34]. Muhammad ‘Abduh menyebutkan bahwa haji telah dikenal pada zaman Jahiliyyah, sebab haji telah diwajibkan sejak Nabi Ibrahim lalu ditetapkan secara umum untuk umat ini. [35]

Kesimpulan dan Saran

Umrah bagi orang yang belum berhaji itu tidak boleh. Hendaknya muslimin tidak berumrah sebelum berhaji. Hendaknya perbedaan pendapat dalam masalah ini tidak menimbulkan perpecahan di kalangan muslimin

Dalil-Dalil dan Analisa Ringkasnya

Pertama, Hadits Ibnu ‘Umar tentang Umrah Rasulullah sebelum Berhaji

أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ ، أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ ، فَقَالَ : لاَ بَأْسَ . قَالَ عِكْرِمَةُ : قَالَ ابْنُ عُمَرَ : اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya:

Ibnu Juraij telah mengabari kami, bahwasanya ‘Ikrimah bin Khalid bertanya kepada Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma tentang umrah sebelum haji, lalu dia (Ibnu ‘Umar) menjawab: Tidak mengapa. ‘Ikrimah berkata: Ibnu ‘Umar berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berumrah sebelum beliau berhaji. HR Al-Bukhari. [1]

Maksud umrah dalam hadits Ibnu ‘Umar di atas adalah umrah Hudaibiyah, umrah Qadla`, dan umrah Ji’ranah [2]. Ketiga  umrah Nabi tersebut dilakukan setelah hijrah antara tahun 6 hijriah sampai tahun 8 hijriah [3], dan Nabi tidak pernah berhaji sesudah hijrah kecuali haji Wada’ [4].

Dalam hadits shahih [5] yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah disebutkan bahwa Nabi pernah berhaji sebelum hijrah, yaitu:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ حَجَّ  ثَلاَثَ حِجَجٍ : حَجَّتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُهَاجِرَ ، وَ حَجَّةً بَعْدَ مَا هَاجَرَ ، وَ مَعَهَا عُمْرَةٌ . فَسَاقَ ثَلاَثَةً وَ سِتِّينَ بَدَنَةً . وَ جَاءَ عَلِيٌّ مِنَ اليَمَنِ بِبَقِيَّتِهَا . فِيهَا جَمَلٌ ِلأَبِيْ جَهْلٍ ، فِي أَنْفِهِ بُرَةٌ مِنْ فِضَّةٍ ، فَنَحَرَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ . وَ أَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ كُلِّ بَدَنَةٍ بِبَضْعَةٍ ، فَطُبِخَتْ وَ شَرِبَ مِنْ مَرَقِهَا.

أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ [6] ، وَ الدَّارَقُطْنِيُّ [7] ، وَ ابْنُ خُزَيْمَةَ [8] ، وَ التِّرْمِذِيُّ [9] وَ اللَّفْظُ لَهُ .

Artinya:

Dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji tiga kali, yaitu dua haji sebelum beliau hijrah dan satu haji setelah beliau hijrah sedangkan bersamanya (haji setelah hijrah) itu satu umrah. Maka beliau membawa enam puluh tiga unta dan ‘Ali datang dari Yaman dengan membawa sisanya (unta). Padanya ada unta milik Abu Jahal, pada hidungnya ada sebuah cincin dari perak, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan (untuk diambil) sebagian daging dari setiap unta, lalu dimasak dan beliau meminum kuahnya. HR Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Ibnu Khuzaimah, serta At-Tirmidzi.

Kesimpulan: (1). Nabi telah berhaji sebelum hijrah, sehingga umrah yang dilakukan Rasulullah dalam hadits Ibnu ‘Umar di atas adalah umrah yang dilakukan setelah beliau berhaji (sebelum hijrah). (2). hadits ini tidak dapat dijadikan dalil atas bolehnya umrah bagi orang yang belum berhaji.

Kedua, Hadits Anas tentang Rasulullah Berumrah Tanpa Haji

عَنْ قَتَادَةَ ، قَالَ : سَأَلْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ : اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ حَيْثُ رَدُّوْهُ ، وَ مِنَ الْقَابِلِ عُمْرَةَ الْحُدَيْبِيَةِ ، وَ عُمْرَةً فِيْ ذِي الْقَعْدَةِ ، وَ عُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya:

Dari Qatadah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Anas radliyallahu ‘anhu (tentang umrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka dia menjawab: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berumrah ketika mereka (orang-orang musyrik) menghalangi beliau, (berumrah) pada tahun berikutnya (yaitu) umrah Hudaibiyah, satu umrah pada bulan Dzulqa’dah, dan satu umrah bersama haji beliau’.”  Muttafaqun ‘alaihi, dan lafal ini milik Al-Bukhari. [10]

Maksud hadits ini adalah Rasulullah melakukan umrah tiga kali tanpa haji.

Umrah pertama, yaitu umrah Hudaibiyah pada tahun keenam hijriah. Umrah kedua, yaitu umrah Qadla` pada tahun ketujuh hijriah. Umrah ketiga, yaitu umrah Ji’ranah pada tahun kedelapan hijriah. [11]

Catatan: Dari keterangan di atas, diketahui bahwa ketiga umrah Rasulullah tersebut dilakukan sesudah hijrah. Sebagaimana analisis hadits Ibnu ‘Umar yang telah lewat, Rasulullah telah berhaji sebelum hijrah, sehingga ketiga umrah Rasulullah tersebut dilakukan setelah berhaji.

Kesimpulan: hadits ini tidak dapat dijadikan dalil bolehnya umrah bagi orang yang belum berhaji.

Ketiga, Hadits Al-Bara` bin ‘Azib tentang Rasulullah Berumrah Dua Kali sebelum Berhaji

سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ : اعْتَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْ ذِي الْقَعْدَةِ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ مَرَّتَيْنِ . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya:

Aku (Abu Ishaq) telah mendengar Al-Bara` bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumrah pada bulan Dzulqa’dah, dua kali sebelum beliau berhaji. HR Al-Bukhari. [12]

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah melakukan umrah dua kali sebelum berhaji.

Menurut Ibnul Qayyim, hadits ini tidak menyelisihi hadits Anas yang menunjukkan bahwa Rasulullah berumrah tiga kali tanpa haji, sebab Al-Bara` tidak menganggap umrah yang dihalangi oleh orang-orang musyrik (pada tahun keenam) sebagai umrah yang sempurna. [13]

Catatan:

(1). Dari keterangan tersebut, diketahui bahwa maksud umrah pada hadits ini adalah umrah Qadla` dan umrah Ji’ranah. Kedua umrah tersebut dilakukan pada tahun 7 dan 8 hijriah, sehingga maksud sebelum berhaji dalam hadits ini adalah sebelum haji Wada’ pada tahun 10 hijriah.

(2). Sebagaimana analisis hadits Ibnu ‘Umar yang telah lewat, Rasulullah telah berhaji sebelum hijrah, sehingga kedua umrah Rasulullah tersebut dilakukan setelah berhaji.

Kesimpulan: hadits ini tidak dapat dijadikan dalil bolehnya umrah bagi orang yang belum berhaji. (Muhammad Iqbal/ed)

 

[1] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 2, hlm. 5, k. 26. Al-‘Umrah, b. 2. Man I’tamara qablal Hajj, h. 1774

[2] Lihat Al-Fajrus Sathi’u ‘alash Shahihil Jami’ susunan Al-Maghribi, jz. 5, hlm. 123.

[3] Lihat Tuhfatul Bari susunan Al-Anshari, jld. 2, hlm. 445.

[4] Lihat Al-Fajrus Sathi’u ‘alash Shahihil Jami’ susunan Al-Maghribi, jz. 10, hlm. 93.

[5] Lihat lampiran hlm. 24-26.

[6] Sunanubni Majah, Ibnu Majah, jld. 2, hlm. 1027, h. 3076.

[7] Sunanud Daraquthni, Ad-Daraquthni, jld. 1, jz. 2, hlm. 278, k. Al-Hajj, b. Al-Mawaqit, h. 195.

[8] Shahihubni Khuzaimah, Ibnu Khuzaimah, jz. 4, hlm. 352, h. 3056.

[9] Sunanut Tirmidzi, At-Tirmidzi, jz. 3, hlm. 169-170, h. 815.

[10] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 2, hlm. 6, , h. 1779.

Muslim, Shahihu Muslim, jld. 3, hlm. 88, , h. 217 (1253).

[11] Lihat Tuhfatul Bari susunan Al-Anshari, jld. 2, hlm. 445.

[12] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 2, hlm. 6, h. 1781

[13] Lihat Zadul Ma’ad susunan Ibnul Qayyim, jz. 2, hlm. 92.

[14] An-Nawawi, Al-Majmu’u Syarhul Muhadzdzab, jld. 8, hlm. 197.

[15] Lihat Syarhus Sunnah susunan Al-Baghawi, jld. 4, hlm. 7.

[16] Lihat Al-Fiqhul Hanafiyyu wa Adillatuh susunan Ash-Shagharji, jz. 1, hlm. 439.

[17] Lihat Majmu’u Fatawa wa Rasa`ili lil ‘Utsaimin susunan Fahd bin Nashir, jld. 21, hlm. 57.

[18] Lihat Fatawal Lajnatid Da`imati lil Buhutsil ‘Ilmiyyati wal Ifta` susunan Ad-Duwaisy, jld. 11, hlm. 318, soal no. 3.

[19] Lihat Syarhus Sunnah susunan Al-Baghawi, jld. 4, hlm. 6-7, k. Al-Hajj, b. Taqdimul ‘Umrati ‘alal Hajj.

Lihat Al-Majmu’u Syarhul Muhadzdzab susunan An-Nawawi, jld. 8, hlm. 197.

[20] Lihat Al-Fiqhul Hanafi wa Adillatuh susunan Ash-Shagharji, jz. 1, hlm. 439.

Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasa`ili li ‘Utsaimin susunan Fahd bin Nashir, jld. 21, hlm. 57.

Lihat Fatawa Lajnah Da`imah susunan Ad-Duwaisy, jld. 11, hlm. 318, soal no. 3.

[21] Lihat: Syarhu Nuzhatin Nadhar, karya Al-‘Utsaimin, hlm. 97

[22] Lihat: Syarhu Shahihil Bukhari lil ‘Utsaimin, karya Al-’Utsaimin, jld. 5, hlm. 501.

[23] Lihat : Fiqhusy Syaikhibni Sa’d, karya Ath-Thayyar, et al.,  jz. 4, hlm. 59.

[24] Lihat Mausu’atu Qawa’idil Fiqhiyyah susunan Al-Ghazzi, jld. 7, hlm. 25.

[25] Lihat Fatawa Mu’ashirah susunan Al-Qardlawi jz. 1, hlm. 345-346.

[26] Lihat Majmu’atul Fatawa susunan Ibnu Taimiyyah, jld. 13, jz. 26, hlm. 7.

[27] Lihat Majmu’u Fatawa wa Rasa`ili lil ‘Utsaimin susunan Fahd bin Nashir, jld. 21, hlm. 57.

[28] Lihat: Majmu’u Fatawa wa Rasa`ili lil ‘Utsaimin, karya Fahd bin Nashir,  jld. 21, hlm. 57

[29] Lihat: Shahihul Bukhari, karya Al-Bukhari, jld. 3, hlm. 165, h. 4404.

[30] Lihat Fathul Bari susunan Ibnu Hajar, jz. 8, hlm. 445.

[31] Lihat Tafsirus Sam’ani susunan As-Sam’ani, jld. 3, hlm. 3.

[32] Lihat Mafatihul Ghaib susunan Fakhrur Razi, jz. 23, hlm. 25.

[33] Lihat Fi Zhilalil Qur`an (Di Bawah Naungan Al-Qur`an)  susunan Sayyid Quthb, penerjemah: As’ad Yasin, dkk., jld. 1, hlm. 230.

[34] Lihat Bada`i’ush Shana`i’ susunan Al-Kasani, jld. 3, hlm. 39.

[35] Lihat Tafsirul Mannar susunan Muhammad ‘Abduh, jld. 2, hlm. 217.

Tinggalkan komentar